FF:Our Secret Part 14

Part 14

Cast       :

1.  All of Super Junior member as theirselves

2. Choi Yong Soon

3. Choi Yoon Yang

4. Shin Rae Bin

5. Choi Je Ri

6. Min Hee Yeon

7. Shin Hyo Soo

Genre   : Friendship, Romance, something that doesn’t make sense..kekekeke~

Rating   : General *can be changed..it’s up too author  about what their story will be made ^^*

Disclaimer           : Kyuhyun belongs to Choi Yong Soon, Yesung belongs to Choi Yoon Yang, Eunhyuk belongs to Shin Rae Bin, Hangeng belongs to Min Hee Yeon, Donghae belongs to Shin Hyo Soo, Ryeowook  belongs to Choi Je Ri and the rest it’s up to you..kekekeke~

*Choi Yeon Ji*

Hyo Soo POV’s

Sejak kemarin aku terus saja memikirkan nasibku. Lebih tepatnya nasib hubunganku dengan Donghae oppa. Appa begitu egois, selama ini aku sudah menjadi anak yang baik yang selalu menuruti perkataannya tapi kenapa dia tidak bisa mengerti perasaanku meskipun hanya untuk sekali ini saja. Aku tidak bisa mencintai orang lain selain Donghae oppa, aku tidak bisa meninggalkannya. Kalau aku bisa meninggalkan Donghae oppa, mungkin itu sudah kulakukan jauh-jauh hari karena capek juga berpacaran dengan orang yang sangat di kagumi perempuan se.Korea, namun karena alasan cintalah sampai saat ini kami masih bersama.  aku tidak bisa membayangkan kalau hubungan kami nantinya tidak dapat bertahan karena appa tidak setuju. Aku terus saja mencomot tissue dari kotaknya. Sudah berpuluh-puluh tissue yang kuhabiskan untuk menghapus airmataku.

DDDrrrrtt..drrrt..drrtt…

Terdengar getar Hp ku berbunyi. Aku langsung mengambil HPku yang kuletakkan di meja samping tempat tidurku. Aku mengecek nama kontak yang tertera di layar HPku. Donghae oppa menelponku, bagaimana aku bisa mengangkat telponnya dengan suara parau ini..?? yang ada aku malah akan membuatnya khawatir. Semenjak kepulangan kami dari berlibur dan semenjak pertengkaranku dengan appa pula, aku belum menghubungi Donghae oppa lagi sampai saat ini. akhirnya aku lebih memutuskan untuk mengabaikan telpon Donghae oppa dan meneruskan ritual menangisku.

Dddrrrtt..dddrrttt..drrrtt…

HP ku kembali bergetar. Kali ini  bukan telpon tapi sebuah sms masuk ke inbox ku. Aku langsung membukanya dan lagi-lagi itu dari Donghae oppa.

From : Donghae oppa

Jangan membuatku khawatir chagi. Kenapa tidak ada kabar darimu sama sekali??  Kau baik-baik saja kan..?? aku sangat merindukanmu. Miss u

Huuuuuuuuuuuuuuuaaaaaaaaaaahhhh…..

Tangisku semakin kencang setelah membaca sms darinya. Aku tidak bisa menyakitinya dengan memberitahunya tentang sebuah kenyataan kalau appa tidak setuju dengan hubungan kami.

Donghae POV’s

Berpuluh-puluh kali aku menelponnya, HP nya aktif tapi sama sekali tidak pernah diangkat mengirim sms pun tidak pernah dib alas olehnya. Sebenarnya dia kenapa? Tidak pernah dia seperti ini sebelumnya. Aku benar-benar galau, rasanya aku ingin mengunjunginya ke rumah tapi saat ini pun aku dan member Super Junior lain sedang sibuk. Liburan berakhir dan saatnya kembali ke aktivitas pekerjaan lagi. tapi kelakuannya yang seperti ini tidak membuatku konsentrasi, kekhawatiranku terhadapnya terus terngiang-ngiang di pikiranku.

“Hae-ya..” sapa Teuki hyung sambil menepuk bahuku.

Aku mendongak menoleh kearahnya. “Wae hyung..??” tanyaku tak bersemangat.

“Ada masalah apa.?? Aku perhatikan akhir-akhir ini kau tidak konsentrasi” Teuki hyung mengeluarkan jurus jitunya sebagai seorang Hyung dan Leader.

“Aku khawatir pada Hyo Soo, sudah seminggu ini dia tidak memberi kabar apa pun padaku.” Aku merasakan cairan bening sedikit menghalangi penglihatanku.

“hhhhmmm arasso. Tapi jangan jadikan itu alasan kau tidak bisa konsentrasi bekerja. Sebaiknya kau langsung temui dia setelah ini. hwaiting Hae-ya!!” Saran Teuki hyung padaku sambil tersenyum dan menepuk pundakku setelah itu dia pergi meninggalkanku.

Aku masih terdiam di tempatku, mungkin setelah ini aku memang harus bertemu langsung dengannya. Aku tidak bisa terus-terusan seperti ini.

Yong Soon POV’s

Aku berjalan menyusuri setiap pelosok dorm. Kenapa sepi sekali, seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan disini, Tuan Cho Babo itu kemana..?? langkahku pun terhenti di ruang tengah dorm. Disana sedang ada Rae eonnie yang sedang nonton sambil menyeruput orange juice yang di pegangnya. Kadang aku heran, sebenarnya ini dorm siapa?? Hahaha… kami seperti pemilik dorm ini juga, dengan bebas dapat keluar masuk dorm sesuka hati.

“eonnie” sapaku pada Rae eonnie yang tidak sadar dengan kedatanganku.

Dia menoleh kearahku, “Waeyo Yong Soon-ah..??” tanyanya ringan.

“Hanya eonnie sendirian di dorm..?? “ tanyaku heran, melihat tidak ada orang lain selain Rae eonnie

“ne, oppadeul sedang latihan dance. Aku menginap disini dari semalam”

“Mwo..??” tanyaku tak percaya, Rae eonnie menginap di dorm..??

“hahahaha…. Ya tidak lah, kau cepat sekali percaya” Rae eonnie berkelit. Dasar, sepertinya keautisan oppadeul sudah mulai menggerayangi Rae Bin eonnie. Itu akibatnya karena keseringan main ke dorm.

Aku berjalan menghampiri Rae eon dan duduk disampingnya. “Sudah seminggu ini aku tidak melihat Hyo Soo. Dia dimana..??”

“Mollayo, aku juga sering menelpon dan mengirim sms padanya, tapi tidak pernah ada respon. Donghae oppa galau sekali dengan sikap Hyo Soo” jawab Rae eonnie sambil menghela nafas di akhir katanya. Aku pun ikut-ikut menghela nafas. Hyo Soo aneh sekali, sebelumnya dia tidak pernah seperti ini.

Terdengar suara pintu dorm di buka, tak lama kemudian sosok Teuki oppa muncul dari balik pintu. Dia melirik kearahku dan Rae eonnie. “Kalian sudah lama..??” tanyanya, aku menjawabnya dengan gelengan. Ternyata Rae eonnie pun melakukan gerakan yang sama denganku. Teuki oppa berjalan ke dapur.

“Apa kalian melihat Hyo Soo..??” Tanya Teuki oppa lagi pada kami ketika dia keluar dari dapur dan menghampiri kami, lagi-lagi aku dan Rae eonnie hanya menggeleng.

Teuki oppa menghempaskan tubuhnya ke sofa tepat di samping Rae Bin eonnie, aku dan Rae eonni hanya menatap lekat kearahya. Sejenak Teuki oppa memejamkan matanya dan menghela nafas panjang. “Donghae tidak bisa konsentrasi latihan, dia uring-uringan terus. Hyo Soo susah sekali di hubungi” gumam Teuki oppa, seolah menjawab pertanyaan yang tergambar jelas di ekspresi wajahku dan Rae eonnie.

“Apa mereka bertengkar..??” tanyaku pada siapa pun yang bisa menjawab.

Teuki oppa menggeleng. “Kata Donghae saat terakhir dia bersama Hyo Soo, hubungan mereka baik-baik saja. Entah mengapa mulai saat itu Hyo Soo memutuskan kontak dengan Donghae, sepertinya Donghae menderita sekali. Kau juga Yong Soon-ah……” tiba-tiba Teuki oppa menudingku di akhir katanya.

“Mwo.?? Aku kenapa..??” tanyaku heran sambil sekidit melototkan mataku.

“Jangan membuat Kyu galau lagi. setiap kali ada pasangan yang bermasalah aku selalu saja repot. Apa kalian tau kalau kalian sangat berpengaruh di kehidupan mereka” jelas Teuki oppa. Aku dan Rae eonnie hanya membulatkan mata kami, tidak seperti biasanya Teuki oppa langsung memberikan nasihat untuk kami.

“Makanya oppa, sebaiknya kau juga mencari pasangan” celetuk Rae eonnie dan langsung mendapatkan jitakan kecil dari Teuki oppa di kepalanya.

“Yaaa… hyung ternyata kau disini. kami mencarimu kemana-mana” teriak Eunhyuk oppa heboh begitu melihat Teuki oppa sedang ngobrol bersama kami. pasangan Rae Bin eonnie ini memang suka heboh sendiri.. haha.. tapi dimana ya Tuan Cho babo itu? Aku tidak melihatnya, masa aku harus menanyakannya.

Heechul oppa, Shindong oppa, Sungmin oppa, Siwon oppa, Wookie oppa, Yesung oppa, dan terakhir Donghae oppa masuk ke dorm secara berturut-turut. Dasar si babo itu, lihat saja dia. Ngomong-ngomong ekspresi Donghae oppa sedih sekali, aku tidak tega melihatnya entah mengapa ada perasaan sedih menyeruak di dalam hatiku melihatnya seperti itu. Aku ingin melihatnya tersenyum lagi seperti biasanya.

Hyo Soo POV’s

Aku tidak bisa pasrah begini terus, aku harus melakukan sesuatu. Entah darimana ku dapatkan ide gila itu, yang terlintas di kepalaku saat ini adalah rencana untuk kabur dari rumah. Aku tidak bisa bersama dengan orang yang akan dijodohkan appa untukku, mungkin inilah jalan yang terbaik. Aku segera menghampiri lemari pakaianku, mengeluarkan tas ransel dan menyiapkan barang-barang yang akan aku butuhkan. Tak lupa juga aku membawa uang tunai dan handphone ku, di tengah jalan nanti aku berniat ingin mengganti nomor handphoneku. Setidaknya aku melarikan diri dari rumah hingga appa tidak berniat menjodohkanku lagi.

“Cha.. sudah selesai” kataku pada akhirnya sambil merapatkan kancing jaketku, dan kini aku sudah siap untuk pergi.

Aku berjalan dengan waspada, berhati-hati agar tidak seorang pun menyadari aku pergi diam-diam dari rumah. Aku memang belum memikirkan aku akan pergi kemana, yang terpenting aku bisa keluar dari rumah ini dulu. Aku mencoba biasa setiap kali berpapasan dengan pekerja di rumahku baik itu satpam ataupun pelayan. Sepertinya mereka tidak curiga melihatku membawa tas ransel, biasanya aku juga sering membawa tas ransel hanya saja tidak sepenuh yang kubawa seperti sekarang ini. aku tersenyum lega setelah berhasil keluar rumah tanpa hambatan, ku kibaskan kedua telapak tanganku seolah puas dengan misi pertama yang kujalankan. Berhasil keluar dari rumah dengan lancar tetap membuatku waspada kalau sesuatu yang tidak kuinginkan terjadi misalnya tiba-tiba penghuni menyadari kalau aku kabur dan menyusulku. Jadi, aku tetap mengerahkan langkah panjangku sampai aku benar-benar telah di tempat yang aman dari kejaran penghuni rumah.

Di tengah jalan aku merasa lapar, aku masuk ke salah satu restaurant yang cukup terkenal. Aku ingin mengisi tenagaku terlebih dahulu sebelum akhirnya meneruskan perjalan kembali. Waktuku  di restaurant  tidak hanya dimanfaat untuk makan dan mengisi perut saja, tapi aku juga berpikir kemana aku harus membawa kakiku melangkah. Hingga sebuah pikiran kembali menyeruak ke dalam otakku. Mungkin aku ingin pergi ke Mokpo saja, kalau aku menginap di rumah teman kampusku appa pasti tahu dan memaksa menyuruhku pulang, kalau aku menginap di tempat para yeojachingu yang lain pasti akan merepotkan Donghae oppa. Lebih baik aku memilih pergi ke Mokpo saja, aku akan menginap di rumah salah satu sahabatku dan juga teman Donghae oppa lagipula Mokpo kan kampung halaman Donghae oppa. Selama disana aku ingin mencari ketenangan dan hidayah untuk mengatasi masalah ini.

Yeon Ji POV’s

Aku ingin bermain-main dengan oppadeul dan para yeojachingu, tapi aku malu pergi ke dorm dan bertemu dengan Yeppa. Sejak kejadian waktu itu saat liburan aku dan Yeppa sedikit canggung mungkin karena itu ciuman pertama kami. OMO…!!! Kalau di ingat kembali aku sangat malu, mengingatnya saja sudah berhasil membuatku memerah karena malu, sampai kapan akan terus seperti ini? Kalau begini terus tidak akan berkesudahan. Aku pun memutuskan untuk memberanikan diri pergi ke dorm. Langkahku masih sedikit ragu untuk menaiki lift yang akan membawaku ke dorm oppadeul. Aku mengedarkan pandanganku memperhatikan orang yang lalu lalang dan mataku tertuju pada sosok bayangan seorang namja tinggi yang memakai kacamata hitam, sepertinya aku mengenalnya.

Namja itu memasuki lift, buru-buru aku menyusulnya sebelum pintu lift itu kembali tertutup. Aku menyeringai melihatnya, dia heran melihatku. “Waeyo..???” Tanya namja itu yang tak lain adalah Kyuhyun padaku dengan mimic bingungnya.

“daritadi aku mencari teman untuk ke dorm bareng” jawabku seadanya. “meskipun tidak berharap itu kau tapi lamayanlah daripada tidak punya teman” lanjutku.

Dia langsung menautkan alisnya. “Dasar aneh” gumamnya, aku bisa mendengar dia bergumam untukku. Aku langsung melotot ke arahnya, dia diam saja bukan karena takut melihatku melotot tapi lebih kepada tidak ingin bertengkar denganku. Baguslah kalau begitu.

Begitu pintu lift terbuka aku keluar mendahului Kyuhyun di belakangku, aku melangkah dengan santai setelah sampai di depan pintu dorm tanpa pikir panjang aku membuka pintunya, tapi orang pertama yang kulihat di dalam sana adalah Yeppa seketika jantungku mendadak berdetak lebih kencang, aku mundur dan menutup pintunya kembali.

“Yaaa.. kenapa tidak masuk” sahut Kyuhyun melihat tingkahku, aku langsung bersembunyi di belakang tubuh Kyuhyun yang tinggi.

“Kau saja yang membuka pintunya” sahutku. Meskipun dia heran melihat tingkahku tapi dia mengindahkan kata-kataku, dia membuka pintu dorm sedangkan aku berjalan dengan hati-hati di belakang Kyuhyun, takut kalau Yeppa akan menyadari kedatanganku dan melihat wajahku bersemu merah karenanya.

“Yaaa… kau membuatku risih, berhentilah berjalan di belakangku” teriak Kyuhyun padaku, seketika penduduk dorm menoleh kea rah kami termasuk juga Yong Soon yang telah duduk santai bersama Rae eonnie di ruang tengah. Couple Yong Soon ini memang sungguh menyebalkan. Dia menyia-nyiakan usahaku dan sekarang jelas saja, Yeppa langsung memperhatikan aku. Aaaaiiissshh,, aku harus merasakan wajahku memanas lagi.

Kyuhyun yang tidak peka itu, cuek dan berjalan dengan santainya menuju kamar sedangkan aku hanya tertunduk di tempatku berdiri, aku jadi tidak berani mendongakkan kepalaku. Kuharap Yeppa tidak menghampiriku. Ternyata yang menghampiriku adalah Yong Soon.

Yong Soon tersenyum ramah padaku. “Sudah tiga hari tidak melihatmu” katanya renyah sambil menarik tanganku untuk bergabung bersama Rae eonnie yang masih asik menonton.

Selama di dorm aku menjadi pendiam, penghuni heran melihatku tingkahku yang tidak biasanya. Aku pun merasa aneh dengan sikapku sendiri, jadi ini rasanya penjadi orang pemdiam?? Hahaha, ekspresi mereka khawatir sekali melihatku apalagi Siwon oppa. Di anggota SuJu aku memang paling akrab dengan Siwon oppa, entah karena apa tapi kami merasa cocok satu sama lain. Bahkan aku sering pergi ke dorm hanya untuk bertemu dengan Siwon oppa yang kadang-kadang membuat Yeppa kesal padaku.

“Yeon Ji-ya kau kenapa?? Apa kau sakit, ayo bicaralah sesuatu” sahut Sungmin oppa sambil mengayunkan telapak tangannya persis di depan wajahku.

“Yaaaa oppa, aku baik-baik saja”jawabku seadanya. Sungmin oppa menyerah, dia mengangkat bahunya kemudian pergi dari hadapanku, aku kembali tertunduk. Aaahhhgggtt tidak nyaman sekali seperti ini.

Oppadeul, Yong Soon, Rae eonni, dan Je Ri heboh menanyakan keadaanku. Mereka ini berlebihan sekali, apa mereka tidak tau apa, kalai aku seperti karena merasa canggung dengan Yeppa. “Yaaaaa, berhentilah mengkhawatirkan aku, sudah aku bilang aku baik-baik saja. Aku seperti ini karena canggung dan malu pada Yeppa” sahutku tidak sengaja pada mereka semua. Aku segera membekap mulutku karena sudah berbicara yang sudah tidak semestinya. Aku melihat lewat ekor mataku kalau Yeppa sekarang juga sudah salah tingkah.

“Apa yang telah Yesung hyung lakukan..???” selidik Eunhyuk oppa. Aku menggeleng, melihat ada sesuatu yang menarik oppadeul terus saja mendesakku. Aaaiiisshh, aku tidak bisa jika terus didesak-desak seperti ini. “ne…ne…ne… akan aku beritahu, tapi berhentilah menggangguku” teriakku pada mereka semua yang mengelilingiku dan membuatku risih. “Aku dicium Yeppa” bisikku, semua penghuni dorm menajamkan pendengaran mereka untuk mendengar bisikanku, kecuali Yeppa. Mereka terdiam sejenak, aku kira mereka tidak mendengar kata-kataku barusan tapi ternyata aku salah. Semua penghuni dorm tertawa terbahak-bahak mendengar pengakuanku terutama Eunhyuk oppa yang tertawa puas sekali.

“Kalian menyebalkan” teriakku sambil mengembungkan pipiku karena kesal. aku menghampiri Yeppa yang sudah tak kalah malunya dari aku, entah mengapa aku lihat bahkan dia lebih memendam malu daripada aku. “oppa mianhae, aku tidak bisa berbohong” kataku lirih pada Yeppa.

Dia menatapku lembut. “Gwenchana Yeon Ji-ya” katanya sambil menatapku lembut dan tersenyum padaku.

Aku pun memeluknya, “Jangan seperti kemarin lagi ya. Aku tidak suka terlalu kaku seperti kemarin” bisikku manja dipelukannya dia membalas pelukanku. Aku tidak peduli kalau sekarang seluruh pasang mata penghuni dorm memperhatikan kami dan berteriak-teriak jahil tidak jelas.

Kyu POV’s

Aaiissshh ada apa lagi ini. kenapa berteriak-teriak seperti itu, memangnya dorm ini hutan apa?. Aku melangkah gontai keluar kamarku dan berlajan ke ruang tengah untuk mengecek apa yang terjadi. Astaga, suara Eunhyuk hyun dominan sekali diantara teriakan-teriakan itu.

“Ada apa ini? kenapa ribut sekali, aku jadi tidak bisa beristirahat” kataku pada semua yang terlibat dalam acara tidak jelas itu. Aku melihat Yongie pun menjadi salah satu diantara mereka. Apa-apaan ini?

“Aniyo, hanya saja tadi ada sesuatu yang menarik” jawab Siwon hyung.

“Mianhae kalau sudah menganggagu istirahatmu” tambah Teuki hyung. Aku mendenguskan nafas lelah lalu berjalan kembali masuk ke kamarku.

“Kyu-ya. Disini sedang ada Yong Soon, kau mau kemana??” Tanya Sungmin hyung padaku. Aku tau disini sedang ada Yongie, tapi kurasa aku sangat kelelahan akhir-akhir ini apalagi setelah konser Super Junior KRY dan comebacknya Super Junior M, aku harap Yongie tidak marah dan memaklumi kondisiku. Aku yakin pasti dia mengerti. Aku kembali ke kamarku untuk kembali beristirahat.

Yong Soon POV’s

Jauh-jauh aku dari rumah ke dorm tapi dia tidak menghiraukanku sama sekali. Apa dia tidak peduli lagi padaku, yyaaaa lihat saja kau Tuan Cho Babo. Aku tidak akan mengunjungimu lagi dan bermain dengan anak-anak 2pm baru tau rasa kau. Aku mendenguskan nafas kesal. menegurku saja pun dia tidak.

“Kuharap kau bisa memaklumi sikapnya. Mungkin dia memang sedang kelelahan” komentar Teukie oppa padaku, mungkin dia bermaksud untuk menenangkanku karena sikap Tuan Cho Babo itu.

“Ne arasso oppa, sebaiknya aku pulang saja” jawabku sambil beranjak ingin meninggalkan dorm. Baru selangkah aku melangkahkan kakiku tapi aku mendengar sesuatu.

PPPRRRAAAANG

Seperti suara benda yang pecah, dan sepertinya itu berasal dari kamar Kyu. Spontan aku malah lari ke kamar Kyu dengan cemas, aku ingin mengecek kalau keadaannya tidak apa-apa. Setelah berada disana aku melihat bingkai fotonya terjatuh dan sepertinya Kyu sedang ingin menggapai sesuatu. Aku melihat pemandangan yang tidak biasa, Kyu tampak lemas aku pun segera menghampirinya yang terduduk lemas di dekat bingkai foto yang pecah.

Aku membantunya berdiri dan mengiringnya ke tempat tidur.

“Kau kenapa??” tanyaku cemas.

“Aku ingin mengambil Handphoneku di atas meja, tiba-tiba saja kepalaku pusing dan tidak sengaja aku menyenggol bingkai fotonya hingga terjatuh dan pecah” jawabnya dengan sedikit terengah-engah sambil memegagi kepalanya yang sedang pusing.

Aku meletakkan telapak tanganku di keningnya. “Astaga, kau panas sekali Kyu. Biar aku penggilkan oppadeul” kataku panic dan beranjak hendak memanggil oppadeul. Tapi Kyu menahan tanganku.

“Mianhae karena tadi aku tidak menghiraukanmu Yongie. Kumohon jangan kemana-mana tetaplah disini” katanya, aku luluh dan menuruti permintaannya untuk tetap disampingnya. Kyu terus menggenggam tanganku, dia mencoba terpejam. Aku mengetik sms pada oppadeul yang berada diluar agar membawakan kompresan dan makanan untuk Kyu. Karena tidak mungkin aku meninggalkan Kyu yang masih menggenggam tanganku dengan erat.

Je Ri POV’s

“kalau dipikir-pikir kita aneh ya oppa..?? saat semuanya sedang berkumpul dengan keluara ataupun telah terlelap dalam mimpi, kita malah keluar rumah untuk berbelanja” gumamku pada Wookie oppa di tengah perjalanan kami kembali ke dorm.

Wookie oppa terkekeh, “Kau benar juga chagi, walaupun  keluar malam-malam aku juga masih wajib menggunaka segala macam alat penyamaran, sebenarnya aku risih” balas Wookie oppa, aku hanya tersenyum melihat tingkahnya.

Aku merasakan tiga orang yeoja di belakang kami sepertinya dari tadi mengikuti kami. aku mendekati Wookie oppa agar semakin rapat pada dirinya. “oppa, sepertinya yeoja-yeoja itu mengikuti kita” bisikku pada Wookie oppa.

“Mungkin hanya perasaanmu saja chagi” Wookie oppa menenangkanku tapi kurasa langkahnya pun semakin cepat di sampingku. Tidak sengaja aku menoleh ke belakang kami, yeoja-yeoja itu pun setengah berlari mengejar kami.

“oppa, mereka memang mengejar kita” sahutku pada Wookie oppa kami pun semakin lama semakin mempercepat langkah kami hingga akhirnya berlari.

“OPPAAAA tunggu… aaaahhhggtt OPPAAAAAA tunggu kami” teriak yeoja itu di belakang kami. sepertinya mereka mengenali Wookie oppa. Astaga kalau begini akan rumit masalahnnya.

Wookie oppa mengandengn tanganku berlari menghindar dari yeoja-yeoja itu. Astaga, para fans yeoja itu memang berbahaya. Kami tidak tahu berlari kemana yang terpenting kami terlepas dari mereka. Wookie oppa menarikku bersembunyi di lorong sempit antara bagunan gedung. Wookie oppa memelukku, aku masih ngos-ngosan karena terlalu banyak berlari. Disini sunyi sekali, aku bisa mendengar nafasku dan nafas Wookie oppa dengan jelas. Aku mendongak ingin menatap wajahnya, baru kusadari ternyata jarak kami sangat dekat wajahnya hanya beberapa centimeter saja dari wajahku, dia sedang tidak menatapku melainkan menatap kea rah luar lorong dengan waspada, keringatnya mengucur dengan deras. Kasihan sekali dia malam-malam begini harus olahraga, aku  mengerti kenapa untuk saat ini dia masih merahasiakan hubungan kami. dia masih memelukku untuk beberapa saat, aku tersenyum melihatnya yang seolah sangan melindungiku, aku sadar kalau dia memang mencintaiku ekspresi sangat tergambar dengan jelas di wajahnya.

Aku melepaskan pelukannya, sejenak suasana menjadi canggung. “Oppa sepertinya sudah aman lebih baik kita pulang sekarang” kataku sambil membawa kembali barang belanjaan di tanganku, yaa.. meskipun di kejar-kejar tadi aku sama sekali tidak melepaskan barang belanjaan kami.

“chagi kau tau jalannya.??” Tanya Wookie oppa menahan langkahku. Pertanyaannya benar juga, kami berlari ke sembarang jalan aku pun tidak ingat tempat awal kami tadi.

Aku menggeleng, “Biar aku telpon yang lain saja untuk menjemput kita” aku merogoh kantong pakaianku mencari benda kecil yang tak lain adalah handphone yang aku cari. Ekspresiku menegang setelah aku  merasakan kontong pakaianku hampa “Oppa handphone ku hilang” laporku pada Wookie oppa dengan ekspresi sedih.

Wookie oppa tersenyum “yasudah tidak usah sedih” Wookie oppa mencoba menghiburku sambil mengelus rambutku lembut. Mataku terus berkelana mencari sosok Handphone berharap benda itu hanya terjatuh.

Mataku kembali berbinar setelah melihat sesuatu yang kukenal. “Oppa itu handphoneku” aku tersenyum. Aku berjalan menghempiri benda kecil yang kukenal itu di  depan lorong dimana kami berada. Aku berjongkok mengambil Handphoneku yang terkapar di jalan mengeceknya sesaat kalau tidak ada kerusakan, aku tersenyum mendapati Handphoneku yang masih berfungsi dengan baik. Baru saja aku ingin berdiri dari bawah aku melihat tiga pasang kaki berada tepat di hadapanku, aku mendongak melihat siapa pemiliknya, ternyata yeoja yang mengejar kami tadi.

Aku menelun ludah dengan sudah payah, astaga mereka menemukanku. Aku tetap mencoba tengan menghadapi mereka yang sudah memasang tampang dingin denganku. Aku yakin dari dalam lorong Wookie oppa dapat melihatku yang sedang berhadapan dengan tiga orang yeoja ini. tapi aku harap Wookie oppa tidak bersikap bodoh dengan keluar dari persembunyian dan menolongku karena itu akan semakin mempersulit keadaan.

“Yaaaa, kau yeoja yang bersama Wookie oppa tadikan..??” yeoja bertubuh tinggi yang berada di tengah mengegurku dengan nada yang tidak bersahabat.

Aku diam saja, kalau aku mengatakan ‘tidak’ itu berarti aku bebohong tapi kalau aku mengatakan ‘iya’ aku tidak tahu apa yang akan mereka perbuat padaku.

“Yaaa… jawab pertanyaannya tadi” desak yeoja yang berdiri di sebelah kiri yang lebih terlihat lebih gemuk dari yeoja yang lain.

Lagi-lagi aku hanya diam. “Tolong jawab pertanyaannya, kami ELF kau pasti mengerti perasaan kami” kata yeoja di sebelah kanan dengan lebih lembut. Aku memang tau bagaimana perasaan mereka, mendengar perkataan yeoja itu aku sedikit luluh, tanpa sadar aku pun mengangguk.

“Kau siapanya Wookie oppa??” Tanya yeoja yang ditengah itu lagi, sepertinya dia sudah mulai merasa tertarik. “Kau pacarnya ya..???” lanjutnya.

“eeemmm…” aku gugup, ya Tuhan apa yang harus aku jawab? “Aku bukan pacarnya, aku hanya pelayan di SMent” jawabku berbohong.

“Benarkah??” Tanya mereka berbarengan dengan ekspresi yang berbinar-binar. Aku mengangguk agar terlihat meyakinkan.

Wookie POV’s

“Aaiiissshh…” dengusku kesal.

Kenapa Je Ri begitu babo, sudah tau itu yeoja yang mengejar kami tapi dia bukannya melarikan diri malah mengobrol bersama mereka. Aku menajamkan pendengaranku agar dapat mendengar semua yang menjadi pembicaraan mereka. Apa-apaan Je Ri??? Kenapa dia malah mengaku sebagai pelayan di SMent..???. harusnya walaupun dia tidak mengaku sebagai yeojachinguku tapi setidaknya dia tidak mengaku sebagai seorang pelayan.

Aku tidak bisa membiarkan dia sendirian di bantai oleh ketiha yeoja itu *???* aku harus menyelamatkannya dari situasi itu. Aku mengancang-ancang kuda-kuda untuk menarik Je RI dari sana. Aku mulai berhitung kecepatan berapa yang akan aku gunakan. Aku menghitung aba-aba di dalam hatiku lalu aku pun meluncur menghampiri Je Rid an segera menarik tangannya agar menjauh dari tiga yeoja itu. Mereka tampak tidak siap sengan peluncuranku, sejenak tiga yeoja itu terdiam di tempat mereka, hal itu aku manfaatkan untuk menarik Je Ri berlari sekencang-kencangnya.

“Oppa apa yang kau lakukan?” Tanya Je Ri di tengah langkah kami. aku tidak menjawab pertanyaan Je Ri, bagiku bukan saatnya untuk menjawab pertanyaan Je Ri sedangkan ketiga yeoja itu sudah mulai mengejar kami lagi. aiigo, mereka itu tidak lelah apa menguntit kami?

Aku melihat bisa yang sedang berjalan dengan pelan sepertinya sebentar lag ibis itu akan melaju kencang. Aku buru-buru menarik Je Ri mendekati bi situ, aku memukul-mukul bi situ agar pintunya terbuka dengan sebelah tanganku yang bebas. Begitu bi situ terbuka tanpa menunggu lagi aku masuk dan menarik Je Ri untuk masuk pula, detik berikutnya pintu bis sudah tertutup kembali. Ketiga yeoja itu terus mengejar dan memukul-mukul badan bis yang kami naiki hingga tak lama kemudian mereka menyerah dan tertinggal jauh di belakang bis yang kami naikki.

Tanganku masih menggandeng tanga Je Ri, kami duduk di tempat duduk paling belakang. Untuklah di bis ini juga hanya ada kami berdua dan sopir tentunya. Aku sudah sangat lelah terus menghindari orang-orang yang mengejar kami apalagi peralatan menyamarku tadi juga sudah hilang entah dimana.

“Apa yang oppa lakukan tadi..??” Tanya Je Ri sambil memejamkan matanya dan mengatur nafas.

“Aku hanya menyelamatkanmu chagi” jawabku manatapnya.

“Mereka ELF, mereka sangat mengagumi oppa. Aku tidak tega melihat mereka seperti itu” jawabnya lagi. aku mengelus rambutnya lembut.

“Kami akan menemui mereka. Tapi di waktu dan situasi yang tepat. Kami juga punya kehidupan privasi yang tidak harus mereka ketahui salah satunya masalah hubungan kita chagi” jelasku pada Je Ri. Dia perhatian sekali dengan ELF entah mengapa aku merasa yakin kalau dialah yang aku inginkan.

Je Ri mengangguk dengan mata yang masih terpejam sepertinya dia kelelahan sekali, aku singkirkan barang belanjaan kami dari pangkuannya. Bisa-bisanya dia masih memikirkan barang belanjaan kami di tengah situasi yang rumit seperti tadi. Aku menuntun kepalanya agar bersandar di bahuku. “Tidurlah chagi, aku akan menjagamu. Jal jayo” bisikku di telinganya, kemudian dia pun terlelap.

Rae Bin POV’s

“AAAAGGGGHHHHTTTTTTT” teriakku terbangun dari tidurku. Aku bermimpi sesuatu yang mengerikan, aku gemetar, ku raih gelas berisi air putih yang selalu ku letakkan di meja kecil di samping tempat tidurku setiap ingin tidur. Kulihat jam dinding yang mengantung di atas meja komputerku. Sudah jam 1 malam, aku duduk di tempat tidurku dengan keringat yang membasahi wajahku, nafasku ngos-ngosan. Aku rasa aku tidak berani kembali tidur seorang diri. Aku pun beranjak menuju kamar Je Ri di samping kamarku, aku bermaksud mengajaknya tidur di kamarku agar perasaanku agak tenang.

Ku lihat kamar Je Ri kosong. Kemana Je Ri?? Kenapa dia belum pulang juga, aku pun memencet beberapa nomor yang akan menyambungkanku dengan Je Ri tapi nomornya tidak aktif. Tanpa kusadari cairan bening telah leluasa mengalir di pipiku. Aku putuskan untuk kembali ke kamarku. Aku takut, sekarang aku benar-benar sendirian di apartemen ini. aku memeluk diriku menahan hawa ketakutanku sendiri. Aku pun kembali memencet beberapa nomor, dan tak lama kemudian tersambung.

“Yoboseyo..??” sahut seseorang dengan malas-malasan mengangkat telponku.

“Hyukie-ya..” kataku. Aku bisa menangkap nada ketakutan dari suaraku sendiri.

“Chagi kau menangis..??” tanyanya dengan suara yang lebih lantang ketika mendengar suaraku.

“Hyukie aku takut” rengekku.

“Kau sekarang dimana..??” tanyanya khawatir

“Aku di apartemen, aku takut. Aku bermimpi buruk dan Je Ri belum pulang juga”

“apa perlu aku kesana sekarang??”

“Iya, aku takur sendirian disini….” jawabku dengan tangis yang kembali pecah.

“Tenanglah chagi, aku akan kesana sekarang juga”

Aku pun mematikan sambungan kami. aku tidak berani tidur lagi, aku benar-benar takut mimpi itu kembali menghiasi tidurku. Di dalam mimpi itu aku tersesat di sebuah labirin yang sangat gelap, tidak ada siapa-siapa disana kemudian ada seekor ular yang sangat besar mendekatiku seolah ingin menelanku hidup-hidup, aku mundur perlahan untuk menghindari ular itu tapi setelah beberapa langkah aku mundur aku merasakan tubuhku melayang dan jatuh ke dalam sebuah jurang yang sangat dalam, saat itulah aku berteriak dan terbangun dari tidurku. Mimpi itu terasa sangat nyata dan dekat.

Aku masih menunggu yang datang, terserah apakan itu Je Ri ataupun Hyukie tapi yang jelas aku tidak ingin sendirian. Setengah jam jarak waktu dari aku menelpon Hyukie tadi, bel apartemenku berbunyi. Aku cepat-cepat membuka pintunya tanpa mengecek lagi siapa yang datang. Hyukie berdiri di hadapanku, aku langsung memeluknya sangat erat ada perasaan lega saat dia datang dan berdiri di hadapanku. Dia menuntunku menuju sofa di ruang tengah apartemenku, setelah mendudukkanku dia beranjak.

Aku menahan tangannya dengan kencang. “Jangan jauh-jauh dariku” kataku memelas.

“Aku hanya ingin mengambilkan minum untukmu chagi, aku disini tenanglah” katanya dengan lembut padaku.

Tak lama kemudian dia membawakan air putih untukku, aku meminumnya. Setelah itu dia menatam ke dalam mataku. “Ada apa..??? kenapa kau begitu ketakutan..??” Tanyanya padaku lagi-lagi dengan nada suara yang sangat lembut. Aku pun menceritakan semua dari awal sampai akhir padanya.

Dia mengelus rambutku. “semua akan baik-baik saja. Sebaiknya kau kembali tidur, sekarang masih malam”

Aku menggeleng “Aku tidak mau, aku tidak mau sendirian. Aku takut setelah aku tidur kau akan meninggalkanku sendirian”

“aku tidak akan meninggalkanmu chagi, aku akan menemanimu disini” dia meyakinkanku, lalu membimbingku masuk ke kamar.

Aku berbaring di tempat tidurku, tapi tanganku masih mencengkram tangannya erat. Aku tidak ingin dia hilang dari pandanganku meskipun hanya sejengkal. Dia menyampirkan selimutku dan mencium keningku, kemudian menarik kursi yang menjadi pasangan meja komputerku ke samping tempat tidur. Dia duduk disana sambil tidak henti-henti tangannya mengelus puncak kepalaku hingga aku kembali terlelap.

Eunhyuk POV’s

Dia terlihat begitu ketakutan, tidak pernah aku melihatnya setakut ini??. apa sebegitu menyeramkan mimpinya itu?. Aku terus mengelus puncak kepalanya hingga dia kembali terlelap. Wajahnya begitu polos *agak jijai nulisnya.. haha* begitu dia tertidur. Kau tenang saja, aku akan menjagamu disini hingga tidak aka nada satu pun yang bisa menyakitimu. Kurang lebih satu jam aku dalam posisi seperti ini, mataku sudah mulai mengantuk lagi, aku melepaskan cengkraman tangannya di tanganku yang mulai mengendur, astaga tanganku merah. Aku pun menaruh kepalaku di atas kasurnya tepat disamping tangannya yang terulur, dan aku pun mulai menyusulnya yang telah terlelap.

Hankyung POV’s

Aku mencium sesuatu yang harum menggoda indera penciumanku. Aku beranjak dari tempat tidur dan mengikuti arah wangi itu, sepertinya dari dapur siapa yang masak pagi-pagi seperti ini??. aku melihat sesosok wanita yang sangat aku kenal sedang sibuk dengan masakannya. Aku tersenyum ternyata Haneul, dia tidak menyadari kedatanganku aku pun memeluknya dari belakang yang sedikit membuatnya terperanjat. Aku terkekeh melihat tingkahnya.

“Yaaa oppa kau mengejutkanku saja” gumamnya begitu aku melepaskan pelukanku

“Masakanmu sepertinya enak chagi” kataku sambil memperhatikan masakan yang masih di dalam kuali sana.

“kalau kau ingin mencicipinya bersabarlah sebentar, sana cuci mukamu!! Kau ini jorok sekali” tiba-tiba ibu masuk ke dapur dengan membawa mangkok. Aku baru menangkap ternyata dari tadi Haneul memasak bersama ibuku. Sepertinya mereka sudah cocok sekali menjadi pasangan mertua dan menantu. Aku keluar dari dapur dan menuju kamar mandi aku tidak akan hanya mencuci muka saja tapi sekalian mandi.

Haneul mengetuk  pintu kamarku begitu aku sedang berganti pakaian. “Oppa sarapannya sudah siap” katanya dari luar kamarku.

“Ne chagi, aku akan segera kesana” jawabku agak setengah berteriak agar dia dapat mendengar dengan jelas *koko pikir ajuhma tuli pa?? wkwkw*

Aku melangkah menuju ruang makan disana sudah ada ibu  dan Haneul yang sedang mengobrol sesekali mereka tertawa. Aku senang melihat pemandangan di depanku ini. hari ini hanya ada aku, Haneul dan ibu  di rumah karena ayahku juga sedang pergi ke luar kota untuk waktu tiga hari karena ada urusan yang harus diselesaikan. Aku duduk di samping seberang Haneul.

Haneul mengambilkan makanan untukku dan ibu, aku lihat dia sudah sangat cocok menjadi istri yang baik. Kami makan dengan hikmat, aku menikmati setiap sensasi masakan Haneul yang masuk ke mulutku.

“Kapan kalian menikah?” Tanya ibu tiba-tiba pada kami. aku dan Haneul langsung tersedak mendengar pertanyaan ibu.

Aku terdiam begitupun dengan Haneul.

“Kalian sudah dewasa, tidak baik mengulur-ulur pernikahan” lanjut ibu.

“Kami akan menikah setelah waktunya tepat ibu” jawabku akhirnya, Haneul pun mengangguk mendukung gagasanku.

“menunggu apa lagi? kalian sudah dewasa dan saling mengerti. Untuk apa lagi menunggu” sahut ibu.

“Aku masih sibuk dengan jadwal Super Junior, Hee Yeon pun masih belum sembuh benar meskipun ternyata bukan TBC yang diidapnya”

“Kau selalu saja menjadikan kesibukanmu itu alasan. Ibu berharap kalian cepat-cepat menikah”

Aku dan Haneul mengangguk, adu pendapat soal pernikahan dengan ibu tidak aka nada habisnya. Aku memang mencintainya bahkan sangat mencintainya, aku juha ingin sekali menikah dengannya. Tapi akan lebih baik jika kami menikah di waktu yang tepat. Aku ingin pernikahan kami kelak tidak akan berkesan dan tidak akan terlupakan.

Sungmin POV’s

Penampilan kami berlangsung sempurna meskipun tadi malam sempat ada beberapa masalah kecil tapi kami tetap professional. Tepukan tangan yang sangat meriah dari para penonton cukup membuktikan kalau mereka puas dengan penampilan kami. kami menuju ke backstage setelah tampil disana para yeojachingu pun telah stay, kecuali Hyo Soo. Ternyata yeoja itu masih memilih membuat Donghae galau. Aku bisa melihat dari raut wajahnya kalau dia sangat khawatir dengan yeojanya itu meskupun dia tersenyum untuk menutupinya.

Heechul hyung memakan burger dengan lahapnya, seperti orang tidak pernah makan saja dasar AB. Dia mendekatiku tanpa sengaja dia malah menjatuhkan saus di tanganku. Aaaiisshh hyungku yang ini ada-ada saja, padahal kami masih akan neik ke panggung lagi setelah pengumuman pemenang chart nanti, aku sich yakin yang akan menjadi  pemenang kami lagi. aku keluar dari waiting room kami menuju toilet terdekat untuk membersihkan saus yang bernoda di tanganku.

“Kau anggota Super Junior..” seorang ajuhssi menghampiriku, perkataannya lebih seperti pernyataan dari pada pertanyaan. Aku mengangguk mantap. Tidak biasanya ada orang seperti ini, pernyataan seperti itu biasanya hanya dilontarkan oleh para fans. Tapi dilihat dari cara bicara dan nada bicaranya sepertinya dia bukan salah satu fans kami.

“Aku ingin berbicara dengan temanmu yang bernama Donghae” lanjutnya.

“Dia ada di waiting room, saya bisa mengantar anda” aku berjalan di depan ajuhssi itu, sepertinya aku tidak jadi ke toilet aku lebih memilih membersihkan tanganku dengan tissue basah agar tidak repot.

“Hae-ya. Ada yang ingin bertemu denganmu” kataku pada Donghae. Donghae beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri ujuhssi itu. Kami semua memperhatikan mereka dengan seksama, penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.

Donghae POV’s

“Aku tidak ingin berbasa-basi lagi. kau sudah tau siapa aku kan??” Tanya ajuhssi yang tak lain ayah Hyo Soo itu. Aku mengangguk mantap.

“Jujur saja, kemana kau membawa anakku pergi??” Tanya ayah Hyo Soo padaku, aku bisa melihat tatapan tajamnya, aku sama sekali tidak mengerti jalan pembicaraan ini. karena aku pun sudah lost kontak dengannya sudah delapan hari ini.

“Apa maksud ajuhssi??” tanyaku bingung.

“Kau tau kan kalau Hyo Soo akan di jodohkan? Pasti Hyo Soo sudah memberitahumu tentang itu, dan kau membawanya kabur dari rumah iya kan..???” aku bisa melihat ayah Hyo Soo sudah mulai emosi, terlihat jelas dari tatapannya dan nada suaranya yang meninggi.

“Aku sama sekali tidak tahu dimana Hyo Soo. Bahkan aku sudah tidak mendengar kabarnya selama delapan hari ini ajuhssi” jawabku dengan jujur, sambil mencoba untuk tetap menjaga sopan santun dan emosiku.

“Pintar sekali kau berkelit, sebaiknya kau jujur saja kemana kau membawa Hyo Soo pergi. Karena kalau kau tetap tidak ingin memberitahuku bukan tidak mungkin aku berbicara pada wartawan dan polisi..” ancam ayah Hyo Soo padaku. Aku tidak pernah menyangka akan seperti ini masalahnya, Hyo Soo sama sekali tidak bercerita padaku. Apa mungkin karena ini dia menjauhiku..???

Aku bisa merasakan dari ekor mataku kalau hyungdeul dan dongsaengdeulku duduk menegang menahan emosi mereka. Bahkan tangan Heechul hyung, Kangin hyung dan Kyuhyun sudah mengepal kuat. Tapi Teukie hyung mencoba untuk menenangkan mereka.

Advertisements

4 thoughts on “FF:Our Secret Part 14

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s