FF: LOVE’S WAY – MY ALL IS IN YOU

Cast:

1. All of SHINee member

2. Choi Hye Jin

3. Shin Hyo Jin

4. Super Junior member

Genre: Friendship and Romance, there’s sad scene also…hehehehe

Rating: General

Disclaimer: Taemin is mine..Only mine..kekekeke

9. MY ALL IS IN YOU

Playlist: Super Junior-My All is In You, DBSK-I believe, DBSK-saranghamnida

Pagi itu aku sudah berjalan menuju ruang teater, seperti biasa aku sudah janjian dengan Donghae Oppa untuk belajar. Aku juga sudah memebawa bekal seperti biasanya untuk aku berikan pada Oppa.

”Oppa…”seruku sambil membuka pintu ruang teater. Tapi saat aku melihat ke dalam belum ada meja dan bangku seperti yang biasa Oppa sudah siapkan. Tumben Oppa belum datang. Saat aku berjalan masuk aku baru sadar ternyata sudah ada orang di dalam. Siapa dia? Kenapa ada disini, dari belakang dia tidak terlihat seperti Eunhyuk sunbae atau Heechul sunbae dan yang psti bukan Donghae Oppa, aku pasti bisa mengenalinya. Aku berjalan menghampirinya.

”Annyeong…”seruku pada seorang namja yang sedang berdiri menghadap jendela, dia sepertinya salah satu murid disini juga karena dia menggunakan seragam tapi siapa dia?

Dia menoleh dan tersenyum sehingga menunjukan lesung pipitnya. Omona itu Siwon sunbae, untuk apa dia disini.

”Siwon sunbae…”seruku padanya dengan sedikit terkejut.

”Sedang apa disini?” tanyanya.

”Ah…menunggu Donghae Oppa…sunbae sendiri sedang apa disini?” aku balas bertanya padanya.

”Menunggu Oppa mu juga…ternyata benar kau dan Donghae…”

”Ah annyi….annyi…bukan  begitu…aku hanya meminta dia mengajariku matematika…itu saja…kami tidak punya hubungan khusus…”elakku buru.buru. aduh! Jangan sampai dia berpikir yang macam-macam tentangku dan Oppa.

Dia tersenyum melihat tingkahku dan malah mengacak-acak rambutku. Saat itu perasaan itu kembali muncul, kenapa ini? Kenapamaku harus selalu merasa sudah sangat dekatnya?dan aku merasa senang sekali bila di dekatnya. Apa yang terjadi padaku?

”Hye Jin-ah…kau tidak apa-apa?”tanyanya.

Aku langusng tersadar dari lamunanku dan mnegambil bangku yang diletakkan disudut ruangan dan mengaturnya seperti biasa saat aku mau belajar, mungkin hari ini Oppa datang telat tapi jangan sampai terlalu telat ..hehe.

”Duduklah sunbae…”seruku padanya.

Dia pun duduk di depan meja dan berhadapan denganku. Aku mengeluarkan bukuku dan menaruhnya di atas meja, yah siap-siap saja mungkin sebentar lagi Oppa datang, dia tidak mungkin tidak menepati janjinya. Siwon sunbae terus saja menatapku dan itu membuatku salah tingkah. Omona kenapa dia terus menatapku!

”Hye Jin-ah..kau sering belajar dengan Donghae ya?”tanyanya akhirnya.

”Ne..tapi tidak setiap hari…paling seminggu dua kali kalau aku kesulitan saja…”jawabku sambil tersenyum, semoga dia percaya bahwa aku dan Oppa benar-benar hanya hubungan antara dongsaeng dan Oppa nya tidak lebih.

”Senangnya Donghae punya dongsaeng sepertimu…”kata Siwon sunbae.

Aku tertawa mendengar perkataan Siwon sunbae.

”Memangnya sunbae tidak punya adik?”tanyaku.

”Tidak..aku anak tunggal” jawabnya langsung, aku merasa aneh dengan ekspresinya kali ini, entahlah saat dia mejawab pertanyaan itu wajahnya seperti menyiratkan kesedihan, kesedihan yang mendalam, ada apa dengannya? Kenapa dia jadi seperti itu. Dia menundukan wajahnya dan terdiam.

Aku berusaha mengalihkan perhatiannya dariku, aku pura-pura membuka bukuku dan pura-pura mengerjakan PR yang memang belum aku kerjakan tapi sia-sia dia terus saja melihatku malah sekarang semakin memperhatikanku.

”Mana yang tidak bisa?”tanyanya kemudian.

”Ah…”jawabku kaget mendengar dia berkata setelah beberapa menit terdiam.

Dia mengambil bukuku dan melihatnya sejurus kemudian dia sudah memegang pensilku dan mulai mengajariku.

”Jadi…seperti ini…”serunya mulai mengajariku dan dia pun mulai mencoret-coret di buku ku dan entah kenapa aku begitu patuh saja mendengarkannya mengajariku. Aku pun dengan mudah mengerjakan PR-ku satu persatu.

”Gumawo sunbae…”seruku sambil tersenyum begitu aku menyelesaikan soal terakhir. Dia tersenyum melihatku dan mengacak-acak rambutku. Entah kenapa aku merasa senang sekali setiap dia menyentuh kepalaku. Kenapa aku membayangkan dia menjadi kakakku.

”Boleh aku memanggilmu Oppa…”seruku. Aishh! Apa yang kukatakan barusan, kenapa aku malah berkata seperti ini. Buru-buru langsung kututup mulutku dengan tanganku sendiri. Omona, apa yang aku bicarakan. Siwon sunbae terlihat sedikit kaget mendengar pertanyaanku.

”Mianhe sunbae…aku Cuma bercanda…”seruku agar dia tidak salah paham tapi dia malah tersenyum dan mengangguk. Maksudnya aku boleh memanggilnya Oppa? Aishh, tidak seharusnya seperti itu.

”Maksud sunbae?”tanyaku padanya.

”Ne….kau boleh memanggilku Oppa…senang punya dongsaeng yang cantik sepertimu…”katanya mejelaskan.

Aigoo, saat itu mukaku pasti sudah merah padam.

Tiba-tiba seseorang masuk dengan berlari dan itu Donghae Oppa.

”Oppa..”seruku padanya yang masuk dengan terengah-engah sepertinya dia habis berlari.

”Mianhe Hye Jin-ah…aku telat…”serunya meminta maaf padaku.

”Andwe Oppa…ada Siwon Oppa yang membantuku…”jawabku.

”Oppa?”tanyanya sambil menerutkan kening dan menatapku dan Siwon Oppa bergantian.

Dia melihat ke arahku dan seperti meminta penjelasan karena Siwon Oppa yang dilihatnya sebelumnya hanya tersenyum tanpa menjawab.

”Ne…Siwon sunbae sekarang adalah Oppa ku juga…seperti Oppa..”seruku sambil tersenyum.

Donghae Oppa masih terlihat bingung namun kemudian berkata.

”Aishh…pasti aku kalah tampan dengannya…”seru Donghae Oppa sambil cemberut.

Aku ingin tertawa melihatnya seperti itu, kuliha Siwon Oppa hanya tersenyum melihat tingkah teman dekatnya itu. Ya Siwon Oppa dan Donghae Oppa sudah berteman sejak mereka masih kecil hingga sekarang jadi Siwon Oppa sering sekali curhat dengan Donghae Oppa dan begitu sebaliknya, hubungan mereka sangat dekat.

”Andwe…Donghae Oppa tetap tampan kok…”seruku sambil tersenyum.

”Aku punya Oppa yang pintar dan juga tampan…”lanjutku melihat ke arah mereka berdua.

Kemudian aku membuka tas ku dan mengelurakan bekal yang sudah aku siapkan tadi, ada dua bekal yang kubawa satunya lagi untuk Eunhyuk sunbae karena waktu itu aku berjanji akan membawakannya bekal lagi.

”Ayo makan…”seruku pada kedua Oppaku.

Mereka berdua tersenyum dan duduk di depan mejaku, aku memberikan sumpit kepada mereka berdua.

”Ini untuk Oppa ku yang pintar..”seruku sambil memberikan sumpit ke tangan Donghae Oppa.

”Dan ini untuk Oppa ku yang tampan…”seruku sambil memberikan sumpit ke tangan Siwon Oppa. Dan merekah hanya tertawa.

”Cobalah…”seruku pada Siwon Oppa.

Siwon Oppa mengambil satu potong bibimbap dan memakannya.

”Enak..”serunya sambil tersenyum.

Kulihat Donghae Oppa mengacungkan jempolnya yang menyatakan bahwa makanan itu enak. Sebenarnya aku meminta resep bibimbap ini dari Donghae Oppa dan dia yang mengajariku bagaimana membuatnya, nah sekarang aku ingin menguji cobanya, apakah enak atau tidak? Aku senang ternyata menurut Donghae Oppa bibimbap buatanku enak. Di tambah lagi Siwon Oppa yang bilang makanan itu enak juga. Senangnya, aku sudah semakin mahir memasak.

Saat aku hendak mengambil sumpit mereka berdua sudah menyodorkan dua potong bibimbap bersamaan ke hadapanku. Aku terkejut dan mereka berdua malah tertawa.

”Oppa…mulutku kan Cuma satu..mana muat langsung makan dua bibimbap…”seruku pada mereka dan mereka kembali tertawa.

Donghae Oppa yang duluan menyodorkan bibimbap dan memakannya lalu kemudian Siwon Oppa yang menyuapiku. Sekarang mulutku sudah penuh oleh makanan dan sulit untuk mengunyah. Dasar Oppa-Oppaku ini!

Setelah selesai makan aku berpamitan untuk kembali ke kelasku dan menitipkan bekal yang satunya lagi ke Donghae Oppa untuk diberikan kepada Eunhyuk sunbae.

”Annyeong Donghae Oppa…Siwon Oppa…”seruku pada mereka sambil melambau dan berjalan pergi.

Donghae POV

”Aissh..kau mengambil dongsaengku…”seruku pada Siwon sambil tersenyum mengejek.

Dia berjalan menghampiriku dan memukul bahuku.

”Berarti kau mengakuiku lebih tampan darimu…”serunya lalu tertawa.

Aissh temanku yang satu ini selalu saja bilang dirinya yang paling tampan, aku jadi ingat dari kecil kami selalu bersaing siapa yang lebih tampan dan lebih pintar. Karena memang saat itu aku selalu menjadi juara pertama sedangkan Siwon di belakangku tapi kalau masalah ketampanan dia mengalahkanku dan pada awalnya kami tidak suka itu. Kalau ingat itu aku ingin sekali tertawa begitu bodohnya kami pernah bertengkar karena hal itu, tapi itulah awal dimana kami mulai berteman, saingan yang menjadi teman. Bahkan menjadi teman dekat. Tidak ada yang dirahasiakan diantara kami berdua dan jika kami sedang ada masalah biasanya kami akan bercerita satu sama lain. Dan sepertinya kali ini dia sedang ada masalah, ya dia memang sedang ada masalah. Sebenarnya sudah dari SMP masalah itu dan belum selesai juga sampai sekarang.

”Pulanglah Siwon…”seruku padanya. Aku tahu jelas apa yang menjadi penyebab dia datang menemuiku hari ini.

Dia menghela nafas dan berjalan menuju jendela.

”Annyong…aku tidak mau..aku senang hidup sendiri…karena aku memang selalu sendiri…”jawabnya.

Aku tidak habis pikir tentang temanku yang satu ini, kenapa dia lebih memilih meninggalkan rumahnya dan tinggal sendiri di apartemen. Padahal selama yang kutahu orang tuanya sangat sayang sekali padanya tapi kenapa dia ingin pindah? Aku jadi ingat kejadian waktu kami masih SMP saat itu dia bilang dia ingin keluar dari rumahnya dan tinggal sendiri. Dia tidak pernah cerita karena apa, setiap aku tanya pasti dia tidak mau jawab. Jadilah saat itu aku disuruh ibunya yang memang sudah kenal dengan keluargaku mencarikannya sebuah apartemen. Saat itu aku memang sudah tinggal sendiri karena kedua orang tuaku berkerja diluar negeri dan aku tahu bagaimana rasanya tinggal sendiri. Sunggu tidak enak dan aku juga sudah pernah bilang itu pada Siwon tapi dia bersikeras untuk keluar dari rumah itu. Ya sudah akhirnya aku menawarkan agar dia tinggal di apartemen yang sama denganku. Itu pun sebenarnya suruhan ibunya padaku, agar aku bisa menjaga Siwon. Jadilah sejak SMP sampai sekarang dia tinggal sendiri di apartemen itu. Siwon juga selalu menolak pemberian orang tuanya bahkan untuk membiayai apartemennya waktu itu tapi akhirnya dia mau orang tuanya membiayainya hanya sampai dia tamat SMA itu pun juga dengan pemaksaan olehku, habis aku kasihan sekali dengan dia yang waktu itu masih SMP harus kerja part time. Sampai sekarang aku masih bingung apa yang terjadi pada kelurga Siwon sehingga membuat Siwon seperti itu.

”Ibumu menanyakanku kemarin…”seruku padanya. Dia hanya diam saja menatap keluar melewati jendela.

Aku berjalan menghampirinya.

”Siwon-ah…kenapa kau tidak mau pulang…ibumu dan ayahmu sangat merindukanmu…mereka sangat menyayangimu…memangnya ada apa sampai kau seperti ini?kenapa kau tidak pernah cerita…”seruku padanya. Sepertinya pertanyaan yang selalu sama. Setiap kali dia cerita pasti aku akan menasehatinya untuk pulang dan bertanya hal yang sama. Sebenarnya capek juga setiap kali bertanya itu pasti dia tidak mau jawab tapi aku tetap berusaha membujuknya untuk kembali kerumahnya sampai saat ini.

Dia mendesah perlahan.

”Kau tidak tahu Donghae-ah…bagaimana kalau aku…”

”Donghae-ah…”seru seseorang menghampiriku dan ternyata itu Eunhyuk. Dia berjalan menghampiri kami.

”Siwon-ah…”serunya pada Siwon begitu melihatku tidak sendiri dan bersama Siwon.

”Aku duluan Eunhyuk…Donghae…”seru Siwon sambil berlalu.

Anak itu!nanti saja aku tanyakan padanya lagi.

”Kau harus bantu aku…”kata Eunhyuk.

”We?”tanyaku.

”Prku…cepat ke kelas…”jawabnya langsung.

Dasar Eunhyuk selalu begitu.

”Ini…”seruku padanya sambil memberikan bekal yang tadi Hye Jin titipkan padaku untuk di berikan padanya.

”Apa ini?”tanyanya dengan wajah bingung.

”Dari Hye Jin…”jawabku.

Dia langsung tersenyum mendengar itu dari Hye Jin, ah semoga dia tidak suka pada Hye Jin, jangan..jangan…aku tidak akan merestuinya, meskipun aku bukan kakak kandungnya tapi tidak akan kubiarkan dia menggodak dongasaengku.

Key POV

Semoga dia suka boneka ini, tidak dia harus suka boneka ini kan aku yang memberikannya, Key si imut, tidak ada yang menolak pemberianku. Seruku dalam hati sambil memandang boneka beruang berwarna coklat muda dengan dasi kupukupu warna merah yang rencanya aku ingin berikan hari ini pada Hye Jin, sebenarnya aku sudah lama membelinya tapi aku takut dia tidak mau menerimanya tapi daripada lama-lama di taruh di dalam kamarku dan malah membuat Minho curiga seperti kemarin saat kulihat dia masuk ke kamarku seperti biasa tanpa memberitahu dan dia terlihat seperti menyukai boneka itu, jangan-jangan adikku ada sedikit keanehan masa dia suka dengan boneka beruang, itu kan mainan anak perempuan. Minho…Minho…dia memang aneh. Lebih baik aku memberikannya hari ini. Aku memasukannya ke dalam tas kecil dan memasukan tas kecil itu ke dalam tasku. Dan aku bersiap pergi ke sekolah. Baru sampai di depan rumah Minho menghampiriku.

”Kibum…bonekanya mana?”tanyanya padaku.

Kenapa dia bertanya seperti itu padaku? Untuk apa dia menanyakan boneka itu.

”Mwo?ada apa kau tanya seperti itu?”tanyaku.

”Andwe…wah…mau dikasih hari ini…untuk siapa itu?”tanyanya lagi.

Dasar adik yang selalu ingin tahu urusan kakakknya. Aku berjalan melewatinya tanpa menjawab pertanyaannya. Sepertinya aku harus hati-hati kalau mau memberikannya pada Hye Jin, jangan-jangan nanti dia tahu lagi.

”Kibum-ah…tunggu…”serunya sambil mengejarku.

Taemin POV

Hari ini akan kuberikan boneka ini. Semoga dia suka. Aku menatap boneka beruang itu dan mengingat saat Hye Jin terpaku pada boneka itu. Dia sangat sayang ayahnya.

”Taem…apa itu?” tanya seseorang yang masuk ke kamarku dan itu adalah Jin Ki hyung. Aku buru-buru memasukan boneka itu ke tasku agar tidak ketahuan olehnya. Bisa-bisa akan menjadi bahan ledekan baginya.

”Ah…andwe…”jawabku

”Apa itu?” tanyanya lagi sambil berusaha mengambil tasku.

”Andwe…andwe…”jawabku sambil mengmabil tasku.

”Ada apa hyung?”tanyaku berusaha mengalihkan pembicaraan.

”Oh ya…aku mau bilang kemarin kakakmu menelepon dia ingin bicara denganmu tapi kau belum pulang…memangnya dia tidak meneleponmu..”katanya

”Annyong…kemarin HP ku mati….dia bilang apa hyung?”tanyaku padanya.

”Taem…berhenti panggil kakakmu dia…”seru Jin Ki hyung.

Ah, aku malas sekali memanggilnya hyung, aku hanya memanggilnya hyung di depan orang tuaku dan keluargaku selebihnya aku memanggilnya seakan-akan umur kami sam padahal kenyataannya dia 4 tahun lebih tua dariku. Kami jarang bertemu saat aku masih kecil bahkan aku sempat mengira aku adalah ana tunggal. Dia lebih sering tinggal bersama nenek di Jerman dan jarang ikut kami berpindah-pindah. Aku memang tidak akur dengan dia, kami jarang sekali berbicara dan semakin tidak pernah berbicara saat aku tahu dialah yang akan membiayaiku sampai aku kuliah nanti begitu dia menyelesaikan kuliah kedokterannya di Amerika hanya dalam waktu 4 tahun dia langsung diterima sebagai dokter disalah satu Rumah Sakit terbesr di Australia dan sekarang dia tinggal bersama ayah kedua orangtua kami. Dan entahlah ide darimana dia mau membiayaiku sekolah dan orang tuaku pun setuju saja dengan ide itu, aku tidak pernah dekat dengannya bahkan aku pun tidak tahu kapan ulangtahunnya, setiap kali bertemu kami pun hanya tersenyum tanpa berkata apapun Kakak yang baik tapi menurutku tidak, dia terlalu mengaturku.

”Ne..arasso…apa yang Yunho hyung bilang?” tanyaku menyerah dan memanggilnya hyung, aku lebih suka jika Jin Ki hyung lah yang menjadi hyungku bukan dia.

”Yunho hyung Cuma bertanya keadaanmu…telepon balik Yunho hyung saja…”jawabnya.

”Ne…nanti aku sms dia…”seruku berjalan melewatinya.

Hye Jin POV

”Kau tahu kemarin dia memuji permainan sitarku…”seru Rae Na begitu dia masuk ke kelas dan duduk di bangkunya.

Aigoo, Rae Na dan Hyo Jin sudah gila, Jang sessongnim lagi…Jang sessongnim lagi…kapan mereka akan berhenti membicarakan dia.

”Kau tahu…aku sangat senang sekali,waktu dia bicara seperti itu…aigoo..tampannya….”lanjut Rae Na sambil memandang ke atas.

Aku tidak tahu lagi harus menanggapi apa, tidak dirumah tidak disekolah aku harus mendengarkan cerita tentang Jang sessongnim. Rae Na terus saja berbicara sementara aku mendengarkannya tapi aku tidak terlalu serius mendengarkannya dan dia hanya mengulang kata-katany saja, seperti ’ya ampun Jang sessongnim sangat tampan’, ’dia tampan sekali saat bermain piano’, ’waktu dia bilang aku pintar bermain sitar dia tersenyum dan itu membuatnya semakin tampan’ selalu saja kata-kata tampan ada dalam ucapannya. Sebenarnya intinya dia hanya ingin bilang kalau Jang sessongnim itu tampan. Kenapa harus diulang-ulang segala. Aku memperhatikan kesekeliling kelas yang ramai karena hari ini guru pelajaran Bahasa Korea tidak masuk dan hanya memberi tugas, setelah tugas dikerjakan mereka asyik mengobrol dengan teman yang lain dan membuat kelas menjadi ramai. Tunggu, kenapa Key menatapku seperti itu? Aneh sekali dia, Key menatapku dengan tatapan yang aneh. Aku jadi ingat waktu pertama kali aku masuk kelas ini dia juga begitu. Dasar aneh! Dari kemarin dia sudah aneh. Aku menatap dia balik tapi dia malah memalingkan wajahnya. Key aneh!

Saat bel makan siang berbunyi. Rae Na baru selesai berbicara. Ok setengah jam. Rekor yang baru tapi aku yakin rekor itu akan pecah juga oleh dia. Lihat saja minggu depan pasti dia punya banyak cerita tentag Jang sessongnim lagi.

”Ayo ke kantin…”serunya menarik tanganku.

”Duluan saja…”kataku. Malas harus mendengarkan dia bercerita lagi dari mulai jalan ke kantin sampai makan di kantin.

”Kenapa?”tanyanya.

”Andwe…duluan saja…nanti aku menyusul…”seruku sambil tersenyum dan biasanya dia akan luluh. Ah benar dia luluh dan tidak bertanya lagi lalu pergi berlalu.

”Ne…aku duluan ya..tapi nanti kesana…”katanya.

”Ara…”kataku.

Aku baru selesai memasukan bukuku ke laci mejaku saat Key datang menghampiriku sambil membawa sebuah tas.

”Hye Jin…ikut aku…”katanya sambil menarik tanganku.

”Mau kemana?”tanyaku dan dia hanya diam dan terus menarikku. Aduh Key ini, kenapa sih dia!

”Aku bisa jalan sendiri..gak usah ditarik kayak gini…”seruku padanya tapi tetap saja dia terus menarik tanganku, melewati setiap kelas menuju ke suatu tempat dan seperti biasa di sepanjang jalan semua orang menatap kami. Aigoo, jangan sampai Yu Ri melihat, bisa-bisa aku dan dia akan ada dalam masalah, pasti dia akan ngamuk-ngamuk dan aku pasti tidak bisa tahan kalau dia sudah menjelek-jelekkanku. Memang sudah sebulan ini aku tidak bertemu dengan Yu Ri, kemana dia?

”Kalau gak ditarik kau belum tentu mau ikut…”seru Key menjawab pertanyaanku.

Memangnya dia mau apa? Jangan-jangan dia mau ngapa-ngapain aku lagi.

”Ya!Key!awas kalau kau macam-macam…”seruku padanya. Lihat saja kalau dia melakukan sesuatu habislah dia.

”Tuh kan…gini aja udah mikir kayak gitu…makanya kau pasti tidak mau kalau gak ditarik kayak gini…”kata Key sambil terus menarikku.

Ternyata dia membawaku ke taman. Mau ngapain dia di taman?

”Duduk!”perintahnya, dia menyuruhku duduk di bangku taman. Apa yang akan dia lakukan? Aku masih bertanya-tanya. Mau apa sih dia?

Tiba-tiba dia mengeluarkan sesuatu dari tas itu.

”Untukmu…”serunya dengan wajahnya yang sok cuek itu.

Boneka beruang?untukku?pasti kepalanya habis tertbentur sesuatu sehingga dia mau memberikanku hadiah.

”Jangan geer dulu…aku bukan membelinya…ayahku baru pulang dari luar negrei kemarin dan dia memberikanku boneka itu…dia pikir aku perempuan apa…ya sudah daripada kubuang lebih baik kuberikan padamu…jaga baik-baik…”katanya.

Apa!geer! siapa yang geer dia berikan boneka beruang itu, siapa juga yang mau menerimanya.

”Ya!aku tidak mau…”seruku.

”Kenapa?kau suka beruang kan…ini beruang..”katanya.

”Annyong…”jawabku singkat.

Dia duduk disampingku dan menyodorkan boneka beruang itu lagi.

”Terimalah daripada dibuang..lagipula jarang-jarangkan kau dapat hadiah dari Key si imut..”serunya lagi.

Dia benar-benar sudah cedera otaknya. Imut!dia menyebut dirinya imut!benar dia harus ke rumah sakit segera.

”Kau tidak sakit kan?”kataku sambil menaruh tanganku di keningnya dan yang satu lagi dikeningku, dia terlihat agak sedikit terkejut lalu menepis tanganku.

”Ya!aku serius!sudah terima saja!”serunya sambil menaruh boneka itu dipangkuanku dan menarik tanganku untuk memegang boneka itu.

Lumayanlah boneka ini lucu juga. Aku jadi tersenyum sendiri memperhatikan boneka itu, aku sangat suka sekali dengan beruang jadi tidak sadar aku tersenyum sendiri di depan Key.

”Lucu kan?seperti orang yang memberikannya!”katanya.

Dan saat itu aku benar-benar tidak tahan ingin tertawa. Dia benar-benar harus ke rumah sakit, tadi dia bilang dirinya imut sekarang lucu. Ya ampun Key!

Aku tertawa mendengarnya.

”Boneka ini jelek…sama seperti orang yang memberikannya…coba kalau bukan kau yang memberikannya pasti boneka ini akan lucu…”seruku. Dan aku pun  tertawa lagi. Dia sudah memanyunkan bibirnya dan itu malah semakin membuatku tertawa terbaha-bahak. Namun tiba-tiba dia malah memukul kepalaku.

”Aww..sakit tau!”seruku. Kurang ajar sekali dia maka aku pun membalas memukul kepalanya dengan boneka itu.

”Ya!”teriaknya.

Aku pun berlari menghindarinya.

Taemin POV

Semoga dia suka dengan boneka ini. Aku berjalan menuju kelas Hye Jin untuk memberikannya boneka beruang ini. Aku melihat ke dalam kelasnya tapi tidak ada dia.

”Nyari Hye Jin…”seru seorang gadis yang sepertinya ku kenal, dia sering bersama Hye Jin sepertinya. Aneh nada bicaranya sama seperti Minho hyung.

”Ne..”jawabku.

”Dia ada di taman…”katanya lagi.

”Gumawo…”kataku dan berlalu pergi menuju taman sekolah.

Saat itu langkahku terhenti, aku melihat Hye Jin bersama Key hyung. Mereka sedang apa? Aku berusaha melihat jelas apa yang mereka lakukan. Dan saat kulihat Key hyung memberikan sebuah boneka beruang pada Hye Jin, aku benar-benar terkejut. Berarti waktu kemarin aku melihat Key hyung di toko itu, dia juga membeli boneka beruang. Aku langsung berbalik dan berjalan kembali ke kelasku. Aku tidak suka melihat Hye Jin dekat dengan Key hyung. Kenapa sih mereka begitu dekat? Apa Hye Jin menyukai Key hyung?

Kenapa aku harus marah? Aishh Taemin!kenapa harus marah! Dia bukan siapa-siapamu! Tapi aku tidak suka melihatnya bersama cowok lain. Aku hanya ingin dia bersamaku. Aigoo, kenapa aku ini! Apa ini yang dinamakan jatuh cinta? Apa aku jatuh cinta pada Hye Jin?aku tidak tahu perasaan apa ini! Aku hanya ingin selalu bersamanya melihatnya tersenyum. Mungkin benar apa kata Minho hyung aku sudah jatuh cinta padanya. Aku sudah jatuh cinta pada Hye Jin, ya…aku mencintainya…aku tidak mau kehilangan dia…aku ingin selalu bersamanya.

Aku berjalan menuju lokerku dan langsung memasukan boneka itu ke dalam.

”Taemin-ah…”seru seorang gadis dan itu ternyata Park Sang Ra teman sekelasku.

”Apa itu?”tanyanya melihat lokerku.

”Ah…hanya boneka beruang…”seruku.

Aku melihat dia memperhatikan boneka itu terus. Apa dia mau? Mungkin sebaiknya aku berikan saja padanya lagipula aku tidak mungkin memberikannya pada Hye Jin, dia sudah dapat dari Key.

”Untukmu…”seruku padanya sambil memberikan boneka itu dan dia tersenyum senang sekali.

”Gumawo Taemin-ah…”katanya sambil tersenyum.

Hye Jin POV

Huh!untung aku bisa menghindari Key, kemana dia sekarang? Semoga dia pergi yang jauh dan tidak kembali lagi. Dasar aneh! Kepalaku sakit sekali dipukul olehnya terus. Aku berjalan menuju kelasku setelah tadi dari kantin. Rae Na tampaknya marah sekali karena aku telat padahal tadi dia sudah menyusulku ke kelas lagi, dia pikir aku masih di kelas dan dia tambah marah saat dia tahu aku di taman dengan Key. Begitu aku ke kantin dia langsung menceramahiku agar jangan dekat-dekat dengan Key. Jadilah aku hanya makan roti dan minum sekaleng soda. Oh ya tadi Rae Na bilang Taemin mencariku dan menyusulku ke taman dengan membawa sesuatu tapi tadi dia tidak ke taman. Aku berinisiatif lewat kelasnya. Begitu aku sampai di depan kelasnya aku melihat Taemin bersama seorang gadis, gadis yang sering aku lihat selalu bersama Taemin, seperti di lapangan parkir itu dan juga di perpustakaan, kenapa dia selalu ada di dekat Taemin sih!aduh kenapa aku malah marah!

Aku melihat Taemin memberikan sesuatu padanya dan saat kulihat itu apa. Aku benar-benar kaget dan hatiku benar-benar sakit. Itu boneka beruang yang aku suka. Apa itu yang tadi dibawa Taemin dan dia memberikannya pada gadis itu. Itu kan boneka yang aku suka dan Taemin tahu itu. Kenapa dia memberikannya pada gadis itu.

Hye Jin, kenapa mesti marah!dia bukan siapa-siapamu, walaupun kau mencintainya tapi dia bukan pacarmu jadi hak dia memberikan boneka itu pada siapa saja!aku meyakinkan diriku. Tapi, aku tidak suka!mataku menjadi panas dan sepertinya aku akan menangis. Babo Hye Jin! Jangan menangis!aku berbalik dan berlari takut aku akan menangis. Babo, Babo, Babo!gerutuku dalam hati. Aku berlari menuju taman dan duduk dibankunya berusaha menahan tangisanku.

”Ya!kena kau!”seru seseorang yang tidak lain adalah Key, dia langsung memukul kepalaku. Key kau tidak tahu suasana hatiku sedang tidak enak tau! Aku menggerutu sendiri dalam hati dan itu malah membuat dadaku semakin sesak sehingga akhirnya air mataku pun turun.

”Hye Jin…”kata Key yang menyadari aku menangis. Dia duduk disampingku dan melihat wajahku.

”Kau memangis?”tanyanya.

Aku berusaha menghapus air mataku tapi malah semakin banyak.

”Mianhe…sakit ya tadi…jeongmal mianhe…gak sengaja..jangan nangis…”kata Key dengan wajah cemas, sepertinya dia takut aku menangis gara-gara di pukul olehnya padahal bukan karena itu. Air mataku masih terus turun. Kenapa aku harus menangisi dia!Hye Jin kau Babo sekali!tuh kan jadi kecewa karena aku mencintainya seharusnya aku sadar untuk tidak pernah mencintainya karena itu malah hanya akan menyakiti hatiku.

Kulihat Key bingung harus berbuat apa dan wajahnya merasa sangat bersalah. Mianhe Key bukan karena kau kok, tapi aku hanya ingin menangis. Dia mengulurkan tangannya untuk menghapus air mataku tapi diurungkannya dan tiba-tiba dia langsung mendekapku.

”Mianhe…..jangan nangis lagi…aku janji ga akan ganggu kau lagi…”serunya sambil menepuk-nepuk bahuku agar aku tenang dan tidak menangis lagi. Dia pikir aku anak kecil apa.

Key POV

Aigoo!aku membuatnya menangis! Bagaiamana ini. Apa tadi begitu sakit ya. Aduh Hye Jin mianhe, aku tidak sengaja. Dia semakin menangis, aku tidak tega melihatnya.

”Mianhe…sakit ya tadi…jeongmal mianhe…gak sengaja..jangan nangis…”kataku.

Yah, dia masih terus menangis. Dia pasti menyalahkanku. Aduh dia tidak berhenti-henti menangisnya. Aku pun menjulurkan tanganku untuk menghapus air matanya tapi kuurungkan nanti dia berfikir aku ingin berbuat yang macam-macam lagi tapi aku tidak tahan melihatnya menangis. Namun entah kenapa tanganku langsung menggapainya dan mendekapnya di dalam pelukanku dan saat itu jantungku langsung berdegup sangat kencang. Aku berusaha menepuk-nepuk pungggungya agar diam. Itu yang biasa dilakukan ibu saat aku menangis waktu kecil. Semoga dia bisa tenang.

Tak berapa lama kemudian tangisannya sudah berhenti dan hanya tinggal sesenggukannya. Wow ternyata berhasil juga. Kukira itu hanya berlaku pada anak kecil. Bukannya melepas pelukanku, aku malah memperatnya. Apa yang aku lakukan!

”Key…gak bisa nafas nih…”serunya di dalam dekapanku masih dengan senggukannya.

Reflek aku langsung melepas pelukanku.Key apa yang kau lakukan tadi! Aigoo, gadis ini sudah membuatku gila.

”Mianhe…aku gak sengaja…”kataku menyesal telah melakukan itu.

”Ne aku maafin..tapi kau janjikan gak akan ganggu aku lagi…”tanyanya.

Aku mengedipkan sebelah mataku dan tersenyum jahil padanya.

”Siapa bilang aku janji kayak gitu…”seruku dan itu membuatnya memperlihatkan wajah marahnya. Aku suka itu. Aku berjalan meninggalkannya dan menjulurkan lidahku. Kulihat dia sudah sangat marah melihat tingkahku.

”Ya!Key!”serunya dan aku terus berjalan.

Aku tidak pernah berniat menganggumu dengan niat benar-benar menganggu, aku hanya ingin bisa selalu dekat denganmu, melihatmu tersenyum, melihatmu marah, melihatmu tertawa.

Hye Jin POV

Dasar Key!selalau saja begitu. Tukang bohong!gerutuku dalam hati. Tapi aneh ya hanya dengan ditepuk-tepuk seperti itu tangisanku berhenti. Aku mengelap mataku yang masih basah dan berjalan meninggalkan taman menuju kelasku. Jangan ingat-ingat hal tadi!janjiku dalam hati.

Aku memasukan boneka pemberian Key ke dalam tasku, melihat boneka itu malah mengigatkanku pada Taemin. Aishh! Hye Jin jangan ingat lagi dan berusaha biasa saja!

Aku menyampirkan tasku di bahuku dan berjalan pergi. Baru sampai di depan lokerku aku mendengar seseorang memanggilku.

”Hye Jin-ah…”seru seseorang.

Aku menengok ke sekeliling mencari asal suara itu. Masa sore-sore begini ada hantu. Tiba-tiba seseorang melambai dan ternyata itu Jin Ki Oppa. Ya ampun kenapa dia memanggilku dengan sembunyi-sembunyi.

”Kesini…”serunya padaku.

Aku berjalan menghampirinya yang bersembuyin di samping loker. Kenapa sih Jin Ki Oppa ini.

”Ada apa?”tanyaku padanya.

”Ini…berikan pada Hyo Jin…”seru Jin Ki Oppa menyerahkan sebuah kado padaku. Seingatku ulang tahun Hyo Jin masih lama. Apa ini?kenapa harus sembunyi-sembunyi seperti ini.

”Oppa ini isinya apa?”tanyaku padanya.

”Rahasia…sudah berikan saja padanya…”seru Jin Ki Oppa sambil berbisik.

Kenapa sih dengannya?

”Kalau Hyo Jin tanya aku jawab apa…”seruku masih berusaha ingin tahu apa isi kado itu.

”Sudah…kasih saja ke dia..arasso?”serunya.

Aku mengangguk dan memasukan kado itu ke tas. Ah nanti juga aku tahu isinya apa.

”Oppa daripada keduluan Jang sessongnim lebih baik kau segera bilang suka sama Hyo Jin…”seruku sambil tersenyum jahil.

Dia malah tersenyum dan membuat matanya hilang lalu mengacak-acak rambutku.

”Kau sendiri dengan Taemin bagaiamana?”tanyanya.

Aishh, aku salah bicara lagi. Padahal aku berniat menyerangnya tapi malah dia yang menyerangku. Dasar Jin Ki Oppa, sama seperti Hyo Jin.

”Oppa!”teriakku mengingatkan bahwa aku tidak suka kalau mereka mulai membahas aku dan Taemin. Aku tidak mau kecewa lagi seperti tadi tapi…

”Hye Jin-ah..kau disitu?”seru Hyo Jin berjalan menghampiriku.

”Aku duluan ya…jangan lupa…”seru Jin Ki Oppa berbisik padaku dan berjalan pergi. Aneh sekali dia.

”Ara…”seruku.

”Kau bicara dengan siapa?”tanya Hyo Jin begitu dia sampai di sampaingku.

”Ah…andwe…ayo pulang…”ajakku apad Hyo Jin dan kami pun pulang bersama.

Untuk mengelabui Hyo Jin aku pura-pura mau membeli buku dan bilang hanya ingin pergi sendiri. Karena tidak mungkin aku terus-terusan diantar Taemin, lagipula karena kejadiaan tadi aku jadi tidak ingin melihatnya dulu. Aigoo, kenapa aku ini!

”Kau yakin sendirian?”tanya Hyo Jin. Semoga dia tidak curiga. Tidak boleh ada yang tahu aku kerja part time. Yah walaupun Taemin tahu tapi dia sudah berjanji tidak akan bilang pada siapa-siapa.

”I’m sure…sudah pulang sana…paling jam 7 aku sudah pulang…annyeong…”seruku padanya dan buru-buru berbalik menuju halte bus untuk pergi. Hyo Jin masih bingung melihatku tapi dia tetap berbalik dan berjalan pulang menuju rumah.

Disepanjang perjalanan entah kenapa aku malah kepikiran tentang kejadian tadi padahal aku sudah berusaha untuk tidak mengingatnya. Aigoo!Taemin apa aku salah kalau aku mencintaimu!

Advertisements

One thought on “FF: LOVE’S WAY – MY ALL IS IN YOU

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s