FF: LOVE’S WAY – I BELIEVE

Cast:

1. All of SHINee member

2. Choi Hye Jin

3. Shin Hye Jin

4. Super Junior member

Genre: Friendship and Romance, there’s sad scene also…hehehehe

Rating: General

Disclaimer: Taemin is mine..Only mine..kekekeke

10. I BELIEVE

Key POV

”Ne..akan kubeli…bawel!”seruku kepada seseorang di telepon.

”Ne….Minho-ah…aku tidak lupa!”seruku lagi. Dasas adikku yang satu ini selalu saja membuatku kesal. Aku disuruhnya membeli bola basket baru sebagai taruhan antara aku dan dia kemarin saat menonton pertandingan basket. Hah! Kenapa aku mau saat itu.

Tunggu, itu Hye Jin. Kenapa dia ada di toko ini. Aku berjalan melewati sebuah toko jjarmyung dan aku melihat Hye Jin bekerja disana. Ngapain dia disitu?

”Kibum-ah..”seru Minho di telepon menyadarkanku.

”Ne..Ne…nanti aku beli tapi aku akan pulang agak malam bilang pada Umma…arasso?” seruku padanya.

”Mau kemana?”tanyanya. Aishh, adikk yang terlalu ingin tahu.

”Sudahlah kau tidak perlu tahu…nanti akan kubelikan…bye…”seruku dan langsung kututup teleponnya agar dia tidak bertanya yang macam-macam lagi. Aneh sekali adikku itu di sekolah dia bisa begitu diam sedangkan kalau sudah dirumah dia bisa begitu cerewet.

Aku ingin tahu kenapa Hye Jin bekerja disitu tapi aku tidak mungkin masuk dan langsung menanyakannya. Sebaiknya kutunggu dia sampai pulang.

Hye Jin POV

”Gamsahamnida ahjumma…”seruku berpamitan pada Bibi Hae Na. Untunglah hari ini aku tidak latihan drama karena Heechul sunbae sedang sakit sehingga aku bisa kerja part time lebih awal dan pulang juga tidak terlalu malam, dan yang paling penting aku tidak harus bertemu Taemin. Aku menghela nafas dan berjalan keluar toko itu. Entah kenapa aku berharap ada sebuah motor biru itu lagi disana. Hye Jin sadar!tidak ada Taemin!seruku pada diriku sendiri. Tapi entah kenapa aku berharap dia ada disana tersenyum padaku dan berjalan menghampiriku seperti saat itu, mengikutiku, menungguku, dan mengantarku pulang serta meminjamkan jaketnya padaku. Oh ya jaket itu masih dirumah, sebaiknya besok aku kembalikan tapi apa aku bisa. Kau pasti bisa Hye Jin!jangan berharap lagi padanya!dia tidak menyukaimu!. Aku menghela nafas lagi, kenyataan yang menyakitkan tapi harus aku terima. Aku berjalan menuju halte bus. Tentu saja dia tidak ada disana. Untuk apa dia menjemputku, memangnya aku pacarnya. Aku masih terus berbicara sendiri pada diriku. Aku duduk dibangku menunggu bus yang lewat. Aku membetulkan letak syalku. Tiba-tiba seseorang menyodorkanku es krim. Aku mendongak melihat siapa yang memberikannya dan aku sangat kaget melihat itu adalah Key. Ngapain dia disini?

”Aku pernah janji kan untuk membelikanmu es krim…ini aku menepati janjiku…”serunya.

Dia serius atau hanya ingin mengerjaiku saja tapi wajahnya sih tulus. Ah mungkin di tulus, aku mengambil es krim yang dia sodorkan dan dia duduk disampingku menunggu bus.

”Kau sedang apa disini?”tanyaku.

”Memangnya tidak boleh kesini?aku sedang jalan-jalan saja lalu melihatmu…”jawabnya.

Jalan-jalan? Kulihat dia membawa bungkusan yang besar, sepertinya dia habis membeli sesuatu. Aku menatapnya sambil mengerutkan dahiku.

”Ini tadi aku beli bola basket untuk Minho..”terangnya begitu melihatku seperti tidak percaya akan jawabannya. Kakak yang baik.

Kami terdiam beberapa lama. Entahlah aku memang sedang tidak ingin banyak bicara. Aku memakan sedikit demi sedikit es krim yang dia berikan.

”Makanmu seperti anak kecil!”serunya padaku sambil memberikan tissue padaku. Aku menyentuh pipiku dan ternyata ada sisa es krim disitu. Aku mengambil tissue yang dia berikan. Dia tertawa mengejek. Dasar Key!

Kenapa bis nya begitu lama ya? Bisa-bisa aku telat sampai dirumah.

”Ya!kau mau pulang?” tanyanya.

Ya iyalah aku mau pulang masak aku mau tidur disini, pertanyaan yang babo. Dasar Key!gerutuku dalam hati. Untung aku sedang tidak mood untuk bertengkar dengannya.

”Ne..”jawabku.

Dia terdiam beberapa saat lalu berkata.

”Aku antar…”katanya menawarkan.

”Naik apa?”tanyaku polos dan dia langsung memukul kepalaku dengan tangannya.

Tuh kan padahal dia sudah berjanji tidak akan mengerjaiku lagi tapi buktinya dia masih saja melakukan itu.

”Ya!sakit tau!kau sudah janji!”seruku.

”Lagian bertanya seperti itu…ya naik mobil lah masa naik pesawat…babo sekali kau!” katanya.

”Kalau aku babo aku tidak akan dapat nilai 9 di ulangan matematika kemarin daripada kau hanya dapat 6….berarti kau yang babo…”seruku sambil menoyor kepalanya dan dia langsung merengut kesal. Dan aku senang melihatnya seperti itu, aku tertawa licik melihatnya seperti itu. Dia pikir aku tidak bisa membalas! Kalah kau!

”Kkajja…”serunya padaku.

Siapa bilang aku mau diantar olehnya. Aku duduk terdiam. Dia berjalan mendahuluiku tapi sadar aku tidak mengikutinya dia kembali lagi.

”Cepatlah!sudah malam!” serunya dan langsung menarikku. Apa-apaan dia.

”Ya!siapa bilang aku mau diantar oleh kau!”seruku smabil setengah berteriak dan membuat semua orang dijalan melihat kami. Mungkin aku akan terlihat seperti orang yang diculik oleh pria tampan tapi kasar.

Aku menghentakan tanganku dan berhasil lepas dari genggamannya tepat di depan mobilnya terparkir. Dia masuk ke dalam mobil, sementara aku masih berdiri memtung di depan mobilnya. Aku tidak akan masuk!

”Ya! Susah sekali bicara denganmu!cepat masuk!”katanya keluar lagi dari mobil.

”Aku tidak mau!”seruku.

”Ini sudah malam!kalau terjadi sesuatu padamu bagaimana….kau beruntung bertemu denganku yang mau mengantarmu pulang..sudah cepat naik!”serunya dan langsung mendorongku masuk mobilnya dan karena dia mendorongku begitu kuat akhirnya aku masuk juga ke mobilnya, dia langsung menutup pintunya saat aku berusaha ingin keluar.

Saat di dalam mobilnya aku benar-benar ingin tertawa. Kenapa semua benda disini berwarna PINK! Dasar Key cocok aneh, dia suka warna pink, apa tidak salah itu kan warna perempuan. Dia masuk kedalam mobilnya dan mulai menyalakan mesinnya dan saat itulah aku benar-benar tidak dapat menahan tawaku.

”Ya!kenapa kau tertawa?!”tanyanya heran melihatku tertawa terbahak-bahak.

”Pink!”seruku padanya dan aku dapat melihat wajahnya menjadi merah karena malu dan sungguh baru kali itu aku melihatnya malu setelah selama ini hanya melihat wajah arogannya atau wajah cueknya yang selalu dia tunjukkan dan baru kali ini melihatnya seperti itu.

”Sudahlah!”serunya sambil menjalankan mobil.

Selama perjalanan aku berusaha untuk tidak tertawa tapi sungguh aku tidak kuat melihat semua barang berwarna pink disini, aku jadi membayangkan bagaimana isi kamarnya apakah juga berwarna pink, kalau iya, bagaimana saat teman-temannya datang dan melihat isi kamarnya pasti mereka akan sangat terkejut. Key yang terkenal superplayboy itu suka warna PINK. Hahaha! Itu pasti akan menjadi lelucon paling lucu!

”Ya!terus saja tertawa!”serunya.

”Mian…habisnya kenapa pink?”tanyaku dengan wajah menahan tawa.

”Memangnya tidak boleh!”serunya lagi.

”Andwe…tapi lucu aja masa cowok sepertimu menyukai warna pink…”kataku dan wajahnya kembali merah menahan malu.

Aigoo Key!

Di sepanjang perjalanan, Key hanya merengut kesal karena aku selalu menggodanya.

”Harusnya tadi aku tidak mengajakmu!”serunya begitu aku sampai di depan rumahku.

”Tenang, tidak akan kuberitahu siapa-siapa”janjiku padanya.

Tenang saja Key aku tidak akan menjatuhkan reputasimu itu.

”Tapi kau juga harus janji jangan mengangguku lagi…bagaiamana?”kataku.

Dia terdiam sejenak kemudian menganggukan kepala tanda setuju. Aku berjalan keluar dari mobilnya.

”Gumawo Pinky Key!”seruku sambil melambai padanya. Dan bisa kulihat dia sudah memanyunkan bibirnya. Kemudian dia berlalu pergi.

Aku tersenyum dan berjalan masuk ke dalam. Uh aigoo, Key…Key…dia suka warna Pink. Fakta yang sangat mengejutkanku.

”Hyo Jin-ah…Umma belum pulang?”tanyaku begitu aku selesai mandi dan berjalan masuk ke dalam kamar. Aku sudah mengganti pakaianku dengan pakaian tidur.

”Belum…”jawabnya sambil terus menatap bukunya.

Dia sedang sibuk belajar. Ya besok kan dia ada ujian. Aku berbaring di tempat tidurku dan memejamkan mataku.

”Hye Jin-ah…kau pulang diantar siapa?”tanyanya padaku mengejutkanku yang sudah hampir tertidur.

”Ah…Key…”jawabku.

”Wah sekarang sudah beralih dari Taemin ke Key?” serunya.

Kemudian Hyo Jin naik ke atas tempat tidurku. Aku pura-pura tidak mendengar pertanyannya.

”Marah nieh?”tanyanya.

”Ne..”jawabku singkat.

Oh ya aku lupa, ada barang yang Jin Ki Oppa titipkan padaku. Aku turun dari tempat tidurku dan merogoh tasku dan mengambil benda kotak itu.

”Ini…”seruku pada Hyo Jin dan dia pun turun dari tempat tidurku dan menghampiriku.

”Apa ini?”tanya Hyo Jin.

Dan aku hanya menegakkan bahuku dan menggeleng menandakan aku juga tidak tahu apa itu.

Hyo Jin kemudian membuka kotak itu, aku pun ikut melihat apa yang diberikan Jin Ki Oppa padanya. Dan aku sangat terkejut begitu melihat isinya. Wow sebuah kotak musik yang indah, pasti harganya mahal. Yah Jin Ki Oppa kan memang kaya. Kulihat Hyo Jin juga sedikit terpana melihat hadiah itu. Di dalamnya juga ada secarik kertas. Hyo Jin langsung mengambilnya dan membacanya begitu aku mengintip isi kertasnya, dia langsung berdiri da pergi keluar.

”Rahasia!”serunya sambil berjalan pergi.

Huh memangnya kenapa aku lihat. Kau juga tidak tahu kan itu dari siapa? Aku sih sudah tahu itu dari Jin Ki Oppa. Seruku dalam hati. Paling isinya ucapan ’aku sayang kamu’ atau ’aku cinta kamu’. Tidak bakal jauh-jauh dari itu. Kenapa harus dirahasiakan segala.

Aku termenung melihat keluar jendela. Entahlah kenapa hari ini aku begitu banyak pikiran ya?. Tak lama kemudian Hyo Jin datang dengan berteriak-teriak.

”Hye Jin-ah…ini dari Jin Ki…lihat ini kotak musik yang sangat aku inginkan itu…”serunya sambil berlari masuk ke kamar.

Aku juga tahu itu dari Jin Ki Oppa. Kataku dalam hati.

”Ya ampun…dia sangat romantis sekali…”serunya lagi sambil meletakkan kotak musik itu diatas meja disamping tempat tidurnya.

Aku hanya menghela nafas perlahan. Tidak terlalu antusias mendengarnya. Aigoo, kenapa aku ini. Lupakan dia!lupakan dia!

”Kalau gitu kalian jadian saja…”kataku sambil kembali naik ke atas tempat tidurku.

”Annyong…dia duluan yang harus bilang tapi sampai sekarang mana…jadi lebih baik dengan Jang sessongnim…”serunya sambil mulai memainkan kotak musik itu. Musiknya mengalun pelan dan sangat indah.

”Dasar kau…kasiha Jin Ki Oppa..”kataku.

Aku mendengar musik yang mengalun itu. Sangat merdu membuat mataku mengantuk. Kini aku benar-benar memejamkan mataku. Menutup hari yang berat ini.

Aku bergegas mengambil jaket Taemin dan memasukannya ke dalam tas kecil dan berlari keluar kamar. Hari ini aku telat. Hyo Jin sudah menungguku di depan rumah dengan berkacak pinggang pasti dia sangat marah karena aku terlambat. Dia tidak ingin melewatkan paginya untuk menyapa Jang sessongnim yang baru datang. Dia langsung berjalan dengan cepat sekali dan mendahuluiku. Hyo Jin, kenapa sih dia dengan Jang sessongnim. Sudah gila.

Aku berjalan dengan perlahan menuju sekolah tidak terlalu antusias lagipula memang belum terlambat. Hyo Jin saja yang ingin buru-buru ke sekolah. Aku sampai di depan gerbang sekolah dan banyak sekali murid-murid yang sudah datang. Sepertinya aku datang agak terlambat hari ini.

”Hye Jin-ah…”teriak seseorang memanggilku dan ternyata itu Jin Ki Oppa dan kemudian dia menghampiriku dan berjalan disampingku.

”Gwenchanayo? Wajahmu terlihat kusut begitu…”tanyanya melihatku.

”Ne…gwenchanna Oppa…”jawabku singkat. Memangnya wajahku sekusut itu. Aku mencoba tersenyum dan menyatakan bahwa aku baik-baik saja.

”Sudah dikasih?”tanyanya lagi.

”Ne…dia sangat senang…”seruku dengan tersenyum. Sebenarnya malas harus berpura-pura senang sedangkan hatiku sedang seperti ini.

”Baguslah…”seru Jin Ki Oppa sambil tersenyum.

”Jin Ki-ah!” teriak seseorang memanggil Jin Ki Oppa dari jauh. Orang itu menghampiri kami dan ternyata itu Leeteuk sunbae. Dia tersenyum ke arahku dan Jin Ki Oppa. Angelic smile begitu Rae Na menyebutnya, sunbae yang satu ini juga merupakan salah satu incaran gadis-gadis disekolah karena senyumnya yang seperti malaikat itu beda dengan Kibum sunbae yang memiliki killer smile Rae Na bercerita begitu waktu itu. Ada-ada saja dia menyebut senyum setiap orang itu khas. Sekolah yang penuh dengan namja-namja yang tampan. Hah lama-lama berteman dengan Rae Na bisa menjadikanku ratu gosip. Habis tiada hari tanpa cerita Rae Na tentang anak-anak disekolah ini, bahkan walaupun aku beru beberapa bulan disini tapi aku sudah tahu semua anak-anak disini tanpa berkenalan, itu semua berkat Rae Na yang sering bercerita padaku. Tidak hanya tentang personality mereka tapi juga gosip-gosip disekitar mereka. Ckckck.

”Bantu aku sebentar…”seru Leeteuk sunbae pada Jin Ki Oppa kemudian Jin Ki Oppa mengangguk.

”Hye Jin-ah…aku duluan ya…”seru Jin Ki Oppa padaku.

”Ne..”jawabku.

Dan kemudian mereka berdua pergi.

”Hye Jin-ah…”seru seseorang menyentuh bahuku. Aku langsung menoleh melihat siapa yang melakukannya.

”Ahhh!”teriakku begitu melihat kebelakang ada kura-kura yang disodorkan kehadapanku lalu sebuah wajah muncul dari balik kura-kura itu.

”Tada…kura-kura baruku…lucu kan?”seru Yesung. Dia bukan teman sekelasku, dia dikelas C, tapi aku bisa kenal dengannya gara-gara sebuah kecelakaan. Waktu itu aku ingin mengambil sesuatu di lokerku tapi saat aku membuka lokerku aku malah melihat kura-kura disana, aku yang memang tidak suka dengan kura-kura langsung berteriak dan membuat semua orang melihatku, lalu namja aneh ini muncul dan bilang kalau kura-kura itu adalah miliknya. Saat aku tanya kenapa bisa ada di lokerku dia sendiri juga tidak tahu. Sejak saat itu bisa dibilang kami jadi saling kenal dan kebetulan sekali Yesung dan Rae Na berteman akrab jadi mau tidak mau aku juga harus berteman dengan namja aneh dengan wajah imut penyuka kura-kura yang selalu menakutiku dengan koleksi kura-kuranya itu. Aku bergidik ngeri menginat berapa banyak koleksi kura-kura yang dimilikinya itu. Pernah saat acara tell and show dia membawa seluruh kura-kuranya dan menakutiku hingga aku menangis.

”Tidak lucu tahu!”seruku berjalan pergi.

”Ya!mianhe Hye Jin-ah..”katanya sambil berjalan mengejarku.

”Habisnya kau berjalan dengan wajah cemberut….kenapa?Taemin ya?”tanyanya langsung.

Dasar Yesung! Ini pasti gara-gara Minho membuat semua berpikir aku adalah yeojachingunya Taemin. Sudah berapa orang yang dia beritahu, jangan-jangan seluruh klub basket sudah tahu, buktinya Yesung saja sudah tahu hal itu. Seharusnya Yesung tidak ikut klub basket.

”Andwe…”jawabku singkat.

”Hye Jin-ah….kau marah ya? Mianhe!” katanya meminta maaf dengan wajah imutnya itu. Sok innocent tapi memang sih wajahnya sangat imut, saat aku pertama kali melihatnya di lapangan basket waktu itu aku pikir dia adalah juniorku ternyata dia sama denganku.

”Mana pasanganmu?” tanyaku padanya mengalihkan pembicaraan.

”Siapa?”tanyanya sok polos.

Tumben dia tidak bersama pasangannya Kyu, nama sebenarnya Kyuyun tapi aku memanggilnya Kyu agar lebih gampang. Mereka berdua itu namja aneh dan pantaslah mereka kemana-mana bersama. Yang satu suka sekali dengan kura-kura yang satu lagi dengan game. Kyu itu sangat freak dengan game, kesekolah saja membawa PSP, tidak ada hari tanpa PSP ditangannya.

”Kyu mana?”tanyaku.

”Dia tidak masuk hari ini…sakit katanya…”jawabnya.

”Kebanyakan main game tuh…”seruku dan itu membuatnya tertawa.

”Aku duluan ya…”lanjutku pada Yesung. Aku malas ke kelas hari ini. Pergi ke taman dulu mungkin lebih enak.

”Ne…bye…wookie juga bilang bye…”serunya sambil menggerakan tangan kura-kuranya.

Dasar aneh, sekarang dia menamai kura-kura barunya wookie, jangan sampai ada kura-kuranya yang dinamai namaku.

Aku berjalan ke taman lewat samping sekolah sampai disana aku melihat Siwon Oppa sedang duduk di bangku taman sambil membaca buku. Aku berjalan menghampirinya perlahan-lahan agar tidak mengejutkannya dan duduk disampingnya.

”Hye Jin-ah…”serunya begitu melihatku duduk disampingnya dan itu membuatnya sedikit terkejut.

”Mian Oppa mengejutkanmu…”seruku sambil tersenyum. Dia tersenyum balik dan entah kenapa melihatnya tersenyum membuatku merasa lebih baik. Anehnya!

”Sedang belajar ya?”tanyaku.

”Ne..hari ini ada ujian…tumben kemari?”tanyanya.

”Aku menganggu Oppa ya…mianhe…aku sedang malas ke kelas…”jawabku.

”Andwe…aku sudah selesai kok…ada masalah?”tanyanya lagi.

Apa wajahku menunjukan ada masalah, kenapa semua orang bertanya seperti itu padaku.

”Ah…andwe…”jawabku sambil tersenyum menyakinkan bahwa tidak ada masalah.

”Kalau ada masalah cerita saja pada Oppa…siapa tahu aku bisa membantumu…”katanya sambil tersenyum.

Aku punya Oppa-Oppa yang sangat baik ternyata.

”Ne…Oppa hwaiting!” seruku sambil mengepalkan tanganku memberinya semangat karena hari ini ada ujian.

Dia tersenyum dan mengacak-acak rambutku. Betapa senangnya kalau aku punya Oppa yang sebenarnya.  Aku segera mengirim sms untuk oppa ku yang satu lagi yang hari ini juga ujian.

”Hae-Hae Oppa…Hwaiting untuk ujiannya! J

”Gumawo…dongsaeng J

 

 

Aku berjalan menuju kelas Taemin dan menghela nafas perlahan begitu sampai di depan kelasnya. Aku ingin mengembalikan jaket yang dia pinjamkan waktu itu. Aku melongok ke dalam kelas mencari-cari dia tapi tidak menemukan dia, kemana ya? Aku melihat bangkunya kosong. Apa dia tidak masuk sekolah hari ini, tapi kenapa dia tidak masuk? Mungkin dia sedang ke kantin. Aku melihat gadis itu lagi, gadis yang diberikan boneka oleh Taemin sedang asyik bermain dengan bonekanya. Aku jadi sebal melihatnya. Ya sih itu bukan hakku untuk menentukan kepada siapa Taemin boleh memberikan boneka tapi jangan boneka itu. Boneka kesayanganku dan Taemin tahu itu, aku tidak berharap dia memberikannya padaku tapi…ya…aku memang berharap dia akan memberikannya padaku. Babo Hye Jin, kenapa harus berharap ingin dikasih!. Padahal aku sudah berniat akan membelinya begitu uang tabunganku cukup tapi kenapa aku malah ingin dikasih olehnya. Aku berbalik kembali menuju kelasku karena Taemin sepertinya tidak ada. Mungkin pulang sekolah saja kukembalikan saat latihan drama, pasti dia ada.

Sepulang sekolah aku sudah berjalan menuju ruang teater untuk latihan tapi baru sampai di lapangan basket Donghae Oppa menghampiriku.

”Hye Jin-ah…gumawo yang tadi…”serunya.

”Bagaiamana tadi berhasil?” tanyaku.

Dia hanya mengacungkan jempolnya sambil tersenyum.

”Oh ya….hari ini tidak latihan ya…soalnya Taemin tidak masuk selama 3 hari ini…”jelasnya.

Taemin tidak masuk, kenapa? Apa dia sakit? Aku ingin bertanya tapi kuurungkan niatku. Pasti kalau aku bertanya akan di ledek habis-habisan.

”Kenapa?kangen ya?”tanya Donghae Oppa dengan senyum jahil.

Tuh kan untung tidak jadi nanya. Tidak bertanya saja seperti ini apalagi kalau bertanya.

”Andwe…Oppa!”seruku dan dia hanya tersenyum.

”Donghae-ah!” teriak seseorang dari lapangan lalu menghampiri kami.

”Ya…yeojachingu Taemin…”serunya begitu sampai di hadapanku.

Changmin sunbae, sial sekali aku bertemu dengannya. Dia dan Minho sama saja. Aku mencoba tersenyum padanya dan itu malah membuat Donghae Oppa tertawa. Habislah sudah aku dengan dua orang ini.

”Sayang Taemin hari ini tidak masuk tapi kau pasti bangga dengannya…”seru Changmin sunbae sambil menepuk bahuku.

Bangga kenapa? Memangnya Taemin kenapa? Muncul banyak pertanyaa di otakku yang ingin aku tanyakan tapi tidak pada mereka.

”Donghae-ah…main sebentar yuk? Sudah lama kami tidak melihatmu bermain sejak kau pindah ke klub aneh itu…tidak ada Heechul kan?”kata Changmin sunbae sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling memastikan bahwa tidak ada Heechul sunbae.

”Aku tunggu dilapangan ya? Annyeong Choi yang satu lagi atau kusebut yeojachingu Taemin…”serunya lagi sambil berlari menuju lapangan kembali.

Donghae Oppa tertawa melihat tingkah Changmin sunbae dan aku hanya bisa cemberut melihatnya seperti itu.

”Hye Jin-ah…mau pulang?”tanyanya padaku.

”Ne Oppa”jawabku masih dengan wajah cemberut gara-gara Changmin sunbae.

”Josimhe…”katanya sambil menepuk kepalaku perlahan.

Aku tersenyum dan berjalan pergi. Baru berjalan beberapa langkah dan kulihat Donghae Oppa masuk ke lapangan. Aku bertemu orang itu.

”Nyari Taemin…”katanya.

Sepertinya sebuah kewajiban jika bertemu denganku akan bertanya seperti itu. Huh sampai kapan orang ini akan seperti ini terus.

”Andwe…”jawabku.

”Memangnya kau tidak tahu Taemin tidak akan masuk selama 3 hari karena dia pergi lomba di Incheon…”terangnya.

Perasaan aku bilang tidak mencarinya tapi kenapa dia malah menjawab seakan aku bilang aku mencari Taemin. Tapi tunggu dia bilang Taemin pergi ke incheon selama 3 hari untuk lomba. Kenapa dia tidak bilang padaku. Banyak pertanyaan muncul di otakku dan ingin kutanyakan pada Minho tapi aku tetap diam. Aku menggenggam dengan erat bungkusan itu. Kenapa aku jadi kesal begini.

”Ah…untuk Taemin…”tanya Minho kemudian sambil melihat bungkusan itu.

”Andwe…”jawabku langsung dan segera berbalik meninggalkannya. Dia masih menatapku dengan tatapan bingung.

Entah kenapa mataku terasa panas dan sepertinya aku akan menangis tapi kenapa aku harus kesal dengannya. Itu hak dia untuk memberitahuku atau tidak. Tapi kenapa dia tidak memberitahuku, setidaknya aku kan masih temannya. Kenapa semua orang tahu sedangkan aku tidak. Apakah aku bukan temannya? Paling tidak aku ingin memberinya semangat tapi…sudahlah Hye Jin!untuk apa aku marah!

Aku terus berjalan keluar sekolah dengan menunduk takut nantinya aku malah menangis, karena hal itu aku jadi tidak melihat jalan dan menabrak seseorang.

”Mianhe…”seruku sambil mendongakkan kepalaku dan aku mendapati wajah yang aku kenal Siwon Oppa.

”Hye Jin-ah…kau menangis?”tanyanya melihat mataku yang mulai menetsakan air mata. Aku berusaha menghapusnya dengan tanganku.

”Andwe…”jawabku buru-buru.

Namun tangan Siwon Oppa langsung merengkuhku ke dalam pelukannya dan aku malah menangis sejadinya di dalam pelukannya. Entah kenapa aku merasa nyaman ada di pelukannya, aku merasa dia seperti kakakku yang menenangkanku saat aku menangis, dia juga membelai lembut rambutku berusaha menenangkanku. Dia terus memelukku sampai akhirnya tangisanku tinggal isakan saja. Dia melepaskan pelukannya dan mendongakkan wajahku sehingga langsung menatapnya.

”Ada apa?ceritakan pada Oppa…”tanya Siwon Oppa sambil menghapus sisa air mataku dengan tangannya.

Aku masih terdiam, apakah aku cerita? Itu sangat memalukan. Masa aku menangisi orang yang bukan siapa-siapaku, hanya karena aku mencintainya tapi dia tidak mencintaiku. Kemudian Siwon Oppa menarikku dan membawaku ke mobilnya. Aku masih terdiam tidak tahu harus berkata apa. Kemudian dia menjalankan mobilnya dan berhenti di taman. Dia menarikku keluar dan mendudukanku di sebuah bangku di taman itu.

”Ne…sekarang ceritakan…”serunya padaku dengan pandangan lembut sambil menggenggam tanganku.

”Oppa…”seruku. Dia terus menatapku menungguku bercerita. Apakah aku harus cerita, masa aku harus bilang aku cemburu karena melihat orang yang kucintai memberikan hadiah pada gadis lain.

”Apa yang membuatmu menangis?ceritakanlah pada Oppamu…aku kan pernah bilang kau bisa cerita apa saja padaku…siapa tahu aku bisa membantumu…”serunya sambil membelai rambutku.

Aku terdiam lalu mengambil nafas perlahan.

”Tapi Oppa jangan tertawa ya…”pintaku padanya. Aku takut kalau aku cerita nanti dia malah tertawa.

”Ne..arasso…”jawabnya sambil tersenyum dan mengangguk mengiyakan.

Aku terdiam sejenak kemudian mulai menarik nafas.

”Aku cemburu…”kataku sambil menunduk.

Dan ternyata Siwon Oppa malah tertawa. Tuh kan dia malah tertawa padahal dia sudah berjanji untuk tidak tertawa tapi dia malah tertawa. Oppa kau jahat!

”Ya!Oppa!kenapa tertawa?”seruku padanya sambil mengerucutkan bibirku dan memukul bahunya.

”Mian dongsaeng…kau polos sekali…kukira ada apa ternyata karena itu…”serunya setelah selesai tertawa sambil mengacak-acak rambutku.

Aku masih cemberut melihatnya seperti itu. Ternyata hanya itu. Jawaban yang sangat menyebalkan.

”Dongsaengku yang manis…jangan cemberut gitu dong…”serunya sambil menunjuk pipiku dengan telunjuknya.

”Pasti karena Taemin ya…dia dekat dengan siapa sampai membuatmu cemburu…”seru Siwon Oppa lagi dan perkataannya kali ini membuat mukaku memerah karena malu. Aigoo, darimana Oppa tahu, aku kan tidak pernah cerita. Apa jangan-jangan Donghae Oppa yang bilang tapi dia bukan orang yang sering membocorkan rahasia, mungkin di klub basket, Siwon Oppa kan juga salah satu anggota klub basket. Minho!

”Darimana Oppa tahu?”tanyaku berpura-pura tidak mengerti apa yang ditanyakannya.

”Aku kan Oppa yang baik…harus tahu segala sesuatu tentang dongsaengku…”serunya sambil tersenyum dan menunjukan lesung pipinya yang manis itu.

”Ah..berarti benar karena dia…”serunya seperti mengerti sesuatu.

”Andwe!bukan dia!”kataku.

”Kalau bukan kenapa mukamu merah?”tanyanya sambil menyentuh pipiku.

Memangnya mukaku merah ya? Ya ampun!

”Oppa!”teriakku padanya.

Dia terkekeh perlahan kemudian menyentuh kepalaku.

”Dongasengku yang manis ini sudah menyukai laki-laki….pasti akan melupakan Oppa-oppanya nih…”serunya.

”Oppa apaan sih! Kau Oppaku selamanya dan tidak akan aku lupakan!”seruku sambil memanyunkan bibriku.

”Kalau begitu berikan Oppa senyummu yang paling manis…”katanya lagi.

Aku mencoba tersenyum semanis mungkin tapi sepertinya malah terlihat aneh karena Siwon Oppa malah tertawa melihatnya.

”Yasudah…ayo kita makan..kkajja…”serunya dan menarikku pergi dan merangkulku. Entah kenapa perasaan aku selalu mejadi lebih baik jika bersamanya. aku sungguh beruntung memiliki Oppa seperti dia. Donghae Oppa dan Siwon Oppa aku sangat menyayangi kalian.

Setelah makan, Siwon Oppa mengantraku sampai kerumah, untung hari ini aku tidak kerja part time karena bibinya Rae Na pulang ke kampung halamannya selama tiga hari karena pemakaman kakeknya Rae Na juga hari ini tidak masuk, semoga besok dia sudah masuk karen aku pasti akan sangat kesepian sekali tanpa dia. Hari ini sangat menyenagkan menghabiskan waktu bersama Oppa ku tersayang. Andai Siwon Oppa adalah Oppa ku yang sebenarnya, pasti aku akan sangat senang sekali bisa menghabiskan waktuku bersamanya setiap hari dan yang paling pasti kalau dia Oppa ku, aku bisa selalu melihat seyumnya yang menenangkan itu.

Siwon POV

”Annyeong Hye Jin-ah…”kataku padanya yang baru keluar dari mobil dan melambai padaku. Kemudian dia pun masuk ke dalam rumahnya.

Dongasaengku yang satu ini memang sangat lucu, hari ini dia memangis gara-gara cemburu pada Taemin tapi entah cemburu soal apa, dia tidak mau bercerita juga padaku padahal sudah aku paksa saat kami makan bersama tadi. Semoga kau baik-baik saja, paing tidak kau menyukai orang yang baik. Jadi kalau cemburu padanya tidak apa-apa. Aku tahu dia menyukai Taemin dan aku setuju saja jika dia menyukainya. Taemin anak yang baik.

Aku masih ingat wajahnya saat menangis, lucu sekali. Walapun dia bukan dongsaeng kandungku tapi entah kenapa aku sayang sekali padanya bukan sayang antara pria dan wanita tapi lebih kepada Dongasae dan Oppa, aku selalu ingin melindunginya dan tidak ingin melihatnya menangis, makanya tadi kukira ada yang menyakitinya atau apa, untunglah tidak ada yang menyakitinya. Terkadang aku berpikir pertemuanku dengannya seperti sesuatu yang seharusnya terjadi. Aku kenal dia lewat Donghae dan tiba-tiba aku sudah menjadi Oppanya padahal sebelumnya aku tidak pernah berpikir akan menjadi sangat dekat dengannya. Aku sampai di depan apartemenku, pasti Donghae sudah mencariku. Aku bergegas turun dan mengambil tasku namun handphoneku berbunyi. Saat kulihat nama yang tertera di layar handphoneku, aku malas sekali mengangkatnya dan membiarkannya berdering terus. Umma masih saja terus meneleponku, aku masih memanggilnya Umma walapun aku sudah tahu semuanya, setidaknya dia adalah umma yang baik yang telah membesarkanku sampai usiaku 13 tahun, sampai kutahu bahwa dia bukanlah Umma kandungku. Suara handphoneku sudah berhenti dan berganti dengan sebuah suara sma masuk, kubaca sms itu dan ternyata dari Umma.

”Kau pasti sibuk ya?jadi tidak mengangkan telepon Umma…belajarlah yang baik…jaga kesehatanmu…jangan lupa makan dan tidur yang cukup…semoga kau sukse ujian…oh ya appa sudah mengirimkanmu uang bulan ini jangan lupa di ambil….jal ja..Umma saranghae…”

Selalu seperti itu setiap malam, terkadang aku merasa bersalah padanya. Aku hanya pulang seminggu sekali kerumah sejak aku memilih untuk tinggal sendiri tapi sudah 4 bulan ini aku tidak pulang, pertama karena memang aku sedang sibuk mempersiapkan ujianku dan yang kedua aku harus melatih diriku agar nanti saat aku kuliah di Jepang aku tidak perlu bergantung lagi kepada mereka. Aku sudah terlalu merepotkan mereka selama ini. Oleh sebab itu aku sangat menunggu-nunggi hari kelulusanku.

Aku menyalakan lampu kamarku dan merebahkan diriku di tempat tidurku. Sebuah sms lagi masuk saat kubaca ternyata itu dari Donghae.

”Wonnie…kau sudah pulang? Tadi aku sudah datang kerumahmu tapi kau belum pulang…aku sedang  buat jjarmyung spesial…kau mau coba? Kita makan bersama ya…”

Tanganku bergerak membalsa smsnya. Donghae memang temanku yang paling baik.

”Ne…aku sudah pulang…ok datang saja…makananmukan enak sayang untuk dilewatkan…hehe”

Kutekan tombol send dan tak lama kemudian balasan pun masuk.

”Aku datang 30 menit lagi…”

Aku menaruh kembali Hpku di meja dan aku ingat aku belum membalas sms dari ummaku, segera ku ambil lagi HP ku dan mulai mengetik sms padanya.

”Ne..aku sedang sibuk…gamsahamnida…akan aku ambil…”

Begitu singkat dan jelas, itulah sms ku pada Umma, mungkin aku bisa disebut anak yang tidak berbakti tapi jujur dalam hatiku yang terdalam aku sayang pada mereka, dua orang yang kuanggap orang tuaku sampai usiaku 13 tahun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s