FF: LOVE’S WAY – FIRST SIGHT

*This is my first FF and it’s SHINee…klo dibaca lagi ngerasa malu banget masih banyak kekuarangannya..hehehehe but i love this ff cause this is my first ff..hehehehe*

 

shiningstory.wordpress.com (di publish disini juga 🙂 )

 

Cast:

1. All of SHINee member

2. Choi Hye Jin

3. Shin Hye Jin

4. Super Junior member

Genre: Friendship and Romance, there’s sad scene also…hehehehe

Rating: General

Disclaimer: Taemin is mine..Only mine..kekekeke

 

1. FIRST SIGHT

 

 

“Why we have to move mom?”

Rengekku ketika ibuku mulai memasukan satu persatu bajunya ke dalam tas yang sudah dia siapkan, aku tidak mau pindah. Aku ingin tetap disini walaupun banyak kenangan menyakitkan disini tapi aku tidak mau pergi dari sini, aku lahir dan besar disini, aku bertemu dengan teman-teman terbaikku disini, mana mungkin aku mau meningglakan mereka, aku sudha merasa sangat sangat betah disini. Yah..walapun kadang-kadang kenangan menyakitkan itu muncul tapi semua  akan sedikit terhapuskan jika sudah bersama dengan tmean-temanku. Kalau aku pindah aku harus beradaptasi lagi dengan lingkungan disana dan juga teman-teman yang baru apalagi kali ini aku pindah jauh ke belahan dunia paling timur tepatnya di Korea Selatan…

 

 

Namaku Shaqueel Anna Jhonson, aku lahir dan dibesarkan di California, Amerika Serikat, aku adalah seorang gadis blasteran Korea dan Amerika, Ayahku adalah seorang Amerika dan ibuku adalah seorang Korea Oleh sebab itu aku memiliki 2 sisi di diriku. Aku punya kulit putih dan rambut hitam Asia, hanya matakulah yang coklat bundar mirip ayahku, bagian yang kubenci dari diriku, mirip ayah.  Walaupun aku setengah Amerika dan setengah Korea aku lancar berbicara dengan kedua bahasa tadi, yah walaupun  untuk Korea masih sedikit-sedikit karena aku mulai belajar saat aku duduk di Junior High School, itu juga karena aku sempat liburan selama 2 bulan di Korea di rumah nenekku jadi aku mengerti sedikit-sedikit tentang Hangul. Bahkan terkadang kemampuanku menguasai dua jenis bahasa itu aku gunakan untuk kerja part time sebagai translator di salah satu museum disini, lumayanlah menambah tabunganku.

Kehidupan keluargaku berubah 180 derajat karena kejadian itu, kejadian yang membuatku harus berkerja part time untuk menabung agar aku dapat kuliah di Inggris. Ayah dan ibuku bercerai saat aku kelas 9 dan ayah pergi meninggalkan aku dan ibuku tanpa meninggalkan sepeser uang pun. Untunglah saat itu ibu masih bekerja di sebuah restoran cepat saji sebagai manager tapi tetap saja itu tidak cukup, apalagi setelah perceraian itu ibu sedikit kehilangan semgatnya dan akhirnya ibu di pecat begitulah kehidupan keluargku. Oleh sebab itu ibu kembali ke Korea dan mulai kehidupan kami dari awal lagi apalagi keluarga ibuku memang sangat ingin kami tinggal disana saja. Aku mengerti keadaan ibuku tapi…aku cinta disini…

 

”Wake up sleeping beauty…”

Aku merasakan seseorang mengusapkan tangannya ke pipiku dan itu membuat mataku terbuka dan melihat sinar matahari yang langsung menerobos masuk ke dalam pesawat melalui jendela pesawat dan aku mulai merasakan aku bukan lagi di Amerika karena di Amerika mataharinya tidak akan seterang ini selalu saja ada awan gelap yang sedikit meutupinya Aku merasakan mataku terasa berat tapi bukan karena mash mengantuk tapi karena selama perjalanan aku menangis. Aku sedih karena aku harus meninggalkan Amerika tempat yang telah menggoreskan banyak kenangan.

Kami turun dari pesawat dan disambut oleh seluruh keluarga ibuku di bandara. Aku merasa asing, aku melihat ke sekeliling dan mendapati diriku benar-benar merasa di dunia lain, meski bandara ini tidak trelalu ramai tidak seperti LAX tapi tetap saja aku merasa bisa tersesat jika ditinggalkan disini sendiri. Aku masih diam seribu bahasa berlindung di balik tubuh ibuku sambil menenteng tas-tas bajuku. Kemudian ibu memperkenalkanku ke semua saudara-saudarku. Aku pun memunduk dan tersenyum, senyum yang dipaksakan lebih tepatnya. Sudah lama sekali aku tidak kesini dan itu membuatku harus beradaptasi lagi dengan semuanya, suasananya, bahasanya, dan pergaulannya.

Tiba-tiba aku merasa ingin ke kemar mandi, aduh saat seperti ini kenapa aku ingin ke kamar mandi, aku melihat ibu yang masih terus saja mengobrol dengan saudara-saudara ku yang aku pun juga tidak kenal. Aku menarik baju ibuku dan berbisik padanya.

”Mom, where is the rest room?”

Kemudian ibu menunjukan arah kamar mandi.

”Do you want to go alone?”

“Yeah…I won’t be lost…OK…”

Aku pun segera bergegas menuju kamar mandi karena aku benar-benar sudah tidak tahan, aku menyalip setiap orang yang lewat dan bergegas mencari pintu yang bertuliskan kamar mandi, Nah itu dia, aku menemukannya, aku semakin mempercepat lariku dan

 

BRUKK!!

Aww..sakit sekali, aku terjatuh ke lantai dan pantatku benar-benar sakit, dasar orang itu tidak tahu apa kalau aku sedang terburu-buru.

”Heh, kalau jalan lihat-lihat…”

Apa dia memarahiku, enak saja, memang aku yang salah.

”Hei..”

Aku bergegas berdiri untuk memarahi orang itu tapi saat aku melihat siapa orang yang menabrakku aku benar-benar terpaku melihat wajahnya. Dia…ku akui sangat tampan…dia orang korea tapi apa benar ada orang korea setampan ini, setahuku terklahir kali aku ke sini menurtku tidak ada orang korea yang tampan.

”Hei..kenapa kau melihatku terus?minta maaf!!”

Aku tersadar dari lamunanku dan mendapati wajanhya masih terlihat marah.

”Enak saja memang ini kesalahanku seorang…kau juga kenapa jalan tidak hati-hati…”

Untunglah aku bisa berbahasa Korea, kalau tidak aku bisa kalah berdebat dengannya.

”Sudahlah tidak ada gunanya terus bicara denganmu hanya membuang-buang waktuku…”

Dan dia pun segera berlalu melewatiku dengan gaya sok menang..dasar!!! Ingin sekali aku mengejarnya dan berteriak memaki-makinya. Aku masih memandangi orang itu pergi sambil memgang pantatku yang sakit karena terjatuh tadi.

Saat aku berjalan pergi sesorang menyenggolku lagi dan hampir saja aku jatuh lagi untung orang itu langsung memegang tanganku yang hampir kehilangan keseimbangan dan membantuku berdiri.

”Jeongmal mianhe…”

Dia meminta maaf dan menundukan badannya dan saat dia menengadahkan kepalanya dia sangat tinggi kurasa sekitar 180cm sebab aku saja yang 10cm terlihat sangat pendek. Dia tampak tidak seperti orang korea karena matanya yang bulat dan besar. Dia kembali minta maaf dan segera beranjak sambil berlari.

”Kibum…tunggu aku…”

Cowok itu berteriak memanggil orang yang tadi menabrakku sambil berlari. Oh jadi namanya Kibum, lihat saja kalau aku sampai melihatnya lagi, akan kubuat perhitungan dengannya. Kibum, lihat saja kau!

 

”Why are you so late???”

“Sorry mom..”

Sepertinya ibu tampak sangat khawatir sekali, memang nya aku masih anak kecil apa, aku tidak mungkin tersesat. Tak lama kemudian aku sudah berada di mobil menuju ke rumah sesorang yang bisa kutebak pasti rumah nenek. Ibu bilang padaku bahwa selama kami belum memiliki rumah disini kami akan tinggal di rumah nenek untuk sementara waktu, yah aku sih tidak keberatan karena bagiku pindah kesini sudah menjadi beban buatku apalagi harus beradaptasi dengan keadaan rumah yang baru, lebih baik tinggal di rumah nenek karena setidaknya tempat itu sudah aku kenal karena aku pernah ke tempat itu sebelumnya dan sepertinya aku tidak akan ikut pindah meskipun kami sudah membeli rumah. Aku suka rumah nenek.

 

Kami tiba di sebuah rumah khas korea, yang aku yakin itu adalah rumah nenekku. Tidak banyak yang berubah mungkin hanya pagarnya saja yang berubah selebihnya semua sama,apa itu juga masih ada?

Saat kami mulai memasuki rumah tiba-tiba seorang cewek menghampiriku dan langsung memelukku.

“Aku kangen sekali denganmu…ya ampun..kau sudah besar sekali…”

“Upps…Sorry..”

Aku berusaha mengeluarkan suaraku agar dia tahu bahwa aku tidak bisa bernafas karena di peluk erat olehnya. Kemudian dia melepaskan pelukannya dan merangkul bahuku.

Dia seorang cewek yang cukup manis tapi siapa dia? Dia hanya lebih pendek dariku sehingga dia harus merangkul bahuku sambil agak berjinjit sedikit.

 

“Kau masih ingat aku?”

Aku hanya bisa tersenyum, karena jujur aku lupa siapa dia?apakah aku pernah bertemu dengannya sebelumnya. Aku berusaha berpikir mengingat-ingat kejadian saat aku liburan disini waktu smp, apakah ada cewek ini? Aih!!! Aku lupa siapa dia?

“Hyo Jin…pasti dia lupa sudah lama sekali sejak terakhir dia kesini..”

Nenek tersenyum melihatku yang berpikir keras mengingat-ingat.

“Dia Shin Hyo Jin, Sha? Kau ingat? Dia sepupumu…”

Ibu membantuku mengingat dan yeah aku tahu dia adalah sepupuku waktu aku kesini dial ah yang menemaniku liburan disini dan mengajarkanku bahasa Korea. Hah kenapa aku bisa lupa, memang sekarang dia sudah tampak berubah, sekarang rambutnya sudah panjang jadi wajahnya trelihat berbeda.

“Yeah….now I remember…”

Aku berusaha tersenyum, yang menyatakan bahwa aku ingat.

Ibu kembali menyenggol tanganku mengigatkanku untuk tidak berbahasa inggris disini. Aku masih belum terbiasa berbicara bahasa korea lidahku masih agak sedikit kaku atau mungkin karena sebenarnya aku tidak mau kesini. Yah itulah alasannya, aku tidak mau tinggal di Korea aku rindu teman-temanku disana.

 

“Shasha ayo lihat kamarmu…”

Dia menarik tanganku masuk ke dalam dan mengambil tasku. Aku masih diam tanpa suara, aku bingung harus bilang apa. Aku mencoba tersenyum, senyum yang dipaksakan.

 

Keseluruhan ruangan tidak ada yang berubah sama seperti dulu. Dia mengajakku masuk ke sebuah ruangan besar. Dan di dalamnya sudah terdapat sebuah tempat tidur tingkat yang aku yakin pasti semuanya dipersiapkan untukku, di pojok ruangan terdapat sebuah meja berisi computer dan bukuku yang kutebak pasti milik Hyo Jin tak jau dari meja itu terdapat satu buah meja lagi yang hanya berisi computer saja, pasti itu meja belajarku yang baru. Aku mengedarkan pandanganku ke segala arah dan mendapati mataku tertuju pada sebuah lemar besar. Hanya ada satu lemari disitu.

“Mianhe…nenek belum bisa membelikanmu lemari…jadi tidak apa-apa kan kau berbagi lemari denganku…masih muat kok…”

Sepertinya Hyo Jin tahu raut wajahku berubah begitu melihat hanya ada satu lemari disitu. Sebenarnya aku tidak suka harus berbagi lemari bersama orang lain karena menurutku itu pribadi tapi apa boleh buat, aku tidak mengharapkan yang lebih baik dari ini, karena memikirkan aku akan tinggal disini saja tidak pernah apalagi membayangkan mereka sudah menyiapkan segalanya secara sempurna untukku agar betah tinggal disini.

Aku mengeluarkan barang-barangku dan mulai menyusunnya dan menaruh di tempat seharusnya. Hyo Jin menawarkan diri membantuku. Setelah baju-bajuku masuk ke dalam lemari aku merasa panas dan kemudian kubuka jendela dan terkejut melihat pohon itu masih beridiri tegak disina. Pohon Plum favoritku, pohon yang paling indah apalagi saat berbunga akan tampak seperti bunga sakura, aku rindu pohon itu, dulu aku selalu memanjat sampai atas untuk melihat pemandangan, tak menyangkan pohon itu masih berdiri tegak disana.

“Aku selalu merawat pohon itu…”

Hyo Jin menghampiriku dan berdiri di sampingku dan ikut memandangi pohon itu bersama, dulu waktu kecil aku dan Hyo Jin sering bermain disana.

“Ternyata masih disana…”

Aku tersenyum dan segera menarik tangan Hyo Jin .

“Ayo kita main..”

Hyo Jin terkejut tapi tidak bisa menolak karena aku sudah menyeretnya sampai ke depan pohon.

 

“Ayo naik ke atas..”

“Aku tidak bisa Sha..”

Aku lihat Hyo Jin memakai rok, tentu saja dia tidak mungkin bisa naik, baiklah aku akan naik sendiri ke atas.

“Hati-hati Sha..”

“Tenang saja aku biasa…”

Aku berteriak dari atas, wajah Hyo Jin tampak sangat khawatir, aku sudah biasa seperti ini. Aku mulai menaiki dahan demi dahan, memang pohon ini tidak terlalu tinggi tapi cukup menantang karena begitu banyak dahan. Saat tinggal satu dahan lagi aku terpeleset dan kehilangan keseimbangan.

 

BRUKKK!

 

Auuu…sakit sekali pantatku sudah dua kali pantatku mengalami kecelakaan, ya ampun sakitnya. Hyo Jin membantuku berdiri dengan wajah sangat khawatir.

“Kau tidak apa-apa Sha..”

“Yeah..I’m Ok…”

Aduh sakit sekali. Aku meringis sedikit dan berusaha berdiri sendiri.

“Ayo ku obati lukamu..”

Aku tidak meyadari tanganku tergores mungkin gara-gara tadi terkena ranting, perih sekali begitu Hyo Jin mengoleskan obat ke tanganku yang tergores kemudian di memasang plester perlahan.

“Kau tidak apa-apa?”

Dia menanyakan keadaanku untuk kedua kalinya, sebegitu khawatirkah dia, aku belum pernah di khawatirkan oleh orang lain sampai seperti ini, dia tampak seperti kakak perempuan yang tidak pernah aku punya, memang sih dia satu tahu lebih tua dariku dan sudah berulang kali ibu bilang agar aku memanggilnya Unnie tapi aku tidak pernah memanggilnya seperti itu.

 

Malam itu makan malam berjalan lancer, tidak ada penolakan oleh perutku terhadap masakan Korea. Untunglah ibu yang memasak dan ibu hanya memasak makanan Korea yang memang pernah aku makan waktu di Amerika.

“Shasha…nanti di sekolah kau jangan memakai nama Amerika mu pakailah nama Koreamu mengerti?”

“Yeah..i know that..”

“Hye Jin…”

“Ageseumnida..”

Setelah makan malam aku kembali ke kamarku dan membereskan barang-barangku yang masih tersisa. Mulai sekarang aku akan meninggalkan nama pemberian ayahku dan menggantinya menjadi nama kore Choi Hye Jin, itulah nama koreaku. Mungkin dengan menggunakan nama itu aku akan lebih mudah beradaptasi disini.

“Sha..”

Hyo Jin yang kali ini juga ikut membantuku membereskan barang-barang dan duduk di atas tempat tidurku sambil menatpku yang masih sibuk merapihkan buku-buku ku ke meja belajarku yang baru.

“Panggil saja aku Hye Jin, Unnie..”

Pertama kalinya aku memanggilnya Unnie, sedikit aneh terdengarnya.

“Panggil saja aku Hyo Jin..”

Hyo Jin tersenyum kemudian tertawa melihatku.

“Maksudmu?”

Aku bertanya dengan wajah penuh kebingungan.

“Yeah…jangan panggil aku Unnie dan aku juga tidak akan memanggilmu Shasha..arasoo?”

Oh jadi itu, dia juga tidak mau di panggil Unnie, aku pun tersenyum padanya dan mengangguk. Kemudian dia bertanya lagi dengan wajah yang sangat serius.

“Kau senang tinggal disini?”

Pertanyaan itu seakan langsung menusuk jantungku, tentu jawabannya pasti tidak suka tapi tidak mungkin aku bilang begitu pada mereka yang sudah begitu baik padaku. Berbohong adalah yang paling tepat.

“Yeah..aku suka..”

Aku menjawab tanpa melihat ke arahnya dan menyibukkan diriku merapihkan buku.

“Kau tidak perlu berbohong…aku tahu kau…walau Cuma sebentar kita bersama tapi aku paham dirimu…”

Aku menghentikan kegiatan merapihkan buku dan duduk disampingnya.

“Yeah..aku tidak bisa bohong…aku tidak mau disini….tapi aku tidak mau mengecewakan ibuku..apapun akan aku lakukan agar aku bisa senang tinggal disini..”

Hyo Jin langsung memelukku dengan penuh kehangatan dan entah kenapa aku merasa sangat nyaman ada di pelukannya, dia terasa seperti kakak bagiku.

“Aku tahu hidupmu sangatlah berat…aku akan berusaha membantumu beradaptasi disini…kau pasti akan suka disini…jadi ceritakan apa saja padaku..aku akan menjadi pendengar sejati untukmu…arasso?”

Aku menganggukan kepalaku dalam pelukannya, rasanya aku ingin menangis sekarang bercerita tentang bagaiman sakitnya perasaanku selama ini tapi semua itu kuurungkan aku kesini untuk memulai hidupku dari awal lagi tak ada gunanya aku tersu mengingat masa lalu. Ada Hyo Jin yang mulai sekarang akan selalu ada untukku, sebagai seorang kakak yang tidak pernah aku miliki.

 

Dia melepaskan pelukannya dan mentapku.

“Sebaiknya kau tidur….kau pasti lelah..besok kita sudah sekolah loh…”

Dia tersenyum jahil di bagian kahir kalimatnya itu.

“Mwo??sekolah??aku baru sampai..”

Dia tersenyum padaku.

“Mianhe…nenek sudah mendaftarkanmu jauh-jauh hari jadi…”

Aigoo, aku harus sekolah besok…ya ampun aku belum siap…apa yang akan mereka katakana padaku nanti…memangnya sekolah disini seperti apa…aku juga tidak tahu..

“Tenanglah ada aku..”

Hyo Jin berusaha menenangkanku yang masih sedikit shock mendengar bahwa besok aku harus pergi sekolah. OMO!!

 

 

Malam ini aku tidak bisa tidur mungkin karena masih jet lag, aku tidur di bagian atas sedang Hyo Jin di bawah, kuputuskan untuk turun dari tempat tidur dan berjalan membuka jendela sedikit, bulan menyembuk diantara bunga-bunga pohon plum, indah sekali. Kulihat Hyo Jin sudah tertidur dengan lelapnya. Aku termenung melihat pemandangan yang indah ini. Hidupku disini akan dimulai besok…apa yang akan terjadi padaku disini?

 

 

Aku tampak sangat aneh dengan seragam ini, ya ampun kenapa sih harus memakai seragam. Aku terus memandangi cermin melihat pantulanku yang menggunakan seragam untuk pergi sekolah.

“Kau cantik..”

Wajah Hyo Jin menyembul dari balik pintu dengan senyumnya dan berjalan mendekatiku.

“Aku aneh…”

“Siapa bilang…kau cantik..Jjang!!”

Dia mengacungkan jempolnya padaku dan berjalan mendekatiku untuk merapihkan dasiku.

“Perfect….bahasa inggrisku sudah baguskan? Yah walapun tidak sebagus dirimu…”

Aku tersenyum, aku ingat dulu dia sangat susah sekali berkomunikasi denganku karena waktu itu dia sama sekali tidak bisa bahasa inggris, maka aku pun mengajarinya saat itu dan sebagai gantinya dia mengajarkanku bahasa Korea.

“Ayo berangkat…”

Dia menarik tanganku dan kami pun pergi sekolah dengan berjalan kaki karena memang sekolah kami tidak jauh. Di perjalanan Hyo Jin bercerita panjang lebar tentang kota Seoul, dia bercerita dimana dia beli buku, baju, es krim, pergi berjalan-jalan, pokonya semua tempat asyik di Seoul begitu katanya, dan aku menjadi pendengar setianya sepanjang perjalanan. Lumayan menambah pengetahuanku tentang ibukota Korea Selatan ini, sehingga nanti saat aku ingin berjalan-jalan sendiri kota ini aku sudah hapal dan tidak tersesat.

 

Tak lama kemudian kami sudah sampai di depan gerbang sekolah, aku melihat banyak murid yang berjalan berkelompok-kelompok, aduh aku muali gugup. Sekolah ini adalah sekolah terbaik di Seoul begitu kata Hyo Jin dan kurasa memang betul, habisnya sekolah ini sangat megah dan lusa serta benar-benar sangat bersih.

Tiba-tiba seorang cewek berlari menghampiri Hyo Jin.

“Hyo Jin kau harus membantuku…cepat!!!!”

Dia menarik tangan Hyo Jin dan meyeretnya, Hyo Jin berusaha menolak tapi cewek itu sudah meyeretnya, Hyo Jin menatapku dengan pandangan meminta maaf.

“Annyong…aku baik-baik saja..”

Aku melambaikan tangan ku padanya dan menatapnya dengan wajah penuh keyakian bahwa aku akan baik-baik saja. Kenapa semua orang harus mengkhawatirkanku seperti itu. Hey, aku bukan anak kecil lagi. Lagipula aku memang tidak sekelas dengan Hyo Jin, dia satu tingkat di atasku, jadi mau tidak mau aku harus menjelajah sekolah ini sendiri.

Aku mulai masuk ke dalam gedung sekolah, dilorong sudah mulai ramai oleh para murid. Dan aku masih tersu mencari dimana kelas 11B, harus bertanya pada siapa? Aku berjalan perlahan melewati setiap kelas dan terus mencari dimana kelasku. Pasti saat ini wajahku sudah sangat kebingungan, yeah aku memang mudah ditebak, ibuku selalu bilang bahwa aku adalah Open Book karena setiap perubahan sekecil apapun akan terlihat dengan jelas di wajahku, oleh sebab itu aku tidak pandai berbohong dan berpura-pura.

Tiba-tiba sesorang menepuk bahuku dan saat ku tengok kebelakang. Aigoo, dia sangat tampan. Entahlah aku sudah gila mungkin kenapa sekarang aku menganggap cowok-cowok Korea lumayan tampan juga padahal sebelumnya aku menganggap mereka biasa saja. Dan cowok yang berdiri di hadapanku sungguh sangat tampan lebih tampan daripada cowok yang bertabrakan denganku waktu itu ataupun yang menyenggolku waktu di bandara. Dia sangat tampan.

“Kau baru disini?”

Pertanyaannya membawaku kembali ke alam sadar.

“Yeah….aku mencari kelas 11B..”

Lebih baik sekalian saja aku bertanya padanya.

“Oh…mari kutunjukkan..”

Dia sangat baik mau menunjukan kelasku, ternyata masih ada orang baik yang mau menolongku.

“Gumawo…”

Aku mengucapkan terima kasih sambil menunduk begitu sampai di depan kelasku.

“Aku Choi Hye Jin…”

Ak mengulurkan tanganku dan dia memnyambutnya.

“Aku Lee Taemin…”

“Gumawo..”

Aku kembali mengucapkan terima kasih sekali lagi padanya dan dia menjawabnya dengan senyuman, senyuman yang sangat menawan, kemudian menundukan badannya dan berlalu pergi. Ya ampun…

 

 

“Annyeonghaseyo…namaku Choi Hye Jin…mohon bantuannya…”

Aku menundukkan badanku dan tersenyum ke sekeliling kelas yang menatapku dengan tatapan penasaran, namun tak lama kemudian mereka tersenyum padaku. Oh syukurlah mereak menerimaku. Kemudian aku kembali duduk di tempatku.

Aku merasakan sesorang menatapku, aku pun menoleh dan mendapati seorang cowok menatapku. Kenapa cowok ini? Kenapa dia menatapku seperti itu? Ada yang salah denganku…tapi kok wajahnya familiar ya?apa aku mengenalnya sebelumnya.

Dia tersu saja menatapku, aku pun mengalihkan pandanganku dan berpura-pura membaca buku, tapi cowok itu masih saja menatapku. Tiba-tiba seseorang menepuk bahuku dari belakang dan membuat ku sedikit kaget. Aku pun langsung menoleh ke belakang. Dan mendapati seorang cewek dengan wajah imut mentapku sambil melotot. Kukira usianya di bawahku, habis dai terlihat seperti anak kecil

“Hey….kenapa Key manatapmu terus?”

“Key??? Aku tidak mengerti apa yang kau maksud…”

Aku kembali mengecek apakah cowok itu masih menatapku atau tidak. Fuihh!! Untunglah dia sudah tidak menatapku lagi. Namun cewek di belakangku terus saja menepuk bahuku.

“Apa kau mengenalnya? Apa kau mempunyai hubungan khusus dengannya?”

Key, kenal saja juga tidak baru kali ini kudengar nama itu, lagipula aku baru pindah mana mungkin ada orang yang mengenalku, kembali ku cek apakah cowok yang bernama Key itu masih menatapku ternyata tidak dia suah focus ke papan tulis.

“Aku tidak mengenalnya mengerti…”

Aku menjawab tanpa menoleh dan berusaha focus pada pelajaran.

“Kau pacarnya ya?”

Ya ampun cewek ini, kenal juga tidak dengan orang itu. Dasar Aneh!

“Nona Kim Rae Na, kau tahu sekarang belum istirahat..”

“Mianhe  Lee sesongnim…”

Salah sendiri berbicara pada saat jam pelajaran, untunglah bukan aku yang ditegur, akhirnya cewek yang bernama Kim Rae Na itu diam dan pelajaran pun berjalan sangat cepat.

 

 

“Ayo ke kantin…”

Ajak Kim Rae Na begitu bel makan siang berbunyi, perutk lapar tapi….makan di kantin berarti bertemu lebih banyak orang di sekolah ini. Hmmph. Tiba-tiba seorang cewek masuk dan berlari menghampiri Key dan menariknya dengan manja. Namun sepertinya Key tidak mau dan dia malah menatapku lagi. Dasae cowok aneh!!

Cewek itu masih terus menarik tangan Key dan akhirnya Key mau juga pergi digandengnya Key dengan mesra. Tapi yang anehnya cowok it terus saja menatapku. Dasar cowok selalu sama!

“Ayo pergi Rae Na…”

Aku menarik tangan Rae Na dan berjalan mendahului mereka dan Key terus saja menatapku. Di sepanjang perjalanan Rae Na tersu saja bertanya padaku tentang Key sepertinya aku salah mengajaknya ke kantin. Dia belum puas dengan jawabanku di kelas tadi dan terus saja memberondongiku dengan banyak pertanyaan mengenai Key.

“Kau tahu dia itu idola cewek-cewek disini…kau harus hari-hati apalagi si Han Yu Ri yang tadi itu loh…aku tidak tahu dia pacarnya atau bukan tapi yang pasti dia sangat dekat dnegan Key…kau bisa lihat tadi bagaimana kan? Lebih baik kau jauh-jauh dengannya kalau tidak mau berurusan dengan Yu Ri…”

Cewek ini sudah semakin aneh saja perkatannya, peduli apa aku dengan cewek yang dia sebut Han Yu Ri itu, mau dia pacarnya Key atau pacaranya siapapun bukan urusanku. Lagipula aku tidak suka cowok itu.

“Please..Rae Na..aku pindah kesini bukan untuk mencari pacar…arasso?”

Rae Na pun diam mendengar ku berbicara sepeti. Aku jadi merasa sedikit bersalah, apa aku terlalu kasar.

“Mianhe..”lanjutku

Rae Na tersenyum.

“Mianhe…aku yang terlalu banyak berbicara…teman?”

Rae Na mengulurkan tangannya padaku dan menjabatnya.

“Teman…”

Teman pertama ku disini Kim Rae Na, yah walapun sepertinya dia orang yang cerewet tapi sepertinya di baik. Langkah awal yang bagus untuk beradaptasi disini.

 

Kantin penuh sekali dengan para murid, harus duduk dimana ini. Hyo Jin melambaikan tangannya padaku dan mengajakku bergabung dengannya.

“Kau kenal Shin Hyo Jin Unnie…”Tanya Rae Na begitu aku tersenyum pada Hyo Jin.

“Dia sepupuku…memang kenapa?”

“OMO….dia sangat terkenal di sekolah ini kau tahu ketua paduan suara cewek…aigoo…kau kenal dengan orang-orang terkenal disini…”

“Hanya Hyo Jin bukan Key…”

Rae Na hanya bisa tersenyum  menanggapi perkataanku. Wow ternyata sepupuku adalah ketua paduan suara di sekolah ini, hebat sekali pantas dia tidak mau ikut pindah ke Pusan waktu keluarganya pindah. Dia sudah sangat nyaman disini dan dengan menjadi ketua paduan suara bisa mendekatkan dia menuju univesitas impiannya Barkeley.

Kami mendatangi mejanya dan Hyo Jin langsung menari bangkuku untuk duduk.

“Gumawo…”

“Akan ku ambilkan makanan…”

“Tidak usah…”elakku.

Tapi Hyo Jin sudah pergi dan tak lama kemudian muncul dengan nampan penuh makanan. Rae Na pun telah kembali dari mengambil makanan.

“Makanlah…”

“Gumawo…”

Aku melihat makananya. Wajahku langsung berubah begitu melihat makanan yang ada di hadapanku ini. Apa ini?

“Massikum!!percayalah…”

Aku mengernyit sedikit dan kusendok suapan pertama, ku kunyah dengan perlahan, yah rasanya tidak terlalu buruk. Cukup enak. Aku pun menyendok lagi.

“Massikum!!”

“Benar kan…ibumu tadi bilang makanan apa saja yang tidak kau suka…jadi aku tahu kau pasti suka ini…”

Ya ampun ibuku benar-benar ingin agar aku betah disini. Kami pun makan sambil mengobrol bersama kulihat Rae Na sangat senang aku tahu kenapa kuaras Hyo Jin adalah idolanya.

Tak lama kemudian 2 orang cowok masuk dan menghampiri meja kami. OMO..itu cowok yang tadi pagi menunnjukan kelasku..Lee..Taemin..ya itu namanya…tapi yang satu lagi aku tidak tahu siapa, dia tampak sedikit lebih tinggi dari Taemin dan sedikit lebih tampak dewasa. Wajahnya sangat lucu. Karena matanya hilang saat dia tersenyum, tapi dia lumayanlah.

Dia tersenyum pada Hyo Jin dan juga padaku

“Oh ya…Hye Jin…ini Lee Jin Ki Oppa…”

Hyo Jin memperkenalkan cowok itu dan dia pun kembali tersenyum padaku.

“Annyeonghaseyo…”

“Na Annyeonghaseyo..”

Aku pun membalas senyumnya.

“Dia sepupumu yang kau ceritakan itu kan, Hyo Jin..”

“Ya..”

Aku menatap cowok sebelahnya, Taemin. Dia pun tersenyum padaku.

“Kau sudah mengenalnya Taemin…” Tanya Jin Ki sambil menoleh pada Taemin.

“Ya..tadi pagi aku bertemu dengannya…”

Masih dengan senyuman, sepertinya cowok ini suka sekali tersenyum, memang sih senyumnya sangat menawan.

“ Dia sepupuku…”

Jin Ki menjelaskan padaku bahwa Lee Taemin adalah sepupunya. Kemudian Jin Ki duduk disamping Hyo Jin.

“Aku duluan Hyung…”

Taemin memohon diri untuk pergi dan dia tersenyum kepada semua orang dan juga padaku.

“Sampai ketemu lagi Hye Jin…”

Dia mengucapkan salam hanya padaku. OMO!!!

Taemin berjalan pergi menuju sebuah meja yang sudah berisi seorang cowok yang sepertinya ku kenal. Dia mirip seperti orang yang menyenggolku di bandara..benar itu dia. Kulihat Taemin langsung larut dalam percakapan serunya dengan cowok itu. Mereka sepertinya dekat sekali.

Hyo Jin juga sepertinya asik sekali mengobrol dengan Jin Ki Oppa dan Rae Na sibuk dengan makanannya, aku memperhatikan sekelilingku dan  mendapati sebuah meja yang di penuhi banyak orang terutama cewek dan salah satunya Key. Tak disangka seorang cowok yang duduk disamping Key melihatku dan melambaikan tangnnya padaku sambil tersenyum. Aku langsung mengernyitkan keningku. Cowok aneh!! Dia kembali tersenyum dan mengedipkan matanya padaku. Iehh!apa maksudnya itu, dia pikir aku cewek murahan. Gayanya sungguh sangat mencolok diantara yang lain dengan segala aksesoris yang dimilikinya dan sepertinya dia adalah tipe yang sangat percaya diri.

Key yang sedari tadi asyik mengobrol dengan salah satu ceweknya menoleh ke arahku dan kulihat cowok yang sok keren(yah walaupun kuakui gayanya cukup keren tapi kedipan tadi…tidak…tidak…tidak…) itu berbisik padanya kemudian tersenyum tapi kulihat Key tampak tidak setuju dan terlihat agak sedikit tidak suka. Kemudian dia langsung pergi meninggalkan meja itu dikejar oleh cowok sok keren itu. Tapi sebelum Key menghilang dari kantin dia sempat melihat ke arahku dan tersenyum, senyum tipis.Orang-orang disini aneh-aneh.

“Hye Jin aku pergi dulu ya…kau tidak apa-apa kan sendiri? Mianhe…”

Hyo Jin ingin pergi dahulu sepertinya di terburu-buru.

“Ya…tidak apa-apa… ada Rae Na….”

Hyo Jin pun tersenyum dan segera pergi bersama Jin Ki Oppa. Ada satu pertanyaan yang begitu ingin aku tanyakan pada Rae Na jadi aku menunggu dia selesai dengan makannya. Begitu kulihat dia sudah selesai. Langsung ku ajukan pertanyaan itu.

“Hemm…Rae Na…siapa itu Key?”

“Nah, kau menanyakannya juga kan? Jangan-jangan!”

Dasar anak ini tidak bisa apa berfikir positif sekali saja.

“Rae Na…aku Cuma mau Tanya kenapa dia begitu…”

Kuarahkan telunjukku kearah tadi Key duduk.

“Begitu populerkah dia?”lanjutku.

“Kau begitu beruntung Hye Jin…kau di kelilingi orang terkenal…”

Dia terdiam sejenak dan aku pun berusaha serius mendengarkan ceritanya.

“Pertama Hyo Jin Unnie, Key, Jin Ki Oppa dan Taemin…ckckck…kau hebat….”

“Jadi mereka itu siapa?”

Tiba-tiba bel masuk berbunyi dan kami pun harus kembali ke kelas. Padahal aku ingin mendengar ceritanya.  Ya sudahlah aku harus bersabar sampai pulang sekolah.

 

Pelajaran berjalan sangat lamban mungkin karena aku sangat ingin mendengar cerita itu.

Advertisements

2 thoughts on “FF: LOVE’S WAY – FIRST SIGHT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s