FF: Our Secret Part 17

Part 17

Cast       : 1.  All of Super Junior member as theirselves

2. Viozz Shawolelf Magnae GaemGyu as Choi Yong Soon

3. Yhayank Joonbee’kyujong-changmin CassieTriples as Choi Yeon Ji

4. PriskaKyu BabyEunhyuk EverlastingFriends as Shin Rae Bin

5. Diah Widiyaningsih as Choi Je Ri

6. Dea Maulida as Min Hee Yeon

7. Riani Ps as Shin Hyo Soo

8. Lisa Dhaniar Regina as Eun Ji Soo 

Genre   : Friendship, Romance, n genre kagak jelas lainnya….

Couple :

Kyuhyun belongs to Choi Yong Soon

Yesung belongs to Choi Yeon Ji

Eunhyuk belongs to Shin Rae Bin

Hangeng belongs to Min Hee Yeon

Donghae belongs to Shin Hyo Soo

Ryewook belongs to Choi Je Ri

Ki Bum belongs to Eun Ji Soo *new couple… hohoho*

Part 17 => Choi Yeon Ji

let’s chekidot….

Yong Soon POV’s

Aku berjalan di belakangnya, aku tidak peduli secepat apa dia melangkah. Sepertinya dia puas sekali mengerjaiku juga seperti ini, padahal dia tau kalau aku tidak suka makan daging. Aigo, sepertinya perutku mulai menolak. Aku meringis memegangi perutku.

Tuang cho babo itu berhenti melangkah dan mendongak ke arahku. “Ya Yongie-ya. Jalanmu bisa cepat sedikit tidak??” tanyanya dengan cuek, lalu kembali berjalan seperti biasa di depanku. Aish namja itu, sudah tau langkahnya panjang seperti itu daripada aku lagipula perutku sekarang sedag mual, aku tidak bisa berjalan lebih cepat.

Aku terus memegangi perutku yang semakin bergejolak sesekali aku meringis. Kulihat Kyu yang masih berjalan dengan santai di depan, sepertinya dia tidak peduli sekali denganku. Apa dia tidak sadar kalau ada yang tidak beres denganku, masa aku yang harus lebih dulu mengeluh padanya, sireo aku tidak mau.

“Yongie-ya” panggilnya lagi.

Aku tidak menghiraukan panggilannya, aku berkonsentrasi pada perutku yang semakin mulas. Rasanya ingin muntah, perutku benar-benar mual.

“Yongie-ya gwenchana??” Tanya Kyu dengan wajah cemasnya. Cih, akhirnya dia sadar juga kalau ada yang berbeda dari diriku, tapi dia masih saja berdiri di tempatnya tanpa menghampiriku menyebalkan sekali punya namjachingu yang cuek seperti dia.

Aku hanya menatapnya dengan pandangan yang aku saja sulit mengartikannya. Tatapan yang bercampur antara marah, sendu dan juga kesal. aku menunduk, menopangkan tanganku menahan berat badan ke dengkulku, satu tanganku memegangi perutku yang semakin menjadi-jadi.

Dapat kulihat dari ekor mataku kalau sekarang dia menghampiriku dengan tatapan khawatirnya. Sepertinya aku sudah tidak kuat lagi menahan rasa mual di perutku. Aku mengulurkan sebelah tanganku lagi untuk menahan Kyuhyun agar tidak mendekat. “Ja..ngan.. men..de..kat…” kataku susah payah sambil menahan rasa mualku.

“Kau kenapa..???” tanyanya yang semakin khawatir denganku, dia tidak mengindahkan perintahku tadi, dia terus saja mendekatiku.

“Kubilang jangan men…..”

BYUUUUUUUUUUUUURRRRRRRRRRR

Aku sudah tidak tahan lagi menahan perutku yang mual, akhirnya tidak sengaja aku malah mengeluarkan semua isi perutku, dan itu tadi sempat memotong perkataanku yang ingin kutujukan pada Kyuhyun. Aku menunduk mengatur nafasku, rasanya lega juga. Tapi aku perutku masih menyisakan sedikit rasa mulas.

Aku berusaha berdiri dan melihat Kyuhyun yang tadi sepertinya cemas sekali denganku. Aku mendongak, tiba-tiba aku melihat seseorang dengan raut wajah yang berbeda.

“Upppzzz…” kataku sambil membelalak tidak percaya.

Kyuhyun menatap tajam kearahku, dia mengangkat kedua tangannya, menjauhkan tangannya dari tubuhnya yang sudah berlumuran dengan isi perut yang tidak sengaja aku keluarkan tadi. Aku bergidik ngeri melihatnya. Perasaanku tadi, sepertinya aku tidak muntah di tubuhnya tapi kenapa…..?? aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal.

“mianhae” bisikku dengan rasa bersalah padanya.

“YA… YONGIE APA YANG KAU LAKUKAN..??? LIHATLAH ULAHMU INI, PAKAIANKU KOTOR DENGAN MUNTAHANMU, KAU INI JOROK SEKALI” sungutnya dengan nada yang meninggi padaku. Aku tau pasti dia kesal sekali padaku, lagipula tidak tanggung-tanggu noda yang kusemburkan ditubuhnya adalah muntahanku, tapi apa dia tidak bisa lebih lembut sedikit padaku?? Aku kesal sekali melihatnya.

“YAAAAA, TUAN CHO BABO. BUKANKAH TADI AKU SUDAH BILANG JANGAN MENDEKAT. PERUTKU MUAL JUGA KARENAMU, LAIGUPA AKU TIDAK SENGAJA” balasku dengan nada yang tak kalah tingginya. Padahal tadi aku sudah memberanikan diri untuk minta maaf padanya, harusnya aku tidak usah minta maaf padanya kalau dia juga tetap akan memarahiku. Aku mendengus nafas kesal sambil mengembungkan pipiku.

Orang –orang di sekitar kami tampak memperhatikan aku dengan Kyunhyun. Aku jadi tidak enak hati diperhatikan seperti itu, aku pun berjalan melewati Kyuhyun dan berjalan berlawanan arah dengannya. Dia menarik tanganku.

“Kau harus bertanggung jawab Yongie babo” katanya padaku tak lain seperti sebuah bisikan, kurasa hanya aku yang dapat mendengar kata-katanya.

“Mwo..??”  tanyaku.

“Kau harus membelikanku baju baru, tidak mungkin aku memakai baju yang penuh dengan muntahanmu ini bisa-bisa aku pingsan. Dan juga nanti kau harus mencucikan bajuku ini dengan tanganmu sendiri.” Jalasnya sambil menatapku dengan tatapan evilnya itu.

Aku membelalakkan mataku tidak percaya. Yang pertama aku harus membelikannya baju baru, baik itu masih bisa aku terima meskipun aku tau kalau dia mau dia bisa membeli baju sendiri tapi untuk sekarang aku harus bertanggung jawab atas perbuatan yang tidak kusengaja itu. Tapi yang kedua, aku membelikannya baju baru tapi kenapa aku harus mencucikan bajunya dengan tanganku juga??. “Kalau harus membelikanmu baju baru aku terima, tapi kenapa aku harus mencucikan bajumu juga??” protesku.

“Jadi kau tidak mau??” dia masih menatapku dengan tatapan evilnya itu. Aissh apa maksud tatapannya itu? “Kalau kau keberatan gwenchana. Tapi aku akan memelukmu sekarang juga, dankau juga akan merasakan noda yang kau buat ini di pakaianmu” lanjutnya.

Aku bergidik ngeri dengan ancamannya. Ya walaupun itu besasal dari diriku sendiri tapi tetap saja menjijikkan. Ide untuk kaburpun sepertinya tidak bisa melihat tangannya yang menggenggam erat tanganku, bisa saja hanya dalam beberapa detik dia menarikku kepelukannya. “NE…NE…NE…ARASSO, AKU TERIMA PERSYARATANMU” kataku kesal, Kyuhun hanya tersenyum menang.

Je Ri POV’s

Aku membereakan barang-barangku ke dalam tas yang akan kubawa untuk pulang ke Busan. Eomma terus saja menyuruhku cepat pulang, sebenarnya aku juga sangat merindukan mereka. Sudah lama juga aku tidak pulang ke Busan. Tiba-tiba Rae eonnie masuk ke kamarku dengan wajah tidak bersemangat.

“Wae eonnie-ya..??” tanyaku dengan masih membereskan barang-barangku.

Kudengar dia manarik nafas panjang sebelum berbicara. “Berapa lama kau di Busan..??” tanyanya kemudian.

“Hanya seminggu eonnie, lagipulakan aku masih banyak urusan disini” jawabku

“Seminggu itu juga waktu yang lama bagiku Je Ri-ya” kata Rae Bin eonnie dengan lemas.

Aku menghampirinya dan duduk di tepi tempat tidurku persis di sampingnya. “Eonnie masih takut dengan mimpi-mimpi itu?” tanyaku.

Dia menoleh dan menatapku tapi dia tidak menjawab pertanyaanku, kurasa jawabannya adalah ‘iya’. “Itu hanya mimpi eonnie, jangan terlalu dipikirkan” kataku sambil meraih tangan Rae Bin eonnie dan menggenggemnya, kuharap dengan ini aku bisa memberikan sedikit kekuatan padanya. “aku ingin melihat eonnie yang tangguh, masa eonnie takut hanya karena mimpi. Bukankah Eunhyuk oppa juga sudah bilang kalau dia mencintai eonnie dan menerima eonnie apa adanya, apa lagi yang eonnie takutkan??” lanjutku lagi.

“Mollasso Je Ri-ya. Aku takut sendirian”

“aku pergi hanya seminggu setelah itu aku pasti akan kembali kesini lagi”

“Baiklah” dia tersenyum, aku senang melihatnya tersenyum. “Kudengar kau akan pergi ke Busan bersama Wookie??” Tanya Rae eonnie mengalihkan pembicaraan.

Aku tersenyum malu padanya mau tidak mau aku juga tidak bia menyembunyikan berita itu darinya. “Wookie oppa memaksa untuk ikut denganku, padahal aku sudah melarangnya karena dia masih banyak jadwal. Nanti dia akan kembali ke Seoul lebih cepat dariku” jelasku pada Rae eonnie.

Rae eonnie tampang mengangguk-anggukkan kepalanya. “Chukhaeyo Je Ri-ya. Itu berarti Wookie sudah sangat serius denganmu”

Aku tersenyum simpul mendengar kata-kata terakhir Rae Bin eonnie, dia pun membalas senyumanku. Aku sangat senang kalau Wookie oppa benar-benar serius padaku. Tapi di satu sisi aku juga takut, takut kalau takdir akan berkata lain tentang hubungan kami.

Yeon Ji POV’s

Aku menghentak-hentakkan langkahku memasuki dorm, Yeppa berjalan di belakangku. Aku masih tidak setuju dia harus mengecat rambutnya seperti itu. Kenapa omanim malah membelanya, jelas-jelas Yeppa jelek dengan gaya rambutnya yang seperti itu. Belaan omanim hanya membuat kepalanya yang besar itu semakin besar. Hurt, Yeppa kau menyebalkan…

Aku menghempaskan tubuhku ke sofa ruang tengah, tepat disampingku Siwon oppa memperhatikan aku dengan wajah herannya. Dari tadi aku memang mengembungkan pipiku kesal.

“Yeon Ji-ya waeyo..??” Tanya Siwon oppa heran melihatku.

Aku menatap lurus ke TV yang sedang menyala. “Jangan bertanya oppa” sahutku ketus sambil menyilangkan kedua tanganku ke dada.

Siwon oppa mendongak ke belakang kemudian dia mengangkat bahunya “Arasso, aku tidak akan ikut campur” jawab Siwon oppa.

Aku menoleh kea rah Siwon oppa yang sekarang sudah memandang serius ke TV. “Oppa kau harus ikut campur” Siwon oppa beralih menatapku dengan pandangan tidak mengerti.

“Kau harus berkata jujur oppa. Penampilan Yeppa sangat burukkan dengan rambut blonde barunya itu..??” tanyaku serius.

Siwon oppa melirik ke belakang lagi, aku pun menolehkan kepalaku ke belakang melihat kea rah pandang Siwon oppa. Ternyata yang dilihatnya adalah Yeppa, mereka berdua terlibat saling pandang seolah sedang berkomunikasi hari batin ke batin. “Aku rasa Yesung hyung tidak buruk dengan rambut barunya yang seperti itu” jawab Siwon oppa dengan santai padaku.

Aku beranjak dari tempat dudukku, aku kesal sekali mendengar jawaban Siwon oppa. Aku tau apa arti dari tatapan tadi, Yeppa pasti mengisyaratkan Siwon oppa agar membelanya. “Yaaa, Yeppa kau curang. Tidak seharusnya kau menyogok Siwon oppa seperti tadi. Siwon oppa, aku kira kita sehati tapi ternyata tidak” aku mendengus dan pergi dari ruang tengah. Aku kesal melihat tingkah mereka yang seolah mempermainkanku.

Di tengah jalan ketika hendak keluar dorm aku malah berpapasan dengan oppadeul yang lain, dibelakangku Yeppa sudah menyambut tanganku yang sedang menganggur. “Yeon Ji-ya jangan marah” kata Yeppa, aku hanya diam tidak menoleh kearahnya. Oppadeul di hadapan kami menatapku dan Yeppa bergantian.

“Ada apa lagi ini??” Tanya Sungmin oppa heran yang melihat tingkah kami.

“Yesung-ah, Yeon JI-ya. Ayo masuk” perintah Teukie oppa padaku dan Yeppa yang berdiri disampingku. Mau tidak mau aku menurutnya. Aku kembali masuk dan duduk di samping Siwon oppa lagi, sedangkan Yeppa duduk di sebelah sisiku yang lain.

“Sebenarnya apa masalahnya. Kulihat ada yang tidak beres dari kalian berdua” tuduh Teukie oppa padaku dan Yeppa.

Yesung POV’s

Lagi-lagi harus di sidang seperti ini. Yeon Ji-ya, Yeon Ji-ya…. Aku menggeleng-geleng dalam hati.

“siapa yang ingin menjelaskan padaku?? Yesung atau Yeon-Ji??” Tanya Teukie hyung lagi karena pertanyaannya yang tadi tidak di jawab oleh aku maupun Yeon Ji.

“Aku tidak suka dengan gaya rambut Yeppa yang sekarang” jawab Yeon Ji.

Kulihat Teukie hyung terlihat menautkan alisnya bingung. Yang lainpun tak kalah herannya. Hanya Siwon yang terlihat santai sambil memain-mainkan remot TV.

“Lalu apa masalahnya??” Tanya Teukie hyung tidak mengerti.

“Yeppa tampak jelek dengan gaya rambutnya itu. Tapi omanim dan Siwon oppa malah bilang kalau Yeppa tampan dengan gaya rambutnya itu, itu karena Yeppa curang” jelas Yeon Ji

“Aku tidak curang Yeon Ji-ya” kataku meralat.

“Lalu  apa arti dari tatapan oppa tadi??” tuduh Yeon Ji padaku.

“AAAiiisshh tenang dulu. Yeon JI-ya, aku masih belum menemukan masalahnya disini”sepertinya Teuki hyung masih tidak mengerti. “lalu kenapa dengan Yesung kalau gaya rambutnya menurutmu membuatnya jelek??” lanjut Teukie hyung.

“Sebenarnya tidak ada masalah. Aku hanya tidak suka saja. Omanim dan Siwon oppa mengatakan Yeppa tampan padahal itu tidak benar. Aku tidak akan mempermasalahkannya kalau mereka berkata jujur, toh aku juga akan tetap bersama Yeppa walaubagaimanapun” jalas Yeon Ji lagi sambil memanyun-manyunkan bibirnya, aku gemas sekali melihatnya seperti itu. Dasar Yeon Ji.

Teukie hyung, heechul hyung, Shindong, Sungmin, dan Siwon tertawa sejadi-jadinya begitu mendengar penjelasan Yeon Ji.

“Yeon Ji-ya kau lucu sekali. Baiklah aku katakana kalau Yesung hyung jelek sekali dengan gaya rambut barunya itu. Sekarang kau puas Yeon Ji-ya??” sahut Siwon.

“Yaaaa… oppadeul kalian menyebalkan” sungut Yeon Ji kesal.

Aku tersenyum kemudian mengelus rambut Yeon Ji. “Ne Yeon Ji-ya. Aku akui aku tampak sangat jelek seperti ini” aku mengeluarkan ekspresi terjelekku pada Yeon JI. Yeon JI tampak terkekeh melihat ekspresi yang kubuat. “Kau tampak lebih baik tersenyum seperti ini daripada marah dan cemberut seperti tadi. Apa kau mau wajahmu itu cepat tua??” kataku pada Yeon Ji.

Yeon Ji menggelengkan kepalanya. “Kalau begitu aku akan tersenyum terus. Cukup oppa saja yang tua” celetuknya. Aku mengacak-acak rambutnya, dasar Yeon Ji. yang lain pun tampak tertawa puas sekali melihatku diledek oleh Yeon Ji. Huft menyebalkan sekali mereka ini.

EunHyuk POV’s

“ada masalah apa lagi chagi??” kataku sambil mengacak-acak rambutku frustasi.

“Aniya” jawabnya singkat.

“Tapi kau penjadi pemdiam belakangan ini. aku lebih senang melihatmu marah-marah padaku daripada diam seperti ini, kau terlihat aneh” jelasku padanya.

“Aniya Hyukie-ya. Sudah kubilang aku baik-baik saja” jawabnya masih dengan ekspresi datar.

“Aiiissshh kau ini” aku mengacak-acak rambutku lagi. “Ayo ikut aku!!!” lanjutku sambil menarik tangannya dengan sedikit memaksa.

Dia manatap heran padaku, tapi dia hanya diam saja. Dia benar-benar aneh, biasanya kalau dia tidak suka dia akan dengan reflek berontak dan marah-marah padaku. Aku tidak bisa melihatnya seperti ini, ini bukan Rae Bin yang kukenal.

“Hyukkie-ya kau mau membawaku kemana..??” tanyanya begitu sampai di tempat parkiran dorm.

Tanpa berkata-kata aku langsung membuka pintu mobil penumpang dan sedikit mendorong tubuhnya agar dia masuk. Dia masuk ke mobil, setelah itu aku pun masuk ke mobil juga dan menjalankannya.

Rae Bin POV’s

Apa aku seaneh itu sampai-sampai Hyukkie mengkhawatirkan tingkahku??. Aku akui, aku memang sedikit pendiam sejak kepergian Je Ri ke Busan tadi pagi. Aku berpikir apakah mala mini aku bisa melewatinya tanpa takut? Aku tidak terlalu yakin. Aku menatap lurus ke jendela mobil, Hyukkie tidak mengajakku bicara maka akupun malas untuk memulai pembicaraan duluan. Kulihat HYukkie mengendarai mobilnya dengan kecepatan lebih lambat, kulihat pemandangan di depan mobil kami, dari gerbangnya aku hafal sekali kalau ini adalah kebun binatang. Kenapa dia tiba-tiba ingin mengajakku ke kebun binatang??.

Hyukie mengambil kacamata  hitam dan masker yang selalu tidak pernah tinggal di taruhnya di jok belakang. Kuperhatikan setiap gerak-geriknya. Dia turun dari mobil dan tak lama kemudian membukakan pintu untukku. Dia mengulurkan tangannya padaku, aku menyambutnya dan turun dari mobil.

“Kenapa kita kesini..??” Tanyaku masih tidak mengerti dia membawaku ke kebun binatang.  Dia hanya tersenyum menjawab pertanyaanku itu, senyum gummy-nya yang polos. Meskipun aku tidak bisa melihat senyumnya itu secara langsung karena dia memakai masker, tapi aku masih bisa merasakan pesona senyumnya itu padaku, teerlihat dari pipinya yang sedikit terangkat dan garis-garis disekitar matanya saat dia tersenyum.

Tiba-tiba Hyukie langsung menarik tanganku, aku sedikit kewalahan menyeimbangkan langkahku dengan langkahnya tapi beberapa saat lkemudian aku mulai terbiasa.l

“Cha lihat itu..” dia menunjuk seekor harimau yang di kandang sedang mondar-mandir. Kami melihat harimau itu dari jarak yang agak jauh, tapi aku masih bisa melihatnya dengan jelas.

“Harimau, wae??” tanyaku sambil menatap wajahnya

Dia masih menatap lurus kearah tempat harimau itu. “Kau tau, Rae Bin ku itu ganas seperti harimau itu. Kurasa kalau mereka diadu harimau itu yang sepertinya akan kalah” jelasnya.

Yaaa, apa-apaan dia. Masa aku disamakan dengan harimau, setidaknya kan dia bisa mencari perumpamaan yang lebih manis tidak harus harimau. Aku menjitak kepalanya. “Yaaa, aku masih jauh lebih manis daripada harimau itu” protesku, dia tampak mengelus-elus kepalanya dan terkekeh puas sekali.

Aku heran melihat tingkah anehnya itu, tiba-tiba dia kembali menarik tanganku lagi. aaaiiisshh apa maunya, dia sedikit membuatku terengah-engah. “Maksudmu kau lebih manis seperti itu” tunjuknya lagi, tapi kali ini dia sedang menunjuk seekor beruang madu.

Aku mengembungkan pipiku kesal dengan perumpamaan-perumpamaan yang dibuatnya. “Aniya.. kau senang sekali meledekku. Aku itu manis seperti……….” Aku menengok keseliling mencari sesuatu yang menarik. Mataku berhenti disebuah kandang yang terdapat seekor burung yang sangat indah di dalamnya, kulihat diluar kandang itu tertulis ‘Burung Cendrawasih’ “Aku seperti burung itu” tunjukku seadanya pada Burung cendrawasih itu, dia menengok kea rah telunjukku.

“Kau tidak pantas seperti burung cendrawasih Rae Bin-ah. Dia terlalu cantik untuk menjadi perumpamaanmu” celetuk Hyukie kemudian dia tertawa sejadi-jadinya.

Aaaiiissshhh aku kesal sekali dengan tingkahnya ini. aku mencubit tangannya yang masih menggenggamku lalu  menjitak kepalanya lagi. dia meringis kesakitan tapi kemudian dia tersenyum. “Yaaaa, berhenti tersenyum seperti itu, aku tahu senyummu itu senyum meledekku kan????. Aku ini sebenarnya siapamu sich Hyukie, kau malah senang sekali meledekku” semprotku pada Hyukie. Kulihat senyumnya semakin lebar saja, dan itu semakin membuatku kesal padanya. aku melangkah meninggalkannya di belakangku, tapi kemudian dia buru-buru menahan tanganku.

“Aku sengaja, aku ingin melihat Rae Bin ku yang seperti ini. kau lebih cantik seperti ini dari pada pendiam seperti tadi Rae Bin-ah” katanya disampingku. Aku menegang di mendengar kata-katanya barusan, aku yakin sekali sekarang pipiku pasti sedang merona merah.

Sekejap kurasakan dia mencium pipiku, seketika aku pun tersadar kulihat dia sudah melarikan diri dariku. “Yaaaa… kau curang” aku mengejarnya yang sudah jauh di depanku.

Langkahku terhenti di depan sebuah kandang yang menarik bagiku. Hyukie tampak heran melihatku yang berhenti mengejarnya, dia menghampiriku dan berdiri tepat di sampingku. “Hyukie-ya, kau mirip sekali dengannya” celetukku sambil menunjuk hewan yang bersarang di kandang yang ada dihadapan kami. itu monyet tapi ukurannya lebih besar, itu beruk..?? iya benar itu beruk hahahaha….

Kulihat Kyukie tampak memanyunkan bibirnya, “Jadi menurutmu begitu??” tanyanya, aku mengangguk “baiklah kalau begitu” lanjutnya lagi, aku menautkan alisku tidak mengerti.

Dia berjalan beberapa langkah ke depan, melangkah lebih dekat lagi ke kandang itu, kemudian dia berbalik menghadapku. Dia menatapku tajam “Rae-ya lihat aku” dia memberikan instruksi, aku memperhatikan tingkahnya yang membuatku penasaran. Detik berikutnya dia menirukan gaya beruk yang ada di kandang itu. Seketika tawaku meledak melihat tingkahnya itu. Dia menggaruk-garuk badannya persis seperti gaya monyet. Dia lucu sekali seperti itu. Aku masih tertawa melihat tingkah jahilnya itu, sampai-sampai perutku sakit karena tertawa.

“Hyukie-ya hentikan. Perutku sakit….” Kataku sambil tertawa.

Dia menghentikan gerakan autisnya itu dan kembali menghampiriku yang masih tertawa. “Apa aku benar-benar mirip dengannya?” Tanya Hyukie padaku.

Aku mengangguk sambil tersenyum. “Kau mirip sekali, tapi hentikan tingkah konyolmu iitu. Perutku sakit karena tertawa, kau memang sungguh memalukan” celetukku padanya.

Tiba-tiba saja dia menatap ke dalam mataku dengan serius dan membuatku gugup karena sikapnya itu. Aku bahkan lupa bagaimana caranya menghirup oksigen. “tetaplah seperti ini. tetaplah menjadi Rae Bin-ku yang seperti ini, kalau kau punya masalah kau harus cerita padaku arasso??” katanya. Aku mengangguk dan tersenyum dengan senyumanku yang paling tulus untuknya. Aku mengerti, ternyata dia sengaja melakukan ini semua untkku, tidak kusangka sikapku akhir-akhir ini membuatnya sangat mengkhawatirkan aku. Aku tidak punya alasan lagi untuk takut pada mimpi-mimpi itu, Hyukie lah kekuatanku, aku yakin dia tidak akan pernah meninggalkanku. Aku percaya padanya.

Hee Yeon POV’s

Aku memasuki dorm dengan santai. Eku mengedarkan pandangaku kesekitar dorm, kenapa sepi sekali?? Aku mulai melangkah ke ruang tengah. Disana hanya ada Teukie oppa, Heechul oppa, Shindong oppa, dan Sungmin oppa. Mereka tampak lemas sekali, ada apa dengan mereka?? Tidak biasanya. Aku pun berjalan menghampiri mereka.

“Oppadeul..??” panggilku memastikan.

Mereka menengok kearahku dengan pandangan datar. “Annyong Hee Yeon..” sapa Heechul oppa lemas.

“Kenapa lemas sekali? Ada masalah apa?” tanyaku bertubi-tubi pada mereka. Memang tidak biasanya mereka seperti ini. setiap aku datang ke dorm pasti ada saja hal-hal autis yang mereka lakukan, tapi hari ini aku tidak melihatnya kecuali ekspresi lemas mereka.

“Pasangan JeWook hari ini ke Busan. Tidak ada yang bisa memasak untuk kami” jawab Shindong oppa.

Ternyata itu masalahnya. Aku tersenyum simpul pada mereka. “Wae..??” Tanya Sungmin oppa yang melihat senyum tipisku.

“sepertinya kalian melupakan suatu hal. Tidak kusangka kepergian kami selama sebulan membuat kalian lupa” jawabku sambil pura-pura memasang wajah cemberutku.

“Hee Yeon benar hyung, kenapa tidak terpikir oleh kita kalau masih ada HanKyung hyung dan Hee Yeon yang siap memasak untuk kita” kata SUngmin oppa berbinar-binar, aku janya terkekeh kecil melihat tingkahnya itu.

Oppadeul yang lain pun tampak berseri-seri menatapku. Lagi-lagi aku tersenyum membalas tatapan mereka. “Aku akan menemui Han oppa untuk mengajaknya memasak makan malam kita” sahutku, lalu aku berjalan ke sebuah kamar yang aku tau pasti itu adalah kamarnya.

Aku mengetuk-ketuk pintu kamarnya, tak lama kemudian orang yang kumaksud pun keluar. “Haneul kau kesini.??” Katanya berseri-seri.

“Hannie bagaimana bisa kau membiarkan oppadeul kelaparan” sahutku.

Dia memelukku erat. “Kau kesini langsung membicarakan mereka, kau tau aku merindukanmu” katanya persis di telingaku.

Aku melepaskan pelukannya. “Baru saja kemarin bertemu kau berlebihan sekali Hannie. Ayo kita memasak, ini sudah jam berapa. Sebentar lagi waktu makan malam, kasiha melihat mereka” ajakku padanya sambil menyambar tangannya dan menariknya ke dapur bersamaku.

Aku mulai mengeluarkan bahan-bahan yang kami butuhkan untuk memasak dari dalam kulkas. Aku membersihkan sayuran sedangkan dia memotong-motongnya menjadi kecil.ternyata kami juga bisa menjadi team koki yang kompak tanpa sadar aku malah tersenyum.

Dia mencoletkan tepung ke pipiku saat aku sedang berkonsentrasi menumis masakan kami. “Yaaa, kau jahil sekali Hannie” protesku padanya sambil membersihkan tepung di pipiku dengan salah satu tanganku yang menganggur.

Tapi lagi-lagi dia terus saja mencoletiku dengan tepung. Aku mengembungkan pipiku kesal, kali ini aku tidak ambil pusing. Kubiarkan saja tepung itu menempel di pipiku, toh kalau aku membersihkannya juga percuma, dia akan mencoletiku lagi.

“Kau lucu sekali dengan ekspresi seperti itu Haneul” gumamnya tepat di telingaku, nafasnya membuatku bergidik geli karena saat ini dia sedang memelukku dari belakang.

“Jangan ganggu aku dulu Hannie, aku belum selesai memasak” kataku sambil sedikit berontak dan melepaskan diri dari pelukannya.

Dia tidak mendengarkan kata-kataku, dia kembali memelukku dari belakang. “Kapan kita seperti ini di rumah kita sendiri??” gumamnya lagi. aku kaku di tempatku, lagi-lagi pembicaraannya menjurus ke pernikahan. Aku bukannya tidak ingin menikah dengannya tapi, jadwal dan kondisinya tidak tepat.

“aku sedang memasak jangan ganggu aku dulu Hannie” kataku mengalihkan pembicaraan, aku beranjak mengambil mangkok dan memindahkan masakaku dari kuali ke dalam mangkok.

Aku melihatnya memasang wajah cemberut. Mungkin dia marah karena aku tidak menanggapi kata-katanya tadi. Aku pun berjalan mendekatinya, kurengkuh wajahnya dengan tanganku. “Aku juga ingin sekali menikah denganmu Hannie, tapi waktunya belum tepat. Tenang lah aku akan selalu berada di sampingmu” aku meyakinkannya. Dia menarikku ke dalam dekapannya, rasanya hangat sekali.

“Yaaaaa…. KYunie-ya hentikan. Bajuku basah gara-gara kau” teriak sebuah suara dari dalam kamar mandi, aku yakin sekali kalau itu pasti suara Yong Soon. Aku melepaskan pelukan Hannie, aku menggeleng-gelengkan kepalaku.

“ada apa lagi ini..??” gumamku pada diri sendiri.

“tidak usah urusi ulang pasangan evil itu Hanuel, lebih baik kita keluar saja” ajaknya padaku. Dia membawa dua mangkok berisi masakan yang telah kami masak, aku pun membawa dua mangkok juga dan hendak menaruhnya ke meja makan.

Kyuhyun POV’s

“itu belum bersih Yongie, sini biar aku siram. Aku sudah berbaik hati untuk menolongmu mencuci pakaianku” kataku padanya sambil tersenyum menang. Dia lucu sekali dengan ekspresinya itu, aku puas mengerjainya hari ini, siapa suruh muntah di tubuhku. Haha….

“Sirreo. Kau keluar saja, aku bisa mengerjakannya sendiri” katanya ketus sambil mendorong tubuhku keluar.

Hanya mencuci satu jaketku dan satu t’shirtku saja dia lamanya minta ampun, sebernanya karena aku juga sich, aku mengerjainya. Tapi kesempatan seperti ini kan jarang-jarang. Aku mengambil selang di sampingku, lalu menyiramkannya kea rah bajuku tapi tidak sengaja sedikit mengenainya.

“Kyunnieeeeeeeeeeeee…….. kau menyebalkan” teriaknya memekakkan telingaku, dia mendorong tubuhku dengan emosi dan menutup pintu kamar mandi dengan membantingnya. Dasar yeoja itu…

Akhirnya kuputuskan untuk ke kamarku saja, kasihan juga terus-terus menjahilinya. Bajunya sudah basah semua seperti itu. Aku pun memutuskan untuk mengambilkannya baju kering, aku tau kalau dia pasti tidak membawa pakaian lagi. aku mengambilkan sebuah t’shirt milikku untuk kupinjamkan padanya, tidak mungkin kan dia pulang ke rumah nya dengan basah kuyup seperti itu. Aku menatap diriku di cermin, lebih tepatnya memperhatikan bayangan t’shirt yang sedang aku pakai. Ini adalah pemberian yongie babo itu, jarang-jarang dia membelikanku sesuatu bahkan bisa dibilang tidak pernah. Meskipun dia membelikanku karena tidak sengaja, tapi bagiku ini berharga. Tidak sengaja aku malah memergoki diriku sedang tersenyum sendiri.

“Kyunnie..” panggil seseorang dari luar kamarku. Aku yakin sekali itu pasti dia, aku sudah sangat hafal suaranya itu.

Aku pun berjalan kea rah pintu dan membukanya, sosok Yongie tepat di hadapanku. “Bajumu sudah selesai kucuci. Nanti kau bisa mengambilnya di mesin cuci, sekarang sedang dikeringkan” gumamnya, dia berbalik hendak meninggalkanku, tapi aku buru-buru menahan tangannya.

“Sebaiknya kau ganti baju dulu. Nanti kau masuk angin dengan memakai pakaian basah” kataku padanya, dia menautkan alisnya heran.

“Yaaa, kau ini tidak dengar apa, cepat ganti bajumu. Aku sudah menyiapkannya di atas tempat tidurku” jelasku. Aku mendorong tubuhnya agar masuk ke dalam kamarku, sedangkan aku keluar dan menutup pintunya. Aku tersenyum simpul pada diriku sendiri, aku pun melangkah untuk menemui hyungdeulku yang berada di ruang tengah.

Donghae POV’s

“Kalian tidak ingin menginap dulu..??” tanya eomma padaku dan Hyo Soo. Aku dan Hyo Soo sekarang memang sedang berada di Mokpo, aku menemani Hyo Soo mengambil barang-barangnya di rumah temannya sekalian saja aku dan dia pulang ke rumahku. Eomma sangat senang bisa bertemu dengan Hyo Soo.

“Besok aku masih ada jadwal lagi eomma. Hyo Soo juga harus kuliah” jawabku pada eomma.

“padahal eomma masih merindukanmu. Nanti kalau kau pulang lagi, kau juag harus mengajak Hyo Soo lagi” kata eomma padaku,

Aku tersenyum pada eomma “Ye, tentu saja eomma. Kami pamit kembali ke Seoul” pamitku pada eomma.

“Oemmanim kami pulang dulu” pamit Hyo Soo pada eomma. Eomma memeluk Hyo Soo dan mencium pipinya dengan hangat.

Aku menggandeng tangan Hyo Soo kearah tempat aku memarkir mobil, aku membukakan pintu penumpang untuk Hyo Soo, setelah kupastikan dia sudah duduk mantap. Aku pun memasuki mobil dan mulai menghidupkan mesinnya. Eomma masih menatap kami di depan pintu, Hyo Soo tampak melambaikan tangannya pada eomma aku hanya tersenyum melihat tingkahnya.

Sepanjang jalan kulihat Hyo Soo tersenyum senang. “Kau senang chagi..??” tanyaku

Dia mengangguk, “Aku senang sekali oppa. Tidak kusangka eommanim akan menyambutku dengan hangat seperti itu” jawabnya, senyumnya masih terkembang.

“Chagi, berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku lagi. aku tidak sanggup jika aku harus kehilanganmu” aku menghentikan mobilku, dan menatap ke dalam matanya.

“Apa yang kau bicarakan oppa. Aku tidak akan meninggalkanmu, asal kau juga tidak meninggalkanku” balasnya.

“Tidak ada alasan aku untuk meninggalkanmu, kau begitu sempurna dimataku chagi” aku tersenyum. Dia tampak menunduk mendengar kata-kataku, aku bisa menebak pasti dia menyembunyikan wajahnya yang merona merah sekarang ini.

“Oppa, ayo jalan lagi, nanti kita sampai ke Seoul kemalaman” sahutnya setelah terdiam untuk beberapa lama, aku mengangguk dan melajukan mobilku kembali.

Hyo Soo POV’s

Kami sudah sampai di depan rumahku, aku senang sekali hari ini. aku bisa bertemu dengan eomma Donghae oppa. Sekarang tidak ada lagi yang bisa memisahkanku dengan Donghae oppa, appa sudah setuju dan eomma Donghae oppa juga menyambutku dengan hangat.

Donghae oppa membukakan pintu mobil untukku dan mengulurkan tangannya untukku aku membalas uluran tangannya. Aku mengetuk pintu rumahku, tak lama kemudian appa membukakan pintunya.

“Jwesonghamnida aboji aku terlambat mengantar Hyo Soo”  Donghae oppa membungkuk pada appa begitu appa membuka pintunya.

Appa mengangguk, “memangnya kalian darimana, kenapa baru pulang??” Tanya appa.

“Aku dan Donghae oppa dari Mokpo mengambil barang-barangku dank e rumah Donghae oppa yang ada di Mokpo appa” jelasku pada appa.

Appa mengangguk mengerti, “Kalau begitu tidak apa-apa. Donghae-ya sebaiknya kau masuk dulu ke dalam” perintah appa pada Donghae oppa.

“Jwesonghamnida abonim, sepertinya aku langsung pulang ke dorm saja. Besok kami masih ada jadwal” jelas Donghae oppa, appa tampaknya mengerti dan tidak memaksa Donghae oppa. “Aku pamit pulang dulu abonim” kata Donghae oppa lagi.

“Josimhae” balas appa. Aku tersenyum senang melihat kerukunan Donghae oppa dan appa. Sebelumnyakan kami terlibat masalah tapi sekarang semua sudahbaik-baik saja.

“Oppa josimhae” sahutku sambil melambai-lambaikan tanganku saat Donghae oppa sudah berada di dalam mobilnya.

Je Ri POV’s

“Oppa kita sudah sampai” kataku sambil tersenyum padanya, kulihat raut wajah kelelahan tergambar jelas.

“Hari ini petualangan yang menyenangkan chagi, ini rumahmu??” Tanya Wookie oppa padaku dengan wajah yang berseri-seri.

“Kajja” ajakku pada Wookie oppa sambil menarik tangannya menuju rumahku.

Aku mengetok-ngetok pintu rumahku untuk beberapa menit. Seseaat kemudian seorang wanita paruh baya keluar membukakan pintunya untuk kami, tanpa pikir panjang aku langsung memeluk wanita yang tak lain adalah eommaku ini. “Eomma bogoshipoyo” bisikku pada eomma.

Eomma melepaskan pelukannya dan menatapku lekat, “Je Ri-ya kau sudah pulang?” kata eomma dengan wajah yang berseri-seri, aku tersenyum tipis melihat eomma yang seperti tidak percaya dengan kedatanganku, bukankah dia yang menyuruhku untuk pulang, dasar eomma.

Disampingku aku bisa melihat Wookie oppa melepaskan masker dan kacamata hitam yang digunakannya, dia menatap lembut kearah eomma. “Annyong ajuhmma” Wookie oppa membungkuk pada eomma kemudian tersenyum.

Eomma menatap Wookie oppa tidak percaya, “Bukankah kau….” Eomma tidak meneruskan kata-katanya lagi.

“Choneun Kim Ryewook imnida, ajuhma” Wookie oppa memperkenalkan dirinya.

Eomma membelalakkan matanya lebar, seolah tidak percaya dengan orang yang ada di hadapannya sekarang. Aku bisa mengerti kenapa eomma seperti itu, tentu saja dia tidak pernah menyangka aku akan membawa seorang Kim Ryeowook Super Junior.

“Kenapa masih diam, ayo masuk” aku memecahkan suasana yang terbilang cukup canggung

“Iya, ayo masuk” eomma menyuruh kami masuk begitu dia berhasil mengembalikan kesadarannya.

Aku menaruh barang-barangku ke kamar setelah itu aku mengantar Wookie oppa ke kamar tamu yang tidak begitu jauh dari kamarku.

Sebelum pagi menyingsing aku sudah membantu eomma memasak untuk sarapan kami. kurasa Wookie oppa pun belum bangun, karena mengingat perjalanan kami dari Seoul ke Busan cukup jauh, pasti dia sangat kelelahan. Aku tidak mau menganggu istirahat Wookie oppa, sebaiknya dia memang beristirahat apalagi sebelum ke Busan dia sedang banyak jadwal dan setelah pulang dari sini pun dia masih ada jadwal lagi, aku kasihan melihatnya yang seperti tidak kenal lelah. Semoga saja dia kuat dan tidak jatuh sakit, karena aku pasti akan sangat mengkhawatirkannya.

Aku menaruh makanan yang telah eomma dan aku masak ke atas meja makan, jam sudah menunjukkan pukul 06.30 pagi. “Sebaiknya kau panggil Wookie untuk sarapan bersama” perintah eomma padaku, di tengah kegiatan kami, aku mengangguk dan menuruti perintahnya untuk menyusul Wookie oppa dikamarnya.

Aku mengetuk pintu kamar Wookie oppa, tak perlu menunggu waktu lama untuk menunggunya membukakan pintu, kulihat Wookie oppa tersenyum padaku. Aku memperhatikannya dari atas sampai bawah, dia sudah terlihat rapi sepertinya dia sudah bangun dari tadi. “Oppa eomma mengajak kita sarapan bersama” aku mengatakan maksud kedatanganku.

“Kajja chagi” Wookie oppa manarik tanganku, dia bersemangat sekali, aku hanya menuruti langkahnya.

Aku duduk disamping eomma sedangkan Wookie oppa duduk diseberangku, yang ada di meja makan hanya kami bertiga?. “eomma, appa mana? Kenapa dia tidak ikut sarapan bersama?” tanyaku di tengah acara makan kami.

“Appa sudah ke kebun ginseng, dia buru-buru jadi dia hanya membawa bekal” jawab eomma, aku mengangguk mengerti.

“Sebaiknya kau ajak Wookie ke kebun ginseng, agar dia bisa melihat disana” saran eomma padaku.

“Aku akan dengan senang hati ajuhmma” sahut Wookie oppa dengan senyumnya yang khas

“Jangan panggil aku ajuhma, panggil saja Eommanim” balas eomma lagi. sepertinya eomma sudah mulai bisa menerima Wookie oppa, aku senang melihatnya.

Setelah kami menghabiskan makanan kami, aku langsung mengajak Wookie oppa ke kebun ginseng seperti apa yang eomma sarankan tadi. Untuk sampai ke kebun ginseng kami harus berjalan selama setengah jam, mau apa lagi tidak ada angkutan yang bisa membawa kami dengan lebih cepat. Jadi terpaksa aku dan Wookie oppa harus menggunakan kaki kami.

“Mianhae oppa, oppa belum sempat istirahat tapi aku sudah mengajak oppa berjalan cukup jauh” sahutku di tengah perjalanan kami.

“Gwenchana Je Ri-ya, aku senang berjalan seperti ini denganmu. Jarang-jarang aku mendapatkan suasana sepertiini, jongmal gomawo chagi” balasnya sambil menyunggingkan senyumannya.

Di ujung jalan aku melihat appa sedang berbicara dengan seseorang. “Oppa itu appa” tunjukku pada Wookie oppa yang berada tepat di sampingku.

Aku segera saja menarik tangan Wookie oppa agar kami sampai lebih cepat di hadapan appa. “APPA..” teriakku memanggil appa, appa menoleh kearahku dan Wookie oppa kemudian tersenyum dengan hangat.

“Kalian kenapa sudah kemari? Appa kira kalian akan istirahat dulu dirumah” kata appa begitu kami sampai tepat dihadapannya.

“Gwenchana ajuhssi” jawab Wookie oppa.

“AAiiisshh kenapa kau masih memanggilku ajussi, panggil aku Abonim, ara..??” pinta appa pada Wookie oppa, aku terkekeh pelan melihat tingkah appa.

“Ye abonim” sahut Wookie oppa agak kaku, lucu sekali melihat tingkah wookie oppa yang gugup seperti sekarang ini.

“Je Ri-Ya..??” sapa seseorang yang tadi berbicara dengan appa. Aku menoleh kearah orang itu, aku menyipitkan mataku untuk memastikan aku mengenal orang itu. “Yaaa, masa kau lupa padaku, aku Jun Hyun temanmu waktu kecil” celetuknya lagi.

Aku langsung tersenyum senang begitu menyadari yang ada di hadapanku ini adalah Jun Hyun teman semasa kecilku. Dia memelukku, aku sama sekali tidak menyangka dia akan memelukku, “Aku merindukanmu lama sekali kita tidak bertemu” bisiknya di telingaku.

Aku membalas pelukannya kemudian melepaskan pelukannya itu. “Ne lama sekali kita tidak bertemu” aku mengulang perkataannya, kulihat dari ekor mataku kalau Wookie oppa singkuh dengan tindakan yang dilakukan Jun Hyun padaku tadi, aku sebenarnya juga tidak enak dengan Wookie oppa, tapi aku juga tidak enak pada Jun Hyun jika tidak membalas pelukannya.

“Jun Hyun kenalkan ini Wookie oppa” aku mengenalkan Wookie oppa pada Jun Hyun, “Dan Wookie oppa ini Jun Hyun” kataku lagi.

“Baiklah, ini urusan anak muda, kalian berbincang-bincang dulu saja. Appa harus mengawasi kebun lagi” Appa pamit pada kami bertiga dan berjalan meninggalkan kami menuju pagawai-pegawai yang mengurusi ginseng.

“Aku Jun Hyun teman semasa kecil Je Ri” sapa Jun Hyun pada Wookie oppa sambil mengulurkan tangannya.

Wookie oppa membalas uluran tangan Jun Hyun. “Aku Kim Ryeowook” balas Wookie oppa.

“Ne ara, kau Wookie Super Junior kan?? Aku mengenalmu, ternyata teman Je Ri sekarang sudah sampai kalangan selebriti. Aku jadi sedikit minder, aku hanya seorang calon lulusan fakultas pertanian di Seoul Universitas *emang ad y..???*.” sahut Jun Hyun.

“Kau ini bicara apa Jun Hyun, Wookie oppa juga sama seja seperti kita” kataku pada Jun Hyun, Wookie oppa mengangguk membenarkan kata-kataku.

Jun Hyun tampak menggaruk-garuk kepalanya tidak jelas. “Kalau begitu ayo kita jalan-jalan” celetuk Jun Hyun lagi, tiba-tiba saja dia sudah menarik tanganku. Aku pun langsung menarik tangan Wookie oppa agar dia tidak tertinggal dibelakangku. Ternyata Jun Hyun tidak berubah, dia tetap saja sama seperti dulu.

“Kau ingat tidak, dulu kan kita sering bermain disini” Jun Hyun mulai mengingat-ingat masa lalu kami,

Aku melirik kearah Wookie oppa, merasa tidak enak dengannya atas apa yang dibicarakan Jun Hyun. Wookie oppa hanya terdiam disampingku, entah ekspresi apa yang ada di wajahnya sekarang, aku tidak bisa mengartikan ekspresi itu

Advertisements

4 thoughts on “FF: Our Secret Part 17

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s