FF: LOVE’S WAY – ONE FINE SPRING DAY

Cast:

1. All of SHINee member

2. Choi Hye Jin

3. Shin Hye Jin

4. Super Junior member

Genre: Friendship and Romance, there’s sad scene also…hehehehe

Rating: General

Disclaimer: Taemin is mine..Only mine..kekekeke

11. ONE FINE SPRING DAY

Siwon POV

Aku baru selesai mandi begitu bel di apartemenku berbunyi. Aku bergegas memakai bajuku dan berjalan menuju pintu. Donghae? Cepat sekali dia, tadi bilang 30 menit lagi. Mungkin bukan Donghae, biasanya dia malah berteriak-teriak memanggilku meskipun ada bel. Siapa yang malam-malam ini berkunjung mana hujan lagi. Seingatku tidak ada temanku yang tahu tempat tinggalku kecuali Donghae tentunya yang tinggal di samping apartemenku.

”Yeoboseyo…”seruku pada layar di pintuku untuk tahu siapa yang membunyikan bel tapi aku tidak melihat siapa-siapa. Aku pun membuka pintuku dan saat kubuka. Aku sangat kaget melihat dia yang ada di balik pintu itu. Aku benar-benar terpaku di tempatku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Untuk apa dia kemari? Kenapa dia bisa ada disini? Pertanyaan itu muncul begitu saja di otakku. Dia tersenyum padaku, senyum tipis lebih tepatnya. Saat itu juga emosiku muncul tapi berusaha kuredam dan mencoba berlaku biasa dan bertanya apa keperluannya.

”Ada apa?”tanyaku dingin.

”Ummamu boleh masuk?”katanya.

Apa pantas dia memanggil dirinya sendiri umma, sedangkan dia tidak pernah melakukan perannya sebagai umma. Aku hanya mengangguk dan menyuruhnya masuk. Kami pun duduk di ruang tamuku dan saling terdiam beberapa lama. Untuk apa dia kesini? Bukannya dia sudah bahagia dan tidak ingat denganku lagi.

”Mereka sangat menyayangimu…”serunya sambil melihat kesekeliling apartemenku. Aku hanya terdiam dan menatapnya dingin.

”Umma tahu kau pasti sangat membenci ummamu ini…tapi tidak ada yang bisa kulakukan saat itu dan umma sangat menyesal telah melakukan itu padamu…”jelasnya.

Aku masih terdiam mengunci bibirku rapat-rapat sebenarnya banyak sekali yang ingin kuutarakan padanya. Bertanya padanya kenapa melakukan itu? Tidakkah dia tahu bagaimana sakitnya hatiku saat tahu orang yang selama ini membesarkanku bukanlah ibu kandungku dan saat aku mendengar cerita mereka bahwa aku dititpkan pada mereka saat aku masih bayi itu benar-benar membuatku benci padanya, pada orang yang saat ini dengan tenangnya menyebut dirinya umma.

”Umma kesini bukan untuk memintamu kembali karena umma yakin kau tidak akan mau…umma kesini hanya ingin menjelaskan semuanya padamu…umma hanya ingin kau mengerti alasanku melakukannya….sebenarnya sudah sejak awal umma ingin sekali bertemu denganmu tapi baru setelah 3 bulan ini, umma mendapatkan alamatmu…”terangnya.

Pasti umma yang memberitahunya. Apakah mereka benar-benar ingin mengembalikanku pada dia. Apa mungkin mereka pikir aku pergi dari rumah karena ingin bertemu dia? Kurasa kedua orang tua angkatku telah salah, aku pergi bukan karena aku ingin bertemu dengannya. Aku hanya ingin sendiri menjalani kehidupanku yang memang sudah sendiri, aku merasa telah merepotkan mereka selama ini.

”Jeongmal mianhe…umma sudah sangat menyakitimu…umma melakukan ini semua bukan karena ingin menelantarkanmu…saat itu kondisi yang membuatku dan appamu tidak bisa membesarkanmu dan menurut kami kau lebih baik bersema mereka, mereka bisa memberikan apa yang kau mau…aku tahu kau juga pasti sudah mendengar alasan ini dari mereka tapi aku berusaha untuk mengungkapkannya sendiri padamu…jeongmal mianheyo…”jelasnya.

Harus berapa kali aku mendengar alasan ini, dulu oarng tua angkatku juga berkata seperti itu saat mereka bercerita bahwa aku bukanlah anak kandung mereka. Kenapa baru sekarang dia datang padaku? Kenapa? Kenapa baru sekarang menjelaskan. Ya aku menunggu dia selama ini. Itu alasan aku pindah. Aku ingin dia membawaku kembali. Aku ingin bersama keluargaku yang asli dan aku berbohong pada orang tua angkatku bahwa aku pindah karena aku ingin sendiri bukan itu alasanya, aku ingin dia membawaku kembali. Tak terasa mataku terasa panas. Aku tidak mau menangis di depannya. Aku berusaha menahan tangisanku. Dadaku sesak menahan amarahku juga menahan rasa rinduku selama ini, selama 18 tahun aku tidak pernah melihat ibuku dan kali ini dia datang dihadapanku. Ibu yang hanya bisa aku lihat dari sebuah foto yang umma angkatku berikan. Orang yang begitu kunanti selama 5 tahun ini. Sekarang dia di hadapanku tapi saat aku melihatnya rasa benci itu mengalahkan rasa rinduku. Aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa, begitu banyak pikiran berkecamuk. Kenapa baru sekarang? Aku ingin meneriakinya seperti itu.

”Siwon-ah…”serunya dia menyebut namaku. Itu pertama kalinya namaku disebut oleh ibuku sendiri, ibu kandungku.

”Mianheyo…mungkin sulit untukmu menerima ummamu…tapi aku kesini hanya ingin minta maaf…mungkin kau butuh waktu untuk memaafkanmu tapi aku senang aku sudah bisa melihat wajah anak laki-lakiku…”serunya.

Aku masih terdiam sejak tadi hanya dia yang berbicara sedangkan aku hanya diam dan menatapnya dingin. Sebenarnya ingin sekali aku menghampirinya dan memeluknya dan mengucapkan umma padanya tapi rasa sakit hatiku sepertinya telah mnegalahkan segalanya membuat lidahku kaku. Dia terus menatapku dan kini dari matanya mulai menetes air mata. Aku sungguh tidak tahan melihatnya menangis tapi aku tidak mungkin menghampirinya dan menghapus air matanya dan berkata bahwa aku sudah melupakan segalanya dan aku ingin bersamanya, tidak mungkin. Rasa sakit hati itu telah menguasaiku. Aku menundukan wajahku dan menatap lantai ruang tamuku.

”Jeongmal mianhe…”serunya lirih.

Kami terdiam sangat lama tidak ada kata yang keluar dari mulut kami berdua dan aku masih melihat matanya masih meneteskan air mata. Kini aku malah menatapnya, dia begitu mirip denganku. Dia tersenyum melihatku menatapnya dan aku buru-buru mengalihkan pandanganku. Dia menjulurkan tangannya dan menggapai meraihku dan bukannya menghindar aku malah tetap diam mungkin aku memang sangat ingin bertemu dengan ibu kandungku yang sekarang ada di depanku. Dia membelai lembut wajahku.

”Kau sangat tampan…umma merasa beruntung memilikimu dan adikmu…”katanya.

Aku sedikit terkejut mendengar dia mengatakan bahwa aku memiliki adik? Seorang adik! Aku punya adik! Aku mengerutkan keningku dan sepertinya dia tahu aku bingung dengan pernyataanya tadi.

”Ne…kau punya adik perempuan…dia satu sekolah denganmu…namanya Hye Jin…”terangnya sambil masih menatapku dengan lembut.

Bagaikan disambar petir, aku sangat terkejut mendengar apa yang dikatakannya. Aku punya adik dan adikku adalah Hye Jin!tidak mungkin. Pikiranku melayang mengingat Hye Jin, apa ini semua alasan kenapa aku selalu merasa aneh setiap berdekatan dengannya. Apa itu menjelaskan semua perasaan yang selalu muncul setiap bersamanya. Karena dia adikku!

Hye Jin POV

Kenapa ibu belum pulang ya? Padahal sudah lewat jam 10, kemana ibu?. Diluar hujan lagi. Aku masih mondar-mandir di depan ruang tv menunggu ibu pulang. Aku khawatir terjadi sesuatu padanya. Habisnya tidak biasanya dia pulang telat dan tidak memberitahu sebelumnya. Aku teleponpun tidak bisa. Ibu kemana sih? Seruku dalam hati.

”Hye Jin-ah…belum tidur? Besok kau sekolah…”seru nenek sambil menghampiriku.

”Ah…halmnyoni…aku masih menunggu ibu…nenek tidak tidur?”tanyaku.

”Kau belum tidur…”jawab nenekku. Ternyata dia khwatir kenapa aku belum tidur juga.

”Tenang saja nanti setelah ibu datang aku langsung tidur…nenek tidur duluan saja…”jawabku sambil tersenyum meyakinkan dan akhirnya nenek masuk ke kamarnya.

Aku menunggu ibu sambil menonton tv, tidak ada acara yang menarik untukku jadi aku hanya mengganti chanel tv berulang-ulang. Ibu cepatlah pulang.

Siwon POV

Aku tidak tahu apa yang kupikirkan saat ini aku benar-benar shock menerima kenyataan ini bahwa aku dan Hye Jin adalah saudara kandung. Untuk saat ini aku merasa membencinya karena dia bisa tinggal dengan kedua orang tuaku sejak dari kecil, mendapatkan kehangatan keluarga yang sesungguhnya sedangkan aku ditinggalkan begitu saja tapi saat aku ingat adikku itu adalah Hye Jin, aku tidak mungkin membencinya dia begitu baik. Tidak mungkin aku membencinya, aku sudah terlanjur menyayanginya sebagai adikku dan ternyata dia memang adikku. Apa yang harus aku lakukan!apa dia tahu aku kakakknya. Tapi sepertinya dia tidak tahu. Jangan sampai dia tahu. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan mulai saat ini jika aku bertemu dengannya.

”Umma membawakanmu makanan…makanlah……”serunya sambil menaruh seplastik makanan ke atas meja. Aku tetap diam dan memalingkan wajahku.

Dia berdiri dan menghapiriku dan membelai wajahku lagi lalu mengecup keningku sekilas. Aku begitu terpaku saat itu. Apa yang dia lakukan? Dia berjalan pergi.

”Annyeonghaseyo…jalja…”katanya sambil melangkah keluar dari apartemenku.

Aku masih terduduk di sofa ku menaikkan kakiku ke atas dan menelungkupkan wajahku diantara kedua kakiku. Apa yang barusan terjadi? Kenapa semua ini terjadi. Kenapa? Dadaku sudah sesak menahan tangisan yang kutahan sejak tadi dan aku sudah tidak kuat menahannya lagi. Aku pun menangis, baru kali ini aku menangis setelah kejadian itu, saat appa dan umma angkatku mengatakan bahwa aku bukan anak kandung tapi itu memang keinginanku meminta mereka menceritakan semuanya. Ini pertama kalinya aku menangis setelah kejadiaan itu, entahlah tangisan apa ini, kesedihan atau kebahagiaan. Aku pun tidak mengerti bagaimana perasaanku saat ini, apakah aku senang atau sedih. Aku menangis sejadi-jadinya, lima tahun aku menunggu kedatangannya dan hari ini dia datang tapi kenapa aku tidak senang apa karena rasa sakit yang masih kurasakan. Walapun begitu dalam hatiku masih terbersit rasa rindu saat aku menatapnya. Menatap wajah ibu yang tidak pernah aku lihat, apalagi saat dia menyentuhku dan menciumku, aku benar-benar merasakan seorang ibu yang ada dihadapanku.

Donghae POV

Jadi juga Jjarmyung ini, seruku dalam hati. Aku siap-siap menaruhnya dalam kotak makan dan bergegas menuju apartemen Siwon. Dia harus mencoba resepku kali ini. Aku beruntung punya teman seperti dia yang mau menjadi eksperimenku untuk mencoba masakanku. Aku berjalan menuju pintu dan segera mengunci pintu. Apartemen Siwon ada di lantai di bawah apartemenku. Sudah kebiasaaku membawa makanan kesana karena Siwon tidak bisa masak dan dia tinggal sendiri, jadi aku kasihan padanya kalau harus terus membeli makanan diluar. Biasanya setiap malam aku akan membawakan makanan ke apartemennya dan makan malam bersamanya. Terkadang orang-orang yang melihat kami sering berpikir yang macam-macam. Dasar mereka itu. Seperti seorang ahjussi yang tinggal disamping Siwon, setiap kali aku datang kesana pasti dia akan menatapku dengan tatapan yang sangat aneh. Dan pada suatu hari dia pernah menanyakannya padaku? Dia pikir kami gay. Enak saja ahjussi itu.  Sejak saat itu aku harus berhati-hati jika ke apartemen Siwon dan memilih waktu yang tepat takut mereka berpikiran macam-macam. Soalnya meski sudah kujelaskan beberapa kali mereka masih saja curiga. Padahal biasanya aku bisa seharian penuh disana bahkan sampai menginap. Satu hal yang kami lakukan main game. Gara-gara hal itu kami sering lupa waktu dan itu menimbulkan kecurigaan orang-orang. Aneh!

Aku menggunakan lift untuk turun kebawah. Setelah sampai di lantai apartemen Siwon aku bergegas menuju apartemennya. Pasti dia sudah menungguku, agak sedikit telat seperti yang aku janjikan sebelumnya. Saat hampir sampai di depan pintu rumahnya aku melihat seorang ahjumma keluar dari apartemen Siwon. Siapa dia? Ibunya? Bukan, aku kenal ibunya Siwon, lalu siapa?ah, apa Siwon main dengan ahjumma, tidak mungkin. Yah dia baru putus dengan ceweknya tapi masa sih dia malah main dengan ahjumma seperti tidak ada cewek lain saja. Setelah ahjumma itu lewat aku langsung mengetuk pintu apartemennya tapi tidak ada jawaban dari dalam.

”Wonnie-ah…”seruku berteriak memanggilnya seperti biasa.

Tidak ada jawaban juga. Apa yang dia lakukan. Aku masuk saja untung pintunya tidak terkunci.

Aku masuk ke dalam rumahnya dan melihat kesekeliling ruangan sangat sepi. Kemana dia. Aku berjalan masuk.

”Wonnie-ah…aku sudah datang bawa jjarmyungnya…”seruku padanya.

Tapi dia juga tidak menjawab. Aku berjalan masuk menuju ruang tamunya dan mendapati Siwon terduduk di atas sofa dan menelungkupkan wajahnya diantar kedua kakinya yang dinaikkan ke atas sofa. Kenapa dia? Aku mendengar suara isakan tangis dari Siwon. Apa yang terjadi? Kenapa dia menangis. Aku menaruh kotak makan di atas meja dan mendekati Siwon. Aku menepuk tangannya.

”Wonnie-ah…kau baik-baik saja….”seruku padanya.

Dia masih terus terisak. Aku bingung kenapa dia?

Hye Jin POV

Sudah hampir jam 11, kemana ibu? Aku sudah sangat cemas, ibu belum juga pulang. Aku terus mondar-mandir di depan pintu masuk menunggunya pulang. Aku berusaha menghubunginya tapi tidak ada jawaban. Umma, pulanglah. Seruku dalam hati.

Tak lama kemudian pintu terbuka dan aku merasa sangat lega itu adalah ibuku.

”Umma…”seruku begitu melihatnya masuk.

”Hye Jin-ah…belum tidur?”tanyanya begitu melihatku masih berdiri di depan pintu.

”Aku menunggu ibu…ibu kehujanan…cepat masuk…akan kubuatkan teh…”seruku menarik tangan ibu.

Aku bergegas membuatkan teh ke dapur dan kembali ke ruang tv.

”Umma darimana?”tanyaku begitu aku lihat ibu sudah mengganti bajunya.

”Mianhe…tadi ada urusan dulu…kenapa kau belum tidur?”tanyanya sambil membelai rambutku.

”Aku khawatir denganmu ibu…”seruku.

Kemudian ibu merebahkan kepalaku di pangkuannya dan membeli lembut rambutku.

”Tidurlah…ibu sudah pulang…besokkan kau harus sekolah….”serunya lembut, masih terus membelai rambutku.

Aku pun berusaha memejamkan mataku.

”Umma telah banyak melakukan kesalahan…”seru ibu tiba-tiba.

”Umma…kenapa?”tanyaku.

”Andwe…tidurlah…”jawabnya. Dia membelai rambutku lalu mengecup keningku lembut.

”Tidurlah…my sweet heart…”serunya lagi.

Aku pun memejamkan mataku dan mulai tertidur tapi aku masih bertanya-tanya ada apa dengan ibu kenapa dia tampak begitu sedih. Mungkin besok akan kutanyakan.

Siwon POV

Aku mendengar suara pintu dibuka dan aku yakin pasti itu Donghae.  Dia datang disaat yang tidak tepat. Aku masih menunduk dan menangis menyadari keyataan ini. Aku mendnegar Donghae masuk dan berteriak memanggilku, aku tetap diam seakan aku tidak ada disini, memang pikiranku sekarang telah melayang entah kemana. Aku merasakan Donghae menyentuh tanganku.

”Wonnie-ah…kau baik-baik saja….”serunya padaku.

Aku seperti tersadar kembali ke alam nyata. Aku mengangkat kepalaku dan menghapus air mata yang masih tersisa di mataku, aku merasa silau karena melihat cahaya lampu, sudah berapa lama aku menundukan kepalaku sampai aku merasa silau seperti ini. Aku menyipitkan mataku dan berusaha menormalkan kembali penglihatanku. Aku lihat Donghae menatapku dengan pandangan sangat kahwatir.

”Donghae-ah…ada apa?”seruku padanya dengan suara serak. Kenapa suaraku? Apa aku menangis sangat kencang.

”Wonnie-ah harusnya aku yang tanya ada apa denganmu…”katanya lagi masih menatapku.

Aku menghela nafas perlaha. Aku bingung harus menjawab apa padanya. Apakah aku harus menceritakannya?

Dia berjalan meninggalakanku menuju ke dapur dan kembali dengan membawa segelas teh hangat.

”Ini…minum dulu…tenangkan dirimu…”serunya sambil menyodorkan gelas itu padaku.

Aku meminumnya perlaha dan berdehem beberapa kali untuk menormalkan suaraku.

”Ceritakan padaku ada apa…”seru Donghae padaku dengan wajah serius.

”Aku mau kau cerita sejujurnya….aku sudah lelah mendengarmu tidak pernah berterus terang…”lanjutnya.

Aku menghela nafas lagi.

”Aishhh…cepatlah cerita…aku janji tidak akan bilang siapa-siapa kalau kau punya hubungan dengan ahjumma itu…”jelasnya dengan wajah masih serius.

”MWO!!”seruku sambil melotot. Apa maksunya itu?

”Ne..tidak apa-apa…mungkin dia lebih baik daripada Yoona…”serunya lagi.

Dia sudah gila. Dia itu ibuku. Dasar temanku yang satu ini memang selalu begitu. Curiga yang terlalu berlebihan. Aishh, apa aku harus cerita kalau ahjumma itu ibu kandungku? Apa reaksinya nanti ya?

”Wonnie-ah…”serunya sambil mengibas-ibaskan tangannya di depan wajahku.

Mungkin sebaiknya aku cerita, aku sudah menyimpan rahasia ini hampir 5 tahun lamanya dan dia tidak pernah tahu apa alasanku tinggal sendiri. Dia sudah sangat baik padaku, mungkin sebaiknya aku ceritakan saja. Aku menghela nafas kembali.

”Dia bukan pacarku…dia ibuku…”kataku tanpa menatapnya sekalipun hanya menunduk sambil memegang gelas yang sudah kosong itu.

”MWO!!!!kau punya berapa ibu!apa maksudnya ini!”teriaknya.

Aku langsung medekap mulutnya takut orang diluar mendengarnya. Nanti mereka bisa berpikiran yang macam-macam.

”Jangan berteriak…biar kujelaskan…”seruku padanya sambil sedikit berbisik.

Akhirnya aku menceritakan semuanya pada Donghae, dia sangat terkejut sekali mendengar ceritaku, dia tidak pernah menyangka hal ini sebelumnya, aku menceritakan semuanya dari awal sampai kejadian tadi dan dia sangat terkejut begitu aku bilang, aku dan Hye Jin adalah saudara kandung. Aku menceritakan semua rasa sakitku begitu aku tahu alasan ibuku meningglakanku, saat aku tahu aku bukan anak kandung keluarga itu, saat aku menunggu disini selama 5 tahun, menunggu kedatangan ibuku. Bagaiaman aku sangat rindu pada ibuku dan bagaimana perasaanku saat tahu Hye Jin adalah adikku.

”Hye Jin adalah adikmu….adikmu yang sesugguhnya…”serunya padaku. Sudha berapa kali dia meminta penegasan itu padaku.

”Ne..dia dongsaeng kandungku…”jelasku untuk yang kesekian kalinya.

Kami terdiam beberapa lama. Apa yang Donghae pikirkan sekarang? Apa dia masih belum percaya.

”Lalu bagaimana? Apa Hye Jin tahu?” tanyanya dengan wajah yang sangat serius.

”Anni…dia belum tahu…”jawabku.

”Kau akan memberitahunya?”tanyanya lagi.

”Andwe…aku belum siap…aku sendiri belum siap menerima ibuku…”jawabku dengan mata menerawang. Aku merasakan mataku kembali panas, tidak jangan menangis di depan Donghae, akan sangat memalukan sekali.

”Tapi dia ibumu…”serunya sambil menepuk bahuku.

”Ne…”jawabku lemah.

Kami terdiam cukup lama sampai aku tidak merasa kalau Donghae pergi ke dapur dan kembali lagi kesini dengan membawa sumpit dan sendok. Dia membuka kotak makannya dan membuka isi kantong plastik yang tadi dibawa ibuku.

”Sepertinya dia sangat sayang padamu…”serunya sambil mengeluarkan seluruh isi kantong plastik itu. Aku tidak menyangka isinya sebanyak itu.

”Mari kita makan!”seru Donghae dengan penuh semangat. Aku tidak berselera makan.

Donghae mnyumpit bibimbap yang dibawa ibuku lalu menyumpit jjarmnyungnya. Dia melihatku masih terdiam. Dia langsung memberikan sumpit itu ketanganku.

”Makanlah…kau sudah janji mau mencoba jjarmnyungku….cepat makan…”serunya.

Aku mengambil sumpit itu dan hanya menatapa makanan yang terhidang di meja dengan tidak berselera.

”Aisshh….susah sekali bicara denganmu…kau belum makan kan…cepat makan…atau kau mau aku suapi…kan lebih romantis…”serunya sambil mengambil kotak makannya yang berisi jjarmnyung dan menyumpitkannya untukku dan hendak menyuapiku dengan wajah menggoda. Dasar Donghae! Geli sekali aku melihatnya seperti itu.

”Aishh…Donghae jangan mendekatiku seperti itu…”seruku melihatnya yang terus mendekatiku.

”Makanya makan…”serunya sambil menyodorkan kotak makan itu padaku.

Terpaksa aku memakannya. Donghae memang pintar memasak. Semua makanan yang dibuatnya pasti enak. Aku menyantap jjarmyung itu dengan lahap.

”Buatan ibumu…”serunya sambil menyodrokan sumpit yang sudah berisi bibimbap. Awalnya aku menolak namun Donghae langsung memasukannya kemulutku.

”Kau harus mengahragai buatan ibumu sendiri…arasso…”serunya lagi.

Setelah selesai makan, Donghae kembali membuka percakapan itu.

”Kau benci adikmu?”tanyanya tiba-tiba begitu aku selesai membawa piring-piring itu ke dapur dan duduk di sofa, sedangkan Donghae asyik menonton tv.

Aku duduk dan terdiam beberapa saat. Aku berpikir keras, apakah aku membencinya atau tidak.

”Entahlah…aku memang benci adikku karena dia bisa hidup bahagia bersama keluargaku sedangkan aku….tapi saat aku ingat Hye Jinlah adikku…..aku tidak bisa membencinya…aku sayang dia…”terangku.

Aku melihat Donghae tersenyum menatapku.

”Donghae-ah…maukah kau berjanji…selama aku belum bisa menerima Hye Jin sebagai adikku…maukah kau untuk selalu menjaganya…maukah?”pintaku padanya.

Aku melihat Donghae sangat terkejut mendnegar ucapanku.

”Kau mau menghindarinya?”tanyanya dengan wajah bingung.

”Tidak menghindarinya secara langsung….hanya mungkin aku akan berusaha menjaga jarak dengannya sampai aku siap menerima dia menjadi adikku dan siap menjadi kakak yang sesungguhnya untuknya….”jelasku.

Dia terdiam beberapa saat.

”Kumohon Donghae-ah…kau juga Oppanya….kumohon…dan jangan beritahu dia dulu…aku yang akan bilang jika saatnya tepat…”seruku lagi.

Dia menghela nafas beberapa kali lalu berkata.

”Arasso…aku pun tidak bisa memkasamu…kau punya hidupmu sendiri dan aku sebagaia sahabat hanya memberi saran….tapi jika itu keputusanmu…aku mengerti…”serunya.

”Gumawo Donghae-ah…”seruku padanya sambil tersenyum. Donghae kau memang sahabat terbaikku.

”Aku janji akan selalu menjaganya seperti adikku sendiri…”serunya berjanji padaku.

Aku tersenyum melihatnya. Setidaknya akan ada Donghae yang menjaga Hye Jin sampai aku siap menjadi kakak baginya. Aku memikirkan bagaimana jadinya saat Hye Jin tahu aku adalah kakaknya. Apa reaksinya?aku hanya bisa membayangkan itu sampai saatnya tiba.

Hye Jin POV

Aduh!kenapa aku bisa telat seperti ini! Aku bergegas menuju kamar mandi dan hanya mencuci muka lalu menggosok gigi dan bergegas berganti pakaian. Aku harus sampai disekolah 15 menit lagi. Hari ini aku ada janji dengan Donghae Oppa untuk mengerjakan PR. Aduh! Harus buru-buru nih. Aku bergegas menuju meja makan dan menyambar selembar roti dan langsung menenggak susuku dalam sekali teguk.

”Buru-buru sekali!”seru Hyo Jin padaku yang melihatku mengunyah dengan mulut penuh roti.

”Aku belum mengerjakan PR…”seruku padanya begitu mulutku sudah kosong.

”Aku duluan….”Seruku padanya sambil berlari menuju pintu dan mengenakan sepatuku tanpa mengikatnya terlebih dahulu. Nanti saja disekolah aku mengikatnya. Aku sudah telat nih. Bagaimana kalau PR ku tidak selesa semua bisa-bisa aku dihukum oleh Lee sessongnim. Mati aku!

Aku berlari menuju sekolah yang masih terlihat sepi hanya beberpa murid saja yang baru datang. Aku bergegas menuju gedung teater tempat aku biasa belajar bersama Donghae Oppa. Aku ngos-ngosan begitu sampai di depan gedung karena aku sudah berlari dari rumah, begitu aku membuka pintu Donghae Oppa belum ada disana. Aigoo, bagaimana nasib Prku. Aku terduduk lemas di depan gedung teater. Apa yang harus aku lakukan? Tidak ada gunanya juga aku terduduk disini PR ku tetap tidak akan selesa. Seruku dalam hati.

Aku berdiri dan berjalan masuk ke dalam dan menyusun bangku dan meja lalu mengetik sms untuk Donghae Oppa agar dia segera datang.

”Oppa dimana? Cepatlah!PR ku banyak sekali…please L

Tak lama kemudian sms balasan pun masuk.

”Mianhe…tadi aku telat…akan kuusahakan tepat waktu…tunggi disana!”

Ya ampun bagaimana ini!

Tiba-tiba aku melihat sosok yang sudah tidak asing lagi bagiku melewati gedung tetater. Itu Siwon Oppa kan. Aku jadi punya ide bagaiaman kalau aku memintanay membantuku mengerjakan PR. Benar! Itu ide bagus!seruku pada diriku sendiri. Aku berlari mengejar Siwon Oppa.

”Oppa…”seruku.

Kulihat dia menoleh kearahku dan tersenyum seperti biasa. Aku berlali menghampirinya namun tali sepatu yang belum kutalikan itu membuatku terjatuh. Untung Siwon Oppa langsung menangkapku begitu kepalaku hampir mencium lantai. Namun tiba-tiba Siwon Oppa langsung melepaskanku dengan kasar. Kenapa dia? Aku berusaha berdiri tegak.

”Gwenchanayo?”tanyanya dengan senyumnya yang khas itu. Oh kupikir ada apa? Ternyata dia masih sama seperti biasanya, mungkin dia tidak enak kalau ada yang melihat masalahnya pose kami saat itu memang seperti orang yang sedang berpelukan.

”Gwencahan…”jawabku sambil tersenyum.

”Talikan dulu sepatumu…”serunya mnyuruhku menalikan sepatuku.

Aku menunduk dan menalikan sepatuku lalu berdiri.

”Oppa bantu aku mengerjakan PR ya?”pintaku dengan memohon.

Dia tersenyum lalu mengangguk. Untunglag Siwon Oppa mau membantuku mengerjakan PR-ku. Mana Donghae Oppa dia tidak datang juga. Namun saat aku masih mengerjakan PR ku Donghae Oppa masuk ke gedung teater dengan terengah-engah.

”Mian…Hye Jin-ah..huh..aku capek sekali…”serunya masih terengah-engah.

Aku menghampirinya dan mendudukannya di bangku dan memberinya minum. Kasihan sekali dia sampai terburu-buru seperti itu. Aku melihat Donghae Oppa dan Siwon Oppa saling bertatapan dengan tatapan yang aneh, ada apa dengan mereka berdua.

”Ada apa?”tanyaku pada mereka berdua yang masih terus saling bertatapan.

”Ah…andwe…”jawab mereka serempak. Kemudian tertawa. Aneh-aneh saja kedua Oppa ku ini.

Aku kembali menekuni bukuku dan aku merasakan dua orang Oppa ini menatapku dengan seksama. Kenapa mereka ini? Bagaimana aku bisa konsentrasi jika terus saja ditatap oleh 2 orang Oppa tampan.

”Oppa…jangan menatapku terus…aku belum selesai nih…”seruku pada mereka berdua sambil memanyunkan bibirku, mereka berdua malah terkekeh.

”Aku begitu tampan ya….”seru Donghae Oppa dengan semangat sambil menyentuh wajahnya.

”Anni Donghae-ah…aku yang tampan…”seru Siwon Oppa tak kalah semangat dan langsung menunjukan senyum mautnya itu.

Dasar mereka berdua ini selalu saja bertengkar karena masalah sepele ini, siapa yang paling tampan. Aigoo.

”Siwon-ah sudah jelas-jelas aku yang paling tampan…”seru Donghae Oppa lagi.

Sepertinya mereka sebentar lagi akan segera bertengkar dan ternyata benar mereka sudah saling berargumen ria. Aku berusaha konsentrasi untuk mengerjakan soal yang tinggal satu ini. Akhirnya dengan bersusah payah aku berhasil menyelesaikan soal ini dan mereka masih terus berargumen ria. Bakal lama nih!

”Aku duluan Oppa..”seruku pada mereka berdua yang masih betengkar. Segera kumauskan bukuku kedalam tas dan menyampirkan tas itu ke bahuku.

”Bekalnya mana?”tanya Donghae Oppa begitu menyadari aku sudah berjalan keluar gedung.

”Aku telat…Mian…”seruku sambil tersenyum dan menghilang di balik pintu. Mereka ini!

Advertisements

One thought on “FF: LOVE’S WAY – ONE FINE SPRING DAY

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s