FF: Love Is Really Hurt Part 3

Cast:

Super Junior

SHINee

DBSK

Genre: Horror, Romance, Friendship

 

 

3. IT’S YOU

 

Yong Soon POV

”Oppa…jangan tambah garam lagi nanti keasinan…”seruku pada seorang namja yang terus saja memasukan garam pada sup yang sedang dimasukannya.

Aku pun segera menghampirinya dan mengambil tempat garam itu. Kulihat dia hanya nyengir sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dasar Oppaku yang satu ini, sudah tau tidak bisa masak masih saja ikut-ikutan. Merepotkan saja.

”Ya! Yong Soon-ah…Junsu-ah…lama sekali…kami sudah lapar nih!”teriak suara seoarang namja lagi dari ruang makan.

”Ne….sebentar lagi…Oppa…kesana saja…aku yang menyelesaikannya…”seruku sedikit kesal karena masakanku dari tadi tidak jadi-jadi gara-gara dia menggangguku terus.

”Jeongmal mianhe Yoong soon-ah…”seru Junsu Oppa dengan wajah memelas.

Aku pun hanya bisa menghela nafasku melihatnya sudah memasang wajah seperti itu. Memang ini bukan salahnya, aku saja yang lama membuatnya.

”Ne…gwenchana…Oppa tunggu di ruang makan aja ya…”seruku sambil tersenyum.

”Junsu hyung…jangan ganggu Yoong Soon terus….ayo…”seru sebuah suara yang lain lagi masuk ke dapur dan menarik tangan Junsu Oppa lalu melihat ke arahku sekilas dengan senyum tipisnya yang seperti biasa.

Merepotkan sekali punya empat Oppa yang aneh-aneh. Sebenarnya mereka bukanlah Oppa kandungku. Mereka semua adalah tetanggaku. Ya mereka berlima bersaudara kandung. Mereka sudah tidak punya orang tua lagi, orang tua mereka mengalami kecelakaan saat mereka masih kecil, mereka bukan berasal dari Seoul, dulu mereka tinggal di Daegu dengan bibi mereka namun kemudian mereka pindah ke sini beberapa tahun lalu. Mereka adalah Yunho Oppa, Jaejoong Oppa, Junsu Oppa,Yoochun Oppa dan Changmin. Mereka berlima sudah aku anggap saudara bagiku, ibuku juga sudah menganggap mereka seperti anak ibuku sendiri karena ibu sangat kasihan melihat mereka yang harus tinggal sendiri di usia yang masih sangat muda ini. Mereka punya sebuah restoran kecil di dekat stasiun kereta. Mereka yang mengelolanya dari awal sampai sekarang. Jujur aku sangat salut dengan kemandirian mereka. Apalagi Yunho Oppa kakak tertua mereka, sungguh tipe pria yang sangat bertanggung jawab terhadap adik-adiknya. Aku mengambil beberapa piring dan mengumpulkannya, lalu aku beralih mengambil sumpit dan gelas. Hemm, sekarang bagaimana cara membawanya kesana ya.

”Biar aku bantu…”seru seseorang masuk ke dapur

 

Yunho Oppa masuk ke dapur sambil tersenyum dan segera mengambil piring-piring itu. Aku malah terus menatapnya. Aishh, dia sangat tampan sekali. Kalau boleh jujur aku sangat menyukai Yunho Oppa sejak dulu saat pertama kali aku bertemu dia waktu mengantar Changmin ke sekolah meski saat itu aku masih SD. Sejak saat itu aku mulai menyukainya, aku suka saat dia tersenyum padaku untuk pertama kalinya saat Changmin mengajakku ke rumahnya. Entahlah saat pertama kali melihatnya, aku merasa dia adalah seorang pria yang baik dan ternyata benar buktinya di sangat sayang pada adik-adiknya ini. Dia juga sangat baik padaku, dia adalah orang yang hangat dan asyik sekali untuk diajak berbicara, dia menjadi tempat curhatku yang pertama. Dia yang paling perhatian padaku dan itu yang membuatku tetap menyukainya sampai sekarang.

”Kau baik-baik saja Yong Soon-ah?”tanyanya tepat di depan wajahku.

Refleks aku langsung mundur. Aku memalingkan wajahku yang sekarang pasti sudah sangat merah seperti kepiting rebus. Aku mendengarnya terkekeh pelan lalu berjalan keluar dapur. Hufft hampir saja. Tapi aku baru menyadari akhir-akhir ini kalau aku sebenarnya bukan menyukainya melainkan hanya mengaguminya. Ya aku sangat mengaguminya, aku ingin bisa seperti dia yang bisa menjaga seluruh keluarganya, aku juga ingin bisa seperti dia menjaga ibu dan adikku. Ya aku sudah tidak punya ayah lagi, ayahku meninggal saat aku SMP jadi aku hanya tinggal dengan ibu dan adik perempuanku yang bernama Choi Ji Woon, dia masih duduk di kelas 2 SD.

”Kalau butu bantuan kenapa tidak panggil aku…”seru Changmin sambil mengambil gelas-gelas yang aku pegang. Aku memang agak sedikit kewalahan membawanya.

”Ne…gumawo…”ucapku.

Dia pun tersenyum padaku dan berjalan mendahuluiku keluar dapur.

 

 

Dia adalah Changmin anak bungsu di keluarga ini. Dia adalah temanku sejak kecil. Dulu Changmin pernah tinggal di Seoul sebelum kematian orang tuanya namun kemudian dia pindah ke Daegu sejak orang tua mereka meninggal, lalu beberapa tahun lalu dia kembali pindah kemari. Aku sempat sedih saat dia pindah ke Daegu namun ternyata aku tidak menyangka kalau akan bertemu dengannya lagi sekarang. Kami satu TK sampai SD bersama dan berlanjut lagi di SMA. Dia adalah salah satu teman baikku. Meski sifatnya masih seperti anak-anak, yah dia kan anak bungsu di keluarga ini dan sepertinya Yunho Oppa sangat memanjakannya. Dia selalu ada saat aku sedih ataupun senang, pokoknya dia adalah best friend ever untukku, dia selalu membantu mengerjakan PR-PRku karena dia termasuk anak yang pintar, salah satu bakatnya yang bisa aku manfaatkan. Aku sayang dia sebagai sahabat terbaikku .

”Mari makan…”seruku sambil menaruh sup itu ke atas meja.

Dua pasanga mata menatapnya takjub. Yunho Oppa kemudian menaruh sumpit di atas meja dan diikuti Changmin yang menaru sisa makanan yang dibawa dari dapur ke atas meja. Kemudian mereka pun duduk melingkari meja itu. Changmin menarikku duduk disampingnya namun aku lebih memilih duduk disamping Yunho Oppa. Aku melihat wajah Changmin langsung cemberut. Ya dia tau kalau aku menyukai kakaknya itu. Tentu saja aku selalu bercerita apa saja padanya termasuk siapa orang yang aku sukai, makanya dia tahu siapa yang aku sukai tapi akhir-akhir ini dia selalu seperti itu, selalu kesal jika melihatku dekat-dekat dengan Yunho Oppa, padahal dulu dia yang selalu berusaha membuatku dekat dengan Yunho Oppa begitu dia tahu aku menyukai kakaknya itu.

”Wah…mashitta!”seru Junsu Oppa setelah memakan potongan sayur yang ada di sup itu.

 

 

Junsu Oppa adalah anak ke tiga di keluarga ini. Sifatnya sangat tidak cocok dengan wajahnya yang kalem. Kalau dari luar dia terlihat sangat diam dan tenang padahla sebenranya dia adalah trouble maker. Ya entah kenapa dia selalu saja membuat sesuatu menjadi kacau. Seperti tadi, dia ikut-ikutan masak bersamaku. Orangnya sungguh tidak tahu malu. Dia sering sekali bertengkar dengan Changmin karena hal sepele. Changmin sangat manja dan ingin segala sesuatu yang dia inginkan harus dia dapatkan sedangkan Junsu Oppa tidak suka melihat Changmin seperti itu,oleh sebab itu mereka sering bertengkar. Kalau sudah bertengkar biasanya mereka akan diam-diaman selama beberapa hari tapi ujung-ujungnya biasanya Junsu Oppa lah yang minta maaf, makanya Changmin merasa berkuasa sekali atas kakaknya yang satu ini.

”Ya!makanan apa yang tidak hyung bilang enak!”seru Changmin lalu tertawa terbahak-bahak.

Dan Junsu Oppa hanya menatap tajam ke arah Changmin. Aku dan Yunho Oppa hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala kami.

”Jangan buat keributan lagi”seru sebuah suara.

 

 

Jaejoong Oppa duduk di ujung meja sambil memegang mangkuk nasinya. Jaejoong Oppa, susah untuk mendeskripsikan dia seperti apa. Dia sangat pendiam, jarang sekali bicara. Bisa dihitung berapa kali aku bicara padanya itu pun hanya sekedar menyapa jika bertemu atau berbicara sesuatu yang tidak penting. Dia memang sangat sangat pendiam, awalnya aku agak sedikit tersinggu padanya waktu itu. Saat itu keluarga ini baru pindah ke samping rumahku dan saat itu aku sedang bekunjung ke rumah itu karena dia ajak oleh Changmin. Aku bertemu dengan Jaejoong Oppa saat itu, aku menyapanya namun dia hanya melewatiku tanpa melirik sedikit pun, begitu seterusnya. Aku sedikit kesal padanya namun akhirnya Yunho Oppa bilang bahwa Jaejong oppa memang orangnya seperti itu, sangat pendiam. Akhirnya aku terima hal itu. Ternyata memang dia sangat pendiam, bukan hanya pada orang lain tapi pada keluarganya sendiri juga, aku jarang sekali melihat dia mengobrol atau bersenda gurau dengan kakak atau adiknya. Semua orang langsung menatap ke arah Jaejoong Oppa dan kulihat Changmin langsung terdiam dan kembali serius dengan makannya. Ya itulah kehebatan Jaejoong oppa, meski dia jarang berbicara namun jika di sudah bicara sekali saja semuanya akan langsung mendengarkannya.

”Makan yang banyak…kau kan yang memasaknya…”seru Yunho Oppa sambil menaruh daging di mangkuk nasiku.

”Ne…gumawo Oppa..”jawabku sambil tersenyum dan dia membalas senyumku.

”Hemm..”seru Changmin berdehem.

Aku pun menoleh ke arahnya namun dia kembali serius dengan makanannya. Dasar Changmin seperti anak kecil saja.

”Wah…masakanmu memang sangat enak Yong Soon-ah…”seru Yoochun Oppa.

 

 

Yoochun Oppa yang menurutku paling waras selain Yunho Oppa tentunya. Dia hampir mirip seperti Yunho Oppa, sangat baik, bijaksana, tenang dan perhatian. Dia adalah seorang guru SMP. Keren kan? tentu saja dia sangat pintar terkadang aku meminta bantuannya jika Changmin sedang ngambek tidak mau membantuku mengerjakan PRku. Dia sangat dekat sekali dengan Junsu Oppa, kemana-mana pasti selalu bersama. Waktu pertama kali kenal mereka aku sempat tertukar mana Junsu Oppa dan mana Yoochun Oppa.

”Changmin-ah….makanmu banyak sekali…pantas tidak ada gadis yang mau denganmu…melihat cara makanmu yang seperti orang kelaparan tidak makan beberapa bulan….”seru Junsu Oppa lalu tertawa terbahak-bahak.

”Junsu-ah…jangan meledekanya lagi…”seru Yunho oppa berusaha mengehntikan peperangan yang sebentar lagi akan terjadi.

Aku melihat Changmin santai saja tetap makan. Dia memang makan seperti orang kelaparan. Entahlah dia makan banyak sekali tapi tetap saja badannya tidak pernah gemuk. Dia bisa makan sampai 5 kali sehari dengan porsi yang sama, tidak terbayangkan perutnya terbuat dari apa mampu menampung makanan sebanyak itu.

Aku lihat Junsu Oppa hanya mendengus kesal karena ledekannya tidak di tanggapi oleh Changmin. Seperti biasa kalau sudah makan dia lupa segala hal, hanya fokus pada makanan.

 

 

Kyu POV

Hemm, apa yang akan aku bawa? Pikirku. Mungkin  aku akan membawa kamera, aku harus mengabadikan momen-momen dimana akhirnya aku bisa melihat dunia manusia. Aku pun berjalan menuju laci di meja belajarku tempat aku menaruh kameraku. Aku mencarinya namun kenapa tidak ada ya? Aku berpikir terkahir kali aku menggunakannya saat ulang tahun Eunhyuk hyung. Setelah itu perasaan aku taruh di tempat ini lagi. Aku taruh dimana ya? Aku berjalan menuju meja di dekat tempat tidurku dan membuka lacinya. Tidak ada juga. Aisshh jangan sampai hilang. Itu kameraku yang paling berharga. Itu hadiah ulang tahun ke-18 ku kemarin dari ayah, masa hilang. Aku mengingat-ingat kapan terkahir kali aku melihat kamera itu.

1 detik

2 detik

3 detik

4 detik

5 detik

Aku ingat Donghae hyung meminjamnya saat itu. Aku pun segera keluar kamarku dan mengetuk pintu kamar Donghae hyung. Tidak ada jawaban. Kemana Donghae hyung ini? Mana dia lupa mengembalikan kameraku lagi. Aku memganga gagang pintunya dan ternyata pintunya tidak terkunci, aku pun segera masuk ke dalam kamar dan mencari Donghae hyung di kamarnya. Aku berjalan menuju kamar mandi, tidak ada juga, aku berjalan ke balkon kamarnya, tidak ada juga. Hah kemana Donghae hyung? Aku pun terduduk di tepi tempat tidurnya, tiba-tiba mataku menangkap sebuah benda yang tidak asing bagiku sedikut keluar dari laci meja di sudut kamar. Aku pun berjalan mendekatinya dan membuka laci itu lebar-lebar. Saat aku melihat apa benda itu. Aku langsung terkejut.

”Donghae!!!Kau memang perusak!!!”teriakku.

Semua orang segera menuju kamar Donghae hyung dan mendekatiku dengan wajah khawatir. Teukie hyung ada di paling depan dan segera menghampiriku.

”Waeyo Kyu?”tanya Teukie hyung bingung.

Aku menatap tajam semua orang yang ada di kamar itu. Mereka bergidik melihatku menatap mereka seperti itu. Memangnya aku setan apa. Gerutuku dalam hati. Aku melihat kameraku yang sudah tidak berfungsi lagi dan menunjukannya pada Teukie hyung. Kulihat Teukie hyung membelalakan matanya kaget.

”Kyu-ah…bagaimana bisa?”tanya Teukie hyung tidak percaya.

”Tanya saja pada Donghae si perusak itu!”seruku.

Tak lama kemudian Donghae hyung masuk ke kamar dengan wajah bingung karena banyak orang berada di kamarnya, namun akhirnya dia mengerti begitu dia melihatku menatap tajam ke arahnya dan Teukie hyung sedang memegang kamera itu. Aku bisa melihat Donghae hyung terkejut.

”Mian…mianhe Kyu…jeongmal mianhe…”seru Donghae hyung terbata-bata.

Aku memalingkan mukaku ke arah yang lain. Menyebalkan sekali hyungku yang satu ini. Kenapa dia sangat perusak sekali. Lain  kali aku tidak akan meminjamkannya lagi barang-barangku. Bisa-bisa rusak semua olehnya.

”Kenapa bisa seperti ini Donghae-ah?”tanya Teukie hyung.

”Mianhe Kyu…aku tidak sengaja menjatuhkannya ke kolam belakang waktu aku gunakan….sebenarnya aku akan memeprbaikinya sebelum mengembalikannya tapi kau sudah tahu duluan…mianhe…jeongmal mianhe…aku akan menggantinya….”jelas Donghae hyung.

”Ne…Kyu…kau kan tahu Donghae seperti apa…”seru Eunhyuk hyung.

PLETAKK

Aku mendengar seseorang menjitak kepala Eunhyuk hyung.

”Sakit!!Siwon-ah…aku kan hyungmu tau!”seru Eunhyuk hyung.

Aishh aku tidak tahan untuk tidak tertawa melihat tingkah mereka. Ya sih aku tahu Donghae hyung memang seperti itu, barang apa yang tidak dia rusakkan. Entahlah tangannya itu memang dibuat untuk merusak atau apa. Selalu saja. Percuma saja marah sekarang toh tidak akan mengembalikan kameraku seperti semula.

Aku membalikan badanku dan menatap Donghae hyung yang sekarang sudah memasang wajah memelas.

”Ne…sekarang aku maafkan hyung….tapi hyung harus ganti…hyung kan tau itu hadiah ulang tahunku…”seruku.

”Ne…pasti Kyu nanti hyung ganti…gumawo Kyu-ah…”seru Donghae hyung.

Aku pun tersenyum tipis dan keluar dari kamarnya.

 

 

Bagaimana sekarang? Aku butuh kamera itu. Aku ingin mengabadikan momen ini, aku punya ide bagaimana kalau aku pinjam Henry, dia juga punya kamera. Ya sebaiknya aku pinjam padanya. Aku pun berjalan menuju kamarnya dan mengetuknya.

”Masuk…”serunya dari dalam.

Aku pun masuk ke dalam dan menghampirinya yang sedang berada di depan komputer.

”Ya! Mochi sedang apa kau?”tanyaku padanya.

”Aku sedang memasukan foto-foto ke komputer…”serunya sambil menoleh ke arahku.

Aku pun memperhatikannya. Banyak sekali fotonya. Sepertinya dia sangat menyukai fotografi sama sepertiku. Aku juga suka sekali dengan fotografi, dinding kamarku penuh dengan foto-foto, meski foto-foto di kamarku lebih di dominasi oleh foto-foto hyung-hyungku karena menurutku mereka adalah objek yang menarik.hahaha.

Aku terpaku pada sebuah foto. Ada Henry juga disana bersama teman-temannya sepertinya, dia memakai tuxedo rapih dan membawa biola, lalu teman-teman prianya  memakai tuxedo dan yang gadis memakai dress. Seperti acara pesta saja.

”Ya!mochi…kalian sedang apa?”tanyaku sambil menunjuk foto itu.

”Itu aku dan teman-teman klub musikku disekolah…waktu itu kami sedang performance…aku kan main biola hyung…”serunya sambil tersenyum.

”Kau punya banyak teman ya?”tanyaku.

Aku merasa iri dengan Henry yang bisa punya teman-teman seperti itu. Aku juga ingin punya teman seperti Henry, seorang manusia. Sepertinya asyik sekali melihat Henry mampu berinteraksi dengan manusia begitu mudah, bagiamana kalau dia nanti sudah berubah menjadi abadi dan dia tidak bisa menemui mereka dengan leluasa lagi. Apa dia tidak sedih? Aku berharap dia tidak akan banyak berubah setelah menjadi abadi sehingga dia bisa bersama temannya terus. Entah kenapa aku menjadi simpati terhadapnya.

”Ne…aku senang ikut klub musik aku bisa bertemu banyak orang disana…yang tadi di foto itu teman-temanku hyung…”jawabnya masih dengan senyuman.

”Bagaimana kalau kau sudha berubah?”tanyaku hati-hati.

Aku menatapnya dan kulihat dia hanya tersenyum.

”Aku berharap aku akan tetap menjadi diriku yang sekarang…tapi jika tidak…foto-foto inilah yang akan mejadi kenangan bagiku…”serunya tetap tersenyum tapi aku bisa melihat bahwa di balik senyumannya dia pasti merasa sangat sedih, tidak ada yang tahu akan menjadi seperti apa dia setelah perubahan itu. Kalau dia beruntung dia bisa tetap seperti ini tapi kalau dia seperti Eunhyuk hyung mau tidak mau dia harus merelakan untuk tidak bertemu dengan teman-temannya lagi. Peraturan tetap peraturan. Yah jangan sampai manusia tahu mengenai keberadaan kami, itulah satu-satunya peraturan yang harus kami patuhi yang sudah di buat oleh pendahulu kami. Meski kami hanya manusia setengah vampir tapi tetap saja kami harus patuh pada peraturan itu. Karena kami merupakan bagian mereka juga.

”Semoga kau akan tetap menjadi dirimu…”seruku sambil menepuk bahunya pelan.

Tumben sekali aku baik padanya. Ya sudahlah, sudah beberapa minggu ini dia baik padaku dengan menjelaskan bagaimana dunia manusia itu. Kini saatnya aku membalas kebaikannya dengan menyemangatinya.

”Ne hyung…”serunya sambil tersenyum.

”Oh ya…aku kesini mau pinjam kameramu…boleh ya?”seruku.

”Mau jalan-jalan ya hyung…ini…”serunya sambil menyodorkan kameranya padaku.

”Gumawo mochi…”seruku sambil tersenyum dan berjalan keluar kamarnya. Namun dia kembali memanggilku. Aku pun menoleh.

”Hyung….selamat bersenang-senang…nikmati dunia manusia…”serunya sambil etrsenyum.

Aku pun mengangguk dan keluar dari kamarnya. Akhirnya saat ini tiba juga. Aku bisa melihat dunia manusia itu seperti apa.

 

 

”Ingat apa yang aku pesankan padamu…jangan ceroboh…kau harus mengendalikan dirimu…”seru Teukie hyung begitu kami siap pergi.

”Ne….ne…arasso  hyung…”jawabku singkat.

Hyungku yang satu ini memang terlalu protektif sekali. Aku juga bisa menjaga diriku sendiri, seperti aku ingin pergi kemana saja.

”Sungmin…wookie…jaga Kyu baik-baik…”seru Teukie hyung kepada dua hyungku yang akan pergi bersamaku.

Hari ini kami akan membeli barang-barang kebutuhan kami untuk sebulan seperti biasa. Wookie hyung masih sibuk membaca catatan belanjaan yang mau di beli, sementara Sungmin hyung sedang mengambil mobil di garasi.

”Hyung sudah semua?!”teriak Wookie hyung.

Wookie hyung ingin memastikan semua barang titipan hyung-hyungku sudah semua ditulis karena tidak setiap hari kami keluar jadi biar sekalian tidak usah bolak-balik lagi. Tidak ada jawaban berarti sudah semua pesanan ditulis sepertinya. Aku dan wookie hyung pun segera berjalan keluar.

”Wookie!”seru Eunhyuk hyung langsung berlari menghampiri kami yang sudah ada di depan mobil.

Aku melihat Teukie hyung ikut di belakangnya. Aisshh, apa dia merasa harus mengantarku juga sampai naik ke mobil.gerutuku dalam hati.

”Andwe hyung…aku tidak mau beli lagi…aku malu hyung…setiap kali ke super market aku langsung diliatin banyak orang waktu ngambil itu….hyung kan tau wajahku tuh imut dan polos seperti anak kecil…masa aku belinya begituan…nanti aku dikira maniak lagi…”jelas Wookie hyung panjang lebar.

”Aisshh siapa yang mau nitip itu…aku Cuma mau bilang Donghae minta tambah 2 lagi chochochipnya…”seru Eunhyuk hyung dengan wajah sedikit kesal.

Dasar yadong! Heran sekali aku dengan hyungku yang satu ini.

”Oh…arasoo…”seru Wookie hyung kelihatan lega dan langsung mencatatnya di kertas daftar belanjaan.

”Tapi kalau kau berbaik hati…”seru Enhyuk hyung lagi.

Namun sebuah jitakan langsung mendarat di kepalanya dari Teukie hyung.

”Sudah sana masuk!”perintah Teukie hyung dan Eunhyuk hyung hanya berjalan masuk sambil mengelus kepalanya yang tadi dijitak oleh Teukie hyung.

”Ne…sungmin…wookie…jaga Kyu baik-baik…”seru Teukie hyung lagi.

Aigoo, harus sampai berapa kali dia berkata seperti itu. Aku pun langsung menarik tangan Wookie hyung sebelum Teukie hyung berbicara lagi. Bosan aku mendengarnya mengatakan hal yang sama berulang-ulang memangnya aku anak kecil harus dijaga seperti itu.

”Teukie hyung selalu saja seperti itu…”gerutuku di dalam mobil.

Kudengar Sungmin hyung yang mengemudikan mobil hanya terkekeh pelan.

”Itu karena Dia sangat sayang padamu Kyu…”seru Wookie hyung yang duduk disampingku.

Kami pun akhirnya pergi. Aku sudah tidak sabar lagi melihat kota Seoul di malam hari.

 

Kami sampai di salah satu supermarket yang besar disana. Aku terus memperhatikan keadaan sekelilingku. Sungguh unik tempat mereka belanja. Semuanya ada disini. Banyak sekali orang disini. Aku pun mengikuti kedua hyungku yang berjalan sambil mengambil beberapa barang. Aku dan Sungmin hyung mengambil barang-barang yang dibutuhkan sementara Wookie hyung melihat ke catatannya dan memberikan perintah barang apa yang harus kami ambil.

Ternyata capek juga ya, aku baru sadar kalau banyak sekali barang yang kami beli setiap bulannya. Ternyata keluargaku banyak sekali permintaannya. Apa Sungmin hyung dan Wookie hyung tidak pernah capek ya seperti ini terus?

Satu jam sudah berlalu akhirnya selesai juga tugas berbelanja. Sungmin hyung dan Wookie hyung mengajakku berjalan-jalan ke taman.

”Bagaimana?”tanya Sungmin hyung padaku yang masih asyik memotret beberapa objek foto.

”Indah ya hyung…kalian sering kemari?”tanyaku.

”Tidak…kadang-kadang saja kalau lagi bosan..”jawaban Wookie hyung yang sudah ada disampingku memberikanku segelas coklat panas yang baru saja di belinya.

Aku pun segera meminumnya. Tumben hari ini agak sedikit dingin.

”Wookie hyung…..Sungmin hyung….sini aku foto dulu…”seruku pada mereka berdua.

Mereka langsung saja berpose. Bagaimana aku tidak senang menjadikan hyung-hyungku objek fotoku habisnya mereka begitu narsis. Lihat saja mereka sudah bersiap dengan gaya mereka. Objek yang sungguh sangat unik.

”Han Dul Set…Cheesee…”seruku.

Dan inilah hasilnya.

 

 

Yong Soon POV

”Oppa aku pulang dulu ya…”seruku berpamitan pada mereka, setelah makan malam selesai.

Aku memang terkadang sering makan malam di rumah keluarga ini karena aku memang sudah dekat dengan mereka. Sekarang rumahku sedikit lebih jauh dari rumah mereka. Ya mereka sudah pindah sejak seminggu yang lalu. Dulu mereka tinggal di samping rumahku namun minggu kemarin mereka pindah ke sini agar lebih dekat dengan restauran mereka yang ada di dekat stasiun kereta itu. Aku pun segera berjalan keluar mengambil sepedaku.

”Biar aku antar…”seru Changmin menghampiriku.

”Anni….aku bisa pulang sendiri kok…”jawabku dan langusng mengambil sepedaku.

”Keundeu…biar…”seru Changmin namun aku segera memotongnya. Aku tidak mau dianggap gadis yang lemah yang selalu di antar kemana-mana.

”Changmin-ah…aku bisa pulang sendiri…arasso?”seruku tegas dan kulihat dia hanya menghela nafas tanda menyerah. Yah kalau aku sudah bilang sesuatu aku tidak akan pernah mengubahnya lagi, itulah prinsipku.

”Sudah mau pulang?”tanya Yunho oppa yang tiba-tiba langsung keluar rumah.

”Ne Oppa…”jawabku dan naik ke atas sepeda.

”Changmin antar dia…”seru Yunho Oppa pada Changmin.

Changmin hendak menjawab namun aku segera menjawabnya.

”Anni Oppa…aku bisa pulang sendiri….sudah ya…annyeong…”seruku pada mereka berdua.

Aku pun mengayuh sepedaku pulang. Jalanan masih ramai karena hari ini akhir pekan. Aku mengayuh sepedaku sambil memperhatikan sekelilingku. Ternyata kota Seoul di malam hari indah juga ya. Karena tidak fokus pada jalanan tiba-tiba ada seorang anak kecil di depanku. Reflek aku segera mengerem mendadak sebelum aku menabrak anak kecil itu, namun malah aku yang jatuh tersungkur.

BRUKK

Aduh, kakiku sakit sekali. Aku melihat anak kecil itu malah berlari sambil menangis. Aisshh, untunglah di tidak apa-apa. Aku merasakan perih di lutuku dan saat aku melihat lutuku ternyata berdarah. Sial sekali aku ini. Aku pun berusaha berdiri dan mengambil sepedaku yang tergeletak, memeriksanya apa ada yang rusak atau tidak. Untunglah sepeda kesayanganku ini baik-baik saja. Aku pun segera naik ke atas dan kembali mengayuh sepedaku menahan rasa perih di lutuku. Sepertinya darahnya banyak keluar. Angin dingin semakin membuat rasa perih itu menjadi-jadi. Kenapa hari ini aku begitu sial sekali, sudah jatuh, aku lupa bawa sweter, padahal malam ini dingin sekali. Sunggu sial aku ini. Aku pun memutuskan berhenti di sebuah taman, aku ingin membersihkan lukaku dulu.

Aku duduk di salah satu bangku dekat penjual sate ayam. Aku mengeluarkan air yang tadi aku beli di mini market dari kantung palstik dan membukanya lalu kugunakan untuk membersihkan lukaku. Sepertinya lukaku cukup dalam. Aku meringis menahan rasa sakit di kakiku. Aku berusaha meniup-niupnya agar tidak terlalu sakit. Kemudian aku mengambil plester yang tadi sempat aku beli dan menutup lukaku itu. Yah setidaknya luka ini tidak terbuka daripada nanti infeksi. Aku berusaha berdiri dan menahan rasa perih di kakiku. Aku menengok ke kanan ada penjual sate ayam. Hemm Ji Won suka sekali sate ayam. Sebaiknya aku belikan dia. Aku pun berjalan menuju tukang sate ayam itu dan membeli beberapa tusuk untuk di bawa pulang. Ji Won pasti senang. Ucapku dalam hati. Aku pun bergegas kembali menuju sepedaku dan mengayuhnya menuju rumah.

 

 

Kyu POV

Kemana mereka? Lama sekali. Gerutuku dalam hati. Aku disuruh menunggu disini karena ada barang yang lupa di beli. Aisshh menyebalkan sekali. Aku duduk di salah stau bangku di dekat air mancur dan menatap ke arah jalanan yang ramai oleh orang yang berlalu lalalng, lalu mataku tertuju pada sebuah kedai. Apa itu? Pikirku.

Aku pun berjalan menghampiri kedai itu dan melihat apa yang dijual disitu. Hemm sepertinya enak, apa itu ya?

”Ahjussi itu apa?”tanyaku pada paman penjual makanan ini.

”Sate ayam…kau mau?”tanyanya.

Kelihatannya enak, aku mau beli.

”Aku mau ahjussi…aku mau 12 tusuk…”seruku.

”Ne…”jawabnya dan dia pun mengambil 12 tusuk dan memasukan ke dalam tempatnya.

Untung aku membawa uang, ada untungnya juga Donghae hyung menjatuhkan kameraku jadi aku bisa meminta apa saja padanya. Sama seperti uang ini, sebelum berangkat aku sengaja ke kamarnya dan meminta uang padanya. Dan dengan senang hati dia memberikannya padaku. Aku merogoh saku Hoodieku dan memberikan sejumlah uang.

”Gamsahamnida…”seru ahjussi itu.

”Cheonmaneya ahjussi…”ucapku.

Kemudian aku pun berlalu pergi dari tempat itu menuju tempat yang tadi.

Baru sampai disalah satu bangku taman aku mencium sesuatu. Manis. Sangat manis. Ini seperti darah tapi kenapa baunya semanis ini. Kerongkonganku terasa panas. Angin dingin menrepa wajahku dan semakin memperjelas bau itu. Manis sekali. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling. Aisshh kenapa aku jadi seperti ini. Aku meraskan kepalaku menjadi pusing karena bau itu. Bau darah itu semakin menusuk hidungku.Tiba-tiba semuanya menjadi gelap.

 

 

Leeteuk POV

Aku sungguh mengkhawatirkan dongsaengku itu. Apa dia baik-baik saja? Bagaimana kalau dia lepas kendali. Aisshh, bagaimana ini. Kau harus tenang Teukie. Seruku meyakinkan diriku sendiri. Aku pun menghembuskan nafasku berkali-kali dan keluar dari kamarku menuju ruang santai. Disana aku mendapati dongsaengku yang lain sedang asyik dengan kegiatannya masing-masing. Tiba-tiba seseorang masuk dengan menggebrak pintu. Kami semua langsung kaget begitu melihat Siwon masuk dengan wajah penuh kemarahan. Aku pun berjalan menghampirinya.

”Hyung kenapa kau membolehkan dia pergi keluar?!”tanya Siwon dengan nada setengah berteriak.

”Siwon-ah…dia juga punya hak untuk melihat dunia luar…”jawabku tenang.

”Hyung! Bagaimana kalu dia lepas kendali? Hah! Kau membiarkannya berinteraksi dengan manusia semudah itu…”serunya masih berteriak.

”Siwon-ah tenang….dia sudah dewasa…lagipula ada sungmin dan wookie disana…”jawabku.

Dia menghempaskan tubuhnya ke sofa dan mendengus kesal. Dongsaengku yang lain hanya bisa menatap takut ke arah Siwon. Memang tidak akan ada yang berani mendekati Siwon jika di sudah marah seperti ini. Sepertinya dia selalu ingat kejadian itu terus meski sudah berlalu beberapa tahun.

”Hyung…dia belum pernah bertemu manusia sebelumnya….bagaimana kalau dia mencium bau mereka dan kehilangan kendali…”serunya lagi.

Aku berjalan mendekatinya dan duduk disampingnya. Sebenarnya aku juga merasakan hal yang sama seperti yang Siwon rasakan, aku juga khawatir dengan Kyu tapi aku juga kasihan pada anak itu, betapa dia ingin sekali bisa melihat dunia luar. Aku tidak tega melihatnya selalu minta diceritakan oleh Henry tentang dunia manusia.

”Siwon-ah….aku yakin Kyu bisa mengatasi itu…buktinya dengan Henry dia baik-baik saja…dia juga masih manusia…”seruku.

”Hyung…Henry itu berbeda dia setengah vampir…berinteraksi dengan manusia itu tidak gampang…”serunya.

Aku hanya menatap wajahnya yang masih kesal. Harus alasan apalagi yang aku keluarkan. Pasti dia akan memarahi Kyu sepulangnya dan aku yakin Kyu tidak akan terima semua tuduhan itu. Bakal terjadi pertengkaran hebat nantinya, aku tidak mau dongsaeng-dongsaengku malah bertengkar hanya gara-gara hal ini. Siwon akan memarahinya habis-habisan dan Kyu pastinya tidak mau kalah, apalagi anak itu sangat keras kepala. Hanya satu yang aku takutkan bagaimana kalau semua rahasia itu terbongkar di depan Kyu oleh Siwon. Tidak. Itu tidak boleh terjadi. Kyu tidak boleh tahu akan hal itu.

 

 

Donghae POV

Aisshh, kenapa dia selalu sok tahu soal dunia manusia. Apa karena dia memiliki seorang gadis manusia. Kyu juga punya hak untuk melihat dunia luar. Aku yakin Kyu tidak selemah seperti yang dia pikirkan. Aku yakin Kyu bisa mnegendalikan dirinya. Lama-lama aku bosa sekali mendengar dia terus berteriak-teriak seperti itu.

”Aisshh…Siwon-ah…aku tahu berinteraksi dengan manusia tidak gampang…aku tahu kau yang paling tahu bagaimana manusia itu kan Siwon?tidak usah setakut itu…”seruku sambil berjalan menghampirinya.

Dia menatapku tajam sepertinya dia sedikit tersinggung mendengar ucapanku itu. Dia berdiri dan berjalan menghampiriku. Kini kami saling berhadapan, bisa kulihat Siwon sangat kesal padaku. Dia mau mengajakku berkelahi. Silahkan saja akan kuladeni dia.

”Aku tidak takut aku hanya tidak ingin kejadian….”

”STOP!!” seru Teuki hyung memotong ucapan Siwon dan  menengahi kami.

”Siwon jangan bicarakan itu lagi…itu sudah berlalu…aku peringatkan jangan sampai kau bicara soal itu di depan Kyu….kita sudah sepakat untuk melupakan hal itu dan merahasiakan itu darinya…arasso?!”seru Teuki hyung sudah mulai emosi melihat tingakah Siwon.

Aku pun hanya tersenyum mengejek kepada Siwon dan dia hanya menatapku tajam. Kulihat Siwon segera berlalu keluar ruangan dan menutup pintu sangat kencang. Dasar terlalu paranoid!gerutuku dalam hati. Aku pun berjalan kembali ke sofa, gara-gara dia aku melewatkan acara favoritku. Namun tiba-tiba aku merasakan sesuatu. Perubahan emosi. Kyu. Kenapa dia? Apa dia? Tidak…tidak mungkin…kenapa dia berbeda…dia seperti sedang berburu. Aigoo, apa yang dia lakukan?gawat bagaimana ini? Apa Sungmin hyung dan Wookie tau. Aku tidak boleh terlihat panik. Kalau Teukie hyung sampai tahu bisa habislah Kyu nanti. Tapi apa yang harus aku lakukan? Aku harus segera menolongnya.

”Hae Gwencahanyo?”tanya Eunhyuk disampingku.

”Ne…gwenchana…”jawabku cepat.

”Tapi kenapa wajahmu pucat sekali…memang sih kita pucat tapi wajahmu lebih pucat?”tanyanya lagi.

Aku tidak tahu harus menjawab apa, gawat kalau orang-orang disini tahu. Ottohke?

”Donghae…ayo ikut aku…”seru Yesung hyung tiba-tiba sudah datang dan langsung menarik tanganku.

Semua orang disitu hanya bisa kaget melihat Yesung hyung yang sudah ada disana. Teukie hyung langsung menghampiri kami dengan wajah khawatir.

”Ada apa?”tanyanya pada kami berdua dengan wajah panik pasti dia taku kalau ada hubungannya dengan Kyu. Aku harus berbohong padanya.

”Andwe hyung…kami hanya ada urusan sebentar…aku pergi dulu ya…tidak apa-apa….sebentar lagi kami pulang…”seru Yesung hyung lebih dulu menjelaskan. Kulihat wajah Teukie hyung masih bingung.

”Kami Cuma sebentar kok…pinjam mobil ya…”seruku padanya.

Dia masih bingung namun tetap memberikan kunci mobilnya dan aku pun segera mengambilnya.

 

Yesung hyung berjalan lebih dahulu di depan, aku mengikutinya di belakang. Ini bisa jadi kesempatanku untuk menolong Kyu, meski nantinya Yesung hyung akan tahu tapi aku yakin dia tidak akan cerita pada Teukie hyung atau kalau dia mau cerita pada mereka, aku akan memohon padanya agar tidak bercerita pada mereka. Tak lama kemudian kami sudah meluncur. Aku ingin bertanya padanya sebenarnya ada urusan apa dia denganku.

”Kau telepon Sungmin…tanya dia ada dimana?”seru Yesung hyung tiba-tiba. Wajahnya datar tanpa ekspresi.

Apa dia juga mengkhawatirkan Kyu? Apa dia tahu? Darimana dia tahu? Aku rasa di tidak memiliki kemampuan mmebaca pikiran atau melihat masa depan. Darimana dia tahu? Aku ingin bertanya namun kuurungkan niatku karena Kyu lebih penting daripada pertanyaan bodoh itu. Aku segera mencari nomor Sungmin hyung dan meneleponnya.

 

Sungmin POV

Aku sudah mencarinya ke seluruh taman tapi tidak juga menemukan anak itu, dimana dia? Aku sudah bilang tunggu disini tapi dia malah menghilang.

”Wookie bagaimana? Kau temukan dia?”tanyaku pada Wookie yang kembali setelah mencarinya.

”Andwe hyung….aku sudah cari kemana-mana tapi tidak ketemu…”jawab Wookie sambil berusaha mengatur nafasnya kembali.

Gawat kalau begini. Pasti dimarahi oleh Teuki hyung. Kami berdua kembali mencarinya ke sekeliling taman namun masih belum menemukannya juga.

”Hyung kita tanya ahjussi itu siapa tahu dia melihat Kyu…”seru Wookie padaku sambil menujuk tukan sate ayam di ujung taman itu.

Aku pun mengangguk dan berjalan bersama Wookie ke tukang sate ayam itu.

”Permisi ahjussi…apa kau melihat seorang pria memakai hoodie hitam…dia tinggi dan rambutnya agak sedikit ikal…matanya biru…”seruku menjelaskan ciri-ciri Kyu pada ahjussi itu.

Aku melihat ahjussi itu berpikir sebentar.

”Pria yang membeli 12 tusuk sate…ya dia punya mata biru dan rambutnya ikal…dia juga sangat tinggi…”seru ahjussi itu.

”Dia kemana ahjussi?”tanya Wookie langsung.

”Dia berlari kesana setelah membeli sate ini…”seru ahjussi itu sambil menunjuk ke arah dimana tadi dia melihat Kyu.

”gamsahamnida ahjussi…”seruku dan aku pun segera berlari meninggalakan kedai itu namun baru beberapa langkah Hpku berbunyi dari Donghae. Gawat kalau mereka menanyakan Kyu.

”Hyung ada dimana sekarang?”tanya Donghae langsung begitu kuangkat teleponnya.

Bagaimana ini? Aku harus jawab apa? Apa aku harus bilang bahwa Kyu hilang.

”Masih di taman…”jawabku singkat. Semoga dia tidak bertanya yang macam-macam.

”Hyung cari Kyu cepat…emosinya berubah…dia seperti sedang berburu…”seru Donghae.

Dan itu langsung membuatku terkejut. Berburu. Apa? Manusia? Oh tidak! Aku jadi ingat kenapa aku tidak menggunakan kekuatanku dari awal. Aku terlalu panik karena Kyu hilang sampai tidak berpikir jernih.

”Ne…arasso…”seruku kemudian menutup telepon.

”Waeyo hyung?”tanya Wookie khawatir.

”Kyu sedang berburu….aku harus melacaknya…”seruku.

Aku melihat Wookie terkejut dan membelalakan matanya tidak percaya. Aku pun mulai berkonsentrasi mencarinya.

1 detik

2 detik

3 detik

Aku belum juga menemukannya, namun aku melihat bayangan hitam berlari. Itu Kyu. Tapi matanya merah, merah terang. Aigoo, kenapa dengannya? Apa yang di cari? Aku kembali memfokuskan pikiranku mencari tahu apa yang dia cari, kosong, aku tidak melihatnya. Dia sedang duduk di atas pohon menunggu sesuatu tapi sesuatu itu tidak terlihat. Kenapa dia bisa ada disitu. Aku segera menelepon Donghae dan menceritakan semuanya. Aku pun segera pergi ke tempat itu bersama Wookie.

 

Donghae POV

Aku sampai duluan di tempat itu sebelum Sungmin hyung dan Wookie datang. Kyu ada di atas sebuah pohon membelakangi kami. Entahlah apa yang dia lakukan.

”Kyu…”seruku sambil berjalan mendekatinya.

Sementara Yesung hyung berkonsentrasi di belakangku mencoba mengendalikan perasaan Kyu.

Kyu menoleh ke bawah dan saat kulihat matanya. Astaga! Matanya merah terang seperti vampir murni. Benar dia sedang berburu. Hanya dia satu-satunya di keluarga kami jika sedang berburu makan warna matanya yang biru akan berubah menjadi merah terang, tapi apa yang diburu olehnya?hewan? tidak ada disini? manusia? Astaga, apa yang dia pikirkan? Berburu manusia?tapi mana mungkin, kami manusia setengah vampir kebal dengan bau manusia. Oleh sebab itu kami bisa mengendalikan diri.

Matanya yang merah terang menatapku tajam dan tiba-tiba dia langsung melompat dan menghantamku. Dia memukulku hingga tersungkur ke tanah. Aisshh, kenapa anak ini jadi kehilangan kendali seperti ini? Tidak biasanya meski berburu dia kehilangan kendali seperti ini. Aku bangkit dan berusaha menghentikannya, aku menguncinya dari belakang.

”Yesung hyung cepat!”seruku pada Yesung hyung yang masih berkonsentrasi untuk mengembalikan Kyu.

Kyu berhasil lepas dan dia kembali menyerangku. Aisshh, aku pun terpaksa meladeninya kalau tidak habislah diriku. Dia memukulku lagi dan aku pun  membalasnya juga. Dia seperti kehilangan kesadarannya.

”Donghae!”teriak Sungmin hyung yang baru saja datang bersama Wookie.

Sungmin hyung langsung emnghampiriku yang sedang bertarung dengan Kyu.

”Gwenchanayo Donghae-ah?”serunya sambil membatuku berdiri.

”Ne…”jawabku.

Sungmin hyung sedikit tercengang melihat Kyu yang sudah berubah 180 derajat dibanding dirinya yang biasa. Sungmin hyung menatap bingung ke arahku namun tiba-tiba Kyu langsung memukul Sungmin hyung dan membuatnya jatuh ke tanah. Aku pun berusaha melawan Kyu lagi. Namun tiba-tiba Kyu jatuh. Dia pingsan. Yeusng hyung bersama Wookie segera menghampiri kami.

 

Kyu POV

Aku membuka mataku perlahan, aku merasa ada di dalam mobil. Kepalaku pusing sekali. Aku menengok ke samping dan mendapati Donghae hyung sedang menatapku.

”Kau sudah bangun Kyu?”tanyanya.

Aku hanya mengangguk lemah dan berusaha duduk dengan benar.

”Apa yang terjadi?”tanyaku.

Lalu Yesung hyung dan Sungmin hyung membantuku keluar dari mobil dan mendudukanku di bangku. Sepertinya ini di taman tadi. Tapi kenapa sekarang ada Yesung hyung dan Donghae hyung, perasaan aku pergi bersama Sungmin hyung dan Wookie hyung. Tak lama kemudian Wookie hyung datang membawakan minuman hangat. Dia menyodorkan segelas padaku dan aku langsung meminumnya.

”Tadi kau kenapa?”tanya Yesung hyung.

”Molla…”jawabku.

”Kau tidak ingat apa yang kau lakukan?”tanya Sungmin hyung.

”Memangnya apa yang aku lakukan?”tanyaku balik bertanya.

Aku bingung apa yang mereka bicarakan. Memangnya apa yang sudah aku lakukan. Aku tidak ingat apa yang terjadi.

”Apa yang kau ingat?”kini giliran Donghae hyung yang bertanya.

”Aku hanya ingat…sambil menunggu kalian aku pergi membeli sate ayam tapi setelah itu tiba-tiba semuanya jadi gelap dan tiba-tiba aku ada disini lagi…”jawabku.

Mereka semua terlihat bingung. Aku menatap wajah mereka satu persatu.

”Sudahlah…ayo kita pulang…”seru Sungmin hyung dan segera beranjak menuju mobil.

Aku berjalan di belakang mengikutinya. Aku mengingat-ingat apa yang sudah aku lakukan tapi aku sama sekali tidak ingat apa yang aku lakukan, aku pikir aku hanya pingsan saja tapi aku juga tidak ingat kenapa aku pingsan.

”Gwechanayo?”tanya Donghae hyung yang ada disampingku.

”Ne…gwenchana…”jawabku sambil tersenyum dan Donghae hyung langsung merangkul bahuku dan berjalan menuju mobil.

Apa yang terjadi tadi?

Advertisements

2 thoughts on “FF: Love Is Really Hurt Part 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s