가을이

Yong Soon berjalan dengan cepat keluar dari lift. Wajahnya berseri-seri dan bahkan tersenyum ketika keluar dari gedung bertingkat itu. Dia membenarkan posisi sling bag dibahunya sebelum berhenti berjalan dan menatap seseorang yang berjarak beberapa langkah saja darinya. Senyum Yong Soon semakin lebar. Seorang pria dengan topi hitam,sweatshirt biru yang melapisi kemeja putihnya juga celana jeans hitam dan sneakers hitam. Dia membawa sebuah coat coklat ditangannya. Pria itu berjalan menghampiri Yong Soon. Senyum terbentuk di bibir tebalnya begitu sampai di depan gadis itu. Dengan perlahan pria itu memakaikan coat coklat ke tubuh Yong Soon.
“Kau lupa membawa coatmu lagi, ini sudah musim gugur,”ucap pria yang tidak lain adalah Kyuhyun itu.
Yong Soon membenarkan coat yang dipakaikan Kyuhyun itu.
“고마위,tapi kurasa udara belum sebegitu dingin,”ujar Yong Soon.
“Di malam hari sudah sangat dingin kau tahu,Jangan lupa lagi besok,”ujar Kyuhyun lagi.
Yong Soon hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
“왜?”tanya Kyuhyun yang aneh melihat Yong Soon hanya tersenyum.
“Bisakah kau melakukan ini setiap hari?”tanya Yong Soon sambil menatap wajah suaminya itu.
Kyuhyun tertawa pelan dan melemparkan pandangannya kesamping.
“Baiklah,selama dua tahun ini aku akan melakukannya setiap hari,”ujar Kyuhyun.
“좋따,”seru Yong Soon senang.
“Ayo,”Kyuhyun menarik tangan Yong Soon untuk pergi.

**

“Apa yang kau inginkan untuk makan malam?”tanya Kyuhyun sambil menoleh sesaat pada Yong Soon dan kembali memperhatikan jalanan.
Yong Soon menegakkan kepalanya dan memasukkan ponselnya ke tasnya. Dia menoleh pada Kyuhyun sambil berpikir.
“Hmm bagaimana denganmu?”Yong Soon bertanya balik.
“Terserah,tidak ada makanan yang kuinginkan hari ini,”jawab Kyuhyun dengan mata yang masih fokus pada jalanan Dihadapannya.”Bagaimana kalau kita berputar dulu dan menentukan apa yang ingin kita makan malam ini?”lanjut Kyuhyun memberi ide.
“Baiklah,”ujar Yong Soon.”Eh Kyuhyun-ah bisakah kau berhenti di depan sebentar?”
Yong Soon tiba-tiba meminta berhenti sebentar. Kyuhyun pun menepikan mobilnya.
“Ada apa?”tanya Kyuhyun.
“Aku mau membeli 겨란빵”jawab Yong Soon cepat seraya melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobil.
Tidak lama Yong Soon sudah kembali dengan Seplastik kue berisi kacang merah itu.Kyuhyun kembali melajukan mobilnya. Yong Soon menyuapi Kyuhyun kue yang baru saja dia beli. Pria itu tampak kesal karena Yong Soon hanya memberikan potongan yang kecil. Hingga akhirnya ketika di lampu merah Kyuhyun mengambil bungkusan kue dipangkuan Yong Soon.
“Ya! Kau sedang menyetir tidak boleh makan,”seru Yong Soon.
“Siapa bilang aku akan makan sekarang, aku akan memakannya di rumah,”jawab Kyuhyun.
“헐,”
“Aku tahu kau akan menghabiskannya,”ujar Kyuhyun lagi.
Yong Soon hanya tertawa setelahnya.
“Bagaimana kalau kita makan malam di rumah saja. Aku akan memasak spagetti.”
Kyuhyun mengangguk mengiyakan.

**
Yong Soon sudah sibuk di dapur begitu sampai di apartemen mereka. Sementara Kyuhyun sedang mandi. Gadis itu sudah merebus spagetti dan sedang menyiapkan sausnya. Kyuhyun datang ke dapur tidak lama kemudian.
“Ada yang bisa kubantu?”tawar Kyuhyun.
Yong Soon pun langsung menyuruh Kyuhyun untuk menyiapkan meja makan. Gadis itu menyuruh Kyuhyun mengambil piring dan gelas sementara dia sudah mulai memasak saus untuk spagetti mereka. Pria bersuara indah itu sudah duduk manis di meja makan begitu selesai menaruh piring dan gelas. Dia menanti Yong Soon membawa masakannya ke meja makan.
Yong Soon menaruh semangkuk besar spagetti di meja makan. Dia kembali ke dapur.
“Apa lagi?”tanya Kyuhyun.
“Kimchi, bukankah kau tidak mau makan tanpa Kimchi,”ujar Yong Soo.
Dia kembali dengan sepiring Kimchi. Mereka pun memulai makan malam mereka. Kyuhyun menuang air digelas Yong Soon sebelum menuang digelasnya sendiri.
“Ah kemarin saat aku makan malam dengan Changmin, dia menitipkan salam untukmu, aku lupa memberitahumu,”ujar Kyuhyun di sela-sela makan.
“Eoh,sudah lama sekali aku tidak bertemu Changmin oppa, bagaimana kabarnya?”tanya Yong Soon.
“Dia…sangat baik,sepertinya dia sangat senang setelah selesai wamil,”jawab Kyuhyun.

**

Yong Soon melingkarkan tangannya di tubuh Kyuhyun yang duduk Disampingnya. Kakinya dia taruh diatas kaki Kyuhyun. Keduanya tengah menonton film diatas tempat tidur. Kepala Yong Soon bersandar di dada bidang Kyuhyun.
“Kyuhyun-ah,”panggil Yong Soon.
Kyuhyun menggumam sebagai jawaban. Matanya masih fokus menonton film bergenre science-fiction ini. Meski dia sudah berulang kali menontonnya dia tidak pernah bosan.
“Apakah kau bahagia seperti ini?”tanya Yong Soon.
Kyuhyun menoleh pada Yong Soon yang tengah mendongak menatap wajah suaminya itu.
“왜?”tanya Kyuhyun.
“Hmm 그냥….ini adalah musim gugur paling sempurna di hidupku,”
Kyuhyun mengerutkan keningnya tidak mengerti.
“Kau selalu ada disampingku,setiap pagi,setiap siang,setiap malam, 너무 행복해,”Yong Soon mengerutkan pelukannya pada tubuh Kyuhyun.
Pria itu mengelus kepala Yong Soon perlahan.
“Aku seperti benar-benar memilikimu saat ini,”lirih Yong Soon.
Kyuhyun menyentuh dagu Yong Soon dan merengkuh wajah istrinya itu. Ditatapnya lekat-lekat wajah Yong Soon. Senyuman terbentuk di wajah Kyuhyun.
“Aku memang benar-benar milikmu,”
Yong Soon tersenyum.
“Dua tahun ini akan menjadi dua tahun yang sangat sempurna buatku,”ucap Yong Soon.
Kyuhyun mengecup bibir Yong Soon perlahan.

Advertisements

Circle 5 : Confused

WINNER-Lee-Seung-Hoon

Circle 5

Pagi yang cerah di hari sabtu. Tidak biasanya di penghujung musim panas langit secerah ini biasanya akan ada sedikit awan mendung yang muncul. Hujan deras sering sekali terjadi disaat seperti ini,suhu udara pun mulai turun menandakan musim gugur akan segera datang. Sinar matahari masuk menembus kaca bening sebuah dapur. Seorang pria dengan kaus merah celana pendek selutut berwarna biru tua tengah sibuk memotong sayuran di meja dapur. Dia mengumpulkan sayuran itu ke dalam mangkuk besar dan mengambil ayam yang sudah di rebusnya.Tangannya cekatan memotong ayam menjadi bagian yang kecil-kecil. Seekor anjing berdiri Disampingnya mengelilingi kaki pria itu,mencari tahu apa yang majikannya lakukan. Dicampurnya ayam dan sayur di dalam mangkuk besar,dia tambahkan Olive oil dan mengaduknya. Pria itu mengambil sendok dan mencicipi salad ayam buatannya. Setelahnya dia menggumam. Rasanya sudah pas. Dia menaruh mangkuk besar itu di meja makan di depan konter dapur. Mengambil dua buah gelas dan air menaruhnya di meja makan juga.
Dia keluar dapur diikuti anjing hitam itu sampai di depan sebuah kamar.
“Hae Rin-ah! Bangunlah,ada Selasa ayam untuk sarapan,”seru pria itu. Dia mengetuk pintu kamar itu beberapa kali. Menunggu si pemilik kamar keluar. Pada ketukan kelima,Hae Rin membuka pintu kamarnya. Matanya masih setengah terpejam. Dia harus lembur kemarin dan dia butuh tidur lebih lama hari ini tapi Seunghoon sudah membuat rencananya batal karena pria ini terus mengetuk pintunya.
“Aku akan turun 15 menit lagi,”ujar Hae Rin seraya mengikat rambut panjangnya.
Seunghoon mengangguk. Gadis itu berbalik untuk mencuci mukanya lebih dahulu.
Ketika Hae Rin ke meja makan. Seunghoon sudah duduk disana menyantap salad ayam buatannya. Hae Rin duduk dihadapan pria dengan mata kecil itu. Dia menuang air di teko kaca ke gelasnya dan menghabiskan air di gelas itu sekali teguk.
“Tidak biasanya kau sudah bangun Seunghoon-ah?”tanya Hae Rin mengambil piring dan mengisinya dengan salad dari mangkuk besar di tengah mereka.
“Aku hanya malas untuk bangun siang,”jawab Seunghoon singkat. “Bagaimana?”tanya Seunghoon.
Hae Rin yang baru menyuap saladnya menaikkan kedua alisnya,tidak mengerti dengan pertanyaan Seunghoon.
“Saladnya,”koreksi Seunghoon.
“Ah,enak,”jawab Hae Rin sambil mengacungkan jempolnya.
Lima tahun tinggal bersama Seunghoon membuatnya tahu kalo pria ini memiliki bakat dalam memasak. Meski yang memasak lebih sering dia tapi sesekali Seunghoon juga memasak dan rasa masakannya tidak kalah enak dengan masakan Hae Rin.Keduanya kemudian sarapan dalam diam. Haute anjing kesayangan Seunghoon menghampiri Hae Rin dan gadis itu memberikan ayam padanya.
“Hae Rin-ah, hari ini aku akan pergi menemui gadis yang akan pamanku kenalkan,”ucap Seunghoon.
Hae Rin meminum air digelasnya.”Bukannya kau bilang kemarin?”
“Aku tidak ada waktu kemarin dan paman membuat janji hari ini.”jawab Seunghoon.
Hae Rin hanya menganggukkan kepalanya,menyuap sisa salad di piringnya.
“Bagaimana?”tanya Seunghoon.
Lagi-lagi Hae Rin menaikkan alisnya.
“Pertemuan itu,”ujar Seunghoon sedikit kesal karena reaksi Hae Rin.
“Datanglah, kenapa kau meminta ijin padaku,siapa tahu kali ini kau menemukan gadis yang kau inginkan,”ucap Hae Rin santai.”Ini sudah yang kelima kalinya bukan? Aku heran kenapa tidak pernah ada gadis yang kau pilih setelah pertemuan-pertemuan itu, gadis seperti apa yang kau cari?”tanya Hae Rin.
“Kau,”ucap Seunghoon sambil menatap Hae Rin.
Hae Rin langsung melemparnya dengan daun selada,”Berhenti berbicara yang aneh Seunghoon-ah,”
Hae Rin bangkit dari duduknya dan membawa piring serta gelasnya ke wastafel.
“Hae Rin-ah apa kau tidak ingin menikah?”tanya Seunghoon tiba-tiba.
Hae Rin berbalik dan malah tertawa,”Ada apa kau bertanya seperti itu? Kalau aku punya keluarga yang harmonis seperti dirimu mungkin aku akan memiliki keinginan untuk menikah, harusnya pertanyaan itu ditunjukkan padamu,seharusnya kau segera menikah Seunghoon-ah,”
Dia menyalakan keran,mengenakan sarung tangan karet berwarna pink dan mulai mencuci piringnya. Dia terdiam sesaat. Dia akan memiliki keinginan menikah jika keluarganya harmonis. Apa yang dia lihat selama 20 tahun hidupnya membuatnya sangat membenci sebuah pernikahan, apa gunanya menikah kalau hanya akan menyakiti diri masing-masing. Hae Rin bukan lahir dari keluarga baik-baik, dia mengakui dia pun bukan gadis baik-baik. Apalagi jika melihat apa yang dia lakukan sekarang. Tinggal bersama dengan seorang pria tanpa ada hubungan. Di negara yang masih menjunjung tinggi adat ketimuran hal ini merupakan hal yang sangat memalukan tapi nyatanya Hae Rin sudah tidak memiliki rasa malu lagi. Untuk apa dia memilikinya jika dia bukanlah gadis baik-baik.
“Mana piringmu?biar aku yang cuci piring hari ini,”ujar Hae Rin.
Seunghoon sudah berdiri Disampingnya dan menyerahkan piring kotor miliknya.
“Kau mau belanja hari ini?kurasa isi kulkas sudah habis,”ujar Seunghoon.
Hae Rin segera mengangguk.

**

Hae Rin sibuk mengambil beberapa sayuran Dihadapannya sementara Seunghoon hanya mengikuti Hae Rin mendorong troli belanja. Dia akan mengatakan tidak atau iya pada apa yang diambil Hae Rin.
“Kau mau makan daging minggu ini?”tanya Hae Rin ketika mereka sampai di konter daging.
Seunghoon memperhatikan daging segar Dihadapannya dan tampak berpikir.
“Barbeque di hari Rabu?”tanya Seunghoon.
“Call,”ujar Hae Rin senang.
Seunghoon terus mengikuti langkah Hae Rin. Jika dilihat mereka tampak seperti sepasang suami istri yang sedang berbelanja. Tidak jarang ketika mereka ke beberapa konter di supermarket,mereka akan dipanggil pasangan muda.
Seunghoon menunggu Hae Rin mengambil telur dan seseorang menepuk bahunya,membuatnya berbalik.
“Jinwoo-ya,”serunya melihat seorang pria yang lebih pendek darinya dan berwajah manis berdiri dibelakangnya.
“Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu disini,”ujar Jinwoo yang merasa aneh melihat Seunghoon berbelanja.
Seunghoon tertawa,”Apakah kau sekarang sedang mencoba belajar masak?”tanya Seunghoon pada Jinwoo. Dia melihat pria itu membeli beberapa bahan makanan.
Jinwoo mengikuti arah pandang Seunghoon,”Aku mencoba untuk makan makanan sehat,”
Hae Rin kembali dengan telur ditangannya. Dia bertatapan dengan Jinwoo dan pria itu tersenyum. Hae Rin pun tersenyum pada Jinwoo.
“Kekasihmu?”tanya Jinwoo langsung seraya melirik Seunghoon.
Seunghoon tampak kaget dan terdiam sejenak mencari kata-kata yang tepat.
“Ahh…i..ya…,”dia melirik Hae Rin sejenak sebelum beralih pada Jinwoo.”Iya,”ujar Seunghoon meyakinkan lagi.
Tidak ada yang tahu dia tinggal dengan Hae Rin selama ini. Dia juga tidak sering keluar dengan Hae Rin. Bagaimanapun juga akan sulit mengatakan siapa Hae Rin pada orang yang dikenalnya.
Jinwoo tersenyum,”Aku tidak menyangka kau sudah memiliki kekasih Seunghoon-ah,kalau begitu aku duluan,”
Dia kembali tersenyum pada Hae Rin yang tampak kikuk. Ketika Jinwoo sudah pergi dari hadapan mereka.
Dia menatap Seunghoon kesal dan sebuah cubitan mendarat di lengan pria itu.
“Ya ya ya Hae Rin-ah maaf aku tidak tahu harus menjawab apa,”ujar Seunghoon sambil mengelus lengannya yang sakit dicubit Hae Rin.
Gadis itu mengambil troli belanja dan berjalan meninggalkan Seunghoon yang kemudian mengikutinya dan menyamakan langkah dengan gadis itu.

**

Suara decakan terdengar di ruangan dapur dengan pencahayaan temaram ini. Hae Rin duduk diatas konter dapur sementara Seunghoon berdiri dihadapannya,tangannya melingkar di leher pria tinggi itu. Kedua bibir mereka saling bertaut. Seunghoon menahan kedua tangannya di konter membiarkan Hae Rin mengendalikan permainan bibir mereka. Hingga Hae Rin melepaskan tautan bibir mereka untuk mengambil nafas. Gadis itu menjauhkan tubuhnya dari Seunghoon. Ditatapnya mata kecil Seunghoon. Kedua nafas orang ini memburu. Dia selalu memikirkan banyak hal ketika dia menatap mata Seunghoon sehabis berciuman,bercinta. Apa yang sebenernya dia lakukan? Dia tidak menyukai Seunghoon,dia hanya merasa nyaman dengan pria yang selama ini membiarkannya tinggal di rumah besar ini. Dia tidak tahu kapan hubungan mereka berubah menjadi seperti ini. Lima tahun lalu saat dia basah kuyup datang ke rumah Seunghoon,semuanya masih biasa saja.
Hae Rin turun dari konter dapur. “Pergilah,aku hanya memasak satu porsi untuk makan malam,”ujar gadis berambut panjang itu.
Dia ingat Seungyoon harus bertemu pamannya dan gadis yang akan dia kenalkan pada pria itu. Seunghoon mendesah pelan. Dia pun berbalik dan meninggalkan dapur.
Hae Rin menyalakan lampu dan mulai memasak untuk makan malamnya. Seunghoon datang kembali ke dapur dengan kemeja putih dan celana warna khaki yang membalut kaki panjangnya. Rambutnya sudah rapi,wajahnya juga lebih segar mungkin Seunghoon mandi dulu tadi.
“Aku pergi,”ujar pria itu.
Hae Rin hanya berdehem mengiyakan sambil tangannya mulai menggoreng Kimchi di wajan.
Hae Ri menumis Kimchi dan membuat telur gulung. Menu yang aneh untuk makan malam namun dia terlalu malas untuk memasak makanan yang lebih sesuai. Dia membawa masakannya ke ruang tengah di depan sebuah televisi besar. Haute duduk disampingnya. Gadis itu menghabiskan makannya dengan cepat. Setelahnya dia mencuci piring dan mengambil sekaleng bir di dalam kulkas. Kembali ke ruang tengah. Duduk diatas sofa. Menonton acara apapun yang sedang tayang di televisi sambil menyesap sekaleng bir ditangannya.
Haute berpindah naik keatas sofa mendekatkan kepalanya ke arah Hae Rin,gadis itu mengelus kepala anjing milik Seunghoon itu penuh sayang dengan sebelah tangannya.
“Haute-ya,kalau ayahmu menyukai gadis yang dia temui malam ini,maka aku harus bersiap keluar dari rumah ini,”ujar Hae Rin.
Haute yang tidak mengerti hanya semakin menyurukkan kepalanya ke paha Hae Rin.

**

Seunghoon berjalan memasuki sebuah restoran elit di daerah gangnam. Dengan kemeja yang membalut tubuh tinggi dan sempurnanya itu. Beberapa wanita yang keluar dari restoran meliriknya. Seunghoon yang memiliki tinggi 182cm dan tubuh proporsional itu tentu tampak sangat menonjol. Seorang pria itu melihat Seunghoon berjalan masuk ke dalam restauran. Seunghoon yang mengenali pria itu sebagai pamannya pun segera berjalan menghampirinya.
Di meja itu sudah ada paman Seunghoon,pria tua yang sedikit lebih pendek dari pamannya,seorang wanita tua dnegan pakaian necis dan seorang gadis dengan Lace dress tanpa lengan,rambutnya digulung,make up tipis namun tidak menutupi kecantikannya.
“Ini keponakanku Lee Seunghoon,”ujar paman Seunghoon memperkenalkan Seunghoon.
Seunghoon membungkukkan kepalanya lalu menjabat tangan kedua orang yang seumuran pamannya yang dia yakini adalah orang tua gadis ini.
“Lee Seunghoon-imnida,”ujarnya pada gadis yang bermata bulat itu sambil tersenyum.
“Kim Hye Won-imnida,”ujar gadis yang bernama Hye Won.
Makanan dihidangkan dan kelimanya mulai menyantap hidangan dihadapan mereka. Seraya mengobrol tentang bisnis dan lain-lain. Seunghoon pun tidak diam dan ikut bicara ini. Seunghoon adalah tipe orang yang mudah dekat dengan siapapun,sifatnya yang ramah membuat orang-orang senang berbicara dengannya. Sama seperti kedua orang tua Hye Won yang semula berpikir Seunghoon tipikal anak chaebol yang diam ternyata tidak,bahkan Seunghoon bisa mengeluarkan candaan yang membuat mereka tertawa. Hye Won tampak terus memperhatikan Seunghoon dan Pria pun tidak hanya diam,sesekali dia juga bertanya pada Hye Won,bertanya apa kesibukannya.
Dua jam sudah mereka berada di restoran itu. Tidak ada pembicaraan yang berarti,paman Seunghoon juga mengatakan ini hanya sekedar pertemuan. Dia hanya ingin membantu keponakannya untuk menemukan seseorang yang bisa disukai keponakannya itu.
Paman Seunghoon dan kedua orang tua Hye Won berjalan di depan ketika keluar dari restoran,sementara Seunghoon berjalan dibelakang bersama Hye Won.
“Seunghoon oppa,”panggil Hye Won pada Seunghoon yang lebih tua darinya itu.
Seunghoon menoleh,”Iya?”
“Bolehkah aku bertemu lagi denganmu di lain waktu?”tanya Hye Won tampak ragu namun dia tidak mau pertemuannya dengan Seunghoon hanya sekali saja. Harus dia akui dia tertarik dengan pria tinggi Disampingnya ini.
“Tentu saja,”jawab Suenghoon seraya tersenyum.
“Boleh aku meminta nomormu oppa?”tanya Hye Won lagi.
Seunghoon langsung mengangguk dan mengeluarkan ponselnya. Dia meminta Hye Won menyebutkan nomor ponsel milik gadis itu dan menyimpannya.
“Seunghoon-ah semoga kita bisa bertemu lagi,”ujar ayah Hye Won sambil menjabat lengan Seunghoon.
“Tentu saja Tuan Kim,”jawab Seunghoon sambil tersenyum hangat.
Begitu mobil Hye Won sudah pergi. Paman Seunghoon menepuk bahu keponakannya itu.
“Jadi bagaimana?”tanyanya.
“Apa?”Seunghoon balik bertanya.
“Hye Won,”ujar pamannya.
“Ah,dia cantik,baik,pintar,”jawab Seunghoon.
“Dan?”paman Seunghoon memotong ucapan pria itu.
“Tidak ada dan,”lanjut Seunghoon.
Paman Seunghoon menatapnya tidak percaya. Setelah berkali kali membuat pertemuan antara keponakannya dengan teman-temannya yang memiliki seorang anak gadis. Jawaban Seunghoon selalu sama. Apakah keponakannya ini tidak tertarik pada gadis? Tidak jangan sampai. Gumam pamannya dalam pikirannya.
“Kudengar kalian saling bertukar kontak,”ucap Paman Seunghoon lagi.
“Ya kami bertukar kontak,”
“Baguslah,”paman Seunghoon tersenyum pada pria itu.
Setelahnya Seunghoon segera pamit pulang. Pria itu memasukkan mobil mewahnya ke garasi. Dia berjalan masuk ke dalam rumahnya. Gelap. Hae Rin pasti sudah tidur. Ketika Seunghoon ke ruang tengah. Haute menghampirinya.
“Kau belum tidur?”tanya Seunghoon pada anjingnya.
Di dalam kamar Hae Rin ternyata belum tidur. Dia menunggu Seunghoon pulang ketika dia mendengar pintu terbuka dan suara Seunghoon bertanya pada haute. Dia baru mulia memejamkan matanya.

**

Senin pagi Hae Rin merasa perutnya tidak beres. Ini hari pertamanya datang bulan. Dia memutuskan untuk tidak masuk kantor daripada kondisi perutnya semakin parah dan dia malah tidak bisa bekerja. Dia menyalakan laptop di meja makan untuknya bekerja dari rumah. Seunghoon sudah berangkat kerja. Hari ini dia menyuruh bibi yang datang untuk membersihkan rumah ini untuk tidak datang karena dia ada di rumah. Hae Rin mencuci piring tidak sadar ada seseorang yang masuk ke dalam rumah.
“Siapa kau?”sebuah suara wanita mengangetkan Hae Rin yang tengah menaruh piring yang baru dicucinya. Dia berbalik dan mendapati seorang wanita paruh baya berdiri beberapa meter dari posisinya. Dia berpakaian bagus dengan kacamata hitam. Wanita itu melepas kacamatanya dan Hae Rin semakin terkejut. Ibu Seunghoon.
“Siapa kau nona?”tanya ibu Seunghoon yang tentu saja terkejut mendapati seorang gadis di rumah anaknya.
Hae Rin dengan cepat berpikir alasan apa yang harus dia berikan pada ibu Seunghoon.
“Saya..tetangga Seunghoon-ssi,saya kesini untuk meminjam piring,”ujar Hae Rin sambil menunjukkan sebuah piring yang baru dicucinya.
Ibu Seunghoon menatap Hae Rin curiga. Dia berjalan mendekati gadis itu.
“Dimana Seunghoon?”tanyanya.
“Dia sedang ke minimarket di depan,”jawab Hae Rin asal. Matilah dia. Dia harus keluar dari rumah ini sekarang.
“Saya permisi dulu,”Hae Rin buru-buru pamit dengan membawa piring,membungkukkan kepalanya sedikit kepada ibu Seunghoon dan berjalan cepat keluar rumah sebelum wanita itu memanggilnya.
Hae Rin keluar gerbang rumah bersembunyi dibalik pagar dan segera menelepon Seunghoon.
Bagaimana bisa pria itu tidak memberitahunya kalo ibunya akan datang, memang ibu Seunghoon terkadang mengunjungi pria itu tapi biasanya ibu Seunghoon akan datang ke kantor anaknya itu baru ke rumah sehingga Seunghoon bisa memberitahu Hae Rin dulu. Biasanya gadis itu akan pergi dari rumah ketika ibu Seunghoon berkunjung. Untunglah selama ini ibu Seunghoon jarang sekali menginap di rumahnya biasanya dia akan berkunjung sejenak lalu kembali ke rumahnya sendiri. Ibu Seunghoon tinggal di Amerika bersama adiknya setelah ayah Seunghoon meninggal. Tentu saja ibunya tidak tahu kalau Seunghoon tinggal dengan seorang gadis.
“Ya Seunghoon-ah kenapa kau tidak bilang kalau ibumu akan datang?”seru Hae Rin kesal begitu Seunghoon mengangkat telepon darinya.
“Apa? Ibu datang ke rumah?”
Dia tidak tahu kalau ibunya akan datang.
“Cepatlah pulang,”pinta Hae Rin.
Gadis itu meninggalkan rumah dan menunggu Seunghoon pulang di minimarket dekat rumah. Sejam kemudian Seunghoon datang. Dia bertemu Hae Rin di minimarket,wajahnya tampak panik. Begitu mendengar penuturan Hae Rin,dia segera ke rumahnya.
“Eomma,”sapa Seunghoon ketika masuk ke dalam rumah. Ibunya duduk di sofa di ruang depan. Dia menghampiri dan memeluk ibunya.
“Eomma kenapa eomma tidak memberitahuku kalau eomma akan datang?”tanya Seunghoon setelah melepaskan pelukan ibunya.
“Aku ingin memberi kejutan Padamu,eomma sangat merindukanmu. Darimana saja kau?”tanya ibu Seunghoon.
“Aku dari kantor,eomma seharusnya ke kantor saja,”jawab Seunghoon.
Wajah ibu Seunghoon berubah. Namun setelahnya dia hanya menganggukkan kepalanya.
“Aku hanya ingin langsung ke rumahmu, sudah aku bilang ini kejutan,”ujar Nyonya Lee.
Seunghoon mengajak ibunya ke dalam dan membuatkan teh untuknya. Ibu Seunghoon duduk di meja makan. Dia melihat sebuah laptop yang menyala. Dengan cepat Seunghoon menyingkirkan laptop itu.
“Minumlah eomma,kapan eomma sampai?”tanya Seunghoon.
“Kemarin,”ujar Nyonya Lee seraya menyeruput teh digelasnya.
“Eomma benar-benar memberikanku kejutan,bahkan eomma tidak memberitahuku kalau sudah di Seoul,”
Nyonya Lee hanya tertawa pelan. Lee Seunghoon anak laki-laki satu-satunya,menjadi anak satu-satunya tidak membuat Seunghoon menjadi manja. Pria itu memutuskan untuk tinggal sendiri begitu usianya beranjak 20 tahun dan dia mulai menggeluti bisnis milik ayahnya saat itulah ayah dan ibunya pindah ke Amerika. Sudah 7 tahun lebih mereka berpisah meski sesekali Nyonya Lee datang mengunjunginya.
“Seunghoon-ah,tadi ada tetanggamu yang ke rumah untuk meminjam piring, apa kau selalu membiarkan rumahmu didatangi tetangga?”tanya ibu Seunghoon yang tentu masih ingat dengan seorang gadis di dapur anaknya ini.
Seunghoon terdiam sesaat,ah pasti Hae Rin yang dimaksud.
“Eoh, dia tetanggaku, dia sering memberiku makanan jadi aku membiarkannya masuk ke rumah. Dia sangat baik eomma tenang saja.”jawab Seunghoon menenangkan.
Nyonya Lee hanya menganggukkan kepalanya. Keduanya kemudian membicarakan hal yang lain. Hingga siang hari Nyonya Lee ingin ikut Seunghoon ke kantor untuk bertemu dengan paman Seunghoon.
“Noona apa kabar?”tanya paman Seunghoon ketika bertemu dengan kakak iparnya.
“Baik,bagaimana kabarmu?”tanya Nyonya Lee.
“Baik sangat baik,aku tidak menyangka kalau noona akan datang,kenapa noona tidak memberitahuku lebih dulu?”tanya paman Seunghoon.
“Aku tidak ingin merepotkanmu, ngomong-ngomong bagaimana Seunghoon selama ini?”tanya Nyonya Lee
Paman Seunghoon tampak bingung apa yang dimaksud kakak iparnya ini. Dia menautkan kedua alisnya tidak mengerti.
Nyonya Lee berdehem pelan.”Apakah Seunghoon tinggal dengan seorang gadis?”

Circle 4 : Enchanted

kang-seung-yoon_1453303283_af_org

 

 

Circle 4

“Kang Seungyoon ada bekal lagi di mejamu.”seorang pria menoleh pada Seungyoon yang berjalan menuju tempat duduknya. Pria itu memutar tempat duduknya begitu Seungyoon sudah duduk di tempatnya.
“Jadi hari ini menunya apa?”tanya pria itu.
Seungyoon yang baru duduk di tempatnya melihat sekotak tempat makan berwarna perak.
Seorang pria lain melongok dari belakang meja Seungyoon. Sudah tiga bulan ini Seungyoon selalu mendapatkan bekal di mejanya setiap pagi. Entah dari siapa.
Seungyoon membuka bekal itu,isinya telor gulung. Seruan takjub terdengar dari tiga orang yang sudah datang di kantor ini. Seungyoon hanya diam.
“Hyung,kalian mau?”tawar Seungyoon pada yang lain sambil menunjukkan bekal itu.
“Tidak Seungyoon-ah,itu kan khusu s dibuat untukmu,”ujar pria yang duduk di kursi diseberang meja Seungyoon.
“Kau sudah tahu siapa yang menaruh tempat makan di mejamu?”tanya pria dibelakang Seungyoon.
Pria berwajah bulat itu menggeleng dengan polosnya. Dia tidak pernah tahu siapa yang rajin memberikan sarapan padanya.
“Kenapa kau tidak mencari tahu lewat CCTV saja,”saran pria yang duduk itu.
“Bukankah akan tampak seperti aku sedang mencari pencuri,”ujar Seungyoon.
“Tidak apa-apa jika pencurinya cantik,”ujar pria dibelakang Seungyoon membuat dua pria lain di ruangan itu tertawa.
Seungyoon hanya menyentuh belakang kepalanya,malu. Mereka pun kembali ke tempat duduk mereka masing-masing dan Seungyoon mulai membuka kotak makan itu lagi. Dia mengambil sumpit yang juga sudah disediakan oleh pengirim anonim ini. Seungyoon menyantap telur gulung itu sambil menunggu komputernya menyala. Meski dia tidak tahu siapa yang selalu memberikannya sarapan tapi dia akui kemampuan memasak pengirim ini sangat baik. Entah kenapa dia merasa masakan pengirim ini rasanya sama dengan masakan ibunya di Busan.
Sudah 10 tahun lebih Seungyoon tinggal di Seoul meninggalkan ibunya di Busan. Setahun lalu ayahnya meninggal,sebenernya Seungyoon ingin kembali ke Busan menemani ibunya tapi dia disini punya sepupu yang harus dijaganya dan lebih membutuhkannya untuk saat ini.
Ketika Seungyoon sudah menghabiskan semua telur gulung itu dia mengambil sebuah post-it dan menuliskan sesuatu diatasnya.

Sender-nim
Lainkali berikan bekalnya langsung padaku
Terima kasih,masakanmu sangat enak!

Seungyoon selalu menulis post it yang dia tempelkan di tutup tempat makan ini begitu dia selesai. Biasanya besok tempat makan itu sudah menghilang dan berganti dengan yang baru. Entah kapan pengirimnya mengambil kembali makanannya,karena Seungyoon merasa tidak enak maka dia selalu menulis ucapan terima kasih di kertas agar setidaknya pengirim misterius itu tahu kalo Seungyoon merasa berterima kasih dengan apa yang sudah dia lakukan. Dia berharap dengan memberi post-it ini pengirim misterius itu akan memunculkan dirinya.

**

Seungyoon masuk ke dalam lift dan memencet tombol 1. Hari ini dia kembali harus pulang lebih lambat karena pekerjaannya yang banyak akhir-akhir ini. Lift berhenti di lantai 7,dua orang gadis masuk ke dalam lift.
“Seungyoon oppa,”salah satu dari dua gadis itu menyapa Seungyoon.
“Eoh,Mi Ran-ah,”ujar Seungyoon, gadis yang bernama Mi Ran itu berdiri disamping Seungyoon membuat seorang gadis lain harus mundur ke belakang.
Gadis berkacamata bulat itu mendudukkan kepalanya dan hanya menatap sepatunya. Tidak berani menatap seorang pria Dihadapannya itu.
“Oppa kau baru pulang?”tanya Mi Ran.
“Ne,kau juga?”Seungyoon bertanya balik.
“Iya,manajer Lee membuat kami harus lembur hanya untuk menghadiri rapat,”keluh Mi Ran dengan ekspresi wajah kesal.
Seungyoon mengangguk-anggukan kepalanya. Begitu lift berhenti di lantai 1. Seungyoon langsung berjalan lebih dahulu namun tiba-tiba Mi Ran menahan tangannya.
“Oppa kau mau pulang bersamaku? Aku membaw mobil,aku akan mengantarmu,”tawar Mi Ran.
Seungyoon segera menggeleng,”Tidak terima kasih Mi Ran-ah,aku akan naik Subway saja,”
Seungyoon segera berjalan meninggalkan Mi Ran. Gadis itu adalah hoobaenya di kampus dulu. Dia tidak menyangka akan bertemu lagi dengan gadis itu. Sejak kuliah sudah terlihat kalau gadis ini menaruh perasaan pada Seungyoon, namun Seungyoon tampak cuek. Pria itu sempat berpikir bahwa pengirim makanan itu adalah Mi Ran tapi dia merasa Mi Ran tidak akan melakukannya diam-diam seperti itu melihat dari sifatnya.
Seorang gadis berkacamata berjalan di belakang Seungyoon,menjaga beberapa meter jarak dari tubuh tinggi itu. Pandangannya sedikit menunduk. Keduanya berjalan ke arah yang sama Subway. Ketika Seungyoon berbelok untuk masuk ke line yang ditujunya,gadis itu diam ditempatnya. Dia memperhatikan punggung Seungyoon sampai menghilang karena menuruni tangga stasiun. Setelah dia berjalan lurus ke line yang ditujunya.
Kereta datang,tampak sepi,dia pun duduk di dekat pintu. Gadis itu membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah kotak makan berwarna abu-abu. Dia membaca post-it yang ada diatas tempat makan itu. Senyuman terbentuk di bibir tipisnya.
Hanya lima stasiun dari stasiun awal gadis itu turun dari kereta. Di keluar dari stasiun menyusuri jalanan menanjak menuju rumahnya.
“Eomma appa aku pulang,”ujar gadis itu ketika membuka pintu rumahnya lalu melepas sepatunya dan menaruhnya di rak.
“Eoh,Se Ri-ya kau sudah pulang?”ucap ibu Se Ri yang sedang duduk menonton TV bersama ayahnya.
Se RI melongokkan kepalanya ke ruangan TV.
“Eomma appa aku langsung ke kamar,”ujar gadis bernama Se Ri itu.
“Ne ne Istirahatlah,”jawab ayah Se Ri.
Se Ri masuk ke dalam kamarnya menghidupkan lampu kamarnya. Dia mengambil baju ganti dan keluar ke kamar mandi.
Ketika kembali ke kamar dia sudah mengenakan pakaian tidurnya,kacamata bulatnya sudah di copot. Se Ri berjalan ke meja di dekat tempat tidurnya. Dia mengambil sebuah kotak kecil yang didalamnya berisi banyak post-it. Se Ri menaruh post-it baru diatasnya. Sudah tiga bulan ini dia mengumpulkannya. Mungkin apa yang dilakukan Se Ri sangat aneh. Selama tiga bulan ini dia selalu menaruh bekal di meja Seungyoon. Se RI menyukai Seungyoon. Entah sejak kapan, keduanya satu sekolah menengah dan bahkan satu universitas. Se Ri mengangumi Seungyoon dan dia sangat senang begitu dia bisa bekerja ditempat yang sama dengan Seungyoon. Meski pria itu tidak pernah tahu keberadaannya. Seungyoon bahkan tidak sadar mereka satu sekolah menengah dan satu tempat kuliah. Dia tidak berani mendekati Seungyoon secara terang-terangan karena dia merasa tidak pantas. Dia tidak cantik dan dia tidak istimewa. Sementara Seungyoon,tampan,pintar dan baik. Sejak sekolah pria itu sangat populer. Bahkan Mi Ran,hoobae paling cantik dis sekolahnya terang-terangan menyukai Seungyoon dan hal itu membuat Se Ri mundur secara teratur. Melihat Seungyoon dari jauh saja sudah cukup baginya,mengetahui Seungyoon selalu menghabiskan bekalnya dia sudah sangat senang. Entah sampai kapan dia akan melakukan ini tanpa Seungyoon tahu.

**

“Seungyoon-ah kau sudah pulang,”ujar seorang gadis berambut sebahu dengan pakaian tidur berbaring di sofa menonton TV.
Seungyoon melepas sepatunya dan masuk ke dalam rumah.
“Iya,kau pulang cepat lagi?”tanya Seungyoon seraya mengambil air di dalam kulkas dan menuangnya ke gelasnya. Dia berjalan menghampiri sofa dan menepuk kaki gadis itu yang menyelonjorkan kakinya memenuhi sofa.
Gadis itu berdecak sebal dan merubah posisinya menjadi duduk. Seungyoon lalu duduk Disampingnya.
“Seminggu ini aku tidak kebagian jaga malam,”jawab gadis itu dan matanya masih menatap layar televisi.
Seungyoon menghabiskan air digelasnya dalam sekali teguk.
“Hye Jin-ah,”panggil Seungyoon pada gadis yang merupakan sepupunya itu.
Hye Jin menggumam pelan,dia masih fokus dengan acara TV yang ditontonnya.
“Mana ada dokter yang keranjingan menonton drama,”ujar Seungyoon membuat Hye Jin menoleh.
“Ya aku saja baru menonton hari ini,”ujar Hye Jin tidak terima.
Seungyoon tertawa pelan lucu melihat ekspresi kesal Hye Jin.
“Hye Jin-ah menurutmu kenapa ada seseorang yang memberikanmu sesuatu?”tanya Seungyoon.
Hye Jin menoleh padanya dan mengerenyitkan dahinya tidak mengerti. Akhirnya Seungyoon menceritakan kalau selama tiga bulan ini ada yang selalu memberikannya sarapan di meja kerjanya aja dia tidak tahu siapa orang itu.
“Stalker? Fan?”tanya Hye Jin.
Seungyoon menggeleng tidak tahu.
“Kenapa kau tidak lihat CCTV saja,”lanjut Hye Jin.
“Kau sama saja seperti sunbaeku di kantor,memangnya aku ingin menangkap pencuri harus melihat CCTV,”ujar Seungyoon.
“Ya siapa tau dia sebenarnya berniat mencuri,”ucap Hye Jin.
“Tidak mungkin,dia bisa masak mungkin saja wanita,”bantah Seungyoon.
Hye Jin terdiam sejenak.”Memangnya hanya wanita saja bagaimana kalau itu pria yang ternyata menaruh hati Padamu,”
Seungyoon bergidik ngeri.”Ya,mana mungkin!”
Hye Jin menarik dagu Seungyoon dan mengamati wajah sepupunya itu.”Kau itu tipe-tipe yang mungkin sekali untuk disukai pria,”
“Ya!Kang Hye Jin!”Seungyoon menghempaskan lengan Hye Jin dan menatapnya kesal.
Hye Jin tertawa lepas melihat ekspresi wajah Seungyoon.

**

“Se Ri-ya,aku bisa minta tolong untuk fotokopi ini,”seorang wanita menyerahkan beberapa kertas pada Se Ri yang hendak ke mesin fotokopi. Se Ri mengangguk dan mengambil kertas itu.
Begitu sampai di depan mesin fotokopi. Seungyoon berjalan ketempat yang sama. Se Ri menghentikan langkahnya. Dia ingin berbalik dan menunggu Seungyoon selesai.
“Kau mau fotokopi juga? Kau bisa duluan,”
Se Ri yang hendak berbalik langsung memutar tubuhnya kembali. Seungyoon menatapnya. Se Ri langsung mengangguk dengan kikuk.
“Aku akan menunggu,duluan saja sepertinya yang akan kufotokopi lebih banyak dari punyamu,”ujar Seungyoon.
Lagi-lagi Se Ri hanya bisa mengangguk kikuk. Seungyoon berdiri disamping mesin fotokopi menatap keluar jendela gedung sambil menunggu. Se Ri mencuri pandang pada Seungyoon namun segera dia menunduk takut Seungyoon melihatnya dan menganggapnya aneh.
“A..aku sudah selesai,”ujar Se Ri begitu dia selesai memfotokopi kertas miliknya. Seungyoon berbalik dan tersenyum pada Se Ri. Gadis itu hanya diam lalu buru-buru berjalan namun efek senyuman Seungyoon ternyata membuatnya limbung. Dia hampir saja terjatuh karena heels 5cm nya,untung saja tangan Seungyoon segera menahannya.
“Kau baik-baik saja?”tanya Seungyoon.
Se Ri yang kaget langsung mengangguk cepat. Dia segera melepaskan diri dari Seungyoon dan berjalan cepat meninggalkan tempat ini. Jantung Se Ri berdetak sangat cepat bukan karena dia harus berjalan cepat tapi lebih kepada Seungyoon yang menyentuh lengannya.

**
Se Ri berjalan perlahan menuju sebuah ruangan. Sesekali dia menengok kebelakang untuk memastikan tidak ada yang melihatnya. Dia membuka pintu sebuah ruangan yang sudah kosong. Dia kembali mengecek kebalakang memastikan sudah tidak ada orang lagi. Gadis itu berjalan ke salah satu meja disana. Ada sebuah tempat makan diatasnya. Dia segera mengambil tempat makan diatas meja itu. Tiba-tiba pintu terbuka. Se Ri segera menunduk bersembunyi di bawah meja. Tidak lama pintu kembali ditutup. Se Ri bernafas lega. Dia segera memasukkan tempat makan itu ke tasnya dan segera pergi dari ruangan itu.
Se Ri keluar lift dan berjalan keluar gedung,dia mendapati hujan turun. Gadis itu mendesah pelan,dia tidak mengikuti perkataan ibunya tadi pagi untuk membawa payung. Sampai jam berapa hujan ini akan berhenti?pikirnya.
Dia menoleh kesamping dan mendapati Seungyoon berdiri tidak jauh darinya pria itu tengah membuka payungnya. Se Ri segera membalikkan tubuhnya, dia malu dengan kejadian tadi siang.
“Kau mau pulang?”
Suara bass itu membuat Se Ri membalikkan badannya. Mata indah dibalik kacamata bulat itu menatap seorang pria yang berdiri Dihadapannya dengan menggunakan payung.
Se Ri tampak sangat kaget mendapati Seungyoon-lah yang berdiri Dihadapannya.
Se Ri hanya bisa mengangguk pelan.
“Apa kau juga mau ke Subway?”tanya Seungyoon lagi.
“I..iya,”jawab Se Ri tanpa bisa mengalihkan pandangannya pada Seungyoon.
“Aku juga mau ke Subway,ikutlah denganku,kau tidak membawa payung kan?”tawar Seungyoon.
Se Ri mengangguk. Dia ragu untuk ikut Seungyoon namun pria itu masih berdiri Dihadapannya. Akhirnya Se Ri mendekati Seungyoon dan berjalan dibawah payung bersamanya. Keduanya hanya terdiam membiarkan suara hujan lah yang terdengar.

**

“Seungyoon-ah,kau bisa menjemputku di stasiun,aku menunggu di pintu keluar 3,”Hye Ji menelepon sepupunya untuk menjemputnya di stasiun.
Hujan turun sangat deras dan dia lupa membawa payung.
Tidak lama Seungyoon sudah sampai di pintu keluar exit 3, dia melihat sepupunya itu berteduh di depan sebuah coffee Shop.
Seungyoon dan Hye Jin berjalan pulang ke rumahnya.
“Seungyoon-ah kau baik-baik saja?”tanya Hye Jin yang merasa aneh melihat sepupunya hari ini,tidak malam ini. Tadi pagi sebelum berangkat dia melihat wajah Seungyoon masih baik-baik2 saja. Malam ini ada yang aneh pada wajahnya.
“Tidak aku baik-baik saja kenapa?”tanya Seungyoon sambil menoleh pada Hye Jin Disampingnya.
Hye Jin mengamati wajah Seungyoon yang dirasanya tampak lebih cerah,seakan sesuatu yang menyenangkan dan bahagia telah terjadi.
“Kau yakin? Kau dapat bonus? Kenaikan gaji? Kenaikan jabatan?”tanya Hye Jin bertubi-tibu.
Seungyoon tertawa dan menggeleng,”Tidak,tidak ada kejadian apa-apa,”
“Aneh kau tampak sangat bahagia malam ini,”

Circle 3 : Sparks Fly

iTtzRHcoFh.jpg

Circle 3

“Jiwon-ah kau yakin pulang sendiri? Aku bisa menemanimu sampai halte,”
Seorang gadis dengan rok hitam diatas lutut dan blouse coklat menggeleng cepat sebagai tanggapan,”Tidak usah Hae Rin Eonni,aku bisa,lagipula haltenya hanya tingga mengikuti jalan saja kan,”
Gadis yang dipanggil Hae Rin kemudian mengangguk. Jiwon pun berpamitan lalu meninggalkan sebuah restoran dipinggir jalan di daerah Hongdae ini.
Hae Rin masih menatapnya sampai punggungnya hilang saat berbelok. Jiwon adalah bawahannya dan dia yang berusia paling muda diantara orang-orang di timnya membuatnya terkadang khawatir dengan gadis yang menurutnya sedikit ceroboh itu.
Jiwon mengikuti jalan yang dia yakini akan membawanya ke halte bis. Mendadak dia berhenti di persimpangan jalan, dia haru belok ke kanan atau ke kiri?pikirnya. Jiwon akui dia memang sedikit buta arah. Seharusnya tadi dia bertanya dengan jelas pada Hae Rin Eonni kemana arah ke halte. Akhirnya Jiwon memutuskan untuk belok ke kiri. Dia kembali mengikuti jalan,hingga dia melirik kekiri dan kekanan. Kenapa jalanan menjadi sepi? Jiwon memukul kepalanya pelan. Dia pasti tersesat. Mungkin harusnya dia berbelok ke arah kanan. Dia harus kembali ke persimpangan tadi yang sudah cukup jauh itu. Akhirnya dia berbalik dan berjalan cepat. Tidak sengaja dia menabrak tubuh seorang pria tua.
“Jwesonghamnida,”ucap Jiwon.
Pria itu tampak sempoyongan sepertinya mabuk. Jiwon tidak memperdulikannya dan kembali berjalan.
“Ya!”pria itu memanggilnya. Jiwon berbalik dan pria itu menghampirinya. Jiwon melangkah mundur. Jika pria ini berani macam-macam dia akan mengeluarkan jurus taekwondonya. Meski tubuhnya kecil dia mahir bela diri.
Pria itu mendekat pada Jiwon,dia mengamati Jiwon dari atas sampai bawah,membuat Jiwon risih.
“Gadis yang tidak sopan,kau menabrakku dan tidak minta maaf Hah?”seru pria itu.
“Aku kan sudah minta maaf paman,”balas Jiwon.
“Apa katamu?”pria itu semakin mendekat. Jiwon tau pria ini sedang mabuk. Kaki Jiwon bergerak mundur. Sampai tangannya menyentuhku akan kupatahkan ditempat.pikirnya.
Tepat saat pria itu hendak menyentuh lengan kiri Jiwon,tangan seseorang menarik lengan Jiwon sebelah kanan. Gadis itu sedikit tertarik karenanya.
“Hey paman gadis ini sudah minta maaf,tinggalkan dia,”ujar suara bass seorang pria.
Jiwon menoleh kesampingnya. Seorang pria tinggi dengan jaket hitam dan kaus hijau tua didalamnya. Topinya yang berwarna merah sedikit menutupi wajahnya sehingga Jiwon tidak bisa melihat jelas wajah pria ini.
Pria tua tadi meracau tidak jelas. Jiwon tidak sadar pria itu menarik tangannya untuk berjalan. Ketika Jiwon menengok ke belakang setelah beberapa langkah pria tua tadi terjatuh di jalan.
“Kau baik-baik saja?”tanya pria itu mengangetkan Jiwon yang merasa kejadian tadi berlalu begitu cepat.
Jiwon melepaskan tangannya yang masih dipegang pria itu.
“Ah maaf,”ujar pria itu merasa kalau Jiwon tidak nyaman dengan tangannya yang memegang Jiwon.
“Iya aku baik-baik saja,”jawab Jiwon atas pertanyaan pria tadi.
“Kau harus berhati-hati jika lewat dijalan ini malam hari,banyak pria-pria mabuk seperti tadi. Apalagi kau memaki rok pendek seperti itu,”ujar pria itu lagi.
Tiba-tiba pria itu berhenti berjalan dan melepaskan jaketnya lalu memberikannya pada Jiwon yang wajahnya jelas sekali menunjukkan kebingungan.
“Jangan gunakan rok pendek jika kau akan keluar malam hari,pakai ini. Kau mau ke halte kan? Aku juga akan kesana,”lanjut pria itu.
Jiwon mengerjapkan matanya perlahan,apa yang sebenarnya yang terjadi? Bukan dia tidak bersyukur ada pria ini yang datang menolongnya meski dia bisa saja menghabisi paman itu tapi kenapa pria ini baik sekali sampai meminjamkan jaketnya. Namun Jiwon tetap mengambil jaket itu. Kini Jiwon bisa melihat dengan jelas wajah pria yang menolongnya tadi karena pencahayaan disini lebih terang juga karena pria itu sedikit membenarkan letak topinya sehingga tidak menutupi wajahnya lagi. Jiwon melingkarkan jaket itu dipinggangnya. Keduanya kembali berjalan dalam diam.
“Terima kasih untuk yang tadi, apa kau tinggal disini?”tanya Jiwon memecah kesunyian diantara mereka. Dia ingat belum mengucapkan terima kasih pada pria ini.
“Tidak tapi aku sering lewat sini,”jawabnya dengan suara berat.
Jiwon melirik sekilas pria yang jauh lebih tinggi darinya itu. Hidungnya mancung dan memiliki alis yang tebal.
“Siapa namamu?”tanya Jiwon reflek,membuat dia menyesal setelahnya karena mulutnya yang bicara tanpa berpikir.
“Song Minho,kau?”tanya pria yang bernama Song Minho itu.
“Choi Jiwon,”jawab Jiwon.

**

Jiwon membuka gerbang rumahnya yang besar itu. Baru di depan pintu dia sudah mendengar suara bersahutan dengan nada tinggi. Jiwon berdecak kesal. Hampir setiap hari dia harus mendengar suara menyebalkan ini. Dia masuk ke dalam rumah. Seorang wanita tua yang merupakan pelayan yang bekerja di rumah Jiwon langsung menyambutnya.
“Nona,Anda sudah pulang? Anda ingin makan?”tanya wanita tua itu.
Jiwon dengan cepat menggeleng. Dia ingin langsung masuk kamarnya malas harus bertemu salah satu dari orang yang sedang bertengkar itu. Dia berjalan langsung menuju tangga yang mengarah pada kamarnya. Namun baru naik beberapa langkah,suara kaki dan selanjutnya teriakan menyebut namanya membuatnya berhenti.
“Ya! Apa istimewanya anak pelacur itu! Ayah mengabaikan aku dan ibu hanya demi anak itu dan ayah akan memberikan perusahaan padanya! Ayah gila! Apa haknya di keluarga ini!”
Jiwon melanjutkan langkahnya dia membuka pintu kamarnya melempar barang-barangnya ke atas tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi. Satu jam kemudian dia kembali ke kamarnya dengan pakaian tidur. Dia mengambil tas yang dia lempar diatas tempat tidur dan juga jaket yang pria tadi berikan. Jiwon lupa untuk mengembalikannya sebelum naik bus dan sekarang dia harus berpikir bagaimana mengembalikannya. Mungkin dia harus kembali ke jalan itu, pria itu bilang dia sering melewati jalan yang tadi Jiwon lewati. Ah sudahlah hal itu akan dipikirkannya besok. Dia mengunci kamarnya dan berbaring di ranjang,menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya. Dia memejamkan matanya dan mulai membayangkan jika ibunya ada disini bersamanya.

**

“Oppa kau sudah pulang?”seorang gadis menyambut kakaknya yang baru saja masuk ke dalam rumah. Song Minho. Dia tersenyum pada adik satu-satunya itu dan melepaskan sepatunya.
“Dana-ya bagaimana keadaan ibu?”tanya Minho pada adiknya yang bernama Dana itu.
“Ibu jauh lebih baik dari kemarin, ibu sudah mau makan banyak hari ini,”jawab Dana.”Oppa kau sudah makan?mau kubuatkan sesuatu?”tawar Dana.
Minho menggeleng pelan.”Aku sudah makan,tidurlah ini sudah malam,”
Dana mengangguk dan Minho berjalan menuju kamarnya. Namun sebelum membuka pintu dia berbalik menatap Dana yang berdiri di wastafel.
“Dana-ya bagaimana kuliahmu?”tanyanya.
Dana tersenyum,”Baik oppa,”
Bagi seorang Dana, Minho adalah sosok kakak yang sangat bertanggung jawab. Minho rela bekerja hingga larut malam hanya untuk membiayai dia dan ibunya. Usia mereka yang hanya terpaut satu tahun terkadang membuat Dana merasa tidak enak karena hanya Minho yang bekerja,namun Minho selalu melarang adiknya itu karena itu tanggung jawab Minho untuk membiayai adik dan ibunya.
Minho membaringkan tubuhnya ditempat tidur dengan kedua tangan dibelakang kepalanya menatap langit-langit kamarnya. Dia mendesah pelan. Lima tahun lalu dia hanyalah seorang Song Minho anak nakal yang selalu membuat masalah membuat kedua orang tuanya sangat kesal padanya. Bahkan dia pernah diusir dari rumah.Namun semenjak ayahnya meninggal Minho harus menjadi kepala keluarga bagi ibunya yang sedang sakit dan adik satu-satunya Dana. Dia memutuskan untuk berhenti kuliah dan bekerja untuk menghidupi keluarganya dan memastikan Dana melanjutkan kuliahnya. Akhirnya mata Minho pun terpejam.

**

Mata Jiwon terpaku pada tulisan yang sedang dia buat di layar komputer. Tangannya bergerak diatas keyboard memastikan tidak ada kata-kata yang salah. Dahinya mengerenyit sesekali.
“Jiwon-ah,manager Kim mencarinya,”ujar seorang gadis yang berdiri Disampingnya.
Jiwon menoleh. Kim Hae Rin lah yang memanggilnya.
“Ada apa?”tanya Jiwon pada gadis yang lebih tua darinya itu.
Hae Rin mendekati tubuh Jiwon dan berbisik.
“Sepertinya kakakmu akan datang hari ini,”
Jiwon langsung berdiri dari duduknya. Dia pun segera beranjak dari mejanya menuju sebuah ruangan transparan di pojok. Hae Rin menatap gadis itu sambil menggelengkan kepalanya. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada keluarga Jiwon. Dia sendiri kaget ketika pertama kali Jiwon datang untuk bekerja disini. Manager Kim bilang padanya akan ada satu orang yang masuk ke tim-nya dia adalah anak dari pemilik perusahaan tapi manager Kim bilang tidak ada yang boleh tahu kalau dia adalah anak pemilik perusahaan karena tidak ada keluarganya yang tahu kalau gadis itu bekerja di perusahaan ayahnya. Manager Kim berkata padanya karena dia yang akan menjadi atasan langsung Jiwon. Entah apa maksud Jiwon masuk ke perusahaan ayahnya sendiri tanpa memberitahu siapa-siapa. Hae Rin pun tidak banyak bertanya karena itu masalah pribadi Jiwon dan dia bukan orang yang suka ikut campur dengan urusan orang lain.
Tidak lama Jiwon sudah kembali ke tempat duduknya. Hae Rin memiringkan kepalanya,karena mejanya dan meja Jiwon berseberangan dia bisa dengan mudah melihat Jiwon.
“Jiwon-ah kami mau makan siang di restoran yukgaejang di seberang gedung,kau mau ikut?”tanya Hae Rin.
Jiwon memiringkan kepalanya tersenyum dan mengangguk. Sepanjang sisa siang itu Jiwon tampak gugup. Manager Kim bilang kakaknya itu akan datang ke kantor hal yang sangat jarang sekali dia lakukan. Jiwon harus keluar kantor agar tidak bertemu dengan pria itu. Dia melahap dengan malas semangkuk yukgaejang Dihadapannya.
“Kenapa denganmu?”tanya Hae Rin yang duduk Disampingnya.
“Tidak ada,ah Eonni aku akan keluar sebentar setelah makan siang,jam 3 aku akan kembali ke kantor,”jawab Jiwon.
Hae Rin mengangguk sambil meneguk gelas berisi air Dihadapannya.
“Ini tambahan nasinya,”seorang pelayan menaruh semangkuk nasi di depan Hae Rin.
Jiwon menoleh dan terdiam sesaat. Seorang pelayan pria yang mengantarkan nasi untuk Hae Rin sepertinya dia mengenalnya. Jiwon mengikuti jalan pelayan pria itu yang memunggunginya. Jiwon menggerak-gerakan kepalanya berusaha melihat dengan jelas apakah dia benar pelayan pria itu adalah pria yang dikenalnya.
“Hey,ada apa denganmu?”tanya Hae Rin yang merasa aneh dengan tingkah Jiwon.
“Ah tidak apa-apa,”jawab Jiwon dan pelayan pria itu sudah tidak ada.
Selesai makan siang mereka hendak kembali ke kantor. Jiwon menawarkan diri untuk membayar makanan mereka,mengatakan sebagai traktiran karena dia sudah menjadi karyawan tetap di perusahaan. Jiwon berjalan ke kasir,kepalanya bergerak-gerak mencari seseorang yang tadi dilihatnya.
“Nona semuanya 40000 won,”ujar kasir pria itu.
Namun Jiwon tidak mendengarnya dan masih saja mencari orang tadi.
“Nona maaf..”
“Ah berapa semuanya?”tanya Jiwon lagi setelah sadar dia melakukan hal yang aneh.
Jiwon menyerahkan selembar 50000 won.
“Maaf, apakah disini ada pelayan yang bernama Song Minho?”tanya Jiwon ketika kasir itu tengah menghitung kembalian Jiwon.
Pria berkaca mata itu tampak berpikir sejenak.
“Iya ada,”jawabnya sambil menyerahkan kembalian pada Jiwon.
“Ah begitu ya,terima kasih,”
“Terima kasih.”
Jiwon pun keluar restoran itu namun dia masih berdiri di depan jendela besar restoran itu sambil melihat ke dalam. Apakah benar pria yang tadi dia lihat adalah Song Minho.

**

“Minho-ya ada seseorang yang menanyakanmu tadi,”seorang pria berkacamata mata menghampiri Minho yang sedang berganti baju di loker.
“Siapa hyung?”tanyanya balik.
“Seorang gadis, apa dia pacarmu”tanya pria itu lagi.
Minho tertawa dan menggeleng,”Hyung aku tidak punya pacar,”
“Benar tidak mungkin kau punya pacar secantik gadis tadi,”
“Ya…hyung…”

Circle 2 : Rewind

 

46146_original

 

Circle 2

Seorang gadis kecil berlari di lorong sebuah sekolah dasar menuju sebuah kelas. Wajahnya ketakutan dia membuka pintu kelas dengan terburu-buru berlari ke salah satu meja,wajah ketakutannya berubah senang begitu melihat sebuah benda yang dicarinya. Boneka beruang coklat dengan dasi kupu-Kupu berwarna merah. Dengan cepat dia memasukkan boneka tersebut kedalam tas dan berlari keluar kelas. Rambut sebahu nya bergerak-gerak mengikuti langkah kakinya yang semakin cepat untuk segera keluar sekolah. Hingga langkah kakinya terhenti sebelum dia berjalan melintasi lapangan. Kepalanya bergerak-gerak kekiri dan kekanan seakan mencari-cari sesuatu. Dia berbelok ke arah kiri karena dirasanya dari situlah suara yang membuatnya berhenti tadi. Tangan mungilnya menggenggam erat rok birunya. Dia berjalan perlahan hingga sampailah dia didekat tempat bermain. Seorang anak laki-laki berjongkok di dekat perosotan menenggelamkan kepalanya diantara kedua kakinya yang ditekuk dan suara sesenggukan terdengar. Gadis kecil itu mendekat perlahan.
“Apa kau baik-baik saja?”tanyanya sambil berjongkok.
Anak laki-laki itu mendongakkan kepalanya,gadis kecil itu langsung terkejut melihat anak laki-laki ini mengeluarkan darah dari hidungnya,matanya basah oleh air mata.
“Kau berdarah?”tanya gadis kecil itu lagi. Dia berdiri dari jongkoknya.”Tunggu disini akan aku panggilkan orang dewasa,”
Setelahnya gadis kecil itu segera berlari meninggalkan tas mungilnya di hadapan anak laki-laki itu.

**

Ruangan yang berdinding putih ini menjadi sangat terang karena sinar matahari yang langsung masuk dari jendela besar tanpa tirai disamping ranjang besar. Seorang pria tertidur dengan selimut hitam yang menutupi seluruh tubuhnya seakan belum terganggu dengan terangnya sinar matahari yang masuk. Kamar ini begitu luas dan didominasi warna hitam juga putih. Dua buah rak buku dengan kaca berdiri di depan ranjang. Suasana hening kamar ini terganggu dengan sebuah bunyi yang keluar dari jam yang berada di nakas. Tangan pria itu menggapai jam yang terus berbunyi dan mematikannya. Dia mendudukkan tubuhnya sebelum berdiri. Suara ketukan di pintunya tetdengar.
“Hyung,kau sudah bangun?”tanya suara dari luar itu.
“Iya,”jawab pria ini seadanya.
Dia kemudian berjalan ke dalam kamar mandi. Membuka keran di wastafel dan membasuh mukanya. Dia menatap pergelangan tangannya yang muncul tanda kebiruan disana dan dia hanya mendesah pelan.
Dia memulai rutinitas paginya,keluar kamar mandi,mengenakan kemeja hitam dan celana coklat. Kemudian keluar kamar. Seorang pria dengan jas hitam sedang duduk di sofa di ruang tengah yang begitu luas. Sama seperti kamarnya semua di ruangan tengah ini didominasi warna hitam dan putih.
Pria itu berdiri,”Hyung,”sapanya sambil menunduk sedikit.
“Jung Won-ah, kita langsung berangkat saja,aku ada rapat jam 9,”ujar pria dengan kemeja hitam pada pria yang dia panggil Jungwon.
Jungwon menganggukkan kepalanya lalu mengikuti langkah pria berkemeja hitam itu keluar apartemen. Dia sudah bekerja untuk pria yang lebih memilih dipanggil hyung dibanding tuan ini selama tiga tahun. Pria ini memperlakukannya bukan sebagai bawahan melainkan sebagai adik.
“Hyung,kau tidak mau sarapan dulu?”tanya Jungwon ketika mereka di dalam lift.
“Tidak,aku bisa terlambat,”
“Hyung,kau juga ada janji dengan dokter Park sore ini,”lanjut Jungwon.
Pria yang dipanggil Jungwon itu tampak mengerenyitkan dahinya. Apakah dia punya janji dengan dokter pribadinya itu.
“Sepertinya aku tidak bisa datang,aku ada rapat lagi jam 2. Aku akan menghubungi dokter Park kalau begitu,”
Jungwon hanya menganggukkan kepalanya dan berjalan lebih dahulu ketika keluar lift untuk mengambil mobil.

**

“Anak pintar,tidak sakit kan?”seorang gadis berambut sebahu tersenyum lembut pada anak laki-laki yang duduk di ranjang rumah sakit. Matanya sembap dan ada perban di dahinya. Gadis itu berjongkok dihadapan anak laki-laki tersebut dan mengelus kepalanya perlahan. Dia merogoh saku jas dokternya lalu memberikan sebuah permen pada anak laki-laki itu yang langsung disambut senyum ceria.
“Dokter Kang, dokter Park meminta Anda menemuinya,”
Seorang suster mendekat dan menyampaikan pesan pada gadis yang seorang dokter ini. Gadis yang dipanggil dokter Kang itu berdiri dari jongkoknya,mengelus kepala anak laki-laki itu sekali lagi sebelum berlalu pergi.
Dia melintasi gedung perawatan hingga sampai di depan sebuah pintu bertuliskan “Dokter Park Jin Young”. Gadis itu mengetuk pint pelan sebelum mendapat jawaban untuk masuk dari pemilik ruangan. Dia membuka pintu perlahan lalu membungkukkan kepalanya sedikit pada seorang pria tua yang duduk sambil menatap layar komputer dihadapannya.
“Hye Jin-ah duduklah,”ujar dokter itu.
Gadis yang dipanggil Hye Jin itu berjalan mendekat dan duduk dihadapan dokter Park. Pria itu menggeser duduknya sehingga berhadapan dengan Hye Jin. Gadis dengan mata coklat itu tampak bingung kenapa tiba-tiba dia dipanggil ke ruangan dokter senior itu. Dokter yang selain dia anggap sebagai gurunya juga seperti ayahnya dan memang ayahnya berteman baik dengan dokter Park. Dia lah yang membuatnya masih memiliki keinginan untuk menjadi dokter meski dia kehilangan kedua orang tuanya saat masih menjalani pendidikan kedokteran. Oleh seba itu dia sangat menghormati pria Dihadapannya ini.
“Karena aku akan pergi ke Amerika selama 3 bulan, aku ingin meminta bantuanmu,bisa kan?”tanya dokter Park.
“Tentu saja, saya akan membantu sebisa saya. Apa yang bisa saya bantu seonsaengnim?”tanya Hye Jin.
dokter Park berdeham pelan.”Aku mempunyai seorang pasien Hemofilia A, kondisinya cukup stabil saat ini tapi aku harus memberikannya obat setiap dua minggu sekali dan terkadang dia datang menemuiku jika merasa memiliki keluhan seperti lebam atau mimisan. Karena aku akan pergi ke Amerika selama tiga bulan,aku ingin meminta bantuanmu untuk menjadi penggantiku.”
Mata Hye Jin membulat, bagaimana bisa dokter Park memberikannya tanggung jawab untuk menggantikannya menjadi dokter untuk pasien pria itu. Dia merasa belum memiliki pengalaman yang banyak.
“Seonsangnim kenapa bukan dokter Lee saja yang menggantikan?”tanya Hye Jin hati-hati.
“Tidak bisa, aku lebih percaya padamu, tidak boleh ada yang tahu tentang kondisinya,”jawab dokter Park.
Hye Jin menautkan alisnya,bingung.
“Aku sudah mengumpulkan riwayat kesehatannya di sebuah file,kau bisa membacanya. Dia akan datang sore ini,aku akan mengenalkanmu padanya,”lanjut dokter Park sambil menyerahkan sebuah USB pada Hye Jin dan gadis itu menerimanya.
“Seongsaengnim,memangnya siapa pasien Anda itu?”tanya Hye Jin tampak ragu-ragu untuk bertanya tapi dia juga harus tahu siapa pasien yang harus dia tangani sampai tidak boleh ada orang yang tahu.
“Namanya Kim Jinwoo,”

**
“Jinwoo-ya,”seorang pria melambaikan tangannya ketika matanya menangkap sosok yang sudah ditunggunya sejak tadi.
Pria yang dipanggil Jinwoo itu langsung menghampiri sebuah meja di sebuah restoran daging.
“Kau bertanya padaku apakah aku bisa datang tapi kau malah terlambat,”ujar pria yang memanggilnya.
“Maaf Seunghoon-ah aku sibuk hari ini,kemana yang lain?”tanya Jinwoo seraya duduk disamping pria bernama Seunghoon itu.
“Min Woo sedang ke toilet,kupikir kau malah tidak jadi datang,”jawab Seunghoon.
“Aku ada rapat tadi,aku benar-benar minta maaf,”ucap Jinwoo.
Seunghoon menepuk bahu Jinwoo,”Aigoo pemilik perusahaan memang terlihat berbeda,”kemudian tertawa pelan dan Jinwoo hanya tersenyum.
Jinwoo dan Seunghoon adalah teman semasa sekolah menengah. Mereka sering bertemu untuk makan bersama beberapa bukan sekali. Keduanya sangat populer saat masih sekolah menengah karena ketampanan mereka. Jinwoo memiliki wajah yang biasa disebut “Pretty Boy”. Dia memiliki mata bulat dengan tatapan teduh. Wajah kecil dan hidung yang tinggi. Semua orang selalu menganggapnya sempurna dengan wajah tampan juga kehidupan yang mewah karena dia adalah anak pemilik jaringan supermarket terbesar di Korea. Namun sebenarnya banyak hal yang Jinwoo tutupin yang akan menunjukkan ketidaksempurnaan hidupnya.
Mereka asyik bercerita sambil memanggang daging. Seunghoon menuangkan soju ke gelas Jinwoo. Pria itu menggeleng cepat,dia tidak boleh mabuk karena dia sendiri ke tempat ini tanpa Jungwon. Namun Seunghoon berkata kalau hanya satu gelas dan akhirnya Jinwoo meminumnya dalam sekali teguk.
“Jinwoo-ya kau terlihat pucat,apa kau sakit?”tanya Min Woo yang sejak tadi memperhatikan ada yang berbeda pada Jinwoo.
Dengan cepat Jinwoo menggeleng.

**

Jinwoo menatap pantulan dirinya di cermin,rambutnya setengah basah karena baru selesai mandi. Dia mendapati sebuah tanda kebiruan dibahu telanjangnya. Dia menyentuhnya sesaat dan mendesah pelan. Sejujurnya Jinwoo merasa lelah,rasanya dia ingin keluar dari perusahaan. Hidup Jinwoo sama sekali tidak sempurna. Dengan kondisinya yang sebagai anak dari istri kedua ayahnya,menjadi pemimpin perusahaan sangatlah berat. Bagaimana ibu tirinya dan kakak tirinya begitu membencinya, dia tidak tahu kenapa ayahnya malah mewasiatkan menjadikannya pengganti ayahnya. Dia ingin sekali bisa memberikan jabatan ini pada kakaknya sehingga semuanya selesai bahkan kalau perlu dia tidak ingin memiliki hubungan lagi dengan keluarga Kim. Banyak hal yang harus dia rahasiakan sudah membuatnya pusing. Dia hanya ingin hidup normal seperti sebelum ayahnya membawanya ke rumah keluarga Kim.
Jinwoo keluar kamar mandi, memaki kaus hitam dan celana tidur. Dia beranjak ke dapur mencari sesuatu di atas meja makannya. Sebuah botol yang berisi tablet,dia keluarkan dua buah lalu meminumnya. Tangannya bergerak menuang air ke gelas sebelum menghabiskan isi gelas itu dalam sekali teguk.

**
“Hye Jin-ah,kau sudah pulang?”sebuah suara berat terdengar bersamaan dengan seorang pria yang masuk ke dalam sebuah rumah sederhana. Begitu pintu masuk dibuka terlihat sebuah dapur kecil. Disana ada seorang gadis yang berdiri di depan kompor,sibuk dengan masakannya. Dia Hye Jin.
Hye Jin menoleh ke sumber suara. Seorang pria dengan kemeja coklat masuk ke rumah dengan membawa sebuah kantong plastik.
“Eoh,Seungyoon-ah, iya,”
Pria bernama Seungyoon itu berjalan ke ruang tengah yang berisi sebuah sofa meja dan televisi. Dia mendudukkan tubuhnya di sofa dan menaruh kantong plastik di meja.
Hye Jin menghampirinya dengan semangkuk besar Kimchi jigae yang baru saja dia buat.
“Aku pikir kau ada jadwal jaga malam hari ini,”ucap Seungyoon.
Hye Jin menaruh Kimchi jigaenya di meja.”Tidak,besok. Kenapa kau pulang cepat?”
Seungyoon berpindah menjadi duduk dilantai dan menatap lapar Kimchi jigae buatan Hye Jin. “Besok pagi aku akan ke Busan, hari minggu kan peringatan kematian ayah,aku harus menemani ibu,”
“Ah iya,aku lupa kalau hari minggu peringatan kematian paman,”
Hye Jin datang dengan semangkuk nasi,dia memberikannya pada Seungyoon yang langsung disambut pria berwajah bulat itu. Hye Jin duduk berhadapan dengan Seungyoon.
“Maaf aku tidak bisa ikut ke Busan,sampaikan Maafku pada bibi,”ujar Hye Jin.
“Ibu tahu kau dokter yang sibuk,”ujar Seungyoon seraya tertawa pelan.
Keduanya sibuk dengan melahap nasi di mangkuk mereka. Sesekali mereka berbicara tentang hal-hal menarik yang mereka temui hari ini. Seungyoon adalah sepupu Hye Jin mereka sudah tinggal bersama semenjak sekolah menengah.Seungyoon dulu tinggal di Busan dan pindah ke Seoul ketika masih taman kanak-kanak namun ketika Seungyoon sekolah menengah,keluarga Seungyoon kembali ke Busan tapi Seungyoon tetap di Seoul dan tinggal bersama Hye Jin dan keluarganya. Ketika kedua orang tua Hye Jin meninggal, gadis itu menjual rumah orang taunya karena tidak ingin terlarut kesedihan dan membeli rumah yang lebih kecil yang sekarang dia tempati bersama Seungyoon. Hye Jin merasa bersyukur memiliki Seungyoon yang selalu ada bersamanya selama ini,disaat keadaan terburuk terutama saat kedua orang tua Hye Jin meninggal, Seungyoon ada Disampingnya menyemangatinya. Selain Dr.Park,Seungyoon adalah orang yang sangat berharga untuk Hye Jin.
“Kau tidak apa-apakah aku tinggal sendiri?”tanya Seungyoon yang sedang mencuci piring sehabis makan malam.
Hye Jin yang tengah menonton televisi tertawa pelan”Ya ampun Seungyoon-ah aku bukan anak kecil,aku tidak masalah ditinggal sendiri,”
“Baiklah jika ada sesuatu hubungi aku,”
Seungyoon sangat menyayangi Hye Jin. Gadis yang lebih tua setahun darinya namun dia tidak pernah mau memanggilnya nuna karena terkadang Hye Jin tidak bersikap lebih dewasa darinya. Dia berjanji untuk menjaga Hye Jin apalagi sejak kedua orang tuanya meninggal. Meski Hye Jin termasuk gadis yang kuat menurutnya namun tetap saja, hanya dia orang terdekat Hye Jin sekarang,hanya dia yang bisa Hye Jin jadikan sandaran. Maka dia harus selalu ada untuk Hye Jin.
Malam itu Hye Jin tidak bisa memejamkan matanya meski dia sudah membaca banyak jurnal,buku,matanya tetap saja terjaga. Dia kembali teringat percakapannya dengan dokter Park tadi siang dan satu nama yang terus terngiang dikepalanya.Kim Jinwoo.

**
Hye Jin tengah serius membaca diruangannya ketika sebuah tangan menepuk bahunya. Dia terlonjak kaget.
“Hye Jin-ah,”sapa seorang gadis dengan rambut pixie. Dia kemudian duduk di kursi kosong disamping Hye Jin.
“Sunmi sunbae,waeyo?”tanya Hye Jin sambil menutup buku bacaannya.
“Ada urusan apa kau ke ruangan dokter Park dua hari yang lalu?”tanya gadis bernama Sunmi.
“Ah,tidak ada,”jawab Hye Jin singkat sambil tersenyum.
Sunmi menyipitkan matanya mencari tahu apa yang Hye Jin sembunyikan karena tidak biasanya Hye Jin dipanggil oleh dokter Park keruangannya. Biasanya dokter itulah yang menghampiri Hye Jin di ruangan dokter ini.
“Baiklah,oh ya,aku ingin mengenalkanmu dengan seseorang,”lanjut Sunmi.
“Sunbae,berhentilah mengenalkanku dengan pria-pria itu,”ujar Hye Jin yang mulai merasa gerah karena Sunmi sunbae-nya ini sedang giat-giatnya mengenalkan dirinya kepada banyak pria. Karena Sunmi tahu Hye Jin belum pernah memiliki kekasih sepanjang 27 tahun hidupnya ini. Padahal Hye Jin tampak tidak peduli akan hal itu karena banyak hal yang lebih penting untuk dia pikirkan saat ini.
“Dokter Kang,ada seseorang yang menunggu Anda di ruang dokter Park,”seorang suster masuk ke dalam ruangan.
Hye Jin tampak bingung. Siapa yang menemuinya? Ah pasien dokter Park kah?
Dia pun keluar ruangan dan berjalan ke tempat dokter Park. Dia mengetuk pintu sebelum membukanya dan masuk.
“Maaf sudah lama menunggu,saya…,”
Ucapan Hye Jin terhenti ketika dia melihat seorang pria yang mulanya duduk di sofa lalu berdiri, seorang pria muda yang kini menundukkan kepalanya sekilas dan tersenyum membuat Hye Jin menjadi canggung.
“Selamat siang dokter Kang,”sapa pria itu.
Hye Jin berjalan mendekat ke arah pria itu dengan kikuk. Dia menundukkan kepalanya sekilas.
“Maaf membuat Anda lama menunggu, saya Kang Hye Jin,dokter yang ditunjuk untuk menggantikan dokter Park selama beliau di Amerika,”Hye Jin memperkenalkan dirinya.
“Iya, dokter Park sudah mengatakannya pada saya,maaf dua hari yang lalu saya tidak sempat datang, saya Kim Jinwoo,”pria itu mengulurkan tangannya.
Hye Jin dengan ragu menyambut uluran tangan pria itu.
“Senang bertemu dengan Anda,”ujar Jinwoo ramah.
“Senang bertemu dengan Anda juga,”

 

Circle 1 : No String Attached

3faaff3ff4999fec8ba18ba36aac6e40.jpg

 

Circle 1

Seorang pria tinggi dan tegap berdiri dihadapan sebuah cermin yang memantulkan tubuh tinggi sempurnanya dengan rambut hitam kecoklatan yang ditata rapih. Tangannya dengan perlahan mengancingkan kancing di lengan kemeja putihnya lalu mengambil jas hitam yang dia taruh diatas ranjangnya. Dengan langkah pasti dia keluar kamarnya. Dia berhenti sesaat di depan pintu kamarnya menatap lurus kedepan,ke sebuah pintu kamar yang masih tertutup. Dia berjalan mendekati pintu itu tangannya tergerak untuk mengetuk pintu untuk membangunkan seseorang di dalam namun dia urungkan . Dia pun berlalu begitu saja dari hadapan kamar itu dan berjalan menuju dapur.
Rumahnya begitu besar dengan banyak jendela. Tampak sekali kalau pria ini bukanlah orang sembarangan. Perabotan yang dia miliki pun tidak bisa dibilang murah. Seluruh rumah ini tampak tertata sangat rapi dan sempurna seperti kebanyakan rumah di cerita drama yang sering diputar di televisi.
Kaki panjang itu sampai di dapur di meja makan sudah ada sepiring roti panggang,telur dan bacon. Dia mengambil secarik post-it yang ditempel disebelah piring tersebut.

Aku akan berangkat ke kantor pukul 10,jadi jangan bangunkan aku dan habiskan sarapanmu.

Dia menarik kursi dan duduk dihadapan piring tersebut. Melirik coffee maker di dekat kulkas yang juga sudah berisi kopi. Sepagi apa gadis itu bangun sehingga sudah menyiapkan semua ini. Pikirnya. Dia sedikit terlonjak kaget ketika sesuatu menyentuh kakinya. Makhluk dengan ekor yang terus bergerak-gerak dengan sorot mata antusias. Seekor anjing.
“Haute-ya,tidurmu nyenyak?”tanya pria ini sambil menepuk pelan kepala anjing berwarna abu-abu gelap. Anjing itu tidak menjawab hanya kibasan ekornya semakin cepat.
Pria itu mengambil kopi sementara anjing itu terus mengikutinya,menikmati sarapannya dalam diam hanya dalam waktu 15 menit. Setelahnya dia sudah berjalan keluar rumah mengeluarkan mobil mewah berwarna hitam miliknya dan dia pun pergi.

**

Seorang gadis dengan kaus berwarna kuning dan jeans hitam serta sling bag hitam memasuki dapur,seekor anjing langsung menyapanya begitu mendapati piring kotor di wastafel. Pria itu sudah pergi rupanya.
“Haute-ya ayahmu sudah pergi Eoh?”tanya gadis berambut ikal panjang yang hari ini mengikatnya bentuk pony tail. Dia menggaruk kepala anjing yang terus saja mengelilingi kakinya. Senang melihat satu lagi majikannya sudah bangun.
Gadis itu mengambil jus jeruk di dalam kulkas menuangnya ke dalam gelas dan menghabiskan isi gelas tersebut dalam sekali teguk. Dia menaruh gelas kotornya ke wastafel,dia akan mencucinya setelah pulang nanti. Dengan bergegas dia mengenakan boots hitamnya mengelus kepala anjing hitamnya yang mengekorinya terus sampai akhirnya di pergi.

**

“Hai Jiwon,”sapa gadis itu sambil menepuk kepala seorang gadis yang tengah sibuk menatap layar komputernya.
“Ya!Hae Rin Eonni kau tahu ini sudah jam berapa Eoh?”seru gadis yang dipanggil Jiwon tadi.
Gadis yang bernama Hae Rin itu tampak tidak peduli,dia duduk di kursinya menyalakan komputer Dihadapannya. Kim Hae Rin seorang gadis berusia 27 tahun sudah menjadi leader sebuah tim di sebuah perusahaan majalah yang cukup terkenal di Korea Selatan. Wajahnya kecil dengan mata yang juga kecil namun tajam,dia lebih suka menggunakan kaus dan jeans setiap ke kantor. Bersifat sangat bebas dan tidak suka dikekang,meski begitu dia selalu bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Ini sudah tahun kelimanya bekerja ditempat ini namun pencapaiannya luar biasa hingga dipercaya untuk memimpin sebuah tim.
“Aku sudah mengirimkan file-nya ke e-mail Eonni,”ujar gadis bernama Jiwon yang duduk dihadapan Hae Rin.
Hae Rin hanya menggumam pelan sembari membuka e-mail dari Jiwon. Dia menatap file yg diberikan Jiwon beberapa saat.
“Kurasa kita memang butuh seseorang untuk menggambar, Gyu Won sama sekali tidak bisa menggambar tsk aku akan bicara dengan manajer Kim kalah begitu,”ujar Hae Rin.”Ah,Jiwon-ah kau ikut acara makan malam tim nanti?”tanyanya.
“Tentu saja,”jawab Jiwon dengan tangan yang bergerak diatas keyboard.
“Baguslah kalau begitu,”
Ting
Ponsel Hae Rin berbunyi sebuah pesan muncul dilayarnya.

Seunghoon
Kau tahu dimana aku menaruh buku hijau yang didalamnya ada beberapa kertas yang kulipat?

Hae Rin berdecak pelan. Kebiasaan. Pria bernama Seunghoon selalu mengirimkannya pesan untuk menanyakan dimana keberadaan barangnya yang ini atau yang itu. Padahal Hae Rin tidak pernah menyentuh barang-barang miliki pria itu bagaimana dia bisa tahu lokasi barang yang pria ini cari. Hae Rin mengambil ponselnya mengetikkan balasan.

Kau sudah mengeceknya di laci meja kerjamu di rumah?

Ini aku sedang di rumah dan aku tidak menemukannya

Baru saja hendak membalas pesan dari pria itu,sebuah pesan masuk lebih dulu.

Ah kau benar,ada di laci di meja kerjaku. Terima kasih.

Hae Rin tersenyum simpul. Tidak pernah berubah. Dia meletakkan ponselnya kembali dan matanya kembali fokus ke layar komputer menyelesaikan pekerjaannya.

**

“Aku akan mencoba mengeceknya besok paman,”tangan seorang pria terulur mengambil map hitam di meja seorang pria tua. Pria tua itu mengangguk lalu berdiri dari duduk nya. Dia tersenyum pada pria muda dihadapannya. Jika dilihat sepintas ada setitik kemiripan diantara mereka.
“Kau sudah bekerja keras Seunghoon-ah,”ujar pria tua yang dipanggilnya paman.
Lee Seunghoon anak laki-laki satu-satunya keluarga Lee, calon penerus perusahaan milik keluarga Lee yang bergerak di bidang perhotelan. Pria tua Dihadapannya ini adalah pamannya,adik ayahnya. Pamannya menggantikan posisi ayahnya ketika tiga tahun yang lalu ayah Seunghoon meninggal. Saat itu seunghoon belum siap untuk menggantikan posisi ayahnya. Dia memilih untuk melihat bagaimana pamannya bekerja sampai dia siap untuk memimpin perusahaan.
Seunghoon berpamitan pada pamannya sebelum keluar ruangan. Dia kembali berjalan ke ruangannya. Seperti sebuah cerita drama dimana ada CEO tampan yang selalu menjadi perhatian pegawainya. Seunghoon pun begitu meski dia bukan CEO untuk sekarang tapi dia sudah menjadi pusat perhatian pegawainya. Tubuhnya yang tinggi seperti model,wajah yang tampan dan senyum yang memikat. Ya Seunghoon sangat ramah pada siapapun di kantornya,dia tidak pernah membeda-bedakan semua pegawainya.
Ketika dia kembali ke ruangannya. Ponsel hitamnya berbunyi sebuah pesan masuk.

Kim Jinwoo
Kau akan datang malam ini?

Dengan cepat Seunghoon membalas dengan jawaban iya pesan dari teman sekolah menengahnya dulu. Hari ini mereka berjanji untuk makan malam bersama.

**

“Jiwon-ah kau yakin akan pulang sendiri?”tanya Hae Rin ketika mereka baru saja selesai makan malam bersama timnya. Beberapa orang sudah pergi lebih dahulu dan tersisalah Hae Rin dan Jiwon.
Karena Jiwon usianya paling muda diantara yang lain Hae Rin khawatir karena gadis itu akan pulang sendiri selarut ini.
“Tenang saja Eonni aku baik-baik saja,aku duluan ya,”Jiwon pun beranjak pergi sambil tersenyum.
Hae Rin memperhatikan gadis itu sampai menghilang dibalik tikungan sebelum dia berjalan ke arah sebaliknya menuju stasiun Subway.
Di stasiun dia berhenti sejenak di mini market dan membeli dua kotak susu pisang. Karena hari sudah larut tidak banyak orang yang menggunakan Subway. Hae Rin masih bisa duduk dari stasiun Hongdae hingga stasiun tujuannya. Dia menatap jendela kereta yang gelap. Banyak hal yang dia pikirkan akhir-akhir ini. Sudah berapa lama dia melakukan ini? Lima tahun semenjak ayahnya pergi dari rumah dan ibunya meninggal. Jika saja ibunya masih ada mungkin dia sudah dimaki-maki karena melalukan hidup seperti ini tapi dia tidak punya pilihan dan dia menikmatinya,tidak ada gunanya baginya hidup dengan benar saat ini setelah semua yang terjadi. Apa yang dia lakukan hanya untuk mengobati rasa sakit yang dia rasakan.
Pintu kereta terbuka Hae Rin berjalan keluar kereta mengambil exit menuju rumah megah yang dia tinggali bersama seorang pria bernama seunghoon. Sampai di depan rumah dia melihat semuanya masih gelap hanya lampu tengah yang sudah hidup. Pria itu pasti belum pulang. Dia tidak tahu pria itu kemana, Hae Rin bukan seorang gadis yang penasaran terlebih lagi mereka tidak memiliki hubungan apa-apa.
Haute menggonggong pelan begitu Hae Rin masuk rumah dan semua lampu menyala.
“Ayahmu belum pulang?”tanya Hae Rin sambil melewati tubuh haute anjing kesayangan Seunghoon.
Anjing itu mengekorinya hingga masuk ke dalam kamar. Hae Rin membersihkan mukanya,menyikat gigi dan mengganti bajunya dengan celana pendek dan kaus kebesaran. Banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan hari ini dan dia ingin segera tidur.
Begitu selesai membersihkan dirinya. Hae Rin kembali keluar kamar,haute yang tadi mengikutinya kini sudah berjalan ke sofa dan menyamankan tubuhnya untuk bersiap tidur. Hae Rin membuka isi kulkas mengeluarkan susu di kotak dan menuangkannya ke gelas sampai sepasang tangan melingkari pinggangnya dan sebuah kepala bersandar di punggungnya.
“Seunghoon-ah,”ujarnya seakan sudah tahu siapa yang sedang memeluknya dari belakang seperti ini.
Pria bernama Seunghoon ini hanya menggumam pelan.
“Kau minum?”tanya Hae Rin mencium bau alkohol dari tubuh Seunghoon.
Lagi-lagi Seunghoon hanya menggumam mengiyakan.
“Kau..,”
“Hanya sedikit,”potong Seunghoon.
Hae Rin mendesah pelan.”Akan aku ambilkan obat alergimu,”
Hae Rin tau Seunghoon tidak bisa minum alkohol. Dia punya alergi terhadap alkohol,minum sedikit tidak masalah sebenarnya tapi tetap saja terkadang alergi itu muncul meski hanya minum sedikit. Lima tahun tinggal bersama Seunghoon tentu membuatnya sangat mengerti dengan hal ini.
Hae Rin berbalik hendak melepaskan diri dari pelukan Seunghoon namun pria itu menahannya. Dia menatap Hae Rin lembut. Sebelum bibirnya menyentuh bibir Hae Rin perlahan sebelum Seunghoon mulai melumat bibir Hae Rin. Gadis berambut panjang itu seakan sudah mengerti tangannya otomatis melingkar ke leher Seunghoon menarik pria itu semakin dalam menciumnya. Hae Rin mulai membalas ciuman Seunghoon. Hingga Seunghoon mengangkat tubuh Hae Rin dan membawanya kamarnya.

**

Seunghoon dengan kemeja birunya sudah berada di dapur sepagi ini. Matanya menangkap sosok Hae Rin yang tengah sibuk memanggang roti. Hae Rin menoleh sebentar pada Seunghoon.
“Sebentar lagi sarapanmu jadi,”ucapnya.
Seunghoon hanya mengangguk dan duduk di meja makan. Setelahnya Hae Rin menaruh sepiring roti dihadapan Seunghoon.
“Aku akan ke Jepang dua hari besok,”ucap Hae Rin yang duduk dihadapan Seunghoon.
Mata kecil pria itu menyipit.
“Untuk pekerjaan,”jawab Hae Rin seakan tahu maksud tatapan Seunghoon.
“Makanlah dengan benar selama aku pergi,”lanjut Hae Rin.
“Tentu saja, kau mau kuantar?”tawar Seunghoon sambil meminum jus jeruknya.
“Tidak usah,sejak kapan ada kata mengantar di kamus hubungan kau dan aku,”Hae Rin beranjak dari duduknya karena roti panggang miliknya sudah jadi.
Seunghoon menatap Hae Rin yang sekarang memunggunginya dengan tatapan yang sulit diartikan. Hubungan apa yang mereka jalani sekarang? Tidak ada namanya atau namanya terlalu asing didengar oleh orang-orang di sekitar mereka.
“Aku pergi,”ujar Seunghoon beranjak dari duduknya.
“Eoh,”Hae Rin berbalik dan menatap punggung Seunghoon yang berjalan menjauh.

**

“Seunghoon-ah malam ini kau ada acara?”tanya paman Seunghoon ketika mereka keluar ruangan selesai rapat.
“Tidak ada,ada apa paman?”tanyanya.
“Aku ingin mengajakmu makan malam dan mengenalkanmu dengan seseorang,”jawab paman Seunghoon.
“Oh,siapa?”tanya Seunghoon lagi.
“Tuan Cho, dia ingin mengenalkan putrinya juga Padamu,”jawabnya lagi.
Seunghoon tertawa pelan,”Apa paman sedang berusaha menjodohkanku lagi?”
Paman seunghoon menggeleng,”Tidak hanya mengenalkanmu saja tapi jika kau cocok tidak masalah bukan,”
“Lagipula kau sudah waktunya untuk memiliki seorang kekasih,”ujar paman seunghoon lagi sambil menepuk bahu pria tampan itu.
Seunghoon hanya tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya. Benar apa kata pamannya. Tidak ada masalah bertemu dengan seorang gadis,dia juga tidak mempunyai pacar hanya seseorang yang entah bisa dia sebut apa. Seseorang yang sudah dikenalnya sejak dia kecil yang kini menjalani hubungan yang rumit dengannya,tidak bisa dibilang rumit juga. Keduanya sama-sama tidak peduli dengan kehidupan pribadi masing-masing,tidak pernah ikut campur. Semuanya jelas untuk hal ini namun semuanya tidak jelas untuk perasaannya.
Seunghoon kembali ke ruangannya. Ditatapnya layar ponsel miliknya tidak ada tanda-tanda pesan dari seseorang. Jari panjang Seunghoon bergerak mencari sebuah nama. Apa gadis itu sudah sampai Jepang?pikirnya. Dia pun memberanikan diri menghubungi nomor yang sebenarnya dia ingat luar kepala.
“Halo,”
“Eoh seunghoon-ah ada apa?”
“Kau sudah sampai?”
“Iya dua jam yang lalu,ada apa?”
“Baguslah,tidak ada,”
“Kau yakin?”
“Hmm paman menyuruhku ikut kencan buta,”
“Ah bagus, lalu?”
“Menurutmu?”
“Apa sekarang kau meminta pendapatku? Aigoo kau lucu sekali seunghoon-ah. Lakukanlah, tidak lucu kan kau masih saja belum punya pacar di usiamu sekarang,pergilah,semoga beruntung, oh ya aku akan sangat sibuk dua hari kedepan jadi sampai ketemu lusa ya,”
Seunghoon meletakkan kembali ponselnya. Dia mendesah pelan.

 

Circle

 

IMG_3936.JPG

Ruangan yang temaram hanya disinari lampu tidur dan sayup-sayup suara nafas teratur dari kedua orang yang menutupi tubuh mereka dengan selimut diatas ranjang. Seorang gadis terduduk diatas ranjang menurunkan kaki telanjangnya menyentuh karpet dibawahnya. Dia menunduk membiarkan rambut ikalnya yang berantakan terjatuh disamping wajahnya,tangannya bergerak mengambil pakaian miliknya yang tergeletak dibawah. Mengenakan pakaian itu satu persatu dan bersuara. Dia berbalik setelah semua pakaian dia kenakan,menatap sesosok tubuh setengah telanjang yang masih berbaring memunggunginya. Sebuah tato berbentuk huruf W tercetak jelas dikulit seputih susu itu tepat di punggung di bawah leher. Gadis itu berbalik berjalan perlahan seakan tidak ingin membangunkan seseorang tersebut. Dibukanya pintu kamar ini perlahan sebelum menutupnya. Langkahnya gontai memasuki ruangan yang tepat berseberangan dengan kamar ini. Pintu tertutup dan langkah kakinya membawanya berjalan ke kamar mandi yang ada di kamar. Tangannya bergerak membuka keran air dan membasuh mukanya,menatap pantulan wajahnya di cermin sejenak sebelum dia kembali ke kamar. Suara petir membuat dia menoleh kearah jendela besar di kamar yang tirainya belum tertutup. Hujan pun mulai turun dengan derasnya. Seakan tidak peduli gadis itu naik ke tempat tidur dan menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut dan memejamkan matanya.

“Suatu saat ini semua akan berakhir,saat itu bisa tiba besok,lusa,atau tahun depan tapi aku tidak akan pernah menyesali apa yang aku jalani sekarang”
Kim Hae Rin

“Ketika semuanya berakhir suatu saat nanti,aku akan mengatakan yang sebenarnya padanya”
Lee Seung Hoon

IMG_3927.JPG

**

IMG_3928.JPG

Seorang gadis kecil berlari di lorong sebuah sekolah dasar menuju sebuah kelas. Wajahnya ketakutan dia membuka pintu kelas dengan terburu-buru berlari ke salah satu meja,wajah ketakutannya berubah senang begitu melihat sebuah benda yang dicarinya. Boneka beruang coklat dengan dasi kupu-Kupu berwarna merah. Dengan cepat dia memasukkan boneka tersebut kedalam tas dan berlari keluar kelas. Rambut sebahu nya bergerak-gerak mengikuti langkah kakinya yang semakin cepat untuk segera keluar sekolah. Hingga langkah kakinya terhenti sebelum dia berjalan melintasi lapangan. Kepalanya bergerak-gerak kekiri dan kekanan seakan mencari-cari sesuatu. Dia berbelok ke arah kiri karena dirasanya dari situlah suara yang membuatnya berhenti tadi. Tangan mungilnya menggenggam erat rok birunya. Dia berjalan perlahan hingga sampailah dia didekat tempat bermain. Seorang anak laki-laki berjongkok di dekat perosotan menenggelamkan kepalanya diantara kedua kakinya yang ditekuk dan suara sesenggukan terdengar. Gadis kecil itu mendekat perlahan.
“Apa kau baik-baik saja?”tanyanya sambil berjongkok.
Anak laki-laki itu mendongakkan kepalanya,gadis kecil itu langsung terkejut melihat anak laki-laki ini mengeluarkan darah dari hidungnya,matanya basah oleh air mata.
“Kau berdarah?”tanya gadis kecil itu lagi. Dia berdiri dari jongkoknya.”Tunggu disini akan aku panggilkan orang dewasa,”
Setelahnya gadis kecil itu segera berlari meninggalkan tas mungilnya di hadapan anak laki-laki itu.

Aku akan membantunya terus hidup
Kang Hye Jin

Aku hanya tidak ingin melihatnya menangis ketika aku sudah tidak ada
Kim Jin Woo

IMG_3930

 

**

IMG_3929.JPG

“Namamu siapa?”
“Jangan menggunakan rok pendek jika akan keluar malam hari”
“Kau tahu, kita menghabiskan makanan lebih banyak dari orang disamping kita”
“Yang menang harus mentraktir makan”
“Maaf,aku mencintaimu,”
“Aku menyerah,”

Senyumnya membuatku tersenyum,tawanya membuatku ikut tertawa. Aku tidak peduli siapa dia,aku mencintainya.
Choi Ji Won

Karena aku mencintainya tanpa tahu siapa dia. Aku bodoh.
Song Min Ho

**

 

IMG_3934

Mata gadis itu tidak pernah lepas dari menatap seseorang yang hanya berdiri beberapa meter Dihadapannya yang dengan percaya dirinya berbicara dihadapan banyak orang. Kagum,tentu saja. Tanpa dia sadari senyuman kecil terbentuk di wajah gadis itu. Kacamata bulatnya yang menutupi mata indah yang juga seakan ikut tersenyum. Sudah berapa lama dia mengagumi sosok tinggi itu. 10 tahun? Tidak,lebih dari itu. Ketika semua orang sudah keluar ruang rapat dia berdiri di dekat pintu menunggu sosok laki-laki itu.
“Kalian sudah bekerja keras,”
Satu kalimat yang langsung membuat gadis itu tersenyum senang meski kalimat itu bukan hanya ditunjukkan padanya. Dia memandangi punggung laki-laki itu yang semakin menjauh.

Jika sampai nanti pun dia tidak melihatku, aku tidak apa-apa. Berada didekatnya sudah cukup.
Park Se Ri

Gadis bodoh yang selalu ada disekitarku.
Kang Seung Yoon

IMG_3933

 

이밤

Seorang gadis berambut sebahu dengan tudung hoodie pink yang menutupi sedikit rambutnya berdiri dipinggir jalan. Kedua telinganya terpasang earphone putih,pandangannya lurus ke seberang jalan. Tidak tampak terusik dengan banyaknya orang yang berlalu lalang Dihadapannya karena kebetulan dia berdiri didepan tempat penyebrangan. Sudah 30 menit dia berdiri disini menunggu seseorang yang sudah berjanji akan bertemu dengannya. Malam semakin larut dan orang-orang yang berlalu-lalang sudah semakin sepi namun gadis itu belum juga beranjak dari tempatnya.
Dia mengambil ponsel hitam di saku hoodienya. Menatap layar ponselnya yang tidak ada pemberitahuan apapun. Gadis bermata besar itu mendesah pelan. Dia kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku hoodienya.
Tiba-tiba seorang pria langsung menarik tangan gadis ini dan menggenggam erat tangannya. Gadis itu langsung menoleh dan tampak kaget namun sejurus kemudian mendengus kesal begitu tahu siapa yang sedang menggenggam tangannya. Seorang pria yang jauh lebih tinggi darinya dengan topi hitam dan masker berwarna senada topinya,jaket ungu tua dan celana jeans hitam. Alis tebalnya tampak paling menonjol dari wajahnya yang setengahnya tertutup masker.
“Mianhae,”ujar pria itu yang merasa bersalah karena dia datang sangat terlambat dari waktu yang dia janjikan. Selain hanya malam hari mereka bisa bertemu terkadang dia juga harus sembunyi-sembunyi dan mencari waktu yang tepat untuk bertemu dengan gadis yang sudah dua tahun ini menjadi kekasihnya.
Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya memaklumi meski sebenarnya dia kesal. Dia tahu sesibuk apa pria Disampingnya ini. Bahkan rasanya sudah lama sekali sejak mereka terakhir bertemu. Mereka hanya bisa bertukar kabar melalui telepon,SMS atau social media. Posisi pria ini yang terkadang berada diluar negeri juga membuatnya susah untuk menghubunginya.
“Kau sudah makan?”tanya pria bersuara berat itu.
“Sudah,kau?”tanya gadis itu.
Pria itu mengangguk dan menurunkan maskernya.
Gadis itu menaikkan tangannya yang membawa sebuah plastik hitam.
“Aku membeli odeng tadi,mari kita makan bersama,”ujarnya.
Pria tinggi itu mengangguk dan tersenyum senang.
“Jiwon-ah ayo,”ujar pria itu lagi sambil menarik tangan kekasihnya untuk menyebrang jalan.
Mereka berjalan melewati underpass yang sudah sepi. Tidak banyak orang lagi yang berlalu-lalang di jam seperti ini dan itu sangat bagus bagi mereka. Keduanya masih bergandengan tangan menyusuri underpass yang sedikit menurun ini. Ketika mereka kembali ke atas, terlihatlah sebuah taman dan lurus semakin ke depan, jembatan yang membelah sungai Han. Mereka memang berencana bertemu di Banpo malam ini.
Ketika sampai di dekat sungai mereka duduk dipinggirnya.
“Bagaimana harimu?”tanya gadis yang bernama Jiwon ini membuka percakapan.
“Seperti biasa,maaf aku tidak sempat mengabarimu ketika aku akan pergi ke Guam,”ujar pria itu yang kini sudah melepas maskernya.
Jiwon yang duduk menghadapnya hanya tersenyum. Dia menepuk lengan pria itu.
“Gwenchana Mino-ya, aku tahu kau sangat sibuk sekarang ini.”ujar Jiwon.
Dia memandang pria yang begitu dia sayangi ini,yang bisa membuatnya tertawa meski di hari terburuknya. Seseorang yang selalu tersenyum lebar setiap kali bertemu dengannya yang membuat hati Jiwon menghangat. Dia sangat merindukan senyuman itu.
“Aku merindukanmu,”ucap Mino langsung.
Jiwon tersenyum.”Aku juga sangat merindukanmu Mino-ku yang bodoh,”ujarnya sambil menggenggam tangan Mino.
“Mwo? Kenapa kau selalu Memanggilku bodoh? Aku tidak bodoh,”ujar Mino yang selalu tidak terima jika Jiwon mulai menyebutnya bodoh.
“Aku menyukaimu karena kebodohanmu,”lanjut Jiwon memasang wajah polos.
“Apa?”Mino mengernyitkan dahinya dan memasang wajah yang menurut Jiwon campuran antara bodoh dan polos.
Jiwon langsung tertawa terbahak-bahak.”Akhirnya aku melihat wajah bodohmu lagi,”
Mino berdecak sebal,dia menarik tangannya yang dipegang Jiwon dan berbalik badan,berpura-pura marah pada Jiwon. Hal itu malah membuat Jiwon tertawa semakin kencang.
Dia mendekati Mino dan memiringkan kepalanya,memunculkan kepalanya dari balik badan Mino.
“Kau lucu sekali saat marah,”ujar Jiwon sambil menusuk-nusuk pipi Mino dengan jarinya.
“Pipimu semakin tirus,ayo kita makan,”lanjut Jiwon dia kembali ke posisi duduknya lalu mulai membuka bungkusan yang dia bawa tadi.
Mino masih pada posisinya yang tadi. Dia ingin berbalik tapi dia harus membuat Jiwon tahu kalau dia tidak suka dipanggil bodoh, apalagi oleh kekasihnya sendiri.
“Mino-ya kau tidak mau hm?”tanya Jiwon sambil menyodorkan setusuk odeng dihadapan Mino. Pria itu masih memasang wajah kesal.
“Baiklah akan kuhabiskan sendiri lalu aku pulang,”ujar Jiwon hendak memakan odeng tersebut namun tangan Mino langsung menahannya. Dia mengambil odeng itu membuat Jiwon tergelak. Inilah kekasihnya yang bodoh.
“Mino-ya kemarin aku makan siang dengan Dana, aku bertemu dengannya tidak sengaja saat akan istirahat makan siang,”ucap Jiwon.
“Hmm dia tidak cerita apapun,”ujar Mino sambil melahap odeng ditangannya.
“Kau sudah lama tidak pulang ke rumah?”tanya Jiwon.
Mino mengangguk dengan mulut penuh odeng.
“Tapi tadi pagi aku menelepon eomma,”ujarnya setelah menelan odeng dimulutnya.
Jiwon mengeluarkan tissue dari saling bag yang dipakainya lalu membersihkan sudut mulut pria dihadapannya ini. Mino hanya tersenyum.
Keduanya menghabiskan odeng yang dibeli Jiwon dalam waktu singkat. Jiwon sangat tahu kalau kekasihnya ini sangat suka sekali makan,mirip dengannya. Jika mereka berkesempatan bertemu yang mereka lakukan biasanya makan entah di restoran,kedai pinggir jalan ataupun di apartemen Jiwon.
“Ah aku kenyang,”ujar Mino sambil menepuk perutnya.
Jiwon memberikan cola pada Mino yang langsung diambil oleh pria itu.
“Jiwon-ah,”panggil Mino.
Jiwon menoleh pada Mino. Pria itu mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya lalu menyalakan lampu senter di ponselnya dan menyorot wajah Jiwon. Banpo dimalam hari memang sangat gelap.
“Ya! Mino-ya apa yang kau lakukan?”tanya Jiwon kesal karena bagaimana kalau ada orang yang melihat walaupun tempat ini sudah sepi tapi tetap saja Jiwon takut ada yang melihat mereka.
“Kita sudah lebih dari 3 bulan tidak bertemu dan aku tidak bisa melihat wajahmu karena gelap dan bagaimana aku bisa menciummu kalau gelap begini,”
“Song Mino bodoh!!”
Jiwon mendorong tubuh Mino, pria itu langsung menahan tangannya agar tidak jatuh.
“Choi Jiwon kau mau membuatku jatuh ke sungai Hah? Aku tidak bisa berenang,”ujar Mino yang tampak takut akan jatuh ke sungai karena Jiwon mendorong tubuhnya.
“Kau ini kenapa bodoh sekali!”Jiwon memukul lengan Mino,dia kesal dengan pria tinggi ini selalu saja melalukan hal-hal yang menurutnya bodoh.

**

“Bagaimana ayahmu?”tanya Mino pada Jiwon.
Mereka masih duduk dipinggir sungai.
“Seperti itu,”jawab Jiwon singkat sambil menolehkan kepalanya pada pria Disampingnya ini.
Jiwon mengeluarkan ponselnya dan melirik angka yang tertera besar disana. 11.45.
“Ayo pulang ini sudah hampir tengah malam,”ujar Jiwon.
“Apa? Kita baru satu jam bertemu,”ucap Mino.
“Itu salahmu yang datang terlambat,”lanjut Jiwon sambil berdiri dari duduknya.
Mino hanya bisa mendesah pelan dan ikut berdiri.
“Aku harus bekerja besok Mino-ya,”ucap Jiwon begitu melihat wajah kekasihnya ini kecewa.
“Aku akan mengantarmu pulang,”ujar Mino sambil berjalan,tangannya menggenggam erat tangan Jiwon.
“Tidak perlu,aku akan naik taksi saja dipinggir jalan tadi,kau akan kembali ke dorm?”tanya Jiwon.
“Sepertinya tidak,aku ada janji dengan Seungyoon di YG,”jawab Mino.
Jiwon menganggukkan kepalanya.”Jangan bekerja terlalu keras,lagu kalian ada dimana-mana sekarang.”
“Hebat kan aku!”seru Mino tersenyum lebar. Senyum favorit Jiwon. Senyum yang bisa membuatnya ikut senang. Jiwon hanya mengangguk mengiyakan.
“Jiwon-ah maaf aku tidak bisa selalu bertemu denganmu, maaf kalau aku terkadang mengabaikanmu, maaf aku tidak bisa selalu mendengar ceritamu,maaf…”
“Tidak Mino-ya,”Jiwon menghentikan langkahnya,dia berdiri menghadap Mino.
“Terima kasih untuk tetap bersamaku,terima kasih untuk menjadi seseorang yang selalu bisa membuatku tersenyum, terima kasih untuk bisa menjadi seseorang yang bisa kusayangi lagi,”
Jiwon menarik tangan Mino untuk berjalan lagi.
“Bagaimana kabar Jhonny?”tanya Jiwon memecah kesunyian mereka yang kembali berjalan melewati underpass.
“Baik kurasa dia merindukanmu,begitu aku menunjukkan fotomu di ponselku dia langsung mengeong,”jawab Mino antusias.
“Kurasa dia bukan merindukanku tapi merindukan suga, karena jika aku datang aku pasti membawa suga,Jhonny itu sainganku untuk mendapat perhatianmu,”
Mino tertawa pelan dan mengacak-acak rambut Jiwon.
“Perhatianku hanya untukmu,”ujarnya.
“Wow Song Mino belajar dari siapa kata-kata itu? Seungyoon? Seunghoon? Atau Jinwoo oppa?,”ujar Jiwon sambil tertawa.
Ketika sampai dipinggir jalan tempat mereka bertemu Jiwon melepaskan genggaman tangan mereka.
“Pulanglah,”perintah Jiwon.
“Tidak aku harus memastikan kau naik taksi, aku kekasih yang baik,”ujar Mino.
Jiwon tertawa pelan.”Baiklah baiklah,”
“Kau harus bertemu ayahmu Jiwon-ah,”ujar Mino.
Jiwon yang terlihat ceria dan bersemangat sebenarnya memiliki masalah. Sejak kematian ibunya di umurnya yang ketujuh tahun,Jiwon memiliki hubungan yang tidak baik dengan ayahnya yang dia anggap penyebab kematian ibunya. Begitu lulus kuliah dan bekerja Jiwon memutuskan keluar dari rumahnya dan menyewa apartemen sendiri. Sudah dia tahun pula Jiwon tidak pernah lagi bertemu ayahnya. Mino sudah seringkali membujuk Jiwon untuk berbaikan dengan ayahnya namun sia-sia. Jiwon memang keras kepala.
Jiwon masuk ke dalam taksi. Dia melambaikan tangannya pada Mino sebelum taksi itu berjalan.

**

Song Mino, kurasa semua orang mengenalnya sekarang. Ya dia adalah salah satu anggota Boy group yang cukup terkenal. Winner. Dia juga sering muncul dibeberapa acara TV sekarang. Aku mengenalnya mungkin sudah 4 tahun. Pertemuanku dengannya sungguh lucu jika diingat kembali tapi hal itulah yang membuatku jatuh hati padanya. Dia yang mampu mengisi kesepianku,dia yang mampu membuatku percaya lagi pada pria. Senyumnya,tingkah bodohnya,cara berpikirnya,cara bicaranya semua hal pada dirinya, aku menyukainya. Dibalik sifat kekanak-Kanakan dan bodohnya sesungguhnya dia sangat dewasa, dia selalu menasihatiku untuk berbaikan dengan ayah meski aku selalu menolaknya. Dia sumber kebahagianku saat ini,mungkin terdengar berlebihan tapi memang benar siapa lagi yang bisa membuatku tertawa terbahak-bahak di tengah malam mendengar ceritanya seharian. Aku hanya punya ayah yang hubungannya tidak baik,aku tidak punya ibu. Teman,ada tapi bukan seseorang yang bisa kuajak bercerita mengenai masalahku dengan ayah. Mino,ya hanya Mino dimana aku bisa bercerita apapun.

 

**

Choi Jiwon, gadis cerewet yang senang sekali menyebutku bodoh. Salah satu dari tiga wanita yang kukagumi, ibu, adikku dan Jiwon. Dia gadis tangguh,dewasa,dan penyayang. Dia begitu sabar menghadapiku. Aku selalu merasa bersalah padanya setiap memintanya bertemu malam hari seperti ini atau aku yang tidak bisa selalu menghubunginya setiap hari. Aku tahu aku egois ketika aku meminta Jiwon menjadi milikku, aku tidak pernah bisa selalu bersamanya tapi aku juga tidak bisa tanpa dia. Lucu memang,disaat kami bertemu karena hal yang aneh dan menjadi dekat dan aku merasa nyaman dengannya. Setiap kali aku bersama Jiwon,aku hanya ingin membuatnya tersenyum,melupakan hal-hal yang membuatnya sedih atau kesal. Senyum Jiwon-lah yang ingin aku lihat setiap kali bertemu dengannya.

**
Mino memandangi taksi yang ditumpangi Jiwon semakin menghilang. Ponsel disaku jaketnya bergetar.

Semangat!! Aku menyukaimu ❤️

Mino tersenyum membaca sederet tulisan pesan singkat itu.

보고싶다~

Yong Soon menekan tombol lift berdiri menunggu pintu lift terbuka. Seseorang menepuk bahunya membuatnya terlonjak kaget.
“Joo Hyun oppa,”ujarnya ketika menyadari siapa yang menepuk bahunya. Dia menoleh ke Joo Hyun yang berdiri tepat Disampingnya.
Joo Hyun tersenyum.
“Oppa tidak biasanya kau sudah pulang?”tanya Yong Soon.
“Iya,aku akan ke Busan hari ini,”jawab Joo Hyun.
Yong Soon mengangguk-anggukan kepalanya. Pintu lift terbuka dan mereka pun masuk ke dalamnya.
“Yong Soon-ah,”panggil Joo Hyun.
Yong Soon menoleh.
“Kyuhyun sudah pulang?”tanya Joo Hyun.
“Hmmm seharusnya hari ini dia pulang,”jawab Yong Soon.
“Pantas wajahmu sejak pagi berseri-seri sekali,”ujar Joo Hyun sambil tertawa pelan. “Sudah sebulan ini wajahmu murung,”lanjutnya.
Yong Soon menyentuh kedua pipinya dengan tangannya.”Benarkah?”dia pun tertawa setelahnya.
Benar dia sangat merindukan Kyuhyun. Walaupun sebulan entah kenapa rasanya lama sekali. Dia tidak sadar kalo wajahnya berubah murung selama sebulan ini,Kyuhyun benar-benar sangat memberikan efek padanya. Hari ini Kyuhyun akan menyelesaikan pendidikan dasaranya,5dia sangat menanti hari ini. Dimana Kyuhyun akan pulang dan selanjutnya Kyuhyun akan menjalankan tugas pelayanan publik. Itu artinya dia akan lebih sering bersama Kyuhyun.

**

Yong Soon keluar dari sebuah minimarket dengan tas plastik ditangannya. Dengan hoodie hitam,sneaker putih dia kembali ke apartemennya yang memang tidak jauh dari minimarket tersebut. Dia berniat membuat Kimchi jigae untuk makan malamnya. Ketika dia tengah sibuk melihat resep di ponselnya dan memasukkan bahan-bahan ke panci,sebuah panggilan masuk ke ponselnya.
“Yoboseyo Ahra Eonni,”ujarnya langsung.
“Yong Soon-ah kau dimana?”tanya suara diseberang sana yang tidak lain adalah Ahra Eonni.
“Di rumah, waeyo?”tanya Yong Soon.
“Kyuhyun sudah di rumah,”ujar kakak Kyuhyun ini.
“Benarkah?”tanya Yong Soon lagi sangat antusias.
Karena Kyuhyun tidak bisa bebas menggunakan ponselnya selama pelatihan dasar. Yong Soon jarang sekali mendengar kabar Kyuhyun,meski dia pernah mengunjunginya sekali. Yong Soon hanya tahu hari ini pria favoritnya itu akan pulang.
“Iya kemarilah,”pinta Ahra.
“Eoh,”
Yong Soon memutuskan sambungan telepon. Dia akan membawa masakannya ke rumah mertuanya. Dia tidak sabar bertemu Kyuhyun. Dia memandangi ponselnya, tapi kenapa Kyuhyun tidak menghubunginya?gumam Yong Soon dalam pikirannya. Seharusnya jika Kyuhyun sudah dirumah orang tuanya,pria itu bisa menghubunginya kenapa malah Ahra yang memintanya ke rumah orang tua Kyuhyun.
Yong Soon berjalan ke kamarnya dan mengganti bajunya dengan pakaian yang lebih layak. Sebuah floral dress selutut dengan t-shirt putih. Dia memindahkan Kimchi jigae yang sudah dibuatnya ke wadah untuk dia bawa.
Gadis berambut pendek itu mengambil kunci mobil di meja dekat pintu lalu mengenakan sneakers putihnya.
“Kau mau kemana?”
Tepat ketika Yong Soon membuka pintu. Seseorang berdiri diluar pintunya. Yong Soon terkejut melihat sosok tinggi dengan pakaian loreng-loreng khas militer.
“Kyu..hy..”
Belum selesai berbicara. Pria yang tidak lain adalah Kyuhyun itu langsung memeluk tubuh Yong Soon.
“Aku Merindukanmu,”ujarnya sambil membenamkan wajahnya dilekukan leher istrinya itu. Betapa Kyuhyun merindukan memeluk tubuh mungil ini setiap malam. Sebulan yang berat bukan hanya karena latihan yang dia jalani tapi juga karena tidak ada Yong Soon Disampingnya.
“Kyuhyun-ah,bukannya kau di rumah eomonim…kenapa kau?”Yong Soon tampak bingung kenapa Kyuhyun tiba-tiba sudah Dihadapannya. Bukannya dia tidak senang hanya saja bukanka tadi Ahra menyuruhnya ke tempat eomonim.
Kyuhyun melepaskan pelukannya meski enggan.”Dia hanya mengerjaimu,aku memang dari tempat eomma tadi,mana mungkin aku menyuruhmu ke tempat eomma lebih baik aku pulang dan langsung bertemu denganmu,”ujar Kyuhyun sambil mencubit gemas pipi Yong Soon.
Yong Soon hanya memandanginya bingung.
“Aku lapar…aku belum makan ditempat eomma karena aku ingin makan masakanmu,”Kyuhyun mengerucutkan bibirnya persis seperti anak kecil.
Yong Soon hanya bisa mendesah pelan. Bayi besarnya kembali.

 

**

“Yong Soon-ah,”panggil Kyuhyun pada Yong Soon yang kini tengah memunggunginya,dia tengah menyiapkan makan malam lengkap untuk pria itu.
Yong Soon hanya menggumam sebagai jawaban.
“Kau tidak merindukanku?”tanya Kyuhyun karena sejak tadi Yong Soon terlihat biasa saja dengan kedatangannya.
Kyuhyun sudah mengganti bajunya dengan t-shirt biru langit dan celana piyamanya. Dia sudah duduk manis di meja makan menunggu Yong Soon menghidangkan makanan.
“Tentu saja aku Merindukanmu,”jawab Yong Soon.
“Tapi kenapa kau tidak menciumku?”tanya Kyuhyun lagi.
Yong Soon membalikkan badannya lalu menaruh semangkuk nasi dihadapan Kyuhyun.
“Memangnya aku harus menciummu untuk menunjukkan aku Merindukanmu,makanlah,”perintahnya.
“Suapi aku,”cetus Kyuhyun dengan wajah polos.
“Ya Cho Kyuhyun, apa maksudmu? Makanlah,”ujar Yong Soon.
Kyuhyun menggelengkan kepalanya seperti anak kecil yang disuruh makan tapi tidak mau. Yong Soon memutar bola matanya. Seingatnya Kyuhyun tidak semanja ini terlahir dia tinggalkan.
Yong Soon mendekat pada Kyuhyun dan menangkup wajah Kyuhyun dengan kedua tangannya. Dia memandang wajah itu cukup lama. Ah,dia sangat merindukan wajah Kyuhyun yang sedang merajuk seperti ini. Kyuhyun tampak lebih sehat dan sedikit lebih kurus sejak terakhir dia bertemu. Ditatapnya bola mata kelam milik Kyuhyun.
“Aku merindukanmu,”lirih Yong Soon sesaat sebelum gadis manis itu menyentuhkan bibirnya ke bibir Kyuhyun.
Kyuhyun yang awalnya kaget dengan tindakan tiba-tiba Yong Soon,mulai membalas ciuman gadis itu. Tangannya bahkan menarik Yong Soon untuk duduk dipangkuannya. Keduanya semakin memperdalam ciuman mereka. Yong Soon mengalungkan tangannya di leher Kyuhyun sementara tangan Kyuhyun di punggung Yong Soon menarik gadis itu untuk semakin mendekat. Kyuhyun begitu merindukan bibir manis Yong Soon sebulan ini.
Yong Soon melepaskan dirinya sebelum kehabisan nafas. Tangannya masih menangkup wajah Kyuhyun. Dikecupnya bibir Kyuhyun berkali-kali. Kyuhyun tampak tersenyum senang. Ini yang ditunggunya sejak tadi. Yong Soon menjauhkan tubuhnya dari Kyuhyun dan hendak berdiri namun tangan pria itu menahannya.
“Aku akan makan dulu setelah itu kita lanjutkan yang tadi,”ujar Kyuhyun sambil tersenyum penuh kemenangan.
Yong Soon langsung menyentil dahi Kyuhyun.
“Dasar bodoh!”

This FF made by Yayang the one who made Yeon Ji character

 

 

“Eoh oppa? Nde. I am on my way. Tak usah, biar aku naik subway saja” ujarku pada seseorang diseberang sana melalui saluran telpon.
Aku memencet tombol lift turun. Baru seminggu lalu aku kembali ke Seoul, belakangan ini aku sering berpergian ke Indonesia. Ya, kakek nenekku dari pihak ibuku adalah orang Indonesia, ditambah lagi sejak 2 tahun lalu aku rutin memproduksi video untuk di upload di youtube, bisa dibilang salah satu pekerjaanku adalah Travel Vlogger. Kadang-kadang aku membantu Choi Yoon Yang – salah satu sepupu kesayanganku – di bisnis butiknya, aku menjadi model katalognya. Beberapa tahun lalu Yoon Yang magang menjadi stylist DBSK, dan itu membuat karirnya dibidang fashion cukup diperhitungkan. Walaupun judulnya adalah ‘membantu sepupuku’ tapi Yoon Yang tetap membayarku secara professional.
Sejak lulus kuliah aku memutuskan untuk tinggal sendiri di apartemen milikku sendiri (atas nama diriku), tidak mewah memang seperti apartemen milik orang tuaku yang sering aku tempati, namun aku bangga bisa membelinya dengan hasil kerja kerasku sendiri. Apartemenku berada di daerah Donggyo-ro, Mapo-gu.
Oh iya, yang menelponku barusan adalah Jong Jin oppa, adik Jong Woon oppa – kalian lebih familiar dengan nama Yesung oppa. Hari ini aku sudah janji pada Yesung oppa kalau aku akan menemuinya di Mouse Rabbit. Seperti biasa, setiap kali kami bertemu Yesung oppa selalu saja merepotkan Jong Jin oppa untuk mengantar ataupun menjemputku di apartemen. Kalau sampai ada paparazzi yang menangkap fotoku, mereka pasti mengira aku ini adalah kekasih Jong Jin oppa, dan tentu saja itu bukan berita yang menarik berhubung Jong Jin oppa bukanlah selebriti.
Malam ini cuaca agak hangat – tidak berangin, aku mengenakan floral dress diatas lutut dengan denim jacket, dilengkapi ankle boot berwarna dark brown dan mini sling bag berwarna senada. Aku sengaja memilih untuk menggerai rambut sebahuku, karena Yesung oppa lebih suka melihatnya begitu.
Butuh sekitar 10 menit berjalan kaki dari apartemenku ke pintu subway terdekat, dan butuh 15 menit lagi hingga aku sampai di Stasiun subway KonKook University, aku berjalan ke exit 2. Sudah jam 10 malam, aku janji bertemu denganya jam 11. Aku sengaja datang lebih cepat karena ingin melepas rindu dengan eomoni terlebih dahulu.
aku melewati gang sebelum sampai ke Mouse Rabbit, belum lagi dekorasi salon di depan mouse rabbit sukses membuatku terkejut, mereka meletakkan boneka hantu di depan pintu mereka, padahal ini bukan pertama kalinya aku kesini. Kalau di Indonesia, caffe dengan lokasi di dalam gang yang cukup kecil tidak akan didatangi orang, mereka butuh tampat parkir yang luas karena setiap yang datang pasti membawa kendaraan. Salah satu yang aku suka, dan membuatku rindu dengan Korea setiap kali aku berada di Indonesia adalah aku bebas berjalan kaki kemanapun sesukaku karena fasilitas yang memang mendukung.
Pintu Mouse Rabbit masih sama, berwarna merah. Aku tersenyum antusias, entah mengapa jantungku berdegup kencang.
“Yeon Ji-ya” ujar eomeoni antusias dan memelukku. Dia membelai rambutku dengan lembut, “Eomeoni rindu sekali denganmu” wanita separuh baya itu tersenyum tulus.
Aku balas tersenyum, “Aku juga sangaaaaatt merindukan eomeoni” kucium pipi eommoni, dia tertawa. “Bagaimana kabar eomeoni?” aku mengawasi pura-pura menyelidik.
Wanita itu tertawa lagi, eomeoni memang mudah sekali bahagia. “Baik-baik saja, kemana kau saat ulang tahun aboenim?” ujarnya pura-pura kecewa.
Aku memasang tampang bersalah, “Aku sedang ada pekerjaan di Indonesia saat itu, jongmal mianhamnida” ujarku membungkuk. Lebih tepatnya saat itu aku sedang membuat projek video travel vlogging ku di Jawa Timur.
Eomeoni terkekeh, “iya tidak apa-apa” katanya.
Aku mengobrol banyak hal dengan eomeoni, aku memberikan beberapa oleh-oleh berupa barang dan juga makanan pada Eomeoni dan juga Jong Jin oppa. Tepat jam 11 malam, Jong Jin oppa menutup Mouse Rabbit dan saat itu pula laki-laki yang aku cintai selama kurang lebih 7 tahun itu menampakkan batang hidungnya. Dia memakai topi hitam, masker yang menutupi wajahnya, t-shirt hitam dan juga jeans belel. aku tidak bisa menutupi rasa senangku. Sudah berapa lama kami tidak bertemu? 2 bulan? 3 bulan? Ani, 4 bulan, sejak oppa disibukkan dengan dramanya itu.
“Akhirnya dia datang juga, eomeoni dan Jong Jin beres-beres dulu. Kalian nikmati waktu kalian” ujar eomeoni sambil mengerling padaku dan kubalas dengan senyuman.
Mendadak aku gugup sekali, kenapa rasanya seperti saat baru saja berpacaran dengannya?.
Yesung oppa sudah berada di depanku, “Kau tidak ingin mengucapkan sesuatu, atau menyambutku” ujarnya.
Aku salah tingkah. “eeeehhh” akhirnya hanya itu yang keluar dari bibirku.
Dia tersenyum singkat, mencium bibirku sekilas lalu masuk ke counter. “mau pesan apa nona?” katanya sambil tersenyum tulus kali ini.
Aku sudah merasa agak rileks sekarang, “apapun yang oppa siapkan dengan cinta” jawabku sambil tertawa lepas. Merasa geli sendiri dengan apa yang aku ucapkan.
Dia mengangguk, tampak berpikir sejenak kemudian mulai bergerak.
“eeehh oppa, kurasa jangan kopi” sahutku kemudian
Dia mengamatiku mencoba menemukan sesuatu, “tidak biasanya?”
“besok aku harus bangun pagi, sudah ada janji dengan Yong Soon. Jadi malam ini, aku tidak ingin bergadang. Sudah jam 11, ingat?”
Dia mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Beberapa menit kemudian dia memberikan secangkir ice tea kepadaku dengan gelas bertuliskan Mouse Rabbit dengan logo khasnya. Dia bertanya padaku aku ingin duduk dimana, yang kujawab aku ingin duduk di underground. Tempat itu selalu menjadi spot favoritku setiap kali aku kesini.
Ada yang salah dengan underground favoritku, sudah tidak ada lagi kelopak-kelopak bunga mawar merah yang dilapisi akrilik di lantainya, tidak ada lagi music klasik yang mampu membawaku ke dunia lain, dan lampu yang sekarang sangat ramai, maksudnya jenis lampu yang akan kau temui di klab-klab malam. Otakku berpikir keras hingga aku teringat beberapa waktu lalu Mouse Rabbit memang mengalami reparasi, ini berarti baru pertama kalinya aku kesini setelah perubahan konsep ini. Dan sejujurnya aku jauh lebih menyukai konsep yang lama.
“Siapa ini? Benarkah Choi Yeon Ji?” ujar Yesung oppa ditengah-tengah pertemuan kami.
Aku mengerutkan kening. “Eooh??”
Dia membenahi rambutku dan menyelipkannya diantara telingaku. “Kau ada masalah Choi Yeon Ji?” tanyanya kemudian.
“Ani” jawabku. “Aku hanya merasa tidak familiar” aku tersenyum nyengir.
Yesung oppa mengerti. “ooh, pergantian konsep Mouse Rabbit?”
Aku mengangguk. “Aku suka, hanya saja aku lebih menyukai yang kemarin” gumamku.
“Kalau kau tidak nyaman, kita bisa pindah ke atas” katanya.
Aku menggeleng. “TIdak perlu, disini saja.”
Dia meneguk ice tea miliknya, begitu pula denganku. Rasanya masih sama dengan favoritku. Aah, aku merindukan kopi buatan oppa yang biasa-biasa saja itu. Hehehe tapi tidak bisa malam ini.
“Bagaimana konsernya?” tanyaku
Oppa menghela napas, “Berjalan lancar, kenapa kau tidak hadir?” dia memberungutkan wajahnya, aku tahu dia pura-pura.
Aku terkekeh, “Sudah tidak pantas merajuk seperti itu” aku mencubit pipinya.
Aku bukan Choi Yeon Ji yang dulu lagi. Dulu, aku selalu ingin berada di dekatnya, pergi kemanapun dia pergi, datang diacara apa pun yang ada dia disana, cemburu setiap kali dia terlalu dekat dengan idol lain. Kalau kupikir-pikir sekarang, aku ini siapa? Pacarnya atau saseng fan-nya?. Aku ingat pertengahan 2012 lalu aku putus dengannya karena tiba-tiba ada kabar berhembus kalau dia dekat dengan salah satu member Girlband yang sedang naik daun. Aku memutuskan segala komunikasi dengannya, tidak membalas setiap direct massage yang dia kirimkan melalui twitter (saat itu twitter sangat digandrungi). Aku tidak berpikir panjang tentang perasaanya atas kepergianku yang tiba-tiba ke Indonesia, aku tidak memikirkan bagaimana nasib karirnya kalau dia ketahuan paparazzi memfollow akun twitterku dan mereka akhirnya menemukan identitasku. Aku sangat egois. Sewaktu dia ke Indonesia untuk terakhir kalinya sebelum dia harus wamil, sebenarnya saat itu aku datang ke konser itu, aku sangat merindukannya.
Choi Yoon Yang, Changmin oppa, Yong Soon dan Super Junior oppadeul sangat berperan dalam membaiknya hubunganku dengan Yesung oppa. Pertengahan tahun 2013 Yoon Yang magang sebagai stylist DBSK (karena dia direkomendasikan oleh Changmin oppa, tentu saja karena mereka sepasang kekasih), entah bagaimana ceritanya Donghae oppa tahu kalau Yoon Yang adalah sepupuku dan mengorek-ngorek informasi keberadaanku melalui dia. Sekembalinya aku ke Seoul, Siwon oppa (kami memang dekat karena orang tahu kami adalah teman) datang dan memberitahuku kalau Yesung oppa mengalami sedikit masalah dengan makanan yang diberikan selama wamil, Siwon oppa bilang kalau Yesung oppa merindukan kimbab (asal-asalan) buatanku.
Aku pergi menemui Yesung oppa dengan kimbab yang aku buat sebaik mungkin. “Ini aku bawakan kimbab, kata Siwon oppa, oppa punya masalah dengan makanan” ujarku sambil menjaga nada suara agar terkesan tidak luluh.
Dia mengerutkan keningnya, “Masalah makanan?” dia heran.
Aku tahu, saat itu pula aku sadar kalau Siwon oppa berbohong, aku tidak tahu kapan cairan bening hangat itu mengalir. Aku malu, aku merasa kalah karena menemui Yesung oppa lebih dulu. Aku bangkit dari tampat duduk, bermaksud untuk pulang tapi Yesung oppa menahan tanganku. “Aku senang kau datang, tidak peduli alasannya” ujarnya, pandangannya dalam ke mataku.
Setelah kejadian itu kami sama-sama sadar kalau kami membutuhkan satu sama lain, bukan pertemuan yang intens. Hanya saja perasaan tenang, bahwa kami ada untuk satu sama lain, dia adalah tujuanku begitu pula aku adalah tujuannya. Aku mulai memupuk kepercayaan padanya, dia juga sudah tidak terlalu khawatir setiap kali aku bertemu dengan mantan-mantanku. Hubungan seperti inilah sebenarnya yang kami harapkan. Aku sesekali bertemu dengannya di Mouse Rabbit ketika dia masih dalam masa wajib militer, ketika dia selesai dengan tugas negaranya aku mulai disibukkan dengan kegiatan-kegiatan bisnisku.
Saat ini dia sedang menyanyikan lagu-lagu yang dia tampilkan di konsernya. Aku menopang dagu sambil memperhatikan setiap gerakan dan ekspresinya. Aku tepuk tangan setiap kali lagunya selesai.
“Jadi, setelah ini kau mau kemana lagi?” tanyanya, atmosfer disekitar kami menjadi serius.
Aku berpikir, pura-pura berpikir. “eeeehhh sepertinya aku mau ke…”
Dia menunggu dengan penasaran, dari ekspresinya aku tahu kalau sebenernya dia mengharapkan aku berada di Seoul lebih lama. “Aku memutuskan untuk di Seoul saja” jawabku sambil tersenyum.
Matanya berbinar, “Jinja?” tanyanya memastikan, aku mengangguk dan dia tersenyum bahagia.
“Apa bedanya aku pergi atau tidak? Toh oppa juga sibuk” aku memain-mainkan sedotan di gelas ice tea yang hampir habis.
Dia memegang tangan kiriku yang menganggur, “Aku tidak masalah kalau harus menemuimu disini setiap tengah malam”
“Tidak mau”
Dia membelalakkan mata, matanya kecil jauh berbeda dengan ketika dia tampil yang dihiasi dengan eyeliner tebal. Aku mewarisi mata ibuku yang berdarah Indonesia, dan dia iri akan hal itu, hahahaha. “Tidak mau?”
Aku tertawa melihat ekspresinya. Entah mengapa sekarang ini posisi kami terbalik, sekarang Yesung oppa lah yang sering bertingkah manja dan ingin selalu bertemu denganku. “Kyuhyun oppa seminggu lagi akan masuk wajib militer. Kupikir Yong Soon pasti akan kesepian, jadi aku ingin punya lebih banyak waktu untuk menjadi teman bercerita dan sesekali pergi jalan-jalan dengannya”
Yesung oppa menopang dagunya dengan kedua tangannya, “Jadi semua ini demi Yong Soon yang akan ditinggalkan wajib militer oleh Kyuhyun?” Dia memasang tampang kecewa tapi aku tahu itu hanya pura-pura.
“Dulu, waktu kita putus dan oppa wajib militer Yong Soon selalu ada untukku walaupun hanya sekedar menemaniku berbelanja padahal aku tahu persis Yong Soon tidak terlalu suka belanja” Jelasku.
Dia tersenyum, sisi dewasanya kembali “Ara, aigoo uri Yeon Ji sudah dewasa sekarang, padahal dulu aku pikir aku pacaran dengan anak SD” dia tertawa sambil mengusap-usap kepalaku.
“Mwo?!!” aku berkacak pinggang. Dia tertawa puas sekali, dia senang sekali menjahiliku seperti itu. Aku tahu dulu aku memang sangat kekanak-kanakkan tapi masa iya disamakan dengan anak SD?. “Berarti oppa pedofilia” balasku.
Dia masih tertawa, aku menghampirinya dan mencubit lengannya, dia membalas dengan menggelitiki hingga aku terpingkal-pingkal dan keluar airmata.
“Apa yang akan kau lakukan?” tanyanya setelah menghentikan serangan terhadapku sambil memainkan kepalaku yang sedang bersandar dibahunya.
AKu menekankan telujukku di pipinya, “Rahasia” gumamku, dia menyentil keningku lalu menggosok-gosoknya saat aku mengaduh kesakitan.
“Aku akan membuat konten di Seoul, berkolaborasi dengan Joan Kim, mengexplore tempat-tempat wisata di Korea, sesekali membuat video challenge atau skin care rekomendasi, melakukan pemotretan untuk beberapa katalog fashion” jelasku.
Dia mengangguk, “Lega mendengarnya”
“OOhh iya oppa” aku menegakkan dudukku karena ingat sesuatu, seolah-olah ini sangat penting untuk didiskusikan dengannya.
“Mwoya?” dia memasang tampang serius untuk mendengarkan.
Aku tersenyum penuh arti. “Aku ingin operasi boobs”
Dia membelalakkan matanya yang sipit itu. “Mwo!!!” katanya terkejut.
“Operasi” sahutku, aku mengerlingkan mataku menunjuk kearah bagian yang aku maksud.
“TIDAK!!!” katanya tegas, wajahnya sudah memerah sekarang.
Aku mengalungkan tanganku ke lengannya, “Kenapa tidak??? Bukannya oppa suka kalau aku jadi lebih seksi” ujarku manja. Ya ampun ini bukan diriku, sempai segininya aku ingin mengerjainya.
Dia mengacak-acak rambutnya frustasi. “Kau boleh melakukan hal lain, jalan-jalan dan membuat video travel vlogging keluar negeri, atau apa pun tapi tolong jangan pernah minta izin untuk melakukan operasi apapun itu!!!” Dia memalingkan wajahnya dariku. Becandaku sudah keterlaluan kali ini.
Aku merengkuh wajahnya agar menoleh kepadaku, “Aku hanya bercanda” kataku kemudian sambil tersenyum jahil. “Lagipula aku bisa dipenggal ibuku kalau sampai melakukan operasi”.
Dia memandangku was-was, masih curiga kalau maksudku itu serius. Aku mencium bibirnya sekilas,”Janji tidak akan” kataku meyakinkan.
Dia menghembuskan napas lega dan mengacak-acak rambutku, “dasar kau ini!”
“Aku ingat punya sesuatu untuk oppa” aku merogoh tas mengambil botol kecil berisi pasir berwarna-warni.
Kuberikan benda itu padanya, “Ini untuk oppa”
Dia menerimanya sambil menganalisa bentukku, “Bagus” ujarnya kemudian sambil tersenyum puas yang kubalas dengan senyuman pula.
Detik berikutnya dia memelukku erat, menghirup aroma fragrance strawberry di rambutku. Dari caranya memelukku aku tahu kalau dia sangat merindukanku selama 4 bulan ini. Tubuhku sepenuhnya terbenam dalam rengkuhannya, bisa kurasakan sentuhan kulit wajahnya dipipiku. Bibir hangatnya tenggelam di leherku, dia menghembuskan nafas yang menggelitik di tengkuk leherku. Aku memejamkan mata, berkonsentrasi dengan setiap pergerakan yang dia lakukan. Perlahan bibirnya bergerak ke rahangku, pipiku, kemudian bibirku, menyentuhkan bibirnya dengan lembut disana. Tubuhku menjadi satu dengan tubuhnya, entah bagaimana caranya dia berhasil membuatku tersudut ke dinding, atau aku saja yang tidak sadar kapan dia melakukannya. Aku membuka mata begitu mendapati tanganku sudah mengalung erat dilehernya. Dia tersenyum, mencium mataku agar mereka menutup kembali. Bibirnya kembali beralih ke bibirku, kali dia sedikit menekannya, mendorong bibirku agar membuka dengan lidahnya, dia menggodaku dengan menggigit lembut bibir bawahku. Aku mengerang, kujambak rambutnya, kupeluk tubuhnya makin erat dengan napas yang mulai menggebu. Dia berhasil membawaku ke dalam permainannya, aku memainkan lidahku disekitar bibirnya yang manis dan seketika itu pula aku tahu kalau tea yang dia minum adalah ice lychee tea.​
“Jadi Ice lychee tea” gumamku di tengah ciuman kami, dia terkekeh tanpa menjauhkan bibirnya dari bibirku. “Dan kau sesegar lemon tea” balasnya, kali ini aku yang terkekeh. Dia merengkuh wajahku dengan kedua tangannya mengecup sisa lemon tea di bibirku. Napasku tersengal-sengal, aku lupa bagaimana caranya bernapas, mendadak seluruh ruangan terasa panas. Dia membuka denim jacket yang kukenakan, menyentukan jarinya di tanganku, bergerak lembut keatas hingga ke tulang selangka, aku miliknya malam ini, besok dan seterusnya. Setiap sentuhannya mengalirkan aliran listrik yang memabukkan untukku.
“Jong Woon-ah, Yeonji-ya… eomma bawakan camilan untuk kalian” suara eomeoni terdengar keras di pangkal tangga, aku mendorong tubuh Yesung oppa menjauh.
Aku menunggu eomeoni masuk, namun yang kudengar suara lain sambil berbisik-bisik, “Eomma, mereka tidak butuh camilan, ayoo ke atas!” ujar suara itu menghentikan agar eomeoni tidak masuk.
Aku mengenali suara bisikan itu sebagai suara Jong Jin oppa, seketika aku membelalakkan mata dan menutup mulut. Besar kemungkinan Jong Jin oppa datang sebelum eomeonim dan melihat kami lalu menahan eomeonim agar tidak masuk. “Oppa, Jong Jin oppa melihat kita” gumamku lemah ke Yesung oppa.
Dia malah tertawa sambil mencubit gemas pipiku. “Maksudmu dia melihat kita melakukan ini?” dia mencium bibirku sekilas yang kubalas cubitan di lengannya. “Aigoo… uri Yeon Ji berantakan sekali” ujarnya kemudian sambil membenahi rambutku.